MENCINTAI WANITA Dari ZONA_X

MENCINTAI WANITA Dari ZONA_X
Takut Kehilangan


__ADS_3

Beberapa waktu telah berlalu.Lelaki paruh baya ini masih belum sadarkan diri juga.Pingsan seperti ini belum pernah terjadi pada Harun sebelumnya.


Naina masih terus terisak dalam gelisahnya,pikirannya berkecamuk.Sakit hati pada Neta telah memilih jalan yang salah,pamannya yang terbaring tidak sadarkan diri.Ia takut jika terjadi sesuatu pada pamannya ini,ia sangat tidak ingin memikirkan hal itu bahkan harus membayangkannya.Ia sudah kehilangan orang tuanya,hanya Harun keluarga sekaligus orang tua yang ia miliki saat ini.Mencoba melawan pikirannya,ia tidak ingin membayangkan sesuatu yang buruk terjadi pada pamannya.


Tiba-tiba terdengar dari luar suara pintu yang didorong dengan keras.


"Naina ...." Teriakan seorang lelaki memanggilnya.Orang yang ia tunggu sejak tadi.


"Mas Dennis ... aku di kamar,Mas," balasnya berteriak memanggil Dennis.


Dennis langsung menuju ke arah sumber suara.Di belakangnya ikut sekretaris Ben.Kedua lelaki bermasker ini sudah tiba di dalam kamar dimana Naina berada.Sekretaris Ben yang hanya berpakaian santai dengan jaket kulit menutupi kaos polosnya,sedang Dennis masih dengan kemejanya.


dennis memang belum sampai ke rumah dan mendapatkan telefon dari Naina.


"Mas Dennis ... tolong paman." Suara Naina terdengar begitu serak,air matanya menganak sungai tak terbendung.


Tanpa kata lagi,Dennis dan Ben langsung bergegas mengangkat Harun dari sana dan membawanya keluar.


***


Di sebuah rumah sakit ternama di kota ini,tempat dimana Naina pernah dirawat.Di sinilah Dennis membawa Harun.Sebuah rumah sakit mewah,rumah sakit keluarga Atmajaya.


Beberapa petugas kesehatan sudah menunggu di depan dengan segala peralatannya.Sepertinya sekretaris Ben sudah memberi perintah.


Mobil yang dikemudikan sekretaris Ben terparkir di depan lobby rumah sakit.Dengan gerakan cepat,sekretaris Ben dan Dennis turun kemudian membuka pintu belakang dimana Naina dan Harun berada.


Melihat seorang lelaki terbaring dengan kepala di atas pangkauan seorang wanita,para tim medis segera bergerak. Mengangkat Harun naik ke atas ranjang pasien.Semua terjadi dengan gerakan begitu cepat,Naina tidak menyangka dengan pelayanan yang ia terima.Kekuatan seorang Dennis Atmajaya memang sangat berpengaruh di negeri ini.


Benar-benar gerakan yang sangat cepat,Harun sudah dibawa masuk ke sebuah ruangan.

__ADS_1


"Maaf,tolong tunggu di luar," ucap dokter pada Naina yang hendak ikut masuk mengikuti pamannya.


Seorang perawat langsung menutup pintu.Sementara Naina dan Dennis hanya bisa menunggu di luar.


Dennis mendekat,mencoba menenangkan Naina yang sedari tadi terus terisak dalam tangisnya.Rasanya ingin membawa Naina dalam dekapannya tetapi itu tidak mungkin ia lakukan.Naina masih menjadi kekasihnya,bukan istrinya.Tuan muda ini tahu batasan dirinya.


"Duduklah,dulu!" Dennis mengajak Naina duduk ke sebuah kursi panjang yang berada di depan ruangan tempat Harun diperiksa.Gadis ini menurut saja,ia segera duduk tanpa kata.


Dennis ikut duduk di sampingnya.


"Mengapa paman Harun bisa jatuh pingsan?" tanyanya pelan,mencoba mengajak Naina berbicara.


"Mungkin paman shock,Mas." Naina menutup wajahnya dengan kedua tangannya setelah menjawab pertanyaan Dennis.Ia kembali mengingat Neta yang dengan tega meninggalkan keluarganya.


"Shock?" Dennis tidak mengerti dengan ucapan Naina.


"Sepertinya kamu butuh istirahat,saya khawatir jika kamu sakit lagi." Dennis kembali fokus dengan keadaan kekasihnya itu.


Naina hanya menggelangkan kepala.Bagaimana ia bisa istirahat dengan keadaan keluarganya yang sedang carut-marut seperti ini.


Sekretaris Ben tiba-tiba muncul dengan dua botol air mineral di tangannya.


"Tuan muda,Nona,minumlah dulu!" Sekretaris ini tahu kalau dua orang di hadapannya terlihat sangat lelah.Mungkin memberikannya air minum akan jauh lebih baik.


"Terima kasih,Sekretaris Ben!" Dennis mengambil dua botol air minum itu kemudian membuka tutupnya dari salah satu air mineral itu.


"Ini,minumlah dulu!" Dennis memberikannya kepada Naina.


Naina menatap air botol itu dengan mata yang sembab kemudian mengambilnya dengan pelan.

__ADS_1


"Terim kasih,Mas."


Beberapa menit telah berlalu,pintu ruangan dimana Harun mendapatkan perawatan telah terbuka.Tampak seorang dokter bersama beberapa tim medis lainnya yang ikut di belakang.


Dengan sigap Naina dan Dennis berdiri dari duduknya.


"Dokter,bagaimana keadaan paman saya?" Naina terlihat sangat panik.


"Pasien masih belum sadar dan kondisinya sangat lemah," jawab sang dokter.


Mendengar itu,Naina tampak lemas,air matanya kembali tak terbendung.


Dennis melangkah mendekati dokter yang sangat ia kenal ini.Hampir semua dokter yang ada di rumah sakit ini mengenal Dennis Atmajaya dengan baik.


"Dokter,tolong lakukan yang terbaik!" perintah Dennis dengan menggantungkan harapannya kepada dokter yang ada di hadapannya ini untuk kesembuhan Harun.


"Tuan muda tidak usah khawatir soal itu.Kami akan memberikan perawatan terbaik untuk pasien,tapi kembali lagi pada sang maha kuasa,kita hanya bisa berusaha dan dialah dzat yang menentukan segalanya.Tolong bantu kami dengan doa," lanjut sang dokter.


"Dokter,apa saya bisa masuk?" tanya Naina dengan nada yang sangat pelan karena suaranya sudah sangat serak.


"Silahkan!jika ada kemajuan dari pasien,tolong segera memanggil kami!" lanjut sang dokter lagi.


***


Naina duduk di samping pamannya dengan memegangi tangan pamannya.Tangan yang merawatnya sejak ia berumur 10 tahun.Hati Naina seperti tersayat-sayat melihat kondisi pamannya terbaring dengan alat bantu pernafasan melekat pada tubuh Harun.


"Paman,bangunlah.Jangan seperti ini,bukankah paman sudah berjanji untuk selalu bahagia bersamaku?jangan seperti ini,paman!" suara isak tangisnya yang pelan,terdengar terus-menerus seraya ia berbicara kepada pamannya yang masih belum sadarkan diri.


Dennis dan sekretaris Ben yang berdiri di belakangnya,ikut merasakan kesedihan Naina.Kedua lelaki yang terkenal dengan ketegasan dan wibawanya ini,tiba-tiba terlihat begitu tak berdaya dengan keadaan Naina,rasanya seperti sesak pada dada mereka.

__ADS_1


__ADS_2