
Hari sudah malam, makanan lezat sudah tersaji di meja makan dimana Naina kini menjalani hidup. Namun, malam ini begitu menggelisahkan baginya. Sudah pukul tujuh malam tetapi sosok lelaki yang sudah menjadi suaminya belum pulang juga.
"Apa Mas Dennis memang sering telat pulang seperti ini?" tanyanya kepada kedua asistennya dengan ponsel terus menempel ke telinga menunggu jawaban dari sana.
"Kami kurang tahu, Nyonya muda. Tapi, setahu kami jam kantor tuan muda itu hanya sampai jam lima sore saja," jawab Mimi yang berdiri di sudut meja makan.
"Kemana kamu, Mas?" Naina hanya bisa bolak-balik di depan meja makan dengan terus berharap pemilik ponsel di sebrang sana segera mengangkat telefon dan memberinya jawaban.
Lelah hanya mondar-mandir bak setrikaan akhirnya ia duduk ke kursi, menatap makanan di hadapannya yang mulai hangat. Tiba-tiba ponsel di tangannya berdering. Muncul nama suaminya di sana. Akhirnya yang ditunggu-tunggu menelfon juga.
"Mas Dennis." Sejurus menggeser tombol hijau.
"Hallo, Mas. Mas Dennis dimana? mengapa tidak mengangkat telefonku?" Langsung membombardir suaminya pertanyaan.
"Sayang, hari ini saya banyak pekerjaan dan sepertinya saya akan tiba di rumah tengah malam nanti. Sebaiknya kamu tidur duluan!"
Mendengar ucapan suaminya, seketika hati Naina menjadi sedih. Apa memang seperti ini pekerjaan suaminya?pikirnya. Hal yang paling menyedihkan karena dirinya sudah menunggu makan bersama namun nyatanya suaminya ini malah tidak mempedulikan itu.
"Satu lagi, besok pagi saya akan berangkat ke luar kota selama dua hari. Maaf, Sayang. Saya benar-benar sangat sibuk hingga baru memberimu kabar."
Belum selesai Naina berperang dengan kesedihan karena suaminya telat pulang, sekarang kesedihannya malah makin bertambah dengan kabar suaminya yang akan pergi selama dua hari.
"Mas Dennis akan meninggalkanku?" lirihnya bertanya.
"Sayang, maafkan aku. Pekerjaan ini sangat penting dan mendadak. Kamu tidak usah takut di rumah, kan ada Mimi dan Lilis." Dennis berucap seolah ini biasa saja, namun bagi Naina ini sangat menyakitkan. Entah mengapa ia jadi secengeng ini. Rasanya tidak ingin jauh dari suaminya, sepertinya cinta sudah bersambut ke hatinya.
"Ya sudah, Sayang. Sebaiknya kamu makan dan istirahatlah! tidak usah menungguku pulang." Suara lelaki dari sebrang sana benar-benar terdengar santai saja. Apa ia tidak tahu kalau wanitanya di sini sudah berkaca-kaca.
__ADS_1
***
Waktu terus bergerak hingga menunjukkan hampir pukul 12 malam, apartemen sudah tampak sunyi. Dennis menekan sandi pada pintu masuk apartemennya. Setelah pintu terbuka, tampak dua wanita yang dipilih olehnya sebagai asisten istrinya sedang tidur di atas sofa.
"Assalamualaikum," ucap Dennis lantang agar kedua wanita itu terbangun dan spontan kedua asisten itu benar terbangun. Mereka belum benar-benar tidur karena sejak tadi memang berjaga akan kepulangan sang tuan muda.
"Tuan muda ...." Kedua asisten ini seketika berdiri dengan tegap.
"Mengapa kalian tidur di luar?" tanya Dennis.
"Anu, Tuan muda ... itu, kami sengaja menunggu Tuan muda pulang," jawab Mimi sedikit gelagapan. Ia takut menyampaikan apa yang terjadi setelah telfon Dennis mati tadi.
"Kami ingin memberitahu kalau nyonya muda sudah tidur tapi ... tapi ... nyonya muda tidak makan malam terlebih dahulu. Kami sudah berusaha membujuknya tapi sepertinya nyonya muda sedang merajuk," sambung Mimi.
"Dan ... nyonya muda tidur dalam keadaan menangis," lanjut Lilis.
Mendengar laporan kedua asisten istrinya, Dennis bergegas melangkah ke kamarnya tanpa mengucap apapun.
Di atas ranjang king sizenya, istri cantiknya sudah tertidur dengan menggunakan dress. Masih sama dengan malam kemarin, istrinya ini belum siap memakai baju tidur yang telah disiapkan olehnya. Separuh selimut menutupi tubuh langsing itu hingga ke pinggang. Dennis berjalan mendekat ke sana, duduk di ujung tempat tidur tepat di kepala istrinya. Pelan-pelan merapikan rambut yang menutupi sebagian wajah mulus istrinya. Benar saja, pipi istrinya masih lembab. Istrinya benar-benar tertidur dengan berlinang air mata tadi.
"Maafkan saya, Sayang." Ia baru menyadari ternyata pulangannya yang terlambat dan kabar tentang kepergian dirinya besok merupakan sebuah berita yang menyedihkan bagi istrinya.
***
Waktu terus berputar hingga suara gema mesjid sudah terdengar dimana-mana. Sama seperti hari kemarin, suara adzan subuh akan mengawali pagi bagi mereka yang menjalankannya.
Naina mulai menggeliat, namun tubuhnya terasa begitu berat. Perlahan membuka mata dan merasakan dada bidang dari balik baju kaos yang menjadi tumpuan kepalanya. Tangan kekar merangkul tubuh langsingnya.
__ADS_1
"Sudah bangun?" tanya Dennis yang sejak tadi sudah terbangun namun menunggu wanita yang sedang tidur di dadanya juga terbangun.
Naina kembali memejamkan matanya, ia bukan tertidur hanya ingin merasakan hangatnya dekapan suaminya.
"Kapan kamu pulang, Mas?" tanyanya dengan suara serak.
"Mengapa kamu tidur tanpa makan apapun? Jangan pernah mengulanginya lagi!" Bukannya menjawab pertanyaan istrinya, tuan muda ini malah bertanya balik. Ia sudah tahu jawabannya tetapi ia sedikit kesal jika benar karena telatnya pulang hingga istrinya ini tidak makan lalu tertidur.
"Tanyakan saja pada dirimu," balas Naina.
Dennis semakin mempererat pelukannya, satu kecupan sudah mendarat ke kepala Naina.
"Maafkan saya, pekerjaan ini sangat penting dan tidak bisa saya tunda," jawabnya.
"Begitupun dengan kepergianmu hari ini?" lanjut Naina lagi bertanya dengan lirih. Dirinya yang baru menjadi istri selama dua hari rasanya belum siap jika harus ditinggal seperti ini.
"Saya sungguh meminta maaf, Sayang. Andai bisa kutunda atau ada yang bisa menggantikanku maka akan ku pilih itu demi tidak meninggalkanmu." Dennis mencoba meyakinkan istrinya.
"Apa Mas Dennis memang sering pergi seperti ini?" tanyanya lagi yang belum tahu pasti dengan pekerjaan suaminya.
"Hhmmm. Bahkan ke luar negeri,"
"Apa aku bisa ikut denganmu hari ini? aku tidak ingin jauh darimu, Mas." Ucapan Naina membuat Dennis menarik senyum tipis.
"Bukan aku tidak ingin membawamu, tapi aku tidak tega. Jikapun kamu ikut pasti aku tidak akan selalu ada di sampingmu, aku akan sibuk dengan pekerjaanku. Aku berjanji, suatu hari nanti aku akan membawamu kemanapun kamu ingin pergi, bahkan tempat terbaik yang kamu pilih di dunia ini, hanya kita berdua." Dennis terus meyakinkan istrinya agar tidak membuat wanita cantiknya ini berlarut dalam kesedihan selama kepergiannya nanti.
"Janji, hanya kita berdua?" tanya Naina.
__ADS_1
"Hhmmm"
"Asal kamu tahu, Mas. Tempat terbaik di dunia ini ketika berada dalam dekapanmu. Seperti ini." Ucapan Naina seketika membuat Dennis berdebar dalam bahagia. Ucapan yang tidak ia sangka akan keluar dari mulut istrinya.