MENCINTAI WANITA Dari ZONA_X

MENCINTAI WANITA Dari ZONA_X
Telefonan


__ADS_3

Dennis berdiri di hadapan mamanya.Menatap wanita paruh baya itu dengan segala kegundahannya,mama yang sangat ia sayangi ini sudah terlihat sembab.


"Mah,aku sangat menyayangimu.Aku tidak sanggup jika melihat mama seperti ini,tolonglah Mah!"Dennis mulai kembali membujuk mamanya.


"Kalau kamu menyayangiku,maka tinggalkan wanita Zona X itu dan menikahlah dengan Zara.Hanya itu yang membuat Mama bahagia,"balas Rita yang berderai air mata.


Dennis melangkah dan duduk di dekat mamanya.Rita langsung membelakangi putranya itu.


Dennis tidak peduli,ia menarik nafas dan mulai berbicara.


"Mah,bagaimana seseorang akan menjalani hidupnya dalam sebuah ikatan sakral jika dia tidak dicintai,"ucap Dennis yang sama sekali tidak ingin menerima perjodohannya dengan Zara.


"Apa maksud kamu?"


"Mah,aku tidak mencintai Zara.Apa mama tidak kasihan kepadanya jika ia harus hidup denganku tanpa mendapatkan cinta sedikitpun."


"Saat ini kamu memang belum mencintainya,tapi Mama yakin lambat Laung kamu akan jatuh cinta kepadanya.Dia wanita yang begitu sempurna,hanya lelaki bodoh yang tidak akan jatuh cinta pada wanita sesholeha dan secantik Zara,"balas Rita sangat tegas.


"Dan akulah lelaki bodoh itu,"balas Dennis.Walau nadanya terdengar pelan namun juga terdengar sangat tegas.


Rita berdiri dari duduknya.


"Mama tidak peduli,kamu akan tetap menikah dengan Zara,"ucapnya kemudian pergi meninggalkan Dennis sendirian.


***


Hari sudah subuh setelah drama panjang yang terjadi di kediaman mewah ini.Antara sebuah restu yang tak kunjung akan didapatkan dan cinta yang sudah tidak bisa berpaling lagi.


Dennis duduk di atas sajadahnya setelah melakukan kewajibannya di waktu subuh,ia menengadahkan tangannya ke atas meminta pertolongan sang pencipta,satu-satunya dzat yang bisa ia tempati untuk mencurahkan segala kegundahannya dari tidak berdayanya dirinya sebagai seorang putra yang sedang dalam kemarahan orang tuanya dan seorang lelaki yang sedang mencintai wanita,cinta tulus yang begitu teramat dalam.


Setelah ritual doa yang begitu khusyuk ia lambungkan ke yang maha Agung,ia duduk di atas tempat tidurnya.Mengambil ponsel yang terletak di atas nakas,menyandarkan punggungnya ke sandaran ranjang king sizenya.Apalagi jika tidak akan menelfon wanita yang selalu membuatnya gelisah.Seketika sambungan telefon sudah terhubung.

__ADS_1


"Hallo ... Assalamualaikum,Mas."Terdengar suara yang sangat menyejukkan itu dari balik telefon.Suara itu terdengar begitu sangat lelah.


"Waalaikumsalam.Apa kamu baik-baik saja?"tanyanya yang mendengar suara Naina sangat lirih.


"Iya,Mas.Aku baik-baik saja,"balas Naina.


"Tapi suaramu terdengar tidak baik."Dennis masih dengan segala kekhawatirannya.


Sementara dari balik telefon sana terdengar terkekeh kecil.


"Kenapa kamu tertawa?"tanya tuan muda ini.


"Soalnya Mas Dennis sangat lucu.Mengkhawatirkanku hanya karena suaraku.Apa Mas Dennis tahu,Mas Dennis menelfon di jam berapa?"Naina kembali terkekeh.


"Ini masih subuh,Mas.Wajarlah jika suaraku tidak terdengar baik,aku baru bangun.Atau aku harus bernyanyi untukmu agar meyakinkan kalau aku baik-baik saja."Gadis ini masih sempatnya mengeluarkan godaannya.


"Keterlaluan,"umpat Dennis lirih namun terdengar terkekeh juga.


"Astaga,kamu baru bangun.Artinya kamu belum shalat.Ya sudah,shalat sana!"sambung Dennis lagi.


"Iya,iya ... aku paham.Tidak perlu menjelaskannya.Kamu seorang wanita."Sepertinya Dennis sudah mengerti alasan Naina tidak melakukan kewajiban di waktu subuhnya.Dari cara Naina berbicara,ia sudah tahu kalau Naina sedang datang bulan dan pastinya ia cukup malu jika harus mendengarnya langsung dari Naina.


"Ah,syukurlah kalau Mas Dennis sudah paham.Aku tidak perlu malu untuk menjelaskannya,"ujar Naina lebih dulu.


"Hei,kamu pikir aku tidak akan malu untuk mendengarkannya,"balas Dennis yang membuat Naina terkekeh.


"Sudah ... sudah,tidak perlu membahas itu.Oiya,bagaimana keadaan paman?"sambung Dennis lagi.


Terdengar suara Naina menarik nafas lemas.


"Begitulah,Mas.Masih seperti kemarin,paman masih tidak sadarkan diri."Naina kembali terdengar sedih jika membahas pamannya lagi.

__ADS_1


"Sebenarnya paman Harun sakit apa?padahal dokter yang menanganinya adalah dokter terbaik kota ini."Dennis terdengar sedikit putus asa dengan kondisi Harun.


"Oiya,mengenai Neta.Semalam sekretaris Ben sudah mendapat kabar tentang keberadaannya.Kamu tidak usah khawatir,sekretaris Ben dan orang-orangnya akan segera membawa Neta kembali untuk kalian."Dennis memberikan kabar baik untuk Naina.


Tetapi tiba-tiba suara Naina tidak terdengar.


"Hallo,apa kamu mendengarku?"tanya Dennis yang tidak mendapatkan respon dari Naina.


"Iya,Mas.Aku mendengarmu."


Entahlah aku sedang bahagia mendengar kabar ini atau tidak.Rasanya aku ingin mencincang hidup-hidup anak itu.


Gumam Naina sangat kesal jika mengingat sikap Neta dengan keputusan bodohnya.Akan tetapi,bagaimana pun juga ia tetap mengharapkan kehadiran Neta di sini untuk kesembuhan pamannya.


"Sepertinya paman hanya akan sadar jika Neta sudah berada di dekatnya.Sebelumnya terima kasih banyak,Mas.Saya tidak tahu harus berkata apa lagi untuk segala kebaikanmu,"balas Naina.


"Jangan berkata seperti itu,bahkan dunia ini akan ku berikan untukmu jika itu perlu."Apa tuan muda ini sedang mengeluarkan rayuannya,entahlah.Tetapi terdengar begitu mempesona.


"Astaga,Tuan muda.Anda membuatku sangat malu."Terdengar suara Naina kembali terkekeh.Walau ia seperti terdengar mengejek Dennis tetapi di lubuk hati terdalamnya,ia begitu bahagia.


"Jangan tertawa seperti itu,aku sedang serius,Maemunah,"balas Dennis yang ikut terkekeh juga.


Demi dirimu,aku bahkan sedang berjuang meluluhkan orang tuaku.


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari kamar rumah sakit itu.Naina terdengar berbicara dengan seseorang.


"Mas Dennis,di sini sedang ada perawat yang memeriksa keadaan paman.Nanti lagi yah kita ngobrolnya,"ucap Naina.


"Oiya.Hhmm ... aku akan menghubungimu setelah meeting-ku selesai siang nanti."


"Iya,Mas.Oiya satu lagi.Terima kasih atas pengawal yang Mas Dennis kirim,aku sudah seperti ratu pemilik kota ini,"ucap Naina sangat sangat pelan karena tidak enak jika didengar oleh para perawat di ruangan itu.

__ADS_1


Dennis terdengar terkekeh lagi.


"Kamu bahkan lebih dari itu,Nona"balas Dennis kemudian mengucap salam sebelum menutup telefonnya.Tuan muda ini sangat pandai membuat wanitanya berdebar-berdebar.


__ADS_2