
Malam semakin larut,kesunyian mulai menghiasi kamar pengantin baru ini.Degup kencang di dada Naina kembali berdebar dengan hebat,andai bisa terdengar maka akan melawan kesunyian malam.Ia duduk di sofa dengan sesekali menatap pintu kaca dimana suaminya sedang berada di dalam sana.Yang ia tahu suaminya sedang berganti baju di dalam.
Astaga,mengapa aku jadi takut begini.
Pikiran aneh sudah merasukinya,ia menyadari kalau malam ini adalah malam pertama baginya menjadi seorang istri.Apa suaminya akan meminta haknya malam ini seperti pasangan pengantin baru pada umumnya,itu yang sedang ia pikirkan.
Tidak ... tidak ... aku belum siap.Atau ku katakan saja kalau aku masih ....
Yang ada di benaknya,Ia akan mengatakan kalau dirinya masih dalam masa bulanan wanita.
Tapi,aku kan sudah bersih.Apa aku berbohong saja?
Kecemasan terus melanda dirinya.
Pintu kaca yang tidak jauh dari fokusnya sudah terbuka.Lelaki tampan yang sudah sah menjadi suaminya itu keluar dengan menggunakan kaos polos putih dan celana panjang santai untuk tidur.
Ia merasa lega melihat tampilan suaminya ini.Melihat pakaiannya,artinya suaminya ini belum akan meminta apapun darinya.Ia berpikir kalau nantinya lelaki yang begitu berjuang menjadikannya istri ini akan keluar tanpa menggunakan baju atau mungkin hanya akan menggunakan pakaian dalam saja.Entah siapa yang sedang berpikiran mesum di sini,seketika ia menepuk keningnya sendiri setelah menghela nafasnya.Rasanya sangat malu jika Dennis mengetahui tentang apa yang sedang beradu di dalam otaknya.
Sungguh,otakku sangat dangkal.
Mencemooh dirinya sendirinya.
"Hei,ada apa?"
Dennis merasa ada yang aneh pada sikap istrinya.
Naina tersenyum kikuk.
"Tidak,Mas.Saya ... saya hanya merasa sangat lelah,"jawabnya asal.
Dennis berjalan mendekatinya ke sofa.Semakin mendekat dan memegang kedua lengannya.Jantung Naina kembali berdegup kencang,entah kenapa pikiran konyolnya tadi kembali merasuki dirinya.
"Ya sudah,kamu ganti baju lalu kita tidur."
__ADS_1
Sontak pikiran Naina melanglang buana lagi.
"Kita?Ti-tidur?"Sungguh gadis ini,entah apa yang ada dipikirannya.
Dennis melepaskan tangannya.Betapa bingungnya ia dengan pertanyaan Naina.
"Iya,kita akan tidur.Memangnya kamu akan begadang hingga pagi.Kamu tahu,ini sudah jam 12 malam."Tuan muda ini tidak memikirkan sampai ke pemikiran istrinya.
"Apa__Apa kita akan tidur bersama?"Naina akhirnya mengutarakan tentang apa yang membuatnya cemas dan gelisah.
Dennis berkacak pinggang kemudian menundukkan kepala.Ada senyum yang terpancar di sana.Betapa pertanyaan itu begitu menggelitik baginya.Ia sudah paham tentang apa yang terjadi pada istrinya.Sepertinya mengerjai gadis ini akan sangat seru,pikiran iseng tuan muda sedang mencuak.
"Tentu saja.Di tempat tidur ini."Menunjuk ranjang king size di belakangnya.Sepertinya menggoda istrinya sangat mengasyikkan.
"Apa ada pasangan suami istri yang tinggal dalam satu rumah tapi tidur berpisah?"sambungnya lagi dengan memegang dagu dengan bentukan indah di depannya.
"Sekarang,masuklah ruang ganti dan ganti bajumu itu dengan pakaian tidur!"bisiknya yang membuat Naina sangat merinding.
Naina berjalan menuju pintu kaca,jari-jemarinya saling mencubit kecil,raut wajahnya sudah pucat pasih.Sebelum memasuki pintu kaca,ia berbalik dan menatap Dennis sejenak.Melihat setiap detail dari rambut hingga ke kaki.Ia benar-benar berpikir aneh dalam ketakutannya.Ia kemudian bergegas masuk ke dalam ruang ganti,rasanya tidak ingin keluar dari sana.
Tidak berapa lama,Naina keluar dari ruang ganti.Menatap ke arah tempat tidur,Dennis sudah membaringkan tubuhnya dengan tubuh terlentang dan kedua tangan berada di atas perut.Tampak dari matanya yang terpejam,sepertinya suaminya ini sudah tertidur.Ia menhela nafas lega kemudian bergegas berjalan menuju tempat tidur dan dengan pelan naik ke atas ranjang tepat di samping suaminya.
"Mengapa belum mengganti baju?"Baru saja ia memperbaiki posisinya untuk tidur tiba-tiba terdengar suara lelaki yang ia pikir sudah terlelap.Ia menatap ke samping,ternyata suaminya ini belum sama sekali tertidur dan betapa terkejutnya ia melihat lelaki bermata menawang ini malah menyandarkan tubuh ke sandaran tempat tidur.
Naina menatap tubuhnya yang masih menggunakan dress yang tadi,kemudian terdiam sejenak mengingat pakaian-pakaian tidur yang ada di dalam lemari.Rasanya ia sangat kesal bukan kepalang.
Mas Aben,kamu benar-benar keterlaluan.Lihat saja besok,aku akan menghajarmu.
Ia seperti menyimpan amarah kepada sekretaris Ben.Bagaimana tidak,baju-baju tidur yang disiapkan untuknya sungguh begitu sexi.Tepatnya itu adalah lingerie,jangankan untuk memakainya bahkan melihat baju itu saja sudah membuatnya jijik.
"Mengapa tidak mengganti baju?apa kamu akan tidur menggunakan baju seperti ini?"tanya Dennis lagi.
"Iya.Sepertinya aku lebih nyaman tidur dengan dress ini,"jawabnya ketus kemudian membaringkan tubuhnya dengan posisi membelakangi.
__ADS_1
Dennis turun dari tempat tidur,kemudian berjalan menuju ruang ganti.Naina hanya melihatnya sejenak,entah kemana suaminya itu akan pergi?dia tidak peduli.
Sementara Dennis,di dalam ruangan ganti ini.Ia menuju lemari dimana pakaian istrinya tersimpan,membuka satu-persatu lemari pakaian dan mencari dimana pakaian tidur istrinya tersimpan.Tidak lama kemudian akhirnya ia menemukan pakaian yang digunakan khusus tidur,ini satu-satunya lemari yang menyimpan pakaian seperti itu.Sudah tampak di depan matanya lingerie tergantung begitu rapi,hampir modelnya sama semua,sungguh begitu sexi.Ia saja seperti malu untuk menyentuh pakaian ini,ia terkekeh sejenak.Pantas saja istrinya tidak mengganti baju,pikirnya.
Ia kembali keluar,mau tidak mau ia terpaksa membiarkan istrinya memakai dress itu.Ia tahu kalau Naina pasti bukan hanya tidak siap memakai lingerie itu,tetapi pakaian seperti itu memang tidak terbiasa ia kenakan.
Dennis mematikan lampu dan dengan bersamaan berganti dengan remangnya lampu kamar.Ia naik ke atas tempat tidur.Naina bisa merasakan suaminya sudah berada di dekatnya,ia tetap pada posisinya yang membelakangi.
Sejak tadi gadis ini merasa sangat gelisah.Sewaktu Dennis berada di ruang ganti,ia sibuk mencari guling untuk ia simpan di tengah tetapi tidak menemukan.
"Ehhmm ...."Ia mengeluarkan dehaman seperti akan memulai mengatakan sesuatu.
"Mas,apa di kamar ini tidak ada guling?"Akhirnya ia menanyakannya.
Mendengar itu,Dennis menyalakan lampu utama dan seketika ruangan kembali terang.
Tuan muda ini menatap ke sekeliling tempat tidur,mencari apa yang ditanyakan istrinya tetapi tidak melihat satupun yang ia cari.Di dalam hatinya kembali menggelitik,entah kemana bantal guling di dalam kamarnya.Sedetail ini sekretaris Ben melakukannya,pikirnya.
"Saya tidak tahu,tapi seingat saya di tempat tidur ini ada gulingnya.Tapi sekarang saya tidak melihatnya,"jawabnya.
"Ya sudah,tidurlah!"sambungnya kemudian mematikan lampu.
"Entah berapa gaji sekretaris itu?"lirih Naina ketus.
Sangat keterlaluan,sambungnya membatin.
Dennis hanya tersenyum mendengarnya.
***
Satu jam telah berlalu,Naina belum juga memejamkan mata.Betapa ia sangat gelisah,terus menerus mencari posisi yang nyaman untuk tidur tetapi tetap saja mata cantiknya tidak bisa terpejam.Untuk pertama kalinya ia sekamar dengan lelaki bahkan berbagi tempat tidur seperti ini,benar-benar membuatnya sangat tidak nyaman.
Sementara Dennis,lelaki dengan postur tubuh begitu idaman ini sudah terlelap dalam tidurnya.
__ADS_1
Bagaimana mungkin dia bisa tertidur pulas seperti ini.