MENCINTAI WANITA Dari ZONA_X

MENCINTAI WANITA Dari ZONA_X
Keajaiban


__ADS_3

Naina seketika lemas dan tangannya terjatuh dari genggamannya pada gagang pintu itu.


"Sayang,kemarilah!jangan membuatku menunggu lama," suara menjijikkan lelaki hidung belang di belakangnya kembali memanggilnya,kali ini terdengar jauh lebih lembut namun tetap saja membuat Naina serasa mual.


Naina menyeka bulir bening dari ujung kelopak matanya.Ia berpikir sejenak,melawan lelaki ini memang tidak akan menang baginya,berteriak pun tidak ada gunanya.Ia segera berbalik menatap lelaki yang sedang duduk di atas tempat tidur.Ia harus melakukan sesuatu agar bisa keluar dari sini.


Naina berjalan mendekati lelaki itu seolah ia sudah pasrah.Langkah yang tampak tidak takut ia perlihatkan.


Ada senyum yang terpancar dari lelaki yang sering dipanggil om Bram ini.Lelaki ini merasa kalau ia akan berpesta malam ini bersama gadis cantik yang sudah lama ia incar.Gadis bak berlian indah milik Zona X.Jika ditarik ke belakang,ia juga menyimpan dendam pada Naina yang semalam telah berani bersikap kasar kepadanya.


"Om Bram,aku ingin ke toilet sebentar.Apa tidak keberatan jika Om Bram menunggu?" ucap Naina dengan nada manja yang ia buat-buat,di sisi lain ia sudah sangat ingin muntah dengan ucapannya sendiri.'Om Bram?' sebutan macam apa itu?pikirnya.


Bram terkekeh mendengarnya.Lelaki ini sepertinya sudah sangat senang karena ia berpikir kalau akhirnya Naina menyerah juga.


"Silahkan,Sayang!sepertinya kamu akan menyiapkan sesuatu yang luar biasa untuk pesta kita nanti."


Lelaki ini percaya saja dengan ucapan Naina.Tidak ada kecurigaan dari Bram jika Naina akan melakukan sesuatu.


Naina membalasnya tersenyum kemudian segera ia masuk ke dalam toilet yang berada di kamar tersebut.


Sesampainya di dalam toilet,ia segera mengunci toilet dan menghela nafas panjang.Bergegas ia memperhatikan toilet tersebut,berharap ada celah untuk kabur.


Sayang sekali,tidak ada ruang baginya untuk bisa meloloskan diri.Seketika tubuhnya kembali lemas.Toilet yang berukuran kecil ini tidak ada celah sedikitpun baginya untuk ia gunakan sebagai jalan keluar.


"Sayang,jangan lama-lama di dalam sana!" Suara menjijikkan itu kembali terdengar.


Naina kembali panik.Apa lagi yang harus ia lakukan?ponselnya,yah ... mengapa tidak dari tadi ia memikirkannya.Segera ia mengambil ponselnya dari dalam saku celananya.Lalu siapa yang akan dia telefon?satu-satunya yang terlintas di benaknya adalah Dennis Atmajaya.


Bergegas menelfon Dennis.


"Mas Dennis ... angkat,Mas." Ponsel sudah menempel pada telinganya.


***


Di ruangan sebuah rumah sakit.Dennis berjalan bolak-balik dengan gelisah,sesekali ia menatap pasien yang sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan sadar.


Astaga,Naina.Kamu dimana?


Tuan muda ini sangat gelisah,sejak tadi telefonnya juga tidak dijawab.Naina sama sekali tidak memberinya kabar.

__ADS_1


"Permisi,Tuan muda." Sekretaris Ben datang dari arah pintu.


"Saya sudah menanyakan kepada semua perawat yang bertugas tetapi tidak ada yang mengetahui kemana Nona Naina pergi.Satu orang perawat yang ia tempati pamit hanya mengatakan kalau Nona Naina pergi dengan terburu-buru dan tidak mengatakan kemana ia akan pergi."


Dennis menjatuhkan tubuhnya ke sofa,entah kenapa perasaannya sangat tidak nyaman.Seperti terjadi sesuatu pada Naina.


Tiba-tiba ponselnya berdering.


"Maemunah." Itu nama yang muncul dari layar ponselnya.


Segera ia menggeser tombol hijau pada layar ponselnya.


"Naina,kamu dimana?Mengapa ....?" Belum selesai Dennis berbicara,terdengar isak tangis dan suara panik dari sana.


"Mas Dennis ... tolong saya,Mas.Saya dijebak.Saya berada di ...." Tiba-tiba terdengar suara gemuruh seperti ketukan pintu yang sangat keras dan ponsel yang sedang dalam panggilan langsung terputus.


"Naina ... Naina ...." Dennis berteriak namun panggilan sudah tidak tersambung lagi.


Dennis kembali menelfon Naina namun tidak ada jawaban,Naina tidak mengangkat telefon.


"Apa yang terjadi,Tuan muda?" Sekretaris Ben terlihat ikut panik.


***


"Apa kamu sedang berbicara pada seseorang," bentak Bram dari luar pintu dan terus mengetuk pintu toilet itu dengan keras.


Naina segera mematikan teleponnya.


"Sabarlah,Om.Saya sedang menyiapkan sesuatu," jawab Naina dari dalam toilet.


"Saya mendengarmu seperti sedang berbicara pada seseorang." Bram mulai curiga pada Naina.


Naina terdengar tertawa.


"Mungkin Om salah dengar,tadi saya hanya bernyanyi," jawab Naina beralasan.


"Ya sudah,cepatlah keluar!" Bram sangat mudah untuk ditipu,ia percaya begitu saja dengan ucapan Naina.


Naina menghela nafasnya.Pesan sudah terkirim kepada Dennis.Naina memberi tahu lewat pesan dan juga mengirimkan titik lokasi dirinya.

__ADS_1


Ia berjongkok dengan bersandar ke pintu toilet.Ia tahu,yang ia harapkan saat ini hanyalah sebuah keajaiban.Walau Dennis sedang dalam perjalanan menemuinya,pasti akan memakan waktu yang lama.Ia benar-benar berharap sebuah keajaiban datang kepadanya hingga ia bisa keluar dari sini tanpa noda sedikitpun dari lelaki hidung belang yang sedang menunggunya di luar.


Beberapa waktu telah berlalu.


Pintu toilet tiba-tiba diketuk dengan sangat keras,Naina sangat terkejut.


"Kamu sudah sangat lama di dalam sana.Jika kamu tidak keluar maka pintu ini akan ku dobrak," ancam Bram yang merasa sudah dipermainkan oleh Naina.


"Tungglah sebentar lagi,Om," teriaknya.


Tiba-tiba terdengar suara keributan,Naina hanya mendengarnya samar-samar kemudian pintu toilet itu kembali di ketuk tetapi tidak sekeras yang tadi.


"Sedikit lagi,om," teriak Naina lagi yang terus berusaha mengulur waktu sampai Dennis datang menolongnya.


"Kami polisi,apa Anda yang bernama Nona Naina?tolong keluar dari sana!" ucap seorang lelaki yang sepertinya memang bukan suara Bram.


Naina terdiam,menempelkan telinganya ke pintu.Tidak ingin percaya begitu saja.Walau samar-samar,di luar terdengar suara yang sangat gaduh.


Apa lelaki tua itu memanggil semua teman-temannya?


Pikir Naina yang semakin panik.


"Nona Naina,Anda tidak usah khawatir!sekarang Anda sudah aman.Kami ke sini atas laporan Dennis Atmajaya dan dibawah perintah pak Rangga.Kami polisi,Nona," suara lelaki ini terus meyakinkan Naina.


Mendengar nama Dennis dan Rangga,tampak perasaan lega di hati gadis malang ini.


Pelan-pelan pintu toilet terbuka.Naina memperhatikan sekitar.Benar saja,beberapa polisi walau berpakaian biasa saja namun dilengkapi dengan senjata dan rompi hitam pada dada mereka.


Sepertinya keajaiban tuhan memang datang menolongnya.


"Keluarlah,Nona!Anda sudah aman," ucap polisi dengan laras panjang yang ia gantungkan hingga ke dadanya.


Naina melihat Bram yang sudah tidak berdaya dengan kedua tangan terlihat kaku ke belakang,entah ia di borgol atau tidak,Naina tidak melihatnya jelas karena Bram sudah di bawa keluar oleh beberapa polisi lain.


"Mari,Nona.Ikut kami ke kantor!" ajak sang penegak hukum ini.


"Tapi saya tidak bersalah,Pak.Saya dijebak,saya adalah korban." Naina kembali takut mendengar dirinya akan dibawa ke kantor polisi.


"Nona tidak usah khawatir,Nona hanya akan menjadi saksi dan dimintai keterangan saja."

__ADS_1


__ADS_2