MENCINTAI WANITA Dari ZONA_X

MENCINTAI WANITA Dari ZONA_X
Berdebar


__ADS_3

Matahari terbit laksana memberikan  senyuman yang menarik diri memulai hari.Kemilau fajar yang baru bangun dari tidurnya,bergerak ke atas memberi semangat untuk berjuang melawan kerasnya hidup.


Masih sangat pagi,wilayah Zona X yang begitu sunyi.Pagi yang seperti bertukar dengan malam,hening.Itulah kehidupan di wilayah nista ini.


Naina berjalan dengan ransel dipundaknya,melangkah dengan sepatu mahal yang membuatnya tidak nyaman.Bagi wanita di luar sana,ini sangat membahagiakan tetapi tidak dengan dirinya.Dia merasa membawa beban dengan alas kaki seperti ini.Tuan muda itu sudah tidak waras dengan terus memberinya barang mahal,mana ada orang yang punya hutang diperlakukan seperti ini?pikirnya,tapi pasrah saja karena melawan orang-orang besar seperti itu malah akan membuatnya berada dalam kesulitan.


Terus melangkahkan kaki ke ujung jalan disepanjang Club-Club Zona X,menuju jalan utama di luar sana yang terdapat halte,dimana semalam ia diturunkan oleh mobil mewah itu.Sangat menyebalkan pastinya,mengapa tidak mengantarnya masuk saja.


Naina tidak tahu kalau Tuan muda dan Sekretarisnya itu takut ketahuan jika mereka berada di lingkungan seperti ini.Mobil mewah limited edition seperti itu akan cepat ketahuan siapa pemiliknya.


Tidak berapa lama,akhirnya ia sampai di ujung jalan.Mulai ramai kendaraan berlalu-lalang.


Berbelok sedikit menuju halte,betapa terkejutnya ia dengan mobil mewah yang sedang parkir di tepi jalan.Lelaki berjas yang menutup separuh wajahnya dengan masker,bersandar pada pintu mobil bagian kemudi dengan melipat kedua tangan ke perut.


Astaga,mereka lagi.Sekalian saja kalian menjadi bayanganku.


Naina sangat tidak nyaman tetapi dengan terpaksa harus menampakkan senyumnya,senyuman indah walau dibuat-buat.


"Selamat pagi,Nona Naina" Sapa Sekretaris Ben.


"Selamat pagi,Mas Aben" balas Naina dengan senyuman bodohnya.


Sekretaris Ben langsung membukakan pintu mobil bagian belakang.


"Silahkan,Nona"


"Mas Aben,mengapa repot-repot menjemput seperti ini" pura-pura polos.Andai dihadapannya ini bukan lelaki hebat dan dirinya tidak punya sangkutan hutang,mungkin dia sudah menghajar Tuan Sekretaris ini.


"Ehhmmm"


Sekretaris Ben belum menjawab tetapi suara dehaman sudah terdengar dari dalam.Lelaki berjas satunya lagi yang sedang duduk dengan segala kekuasaannya di kursi belakang.


"Selamat pagi,Tuan muda" Naina langsung menyapa.Sapaan palsu pastinya.


"Masuklah!" hanya itu yang didengar Naina dan langsung masuk ke dalam mobil.


***


Mobil mewah ini melaju membelah jalan.Pastinya akan menuju Beauty Flowers dulu untuk mengantar Nona menggemaskan ini.


"Tuan muda,mengapa repot-repot menjemputku.Saya bisa naik Busway,Tuan" Naina membuka pembicaraan.


"Apa anda keberatan?" Setiap kalimat Dennis seperti selalu menyudutkan,tak ada jalan untuk melawannya.


"Bukan begitu,Tuan muda.Justru saya sangat berterima kasih karena..." Belum selesai Naina dengan ucapannya tetapi Dennis langsung memotongnya.


"Ya sudah.Berarti tidak ada masalah,bukan" lagi-lagi menyimpulkan seenaknya.


Anda pikir saya bahagia diperlakukan seperti ini.Saya berterima kasih juga tidak tulus.


Perjalanan sudah melewati waktu beberapa menit,tak ada percakapan lagi.Sunyi seperti paginya Zona X.

__ADS_1


Naina mengetuk-ngetukkan kakinya,mungkin dia bermaksud menghilangkan kebosanan di mobil mewah ini.Hanya ada aroma parfum dari lelaki tampan di sampingnya yang sangat maskulin tetapi lembut menemani kebosanan itu.


"Begitu kan cantik"tiba-tiba terdengar suara Dennis membuat Naina terkejut.


Menoleh cepat ke arah suara di sampingnya.


"Sepatunya" lanjut Dennis menegaskan kalimatnya barusan.


Naina hanya tersenyum.Selalu saja memaksakan senyum.


"Terima kasih atas pemberian sepatunya,Tuan muda.Sebenarnya saya merasa malu memakainya"


"Apa?jadi kamu tidak menghargai pemberianku?"Mendengar ucapan Naina membuat Dennis menaikkan sedikit suaranya.Ternyata lelaki ini sangat sensitif.


"Bukan begitu,Tuan muda.Maksud saya,saya malu karena sepatu ini sangat bagus.Saya merasa tidak pantas memakainya" Naina sampai kewalahan menghadapi setiap ucapan Tuan penguasa ini.


Dennis terdiam.Merasa lega mendengar jawaban Naina.


"Tidak ada yang tidak pantas untuk kamu" lagi-lagi Dennis tidak bisa mengontrol ucapannya.


Naina sedikit terkejut,ingin berbicara tetapi tidak tahu harus berkata apa.Sedikit berdebar,untuk pertama kalinya ada orang yang berkata seperti itu kepadanya.Nada ucapan itu juga terdengar begitu tulus.


Naina menoleh ke kaca jendela di sampingnya,memandang jalanan yang mulai padat untuk menghilangkan kecanggungannya.Si Maemunah kehabisan kata dalam waktu sekejap.Sementara Tuan muda ini tetap santai,ia menyadari penuh dengan ucapannya.Melihat gadisnya malu-malu seperti ini membuatnya semakin jatuh dalam cintanya.


"Oiya..saya ingin bilang kalau Azea menyukaimu" Dennis kembali berbicara untuk menghilangkan kecanggungan Naina,tetapi ucapannya memang benar adanya.


Mendengar ucapan Dennis,Naina langsung menoleh.Ia terkejut sekaligus bahagia,artis idolanya menyukainya?pikirnya.


"Jika kamu ada waktu luang,dia mengajakmu ke rumahnya lagi" sambung Dennis yang membuat Naina semakin bahagia.Kecanggungannya tadi benar-benar hilang seketika.


"Iya,Tuan muda.Saya pasti akan usahakan untuk memenuhi permintaan Mbak Azea.Atau saya bolos kuliah saja hari Minggu nanti?" ujarnya sangat bahagia,kemudian berpikir lagi.


"Tidak..tidak..saya tidak boleh melakukan hal itu.Lalu bagaimana saya bisa main ke rumah Mbak Azea" sambungnya sedih.


"Tidak usah khawatir,saya bisa mengatur jadwal untuk itu.Bagaimana Sekretaris Ben?" bertanya kepada lelaki yang sejak tadi diam dan hanya menyimak saja.


"Bukan pekerjaan sulit,Tuan muda" jawab Sekretaris hebat ini.


Naina tidak mengerti,tetapi itu membuatnya bahagia.


"Jadi,kamu benar bahagia jika bertemu Azea lagi?"Tanya Dennis kepadanya.


"Saya merasa ini adalah mimpi,Tuan muda" jawab Naina tidak menyangka.


"Oiya,Tuan muda.Apa saya bisa mengajak sahabat saya Kiran?" Tanya Naina.


"Kiran?"walau sudah pernah melihat Kiran,tetapi Dennis tidak tahu siapa Kiran itu.


"Iya,yang bersama saya kemarin waktu Tuan muda menjemputku" jawab Naina yang membuat Dennis mengingatnya.


Dennis tertawa.

__ADS_1


"Jangankan Kiran,satu Beauty flowers pun kamu ajak tidak masalah.Asal kamu bahagia" kalimat terakhir Dennis lagi-lagi membuat Naina salah tingkah.Batinnya benar-benar berdebar.


Naina hanya tersenyum untuk mengalihkan perasaannya itu.


Kembali diam dan tidak ada pembahasan lagi.Tetapi diam seperti ini membuatnya semakin aneh saja.


"Oiya,Tuan muda.Tuan muda belum mengirimkanku foto semalam"mencoba berbicara untuk mencairkan kembali suasana.


"Tunggu siang nanti" jawab Dennis singkat.


"Kenapa harus siang,Tuan muda.Bukankah nomorku ada pada Tuan muda,sekarang pun bisa mengirimnya"Kecanggungan Naina sudah berubah menjadi kesal.


"Suka-suka saya dong" santai sekali Tuan muda ini menjawab.


"Saya pikir sudah bisa menerkamnya pagi ini pada semua orang di Beauty Flowers" ucapnya lirih dengan memukul pelan ransel yang ada di pangkuannya.


Walau lirih,Dennis mendengar jelas ucapannya.


"Jadi kamu sudah tidak sabar memamerkan foto kita berdua pada semua orang,sungguh sangat agresif" ucapan Dennis membuat Naina terkejut.Ia mengernyitkan alis,tidak berdebar lagi tetapi sedikit kesal.


"Anda terlalu kepedean,Tuan muda" Naina sudah tidak sadar dengan kelancangannya.


"Yang saya ingin pamerkan itu bukan foto bersama anda,tapi bersama Mbak Azea dan Mas Rangga" sambung Naina.


Ada senyuman dari Tuan Sekretaris di depan.


"Oh...jadi maksud anda,saya ini tidak penting,begitu?"


"Bukan begitu Tuan Muda,tetapi siapa yang peduli dengan foto anda.Maksud saya..." Naina benar-benar lancang,iya baru menyadari ucapannya.


Lagi-lagi Tuan Sekretaris yang ada di depan kembali tersenyum mendengar ucapan Naina.


Terus saja mengganggunya,Nona.Itu akan membuat Tuan muda semakin mencintaimu.


"Maksud saya..."Naina tidak tahu harus menjawab apa.


Tiba-tiba mobil sudah parkir.Ternyata mereka sudah sampai.


Membuat Naina seperti terselamatkan.Tanpa menunggu Tuan Sekretaris membukakan pintu,ia segera turun.


"Hei..." Dennis hendak menahannya,seperti belum rela melepas Naina.


"Tuan muda,terima kasih sudah mengantarku" ucap Naina cepat.


"Mas Aben,Terima kasih" Sambungnya.


"Saya masuk,daaaa...Assalamualaikum" sejurus ia berlari kecil ke halaman toko tempat ia bekerja bahkan tanpa mendengar ucapan salam dari lelaki yang duduk di kursi belakang.


"Waalaikumsalam" jawab Dennis pelan kemudian menaikkan kaca mobilnya tetapi masih fokus melihat gadisnya yang terburu-buru menghindari perdebatan dengannya.Senyum bahagia dari bibir Tuan muda ini,mengapa ada gadis selucu ini,sangat menggemaskan.


________

__ADS_1


Maaf,baru sempat up.


Tetap tinggalkan jejaknya yah,jangan bosan😍❤️terima kasih🙏


__ADS_2