
Pertemuan kedua keluarga ini telah selesai,segala pembahasan baik telah menjadi bahan silaturahmi antar kedua keluarga ini.
Setelah berpamitan,mobil Tuan Atmajaya keluar dari gerbang Pesantren.
Dennis dan Ben masih berada di parkiran.Sekretaris Ben membukakan pintu mobil untuk Tuannya.
"Sekretaris Ben."
Dennis menahan Sekretaris Ben untuk membuka pintu mobil dan segera tangannya menutup kembali pintu mobilnya.
"Ada apa,Tuan muda?"
Sekretaris Ben tidak mengerti,mengapa Tuan mudanya tidak segera naik ke mobil bahkan menutup kembali pintu mobil.
"Aku ingin menemui anak lelaki tadi," ujar Dennis.
Tanpa berpikir,sekretaris Ben sudah tahu siapa lelaki yang dimaksud tuannya.Pasti Arka,yah itulah nama lelaki yang berbicara dengan Naina,sekretaris Ben masih mengingat jelas nama itu.
"Arka?" tanya sekretaris Ben.
"Hhhmmm"
"Baiklah,Tuan muda.Tunggu di sini,akan ku carikan untukmu."Sekretaris Ben segera berbalik,berjalan menyusuri gedung pesantren khusus para ikhwan.
Dennis masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi belakang sembari menunggu sekretaris Ben membawa Arka padanya,hal yang tidak mudah membawa salah satu santri di pesantren ini jika bukan waktu besuk.
Selang beberapa waktu,Sekretaris Ben kembali dengan seorang lelaki yang ikut berjalan di belakangnya,Dennis tersenyum.Ben memang sekretaris terbaik yang pernah ada,entah bagaimana sekretaris Ben meyakinkan para pengasuh dan guru yang berada di pesantren ini untuk membawa Arka,apa dia memakai nama tuan Atmajaya yang sangat terkenal sebagai donatur terbaik di pesantren ini?entahlah,biarkan itu menjadi urusan sekretaris Ben yang jelas dia berhasil membawa Arka bersamanya.
Setibanya di parkiran,sekretaris Ben langsung membuka pintu mobil.
"Maaf,Tuan muda.Apa Tuan muda ingin berbicara di sini atau di luar?" tanya Sekretaris Ben.
"Memangnya bisa membawanya keluar?"balas Dennis.
"Saya sudah mendapat izin akan itu,Tuan muda."
Jawaban Sekretaris Ben membuat Dennis tersenyum.Sungguh Sekretaris yang luar biasa.
"Ok,cari kafe terdekat!"
"Baik,Tuan muda."
Arka hanya diam di tempatnya,ia mengikuti sekretaris Ben atas perintah para ustadznya.Sepertinya sekretaris Ben memang menggunakan nama tuan Atmajaya.
"Silahkan Arka!"
Sekretaris Ben menyuruh Arka naik ke atas mobil.
"Hai,Arka."
Dennis langsung menyapanya.
Arka hanya tersenyum dan duduk di samping Dennis.
Dennis mengulurkan tangannya.
"Dennis."
Memperkenalkan diri pada Arka.
Arka menyalami tangan Dennis.
"Tuan muda,putra tuan Atmajaya kan?" tanya Arka.
Dennis melirik Ben dari spion,sepertinya Sekretarisnya ini memang menggunakan nama papanya untuk meminta Arka ikut bersamanya.
"Yah,betul," jawab dennis.
"Apa gerangan Tuan muda mencariku?" tanya Arka lagi.
"Saya hanya ingin bersilaturahmi denganmu,apa kita bisa bicara di luar?maksud saya sambil minum jus?"
"Iya,Tuan muda."
Mendengar jawaban Arka,Sekretaris Ben langsung menjalankan mobilnya keluar dari pesantren.
Setelah beberapa meter,akhirnya mereka sampai di sebuah kafe yang letaknya tidak jauh dari pesantren.
__ADS_1
***
Tiga jus buah sudah berada di hadapan mereka.
"Silahkan,Arka!" Dennis mempersilahkan Arka meminum jusnya.
"Terima kasih,Tuan muda."
Arka meminum jusnya.Beribu pertanyaan hinggap di benaknya.Dari mana putra Tuan Atmajaya mengenalnya?lalu ada apa Tuan muda ini ingin berbicara dengannya?
"Tidak usah tegang,Arka.Saya hanya ingin berteman denganmu," ujar Dennis.
"Iya,Tuan muda."
"Baik,Arka.Langsung saja saya menanyakannya."
Dennis mulai membuka inti pertemuannya.
"Apa hubunganmu dengan Naina?" tanya Dennis yang membuat Arka khawatir,mengapa pertanyaan Tuan muda seperti ini.Darimana Dennis Atmajaya mengenal kakaknya?
"Kak Naina?"
"Iya,Naina," lanjut Dennis.
"Kak Naina adalah kakakku,Tuan muda," jawab Arka.
"Saudara kandung?" sambung Ben bertanya.
"Iya,Tuan.Dia satu-satunya saudaraku yang ku punya sekaligus menjadi ibu dan ayahku" Jawaban Arka membuat Dennis dan Ben saling menatap.
"Maksudnya?" Dennis kurang mengerti.
"Orang tua kami sudah meninggal waktu umurku masih 1 tahun,sedang Kak Naina masih 10 tahun."
Jawaban Arka membuat dada Dennis kembali sesak.Ia menarik nafas kemudian meminum jus di hadapannya.
"Apa itu yang membuat kalian tinggal di Zona X?atau orang tua kalian memang tinggal di sana?"
Ben kembali mengeluarkan pertanyaan,tapi sepertinya menyinggung perasaan Arka.
"Maaf,Tuan.Apa maksud pertanyaan anda?"
"Maaf,Arka.Maksud sekretaris saya.Mengapa kalian bisa tinggal di sana?maaf jika ini menyinggungmu?" lanjut Dennis.
"Maaf,Tuan muda.Akan tetapi,mengapa Tuan muda ingin mengetahui tentang keluarga saya"
Tidak mudah bagi Arka untuk menceritakan segalanya.
Dennis menatap Asistennya,tidak mungkin dia mengatakan kalau dia menyukai Naina dan ingin tahu tentang Naina.
"Naina punya hutang pada Tuan Dennis,dari itu kami ingin mengetahui tentang dirinya."
Ben menjawab pertanyaan Arka,jawaban yang tidak disangka-sangka oleh Dennis.
"Ben ...." Dennis menatap Sekretarisnya.
Maaf,Tuan muda.Hanya ini cara agar kita bisa mengorek kehidupan gadis yang kamu sukai itu.
"Hutang?Kak Naina punya hutang?Ya Allah." Arka sangat terkejut mendengarnya.
"Yah hutang,Kakakmu memecahkan vas bunga seharga puluhan juta di ruangan Tuan Dennis dan dia juga menabrak mobil Tuan Dennis,tapi tidak usah khawatir.Tuan Dennis orang yang baik,cukup jawab saja pertanyaannya untuk meringankan hutang kakakmu,"lanjut Ben penuh penekanan.
Arka tidak berkata apapun.
Ben menatap Dennis,pertanda mulailah beri dia pertanyaan.
Dennis kembali menatap Arka yang terlihat sedang bingung dan khawatir.
"Arka,tidak usah khawatir.Saya hanya ingin berteman baik dengan kalian,soal hutang itu lupakan saja."
Dennis sedikit menenangkan Arka.
"Sebelumnya maaf,Seperti pertanyaan Sekretaris saya tadi,kami ingin tahu mengapa kalian tinggal di Zona X?sambung Dennis.
Arka diam sejenak,berpikir.Apa dia perlu menjawabnya?tapi hutang Kak Naina akan diringankan jika saya menjawab.Baiklah,jawab saja.Pikirnya.
"Semenjak orang tua kami meninggal,kami diambil oleh paman.Paman satu-satunya keluarga yang kami punya,Paman satu-satunya saudara Ayah kami,sedang ibu tidak memiliki saudara jadi mau tidak mau akhirnya kami ikut dengan Paman yang tinggal di tempat itu"untuk pertama kalinya Arka menceritakan kepada orang lain tentang kehidupannya,bahkan di Pesantrennya pun hanya Kyai Abdullah yang mengetahui tentang dirinya.
__ADS_1
"Lalu?" Dennis tidak ingin Arka berhenti berbicara.
"Maaf,Tuan muda.Apa yang Tuan muda ingin ketahui lagi?" Arka bingung mendengar pertanyaan Dennis.
"Ceritakan segalanya!" sambung Sekretaris Ben.
"Dulunya,Paman seorang bartender tapi Alhamdulillah Paman sudah lama meninggalkan pekerjaannya itu,hanya saja 10 tahun terakhir ini Paman sakit-sakitan dan hanya bisa duduk di kursi roda.Sejak saat itu,Kak Naina yang mengambil semua tanggung jawab."
Suara Arka mulai serak dan matanya mulai berkaca-kaca dengan kalimat terakhirnya.Ia tidak mampu menceritakan perjuangan kakaknya menghidupi mereka.
"Maksudnya,Naina mulai bekerja?" Ben bertanya lagi.
"Iya,Tuan.Sejak kak Naina masuk di bangku SMA,dia mulai bekerja mencari uang untuk biaya kami.Obat paman,sekolah saya,sekolah kak Naina dan segala kebutuhan kebutuhan kami.Kak Naina berjuang begitu keras hingga akhirnya saya bisa mondok di pesantren ini."
Dengan wajah tertunduk,menyembunyikan bulir bening yang membendung di matanya.
Dennis tidak mampu berkata apa-apa.
"Maaf,Arka.Maksud kamu,Naina bekerja sebagai apa?"Pertanyaan Ben begitu menjurus ke arah lain.Arka mengerti pertanyaan itu.
"Maaf,Tuan.Walau kakakku tinggal di wilayah nista itu tapi dia wanita yang sangat menjaga harga dirinya,dia rela melakukan pekerjaan apapun asal halal dan bisa menutupi kehidupan kami.Kak Naina rela jadi tukang cuci,kurir kue bahkan pernah jadi tukang parkir,semua itu ia kerjakan untuk menghidupi kami hingga akhirnya sekarang ia punya pekerjaan yang layak,bekerja di toko bunga" Arka menyeka air matanya.
Spontan Dennis menggenggam tangan Arka.Dennis masih tidak mampu berkata apa-apa.Sesak di dadanya semakin membuncah.
Aku sudah meyakini kalau kamu bukan bagian dari wanita-wanita itu.
Gumam Dennis.
"Lalu,mengapa kalian tidak meninggalkan tempat itu?"
Sekretaris Ben kembali memberinya pertanyaan.
"Paman tidak bisa meninggalkan putrinya,Kak Neta.Kalau tante Lora,paman sudah tidak peduli pada istrinya itu yang tiap malam bekerja sebagai penanggung jawab wanita-wanita Zona X.Jika bukan putrinya,mungkin kami dan Paman sudah lama meninggalkan tempat itu."
"Mengapa bukan kamu dan Naina saja yang meninggalkan tempat itu?" Tanya Ben lagi.
"Kak Naina orang yang begitu baik,bagaimanapun juga ia tidak rela meninggalkan paman.Walau kami dibesarkan di Zona X,tetap saja paman sangat berjasa telah membesarkan kami,itu yang membuat kak Naina masih bertahan di sana.Lagipun, hanya kak Naina yang bisa merawat paman dengan baik." Arka menceritakan semuanya tanpa terkecuali.
Naina,begitu berat perjuanganmu menjalani hidup.Apa ini petunjuk dari Allah mempertemukanku denganmu?apa aku orang yang dipilih Allah?Naina,izinkan aku mengenalmu lebih jauh hingga mengakhiri penderitaanmu.Aku meyakini hatiku,aku mencintaimu.
Dennis menatap Ben.Sekretarisnya itu juga melamun.Sepertinya Ben sedang meresapi sebuah kesalahan besar,dia tidak tahu bagaimana malunya dia ketika bertemu Naina,mengingat ucapannya sangat perih dan tidak pantas untuk dimaafkan.
***
Dennis dan Sekretaris Ben mengantar Arka sampai ke gerbang pesantren.
"Maaf,Arka.Kami hanya mengantarmu sampai di sini,"ujar Dennis.
"Tidak apa-apa,Tuan muda,"balas Arka dan hendak turun dari mobil.
"Tunggu sebentar."Dennis menahannya.Mengambil dompet dan mengeluarkan beberapa lembar uang dari sana dan memberikan ke tangan Arka,jumlah yang sangat banyak bagi seorang Arka.
"Ini uang jajan untukmu,"ujar Dennis tersenyum.
"Tapi,Tuan muda."Arka berat untuk mengambilnya.
"Tidak apa-apa,ambillah.Soal hutang kakakmu,lupakan saja," sambung Dennis.
"Tapi,Tuan muda.Uang ini banyak sekali." Arka kembali fokus pada uang ditangannya.
"Pakailah,anggap saja aku sedang bersedekah.Oiya satu lagi,jangan memanggilku Tuan muda,panggil saja aku Kakak agar lebih akrab,sekarang kita berteman."
Dennis mengulurkan tinjunya yang di balas Arka dengan kepalan tinju juga.Mereka tertawa.
"Terima kasih,Tuan muda.Ma-maksudku,Kak Dennis," ujar Arka.
"Ya sudah,masuklah!" balas Dennis.
"Assalamu'alaikum,"ucap Arka yang sudah menutup pintu mobil dari luar.
"Waalaikumsalam," balas Dennis dari balik kaca mobil yang terbuka.
_____
Maaf yah baru bisa update.
jangan lupa jejaknya selalu yah para readers agar authornya tidak hilang semangat🥰
__ADS_1
terima kasih.