
Waktu terus bergerak,matahari sudah menampakkan sinarnya tepat lurus di atas kepala.
Beberapa karyawan dan karyawati Beauty Flowers sedang beristirahat, yang dibagi atas dua shift
Rudy merebahkan tubuhnya ke sofa di dalam ruangan dengan kopi di atas meja di hadapannya,Rudy memang tidak bisa hidup tanpa kopi hitamnya,pagi,siang,malam ngopi terus.Jika disuruh memilih,lebih baik kopi daripada wanita.Pilihan bodoh.
"Hari ini banyak antaran yah,Rud?" Kiran duduk di sebelahnya seraya membuka nasi bekalnya.
"Yah,bukan Beauty Flowers jika antarannya tidak banyak"
Kiran terkekeh mendengarnya.
"Ayo,makan!" ajak Kiran yang sudah membuka bekalnya.
"Makanlah,aku masih kenyang," jawabnya kemudian meneguk kopinya.
"Ngopilah terus sampai kau sukses," sambung Kiran mengejeknya seraya terkekeh.
Rudi ikut terkekeh mendengarnya.
"Oiya,Naina Mana?"Tanya Rudy yang melihat Kiran tanpa Naina,dua gadis bak prangko yang selalu bersama.
"Baru saja dia keluar,sudah izin mau jenguk adiknya di Pesantren," jawab Kiran seraya memasukkan ke mulut sendok pertamanya.
"Hah ... tunggu dulu ...." Rudy memperbaiki posisi duduknya.
"Ke Pesantren?bukankah dia ada janji mau bertemu tuan muda konglomerat itu." Rudy mengingat masalah Naina dengan vas bunga milik Dennis Atmajaya.
"Iya,aku juga menanyakan itu tapi dia tidak ingin membahasnya.Dia bilang,hutangnya tetaplah hutang dan pasti akan membayarnya tapi jika untuk bertemu dengan Dennis Atmajaya,tidak lagi."
Mendengar penjelasan Kiran,Rudy merasa seperti ada yang aneh.
"Sudahlah,tidak usah membahasnya," sambung Kiran.
Tiba-tiba Naina muncul dari balik pintu.
"Hei,kamu sudah pulang?cepat sekali."
Kiran terkejut melihat Naina yang baru saja pergi tapi sudah kembali.
"Tidak jadi ke Pesantren,aku baru ingat kalau motorku rusak.Ya sudah,terpaksa ku bawa ke bengkel," jawab Naina dan ikut duduk di samping Rudy.
"Rusak?" tanya Rudy.
"he'em.Kap depannya,habis nabrak," jawabnya yang membuat Kiran dan Rudy terkejut.
"Nabrak?kok bisa sih Nai,tapi kamu baik-baik saja kan?" tanya Kiran khawatir.
"Iya,hanya insiden kecil saja tadi pagi," jawab Naina.Sedikit kesal sih jika ia harus mengingat lagi kejadian tadi pagi.
"Makanya,kalau berkendara itu harus fokus" lanjut Rudy.
"Ya sudah pakai motorku saja."
Rudy mengeluarkan kunci motor dari saku celananya.
"Atau pakai motorku."
Kiran juga ikut menawarkan.
"Tapi ...aku."
Naina merasa tidak nyaman jika meminjam motor kedua sahabatnya ini.
"Sudahlah,tidak ada tapi-tapi.Berangkatlah!sampaikan salamku pada Arka," ujar Rudi memberikan kunci motornya.
__ADS_1
"Ah,kalian baik sekali.Terima kasih,ya sudah aku pergi."
Naina berdiri dengan senyum sumringah,bahagia dikaruniai dua sahabat sebaik ini.
Dia juga sudah berjanji pada Arka kalau akan menjenguknya hari ini.
"Hati-hati!" ujar Kiran dan Rudy bersamaan.
***
Di dalam sebuah kamar di ruangan yang begitu mewah,seorang direktur tampan masih duduk di atas sajadahnya,menatap jendela kaca yang besar dengan pemandangan ibu kota dari lantai tertinggi kantor Atmajaya Group.Tatapan yang kosong dengan pikiran melayang jauh,entah apa yang sedang ia pikirkan.
Tiba-tiba terdengar ketukan pintu dari luar kamarnya yang membuatnya tersadar dari lamunannya.
"Tuan muda."
Suara sang sekretaris yang entah sudah berapa lama menunggunya di luar.
"Ya"jawabnya pelan.Berdiri melipat sajadahnya dan meletakkan pada tempatnya,memakai kembali jasnya.Rapi,Tuan muda yang sempurna.
Membuka pintu,terlihat sang sekretaris berdiri di depan pintu.
"Silahkan Tuan muda,makanannya sudah siap." Terlihat beberapa menu makan siang sudah terhidang di meja tamu di dalam ruangan mewah tersebut.
"Setelah makan siang,kita akan langsung menyusul tuan besar ke pesantren Kyai Abdullah" sambungnya.
Dennis tidak membalas ucapan sekretarisnya itu dan langsung menuju meja dimana makanannya terhidang.
Dennis duduk di sofa.
Setelah melihat Tuannya sudah duduk di sofa,sekretaris Ben pamit menuju ruangannya.
"Permisi,Tuan muda.Saya akan kembali beberapa menit lagi." Hendak melangkah menuju ruangannya.
"Tunggu,Sekretaris Ben.Tidak perlu ke ruanganmu,makanlah di sini bersamaku," ujar Dennis dan memberikan satu piring kosong beserta sendok makan.
Dennis langsung mengisi makanan ke piring kosong milik Sekretarisnya.
"Maaf Tuan muda,tapi ini adalah tugasku." Sekretaris Ben merasa tidak nyaman dengan perlakuan Dennis.
"Santai saja Sekretaris Ben,"balas Dennis yang kemudian lanjut mengisi piring miliknya.
"Silahkan,Sekretaris Ben!" ujar Dennis kemudian memasukkan ke mulut sendok pertamanya.
"Terima kasih,Tuan muda."
"Sekretaris Ben,aku ingin bertanya kepadamu." Dennis mulai membuka pembicaraan di sela-sela makannya.
"Silahkan,Tuan muda."
Sekretaris Ben juga sudah mulai memasukkan sendok pertamanya.
"Sekretaris Ben,bukankah kamu sudah mengenalku cukup lama."
"Iya,Tuan muda."
"Aku pikir kamu tahu dengan perasaanku saat ini.Kamu pasti tahu,Sekretaris Ben.Kalau aku tidak bisa melupakan gadis itu," ujar Dennis yang masih tidak terima kalau Naina bukan perempuan baik-baik.
"Maaf yang sebesar-besarnya,Tuan muda.Saya juga tidak berharap demikian,tapi faktanya gadis itu memang berasal dari sana.Jikapun ada harapan kalau dia bukan salah satu wanita-wanita malam itu,mungkin harapannya hanya 1℅,Tuan muda.Bagaimana mungkin dia tinggal di sana dan hidup di sana jika dia memang perempuan baik-baik," jawab Sekretaris Ben dengan penuh keyakinan.
"Kalau begitu,biar aku yang mencari tahunya sendiri."
Dennis juga tetap pada pendiriannya yang masih meyakini kalau Naina wanita yang baik,wajah cantik nan jenaka itu terus mengganggu fokusnya bahkan dalam doa di setiap shalatnya,ia terus meminta petunjuk akan gadis yang berhasil merebut hatinya itu.
"Maaf,Tuan muda.Akan tetapi,bukankah saat ini tuan besar sedang memiliki rencana yang baik untuk Tuan muda.Bagaimana mungkin Tuan muda akan mengecewakan tuan besar." Sekretaris Ben terus meyakinkan Dennis kalau rencana Atmajaya itu jauh lebih baik.
__ADS_1
Dennis tidak melanjutkan lagi pembicaraannya dan segera menghabiskan makanannya,begitupun dengan sekretaris Ben.
***
Seorang gadis yang memakai rok selutut sedang berjalan ke area parkir yang masih berada di dalam kawasan pesantren milik Kyai Abdullah.Seorang lelaki yang mengikuti dari belakang,berjalan bersama wanita itu.
Secara bersamaan,mobil mewah juga sedang memasuki halaman parkir yang kebetulan parkiran untuk mobil dan motor di tempatkan di satu area yang sama.
Betapa terkejutnya sekretaris Ben yang sedang berada di balik kemudi.
"Gadis itu."
Suara Sekretaris Ben mengalihkan Dennis dari layar ponselnya.
Menatap ke arah depan,betapa ia juga terkejut juga sama seperti terkejutnya Sekretaris Ben.Mengapa Tuhan selalu mempertemukannya,mengapa Naina selalu berada di sekitarnya,menjadi bayang-bayang dirinya.
"Maju sedikit,Sekretaris Ben!" perintah Dennis.
"Ok,berhenti di sini!" sambung Dennis yang mobilnya berhenti tepat di samping motor Naina.Ia menurunkan kaca mobilnya sedikit agar bisa mendengar pembicaraan Naina dan lelaki muda yang memaki peci.
"Loh,motor kakak kok beda?" tanya lelaki yang sedang bersama Naina.
"Iya,ini motor Kak Rudy.Motor kakak rusak jadi pinjam motor kak Rudy," jawab Naina seraya memakai jaketnya yang ia simpan di motornya.
Dennis dan Sekretaris Ben masih menyimak tanpa diketahui Naina dan Arka.
"Rusak?rusak kenapa?" Tanya Arka lagi.
"Tadi habis nabrak,sudahlah tidak usah bahas itu."
Naina tidak ingin jika adiknya ini khawatir.
"Arka jadi tidak enak,kakak sampai harus meminjam motor hanya untuk menjengukku"
"Tidak apa-apa sayang,justru kakak yang merasa gelisah jika sudah tiba waktu menjengukmu tapi kakak tidak ke sini,yah walau sebenarnya kakak masih rindu dan masih ingin berbicara denganmu tapi mau bagaimana lagi waktu kita dibatasi." Memegang bahu adiknya.
"Maaf ya kak,aturan pesantrennya memang seperti itu bahkan kakak tidak di izinkan sampai ke dalam.Maaf yah,kak."
"Ya sudah,kakak balik yah.Kamu belajar yang pintar."
"Hhmmm ... ingat yah kak,hidayah itu dikejar bukan ditunggu."
Lagi-lagi pesan Arka yang tidak henti-hentinya mengingatkan Naina untuk segera menutup aurat.
Naina hanya tersenyum.
Motornya sudah berbunyi.
"Sampaikan salamku pada paman yah,kak."
"Iya sayang.Kakak balik yah,Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam Warahmatulloh."
Naina berangkat,meninggalkan halaman parkir.Arka juga berjalan,kembali ke asramanya.
Sekretaris Ben memarkir mobilnya dengan baik.
Dennis masih diam terpaku di kursi belakang.
Apa ini petunjuk di setiap doa-doaku?Naina,aku meyakini kalau kamu bukan salah satu wanita Zona X,aku percaya pada hatiku.
Gumamnya dengan tatapan ke arah gerbang dimana Naina sudah tidak terlihat lagi.Melihat Naina berada di pesantren ini semakin membuat hatinya yakin kalau Naina bukan wanita malam Zona X.
____
__ADS_1
Maaf yah baru sempat update.
Jangan lupa tinggalkan jejaknya selalu agar authornya makin semangat.Terima kasih🙏😍