MENCINTAI WANITA Dari ZONA_X

MENCINTAI WANITA Dari ZONA_X
Papa


__ADS_3

Dari arah dapur, tiba-tiba saja tercium aroma kue yang tidak enak. Bau gosong yang begitu menyengat. Naina menatap Atmajaya, begitupun lelaki paruh baya ini sepertinya juga merasakan hal yang sama.


Naina mengingat kuenya yang harusnya ia sudah keluarkan sejak sebelum Atmajaya tiba. Namun, ini sudah cukup lama. Sepertinya kekecewaan dari hasil karyanya akan ia saksikan.


"Tuan, saya permisi sebentar ke dapur, tadi saya membuat kue dan saya lupa mengeluarkannya dari oven" pintanya tersenyum kikuk kepada Atmajaya.


Atmajaya hanya mengangguk.


Sejurus Naina sudah berlari ke dapur. Lagi-lagi terpancar senyum dari sang papa mertua. Ia merasa istri dari putra kesayangannya ini begitu lucu dengan tingkah polosnya barusan.


Sesampainya di dapur, Naina melihat Mimi dan Lilis sudah menatap sedih kue yang mereka keluarkan dari oven. Naina mendekat, dan benar saja kalau kuenya sudah di luar ekspektasinya. Kue yang harusnya begitu cantik dengan segala toppingnya, kini bagian bawahnya sudah tampak hitam, bagian atas semua topping sudah tampak tidak fresh ataupun gurih lagi.


"Kueku ...." Teriak Naina namun tidak keras, tepatnya terdengar begitu menyedihkan bahkan tangis tanpa air matapun sudah terdengar dari suara indah wanita cantik ini.


"Apa yang kalian lakukan di dapur, mengapa tidak menjaga kuenya?" Kali ini Naina terdengar mengomel namun tetap bernada sedih.


"Nyonya muda, maafkan kami. Nyonya muda kan tidak memberi tahu kami untuk menjaga kuenya." Hanya itu yang bisa kedua asisten ini katakan. Mana mungkin dia mengakui kalau sejak tadi mereka bukan berada di dapur tetapi stay di balik dinding tembok untuk menguping.


"Mas Dennis ... maafkan aku, Mas." Naina terus mengeluarkan nada sedihnya seraya memegangi wadah kue di hadapannya.


"Ehhhmm ....." Terdengar dehaman dari arah belakang mereka. Membuat ketiga wanita ini terkejut, entah sudah berapa lama Atmajaya berada di sana menyaksikan kelucuan ini.


"Apa yang terjadi?" tanya Atmajaya berpura-pura, sementara ia sudah melihat kue di tangan Naina.


"Tidak, Tuan ... tidak terjadi apa-apa." Naina segera menyembunyikan kue itu ke belakang, tepatnya meletakkan kembali kue itu ke atas dapur set.


"Apa saya bisa mencobanya?" tanya Atmajaya yang membuat Naina dan kedua asistennya sangat terkejut.


Naina kembali menampakkan senyum aneh.

__ADS_1


"Tuan, kue ini layak untuk Anda. Maksud saya, kue ini ...." Naina belum selesai namun Atmajaya segera memotong kalimatnya.


"Apa saya bisa mencoba kue buatan menantuku?" Pertanyaan Atmajaya kali ini sontak membuat Naina tidak dapat mengucap apapun, tubuhnya seperti bergetar mendengar kalimat yang baru saja dikeluarkan Atmajaya. Menyebut dirinya seorang menantu membuatnya seperti langit sudah akan runtuh mengenainya, ia benar-benar tidak percaya. Rasanya Naina ingin merekam dan mendengarkannya berulang-ulang.


Begitupun dengan kedua asisten ini, mereka ikut terharu mendengar ucapan tuan besar di hadapannya. Sepertinya restu sudah menghampiri nyonya muda mereka.


Melihat Naina masih terdiam, spontan Mimi menarik kue itu.


"Tentu saja, Tuan. Ini buatan tangan Nyonya muda namun kami lupa mengeluarkannya dari oven. Sebenarnya kue ini sangat sempurna tapi kesalahan kami membuat kue ini jadi seperti ini," ucap Mimi membela nyonya mudanya.


Atmajaya berjalan ke arah meja makan yang masih satu tempat dengan dapur. Menarik kursi meja makan kemudian duduk di sana.


Mimi dan Lilis yang mengerti itu, segera membawa kue itu ke meja makan beserta piring kecil dan sendok. Naina tampak sangat panik dengan apa yang dilakukan kedua asistennya ini. Mana mungkin mereka memberikan kue gosong kepada seorang Tuan Atamjaya. Namun berbeda dengan Mimi dan Lilis, mereka begitu bersemangat memotong kue itu kemudian meletakkan ke piring dan memberikan kepada Atmajaya.


Atmajaya menatap kue di hadapannya, tidak terlalu buruk. Hanya saja bagian bawahnya memang tampak gosong. Entah apa juga yang membuat lelaki paruh baya ini ingin sekali mencobanya buatan menantunya.


Pelan-pelan Atmajaya memasukkan sendok pertamanya. Ia tampak tersenyum kemudian melanjutkan kunyahannya dengan santai.


Mimi dan Lilis tersenyum kepada Naina, sementara Naina tampak terlihat salah tingkah.


Atmajaya melanjutkan sendok berikutnya dan berikutnya, begitu menikmati kue yang menurut Naina tidak berhasil karena gosong namun tidak demikian dengan Atmajaya. Bahkan ia mengeluarkan pujian untuk Naina.


Selesai menikmati kuenya, Atmajaya meneguk air putih yang sudah disiapkan oleh Lilis. Kemudian berdiri dari duduknya, menatap jam branded di tangannya yang menunjukkan pukul lima sore.


"Hari semakin sore, sepertinya saya harus pamit. Sampaikan salamku pada Dennis," ucap Atmajaya kepada Naina.


"Sebentar lagi Mas Dennis tiba di rumah, apa tidak sebaiknya Tuan menunggunya dan makan malam bersama kami, maksud saya bersama Mas Dennis di sini," pinta Naina yang entah mengapa terlihat berat melihat papa mertuanya akan keluar dari rumahnya.


Atmajaya tersenyum mendengar ucapan Naina.

__ADS_1


"Terima kasih, lain kali saja. Cukup sampaikan salamku pada Dennis."


"Satu lagi, jangan memanggilku dengan sebutan tuan. Panggil saya bagaimana putraku memanggilku. Jika Dennis adalah putraku maka istrinya adalah putriku." Lagi-lagi ucapan Atmajaya membuat Naina sudah melayang jauh. Tampak bulir bening tertahan dari manik matanya. Andai tidak bisa menahan diri, mungkin ia sudah berhambur memeluk orang yang sudah mengakui dirinya sebagai seorang papa untuknya.


"Dampingi selalu putraku dengan baik. Dan teruslah berdoa agar istriku bisa merubah keputusannya dan segera datang menjemput menantunya di sini." Setiap kalimat Atmajaya begitu membuat Naina sangat bahagia. Gadis ini tidak tahu harus berkata apa lagi, bulir bening yang membendung seperti sudah menjawab segala isi hatinya yang begitu terharu bahagia.


"Kalau begitu saya pamit," ucap Atmajaya.


"Iya, Tuan." Atmajaya menatap Naina tajam, sepertinya gadis ini lupa dengan apa yang Atmajaya katakan barusan.


"Ma-maksud saya, Papa." Dengan cepat Naina memperbaikinya. Dan seiring kata papa keluar dari mulutnya, bulir bening itu juga tidak bisa tertahan lagi. Mengalir membasahi pipinya, ia tidak percaya akan memanggil mertuanya dengan sebutan seperti itu.


Atmajaya tersenyum kemudian berjalan ke arah pintu. Naina dan kedua asistennya ikut mengantar sampai ke pintu.


"Saya pamit," ujar Atmajaya lagi.


"Mimi, Lilis, jaga Nyonya muda kalian dengan baik," sambung Atmajaya kepada kedua wanita yang sudah sangat ia kenal ini.


"Siap, Tuan besar." Kompak Mimi dan Lilis Menjawab seraya memberi hormat.


Atmajaya pun keluar dan berjalan yang di ikuti dua bodyguard yang menunggunya di depan pintu.


"Pah ...." Terdengar suara Naina memanggilnya. Atmajaya menghentikan langkahnya kemudian menoleh.


"Terima kasih," ucap Naina tersenyum namun air mata haru terus mengalir membasahi pipinya.


Atmajaya hanya membalasnya tersenyum kemudian melanjutkan langkahnya menyusuri lorong. Naina masih terus berdiri sampai papa mertuanya masuk ke dalam lift dan hilang dari pandangannya.


Gadis ini kembali masuk ke dalam rumah, menyandarkan tubuhnya sejenak ke pintu. Tangisnya pun pecah di sana.

__ADS_1


"Nyonya muda ...." Kedua asistennya ikut menangis melihat moment haru ini.


Naina merentangkan kedua tangannya dan langsung saja kedua asisten ini berhambur memeluk majikannya.


__ADS_2