MENCINTAI WANITA Dari ZONA_X

MENCINTAI WANITA Dari ZONA_X
Pink


__ADS_3

Hampir dua bulan telah berlalu setelah pasangan ini menjadi suami istri yang sah melalui pernikahan siri. Walau sampai detik ini sang mama mertua tak kunjung memberikan restunya bahkan sama sekali tidak ingin menatap ketika putra semata wayangnya datang menemuinya. Rita tidak ingin menatap wajah Dennis jika putrannya itu masih bersama dengan Naina, wanita dinikahi tanpa restunya sedikitpun karena berlatar belakang asalnya dari wilayah yang begitu nista.


Atamjaya, sang papa sudah berbaik hati menerima keadaan ini. Mau bagaimana lagi, ini sudah menjadi keputusan putranya. Karena turunnya restu Atmajaya hingga Dennis dan Naina mulai melalui kehidupan yang bahagia, mereka meyakini hanya perlu bersabar sembari terus membujuk Rita sampai sang mama ini juga akan datang membawa restunya. Walau Dennis tidak ingin ditatap oleh Rita, namun tuan muda ini tidak pernah menyerah untuk terus menemui sang mama dan membujuknya agar dapat menerima Naina sebagai menantunya.


Hampir dua bulan ini, hari-hari bahagia Naina dan Dennis lewati dengan segala keromantisan mereka. Bahkan berbulan madu ke luar negeri. Dennis begitu memanjakan istrinya dengan segala kemewahan dan kekuasaan yang ia miliki. Naina sungguh seperti ratu di istana kepimpinan Dennis. Kehidupan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.


Namun, pagi ini begitu berbeda. Naina terus sesegukan dalam dekapan suaminya. Sejak semalam hingga pagi ini, ia begitu sangat manja. Tidak seperti biasanya, bahkan gadis ini bersikap di luar kebiasaannya. Ia sangat mudah merajuk, bahkan hanya karena persoalan warna. Sejak dua hari ini ia mulai mengenakan pakaian berwarna pink, memerintahkan asistennya juga ikut memakai pakaian pink hingga seragam hitam khas pelayan istana yang mereka sering kenakan, kini berganti menjadi seragam berwarna pink atas keinginan Naina yang langsung dikabulkan oleh suaminya saat itu juga. Sejak semalam, gadis ini terus merengek bahkan berlanjut pagi ini. Kali ini Ia meminta kamarnya diubah menjadi warna pink, ia begitu menginginkan kamar dengan nuansa shabby pink.


"Sayang, jangan seperti ini. Ayolah, saya harus mandi, saya harus berangkat ke kantor. Kan saya sudah bilang kalau hari ini orang-orang desainernya akan datang mengubah kamar kita." Sejak tadi Dennis terus membujuk istrinya agar berhenti merajuk. Bukannya mereda, gadis ini malah terus sesegukan dalam dekapan suaminya. Sungguh sikap yang begitu aneh.


"Aku ingin ikut Mas Dennis ke kantor." Tiba-tiba terdengar suaranya yang begitu manja. Dennis terkekeh mendengarnya. Selama pernikahannya, untuk pertama kalinya istrinya ini ingin ikut ke kantor.


"Baiklah, Tuan putri. Kalau begitu ayo kita mandi bersama," ajak Dennis terdengar menggoda, tubuh istrinya sudah seperti candu baginya. Tidak ingin menyia-nyiakan setiap moment yang ada, bahkan hampir setiap malam ia melakukannya.


"Tidak." Naina tiba-tiba bangun.


"Aku tahu di pikiran Mas Dennis sekarang." Gadis ini sejurus turun dari tempat tidur, mengambil handuk kemudian bergegas ke kamar mandi seorang diri. Ia menolak mandi bersama dengan suaminya karena ia tahu apa yang akan terjadi, bukan hanya mandi tapi pasti akan ada adegan lain. Sampai-sampai ia lupa kalau sejak tadi ia sedang merajuk bahkan sampai sesegukan.


Sementara Dennis, ia yang masih berada di atas tempat tidur, tidak bisa menahan tawanya.


***


Naina menatap dirinya di kaca. Dari arah depan, samping bahkan bagian belakang. Ia merasa tubuhnya sedikit berisi sekarang. Terutama aset bagian atasnya, dua gundukan itu ukurannya kini lebih besar dari sebelumnya. Bagaimana tidak, di sanalah tempat bermain suaminya hampir setiap malam, setiap inci tubuhnya benar-benar sudah menjadi candu baginya.


Masih sibuk memperhatikan tubuhnya di depan cermin, tiba-tiba sosok lelaki yang hanya menggunakan handuk muncul dari belakang dan langsung memeluknya. Menatap istrinya dari pantulan cermin, wanita yang begitu cantik dengan dress pink yang membalut tubuhnya, make up tipis tetapi terlihat begitu elegan.


"Apa yang kamu lihat?" tanya Dennis lirih kemudian mencium pipi kanan istrinya.


"Aku merasa ... aku sedikit berisi, Mas," jawabnya dengan wajah tidak baik, ia takut kalau ia terlihat gemuk.

__ADS_1


Dennis tersenyum kemudian mendaratkan ciumannya lagi.


"Kamu tahu, semakin hari kamu semakin cantik. Rasanya sulit melewatkan detik tanpa melihat wajah cantik istriku ini." Kalimat yang membuat Naina tersipu malu.


"Kamu memang pandai menggodaku, Mas."


"Ya sudah, sekarang Mas Dennis pakai baju!" Naina berbalik kemudian mengambil satu set pakaian suaminya yang sudah ia siapkan.


Betapa terkejutnya Dennis melihat kemeja yang Naina bawa. Kemeja yang berwarna merah muda, Dennis tidak menyangka kalau warna pink ini juga akan ia pakai. Ia pikir hanya Mimi dan Lilis yang diperintahkan oleh istrinya untuk memakai seragam pink, ternyata dirinya juga masuk daftar list. Entah dari mana datangnya kemeja ini.


"Sayang, kamu tidak sedang bercanda kan?" Dennis sungguh tidak percaya ini. Dennis benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada istrinya.


"Aku tidak mau tahu, Mas Dennis harus pakai ini ke kantor," rengeknya yang sungguh tidak dibuat-buat. Wajahnya tiba-tiba sedih, matanya kembali berkaca-kaca, mana mungkin Dennis tega melihat ini.


"Iya, Sayang. Aku akan memakainya. Hari ini aku ke kantor dengan kemeja pink, warna yang sekalipun tidak pernah aku pakai." Mendengar itu, senyum seketika mengembang dari bibir Naina. Satu kecupan cinta mendarat di pipi Dennis.


***


"Selamat pagi, Tuan muda. Maaf saya telat karena saya lama mencari apa yang Tuan muda perintahkan."


Dennis menatap sekretarisnya ini. Tubuh kekar sekretaris Ben kini dibalut kemeja pink dengan setelan jas hitam di luarnya. Rasanya Dennis ingin tertawa, tapi jika tertawa maka sama halnya menertawai dirinya sendiri.


"Hhmmm, saya maklumi." Dennis tahu apa yang membuat sekretaris Ben telat menjemputnya, sudah pasti karena kemeja pink ini.


Naina sudah muncul dengan menenteng tas branded-nya. Betapa terkesimanya ia melihat sekretaris Ben yang juga memakai kemeja pink.


"Ah, Mas Aben ... Anda sungguh manis sekali," goda Naina begitu bahagia. Ia tidak menyangka kalau sekretaris Ben juga dengan sigap memakai kemeja pink tanpa sepengetahuannya.


Sekretaris Ben hanya tersenyum. Namun, siapa yang tahu di dalam hatinya kalau ia terus mengumpat. Kali ini ia sudah paham mengapa semua orang diperintahkan memakai warna pink, warna yang begitu terkutuk bagi seorang sekretaris Ben, pasti karena permintaan nyonya mudanya. Lagi-lagi dirinya terlibat dalam situasi konyol. Bukan hanya makanan, tapi juga pakaian, entah besok apa lagi.

__ADS_1


***


Mobil sang tuan muda sudah sampai di depan lobby. Masih dari dalam mobil, Dennis menatap keluar. Ada banyak pegawai yang terlihat berlarian masuk ke dalam kantor, sepertinya mereka semua terlambat hari ini. Semua pegawainya memakai pakaian berwarna pink, tidak terkecuali bahkan para security juga. Spesial hari ini pandangan mata hanya ada warna pink.


Dennis turun dari mobil setelah dua orang security membukakan pintu untuknya, begitupun dengan Naina. Mereka kemudian berjalan masuk, sesampainya di dalam semua orang menyapa Dennis dan Naina. Naina seketika menghentikan langkahnya, ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Ia tidak percaya jika suaminya akan memanjakannya seperti ini, ia benar-benar bahagia melihat pemandangan pink di depan matanya.


"Mas, apa Mas Dennis yang melakukan ini?" tanyanya untuk meyakinkan dirinya.


"Kamu menyukainya?" tanya Dennis balik.


Naina hanya mengangguk pertanda sangat bahagia.


Sementara, dari arah luar. Masih banyak pegawai yang baru tiba dan pastinya juga memakai pakaian berwarna pink. Namun, mereka mengehentikan langkahnya di sana. Mana berani mereka masuk dan berjalan mendahului Dennis. Dennis yang melihat pemandangan ini segera merentangkan satu tangan sebagai isyarat menyuruh mereka masuk. Akhirnya para pegawai dengan nafas memburu itu masuk ke dalam kantor dengan langkah takut, mereka sudah terlambat. Hal yang paling tidak disukai oleh Dennis yang begitu disiplin waktu. Namun, tiba-tiba senyum mengembang dari bibir sang tuan muda, sepertinya ia harus memaklumi ini. Semua karena persoalan warna pink.


Ternyata sekretaris Via juga ada di rombongan terlambat itu.


"Maaf, Tuan muda. Kami terlambat, sebenarnya kami sudah di jalan tetapi harus putar balik karena harus mengganti ...." Ucapan sekretaris Via belum selesai.


"Tidak apa-apa, hari ini saya memaklumi kalian," sela Dennis.


Dennis berjalan menuju lift dengan tangan menggandeng istrinya. Pasangan romantis ini memasuki lift khusus.


Sementara sekretaris Via dan sekretaris Ben berada di lift yang berbeda. Biasanya sekretaris Ben ikut bersama tuan mudanya, namun karena ada Naina jadi ia memilih memasuki lift lain.


"Tuan Ben, katakan mengapa kita memakai pakaian pink seperti ini? saya rasa ini bukan hari kasih sayang, lagian tuan muda juga tidak pernah merayakan hari seperti itu." Sekretaris Via terdengar perotes.


"Permintaan nyonya muda," jawab sekretaris Ben singkat.


"Selamat bergabung di dunia konyol Nyonya muda," sambungnya lagi.

__ADS_1


__ADS_2