
Naina bergegas keluar,sampai di dekat pintu mencari sepatunya di rak sepatu plastik yang sudah reot karena satu kaki rak sepatu itu sudah hilang entah kemana.
Terus mengotak-atik rak sepatu yang sebentar lagi akan kehilangan nyawa itu.
"Astaga,dimana sepatu kerjaku?"karena panik,dia lupa kejadian kemarin yang sepatunya basah karena terjatuh ke aliran got yang berisi air hujan.
Ponselnya kembali berdering,nomor baru itu lagi.
"Hall..."bahkan ia belum sempat berbicara dengan baik tapi suara dari balik telefon sudah berbicara lebih dulu.
"Apa kamu tahu kalau ini sudah lebih dari satu menit" suara tegas dan sangat menakutkan,rasanya ingin mengutuk pemilik suara ini jadi rak sepatu saja.
"I-iya,Tuan muda.Saya sedang mencari sepatuku" ujarnya dan terus menggeledah rak sepatu cacat ini.
"Sepatu?sepatumu yang jatuh ke got itu" Dennis mengingatkannya.
"Astaga" Naina menepuk keningnya,ia baru ingat kalau sepatunya masih ia jemur di atas atap teras rumahnya.
"Iya,Tuan muda.Tunggulah!" Naina mematikan panggilan telefon sepihak.Memangnya Tuan konglomerat itu saja yang bisa melakukannya.
Bergegas ia keluar,mengangkat kursi plastik ke arah teras dan naik ke atas kursi untuk meraih sepatunya.
"Ah,syukurlah sudah lumayan kering"
"Ehhmmm"suara dehaman mengagetkannya.Naina berbalik,betapa terkejutnya ia dengan dua sosok lelaki bermasker yang berdiri di belakangnya,tepat di depan rumahnya.
"Tu-Tuan muda"Betapa ia sangat terkejut.
"Sudah lima menit" Suara Dennis lantang yang membuatnya sangat panik.
"Naina" Suara Pak Harun dari dalam rumah.Walau samar-samar,sepertinya Pak Harun mendengar ada orang di depan rumahnya.
Dengan sigap Naina melompat dari kursi plastik dan segera mengambil paper bag di ruang tamu kemudian keluar dari rumah dengan langkah berjinjit tanpa suara.
"Ayo Tuan-Tuan,cepatlah"bisiknya mengajak kedua lelaki ini untuk segera pergi meninggalkan rumahnya sebelum Pamannya keluar dan memergoki mereka.
Naina sudah berlari kecil ke depan dengan sepatu yang masih ia pegang,lagi-lagi ia berlari dengan kaki telanjang.
Dennis dan Ben masih terpaku di tempatnya dan saling menatap.Satu-satunya wanita di dunia ini yang pernah mereka kenal dengan semua tingkah konyolnya.Ada senyum dari balik masker sang Tuan muda.
"Mari,Tuan muda"Ben mempersilahkan Dennis untuk meninggalkan gang kecil ini.
"Hhhmmm"
***
Dengan nafas tersengal akhirnya Naina sampai di tepi jalan,tepatnya di depan deretan Club-Club Zona X.Ia berdiri di dekat sebuah mobil,menunggu kedua Tuan-Tuan kaisar ini yang melangkah dengan sangat santai,benar-benar tak ada beban dihidup mereka.
Tuan muda dan Sekretarisnya ini sudah sampai di depan Club.Bukannya mendekati Naina,mereka malah melangkah ke arah lain tanpa melirik Naina sedikitpun.
"Hei Tuan-Tuan,kalian mau kemana?"teriak Naina tapi tak dihiraukan.
Astaga,mereka itu mau kemana.Aku sudah berdiri sejak tadi di dekat mobilnya.Gumamnya kesal.
Terlihat Dennis dan Ben masuk ke salah satu mobil yang kurang lebih berjarak 20 Meter di depan Naina.
Astaga,aku salah mobil.Dasar bodoh.
Segera ia memakai sepatunya dan menyusul ke mobil Dennis.
Secepat kilat ia sampai ke mobil tersebut.Mengetuk kaca pintu yang berwarna hitam,kaca pintu itu bergerak ke bawah.
__ADS_1
"Masuk" hanya itu yang Naina dengar dari lelaki yang duduk anteng di kursi belakang.
Naina segera membuka pintu dan naik ke atas mobil.Kaca mobil itu kembali tertutup.
"Mana sarapannya?" Dennis langsung menagihnya.
Ada rasa cemas dihati Naina dan langsung memberikan paper bag yang ia pegang tanpa melihat Dennis.
Dennis tersenyum.Terlihat dari tempatnya,paper bag yang cantik.Pasti isinya enak.
Langsung saja Tuan muda ini membuka paper bag dan mengeluarkan isinya.
Satu kotak makanan berwarna ungu.
"Hanya satu kotak?" Tanya Dennis.
"Isi di dalamnya ada dua,Tuan muda" jawabnya santai.
Dennis kembali tersenyum.
Ia membuka kotak makanan itu,betapa terkejutnya sang Tuan Konglomerat ini.
"Hanya ini?" Dennis benar-benar tidak percaya dengan isi kotak makanan itu.
Sekretaris Ben hanya memperhatikan dari spion di depannya.
"Maaf,Tuan muda.Saya hanya punya itu"
jawab Naina lagi.
"Jadi,waktu kamu sarapan tadi..." Dennis belum selesai dengan ucapannya.
"Iya,Tuan muda.Saya hanya sarapan itu"sambung Naina memotong ucapan Dennis.
Sesulit itu kamu menjalani hidup.Gumamnya
Melihat lelaki di sampingnya hanya melamun,Naina langsung menarik kembali kotak ungu itu.
"Ya sudah kalau Tuan muda tidak mau" ujarnya.
Dennis terkejut dan kembali dari lamunannya.
"Hei,siapa bilang aku tidak suka.Sini!" Dennis meraih kembali kotak ungu itu.
Ia mengambil satu lembar roti tawar tersebut.
"Sekretaris Ben,yang ini untukmu" memberikan sisa Roti tawar yang satunya kepada Sekretarisnya.
Sekretaris Ben menatap isi kotak itu.Terdiam sejenak,entah apa yang sedang ia pikirkan hanya dirinya yang mengetahui itu.
"Sekretaris Ben"ujar Dennis lagi.
Sekretaris dingin ini langsung mengambil roti tawar tersebut tanpa protes.Ingin protes pun tak ada gunanya.
"Katakan,bagaimana kamu bisa sarapan dengan makanan seperti ini,maksud aku hanya roti tawar saja?" Dennis bertanya kepada Naina dengan menatap roti di tangannya yang hampir lurus dengan matanya.
"Yah langsung dimakan saja,Tuan muda" jawab Naina sangat santai.
Dennis berhenti berpikir dan sudah mulai ingin memasukkan roti tawar ini ke mulutnya.
"Tapi,saya punya cara terbaik menikmatinya.Yah,itupun kalau Tuan muda tertarik mencobanya" ucapan Naina membuat Dennis berhenti sejenak.Roti tawar itu masih belum mendarat ke mulutnya.
__ADS_1
"Ok,katakan!"
Naina mengubah posisinya dan menghadap pada Dennis.
Kamu sangat cantik,aku ingin menatapmu terus seperti ini.
Dennis seperti terpesona melihat wajah Naina yang menghadap lurus kepadanya.Wajah putih mulus,dengan mata,hidung,bibir yang terlihat sangat indah,rambut yang hanya di gulung berantakan tapi tetap terlihat sangat cantik.
"Tuan muda" Naina mengagetkannya.
Astagfirullah.
Dennis tersadar dari lamunannya.
Apa yang sedang ku pikirkan ini,ampuni aku ya Allah
"Yah,beri tahu kepadaku cara menikmati roti ini" kata Dennis dengan ekspresi serius.
Naina tersenyum kikuk.
"Lihat rotinya" perintah Naina sudah seperti pakar makanan lezat yang handal.Tuan muda ini dengan polosnya mengikuti ucapan si Maemunah
"Tuan muda ingin isian daging,sayur,keju,atau hanya sekedar isian selai cokelat..atau..selai strawberry?"
"Yang paling simpel saja" jawab Dennis dengan tatapan masih fokus pada rotinya.
"Ok,selai cokelat saja.Jadi Tuan muda bayangkan kalau roti ini sedang diolesi Selai cokelat..."Naina berbicara seperti gaya seperti sedang berdongeng
"Hhhmmm" Dennis benar membayangkannya.
"Terus olesi secara mearata,lalu tambahkan sedikit keju" sambung sang pembuat cerita khayal.
"Hhmmm"Tuan muda yang benar-benar sudah terhipnotis
"Kemudian lipat" lanjut Naina.
Dennis melipat roti tawar dengan khayalan isian cokelat dan keju
"Makan pelan-pelan dan nikmati secara perlahan" Dennis mengikuti setiap ucapan konyol ini.Gigitan pertama sudah mulai beraksi.
"Bagaimana,Tuan muda?" Tanya Naina.
Ada senyum yang mengembang.
"Enak" jawab Dennis lebih konyol lagi.Dia benar-benar merasakan kenikmatan disetiap gigitannya.
Sekretaris Ben yang sejak tadi menyimak,juga menatap roti ditangannya.Berpikir sejenak kemudian melipat rotinya seperti cara Dennis,kedua lelaki cerdas yang kehilangan akal,benar-benar seperti terhipnotis.
Sekretaris Ben memasukkan gigitan pertamanya,mulai merasakan dan...hambar.
Sial
Gumamnya memukul stir mobil di depannya.Untung saja ia bisa merasakan hambarnya roti tawar ini,setidaknya ia masih merasa cerdas.
Bagaimana mungkin ini bisa terasa enak.Tuan muda,cinta sudah menghilangkan indera perasamu.
Tanpa melanjutkan gigitan keduanya.Sekretaris Ben manghidupkan mobil dan langsung menancap gas.Sedikit kesal,wajar saja.
______
**Tetap tinggalkan jejaknya yah para reader.Jangan pelit like,koment dan votenya.hehehe
__ADS_1
Terima kasihđ**