
Naina kembali ke rumah sakit dengan hati yang sangat sedih,rasanya hidupnya tidak punya arah lagi.
Ia keluar dari lift,berjalan gontai menyusuri lorong menuju ruangan pamannya.Setibanya di depan ruangan pamannya,ia melihat beberapa tim medis dari kaca pintu sedang memeriksa pamannya,Naina tampak terlihat panik dan segera membuka pintu dengan keras.
"Dokter,suster,apa yang terjadi dengan paman saya?" tanyanya terlihat sangat khawatir.
Seorang perawat mendekatinya.
"Syukurlah Nona sudah datang.Pasien sudah sadar dan terus memanggil-manggil seseorang," ucap sang perawat.
Dengan sigap Naina segera mendekati pamannya.
"Paman ...." Memegang tangan pamannya.Harun terdengar memanggil-manggil sebuah nama dengan mata yang masih terpejam.
"Paman ...." Naina mencoba mengajak pamannya berbicara.
"Pelan-pelan saja,Nona.Kondisi pasien masih belum baik," ucap seorang dokter kepada Naina.
Naina terdiam sejenak.Ia mendekatkan telinganya pada mulut harun yang masih terpasang alat bantu pernapasan di sana.Naina mencoba mendengar siapa nama yang disebut-sebut oleh Harun.
"Ne ... ta,Ne ... ta." Suara Harun yang terdengar sangat berat memanggil-manggil nama Neta,putrinya.
Hati Naina seperti tersayat-sayat mendengarnya.Ia sangat kasihan melihat kondisi pamannya.
"Paman ... saya berjanji akan mencari Neta dan membawa Neta kemari untuk paman," ucap Naina pelan kepada pamannya.
***
Hari sudah sore,kondisi Harun kembali seperti kemarin.Setelah sadar dan memanggil-manggil Neta tadi,kondisinya kembali menurun hingga ia tidak sadarkan diri lagi.Naina hanya bisa menunggunya dan berharap keajaiban akan kesembuhan pamannya,orang yang sudah ia anggap seperti orang tua kandungnya sendiri.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi pertanda pesan masuk.
^^^"Kak Naina,tolong jemput saya di hotel Melati kamar 110.Neta."^^^
Begitu pesan yang ia terima.
__ADS_1
Mata Naina seketika terbelalak setelah membaca pesan yang masuk ke ponselnya itu.
"Neta ...." Tampak raut wajah sedikit bahagia dari gadis ini,akhirnya ia menemukan keberadaan adik sepupunya itu.
Segera ia menghubungi nomor yang mengirimkannya pesan tetapi tidak ada jawaban dari sana.Tidak berpikir panjang,Naina segera bergegas untuk menemui adiknya sesuai alamat yang dikirimkan kepadanya.Melihat alamat itu,sepertinya ia akan tiba di sana sekitar satu jam perjalanan,itu jika jalan tidak sedang macet.
Naina segera keluar menemui perawat untuk menitipkan pamannya.Gadis ini kemudian pergi dengan sangat terburu-buru.
Tiga puluh menit perjalanan telah ia tempuh menggunakan ojek online,gema suara mesjid terdengar dimana-mana,sebentar lagi masuk maghrib.Jalan masih sangat macet,tidak henti-hentinya ia menatap jam tangannya dari atas motor.Suara adzan sudah terdengar,sementara perjalanannya masih sekitar setengah jam lagi.Andai saja jalan tidak macet,mungkin dia sudah hampir sampai.
"Maaf,Nona.Apa tidak sebaiknya kita mampir ke mesjid dulu,jalan juga masih sangat macet," ucap ojek online yang merupakan lelaki paruh baya.
"Oiya,Pak.Kita shalat saja dulu,biasanya setelah Maghrib jalan sudah kembali lengang," balas Naina yang merasa percuma saja dia membuang-buang waktu di jalan yang sangat macet seperti ini,mampir ke mesjid adalah pilihan yang jauh lebih baik.Walau Naina tahu kalau dirinya masih berhalangan untuk shalat,setidaknya ia bisa menunggu di depan mesjid seraya jalan juga kembali lengang.
***
Beberapa menit telah berlalu,Naina dan pengemudi ojek onlinenya kembali melanjutkan perjalanan setelah pengemudi ojeknya shalat di mesjid.
Benar saja,jalan sudah tampak lebih mulus dari yang tadi,setidaknya mereka sudah tidak terjebak macet.
Naina memasuki pintu,bahkan ia tidak melihat sosok security ataupun keamanan lainnya,benar-benar tidak tampak layaknya hotel seperti pesan yang ia terima.
Sesampainya di dalam,ia melihat seorang lelaki yang duduk di kursi dengan kopi di atas meja yang sedang ia nikmati,sepertinya bertugas sebagai penerima tamu,segera ia berjalan mendekat ke sana.
"Selamat datang,Nona.Ada yang bisa kami bantu?" sapa lelaki tersebut.
Tidak ingin berbicara lama,Naina langsung mengeluarkan ponselnya hendak memperlihatkan pesan yang ia terima.Baru saja ia menyalakan ponselnya,ia melihat ada banyak panggilan tak terjawab dari Dennis.Ia baru mengingat kalau ia pergi tanpa memberi tahu Dennis,mungkin Dennis sudah ada di rumah sakit menemuinya.
"Maaf,Nona.Apa ada yang bisa kami bantu?" tanya lelaki itu lagi.
Naina melupakan sejenak tentang Dennis dan kembali fokus pada lelaki di hadapannya.
"Oiya,ini!" segera Naina memperlihatkan isi pesan tersebut.
"Kamar 110." Lelaki ini tampak membaca pesan itu.
__ADS_1
"Nona jalan lurus saja di lorong ini kemudian belok ke kiri,kamarnya tepat di sebelah kanan," sambung lelaki itu mengarahkan Naina.Benar-benar bukan layaknya hotel,orang bisa seenaknya masuk ke sini tanpa ditanya ia siapa dan ingin menemui siapa.
"Oiya,terima kasih," balas Naina kemudian berjalan mengikuti intruksi lelaki tadi.
Sesampainya di depan kamar yang bertuliskan 110,ia segera mengetuk pintu kamar tersebut.
"Neta ...." Suaranya memanggil Neta namun tidak ada jawaban dari dalam kamar.Ia kembali mengetuk pintu kamar tersebut.Tiba-tiba saja pintu kamar terbuka dengan sendirinya.Pelan-pelan ia melihat ke dalam kemudian berjalan masuk.
"Neta ...." Lagi-lagi memanggil Neta namun tidak ada jawaban dari kamar tersebut.Tiba-tiba saja pintu kamar tertutup.Naina segera berbalik,betapa terkejutnya ia melihat siapa yang berada di dalam kamar tersebut.
Lelaki hidung belang yang sering bersama Sisca.Bram,yah ... Bram.
"Apa yang kamu lakukan di sini?Neta,mana Neta?" ucapnya dengan tegas kepada Bram,namun lelaki berkumis sedikit tebal ini hanya menampakkan senyum liciknya.
"Akhirnya aku mendapatkanmu juga,Sayang."Bram mendekat pada Naina dengan mata buayanya.Naina tampak sangat takut dengan keadaan ini.
Apa aku dijebak?
"Jangan mendekat!atau aku akan berteriak," bentaknya pada Bram.
Bram hanya tertawa mendengar ucapan Naina.
"Percuma saja,Sayang.Tidak akan ada yang mendengarmu." Bram terus saja mendekat.
Naina mendorong Bram kemudian berlari ke arah pintu,sayang sekali ... pintu ini terkunci.
Bram duduk ke tempat tidur setelah ia didorong oleh Naina.
"Jangan membuatku marah,aku sudah membayarmu mahal pada Lora," ucap Bram dengan seringainya namun terdengar kesal.
Tante Lora ... Tante Lora yang melakukan ini.
Naina sangat terkejut dengan kenyataan ini.Sebenci itukah Lora kepadanya hingga ia diperlakukan seperti ini,begitu pikirnya.
Ah,kenapa aku bodoh sekali.Sama sekali tidak curiga pada pesan itu.
__ADS_1
Naina baru menyadari dirinya yang tadi sama sekali tidak berfikir dan langsung saja berangkat ke penginapan ini,yang ada di benaknya saat menerima pesan itu,ia bahagia dan berharap bisa membawa Neta kembali.Sayang sekali,ia masuk ke dalam neraka.