MENCINTAI WANITA Dari ZONA_X

MENCINTAI WANITA Dari ZONA_X
Tuduhan


__ADS_3

Pagi kembali menyapa,semua orang sudah kembali sibuk dengan rutinitas pagi mereka untuk bekerja.Tetapi tidak dengan Naina,ia harus absen hari ini untuk menjaga pamannya,ia sudah menelfon Selfy selaku penanggung jawab Beauty Flowers dan syukurlah sang atasan ini sangat pengertian pada setiap pegawainya,apalagi yang meminta izin itu adalah Naina,pegawai kesayangan pak Anton dan Bu Anissa,pemilik Beauty Flowers.Andai Naina sudah menerima tawaran untuk tinggal bersama pak Anton dan Bu Annisa pastilah ia tidak perlu bekerja lagi di Beauty Flowers,tapi gadis ini terlalu berat untuk menerima itu,ia masih sangat senang dengan pekerjaannya sekarang.


Sekretaris Ben sudah datang menjemput Dennis di Rumah sakit.


Tuan muda ini akan langsung berangkat ke kantor,segala keperluannya sudah disiapkan oleh Sekretaris Ben,belum lagi ruangan di kantornya yang sudah seperti apartemen mewah,tidak susah bagi tuan muda ini jika tidak membawa apapun ke kantornya,pakaian dan segala sesuatunya sudah siap di ruangannya.


"Sekretaris Ben,siapkan dua orang perawat untuk berjaga di sini karena pagi ini Naina akan pulang ke rumahnya  untuk mengambil segala keperluannya," perintah Dennis yang sudah di beri tahu Naina kalau dia akan pulang ke rumahnya dulu.


"Saya bisa memerintahkan orang untuk membawa segala keperluan Nona Naina,Tuan muda." Sekretaris ini menawarkan pilihan lain,ia hanya ingin mempermudah kekasih tuan mudanya agar tidak perlu merepotkan diri untuk bolak-balik hanya untuk mengambil segala keperluannya.


"Betul juga." Dennis setuju dengan ucapan sekretaris Ben.


"Maaf,Nona.Katakan saja yang Anda butuhkan,saya akan memerintahkan orang-orangku untuk membantu Anda mengambilnya.Anda tidak perlu repot-repot untuk kembali ke rumah," ucap sekretaris Ben sangat sopan pada Naina.


"Tidak,Mas Aben.Sebenarnya tujuanku untuk pulang,saya ingin memberi tahu Tante Lora sesuatu." Naina mengingat kalau dia belum memberi tahu Lora tentang kepergian Neta,jika menelfon tantenya itu pastilah tidak akan dijawab.


"Mas Aben dan Mas Dennis ke kantor saja,saya bisa memakai taxi online untuk ke rumah," sambung Naina lagi.


"Baiklah jika itu permintaan Nona." Sekretaris Ben dan Dennis akhirnya mengalah setelah mendengar penjelasan Naina,mungkin memang ada yang perlu Naina bicarakan pada Tantenya itu.


"Baiklah,saya duluan.Sekretaris Ben akan memerintahkan dua perawat untuk menjaga paman Harun di sini dan setelah pulang kantor,saya akan langsung ke sini lagi," ucap Dennis dengan segala perhatiannya.


Naina merasa benar-benar sudah sangat merepotkan.


"Mas,apa tidak sebaiknya Mas Dennis pulang ke rumah Mas Dennis dulu.Bukankah sejak pulang kantor kemarin,Mas Dennis sama sekali belum pulang ke rumah." Naina khawatir jika orang tua Dennis mencari putranya.


Dennis tertawa kecil mendengarnya.


"Tidak usah khawatir,semua sudah diurus sekretaris Ben," balas Dennis.


Bahkan hal seperti itu diurus sekretaris Anda juga.


Gumam Naina.


***


"Sekretaris Ben,apa yang Anda katakan pada orang rumah sehingga Mama tidak menelfon dan mencariku?" Dalam perjalanan mereka ke kantor,Dennis mengingat ucapan Naina hingga ia juga penasaran dengan alasan sekretaris Ben yang diberikan kepada Atmajaya dan Rita.

__ADS_1


"Klasik saja,Tuan muda.Saya mengatakan seperti biasa kalau Tuan muda pulang ke apartemen," jawab sekretaris Ben.


Dennis tersenyum dari kursi belakang.


Iya yah,kemarin-kemarin juga saya pulang ke apartemen dan itu hal yang bisa.


Gumamnya,entah kenapa ia tidak berfikir kalau dia memang sering pulang ke apartemen.Tidak sulit untuk memberi alasan kepada orang tuanya hingga harus mencurigainya kalau dia sedang bersama Naina.


***


Naina turun dari taxi online dengan wajah yang terlihat masih sangat lelah,berjalan masuk melewati gang kecil yang dihimpit bangunan-bangunan club Zona X.


Langsung membuka pintu yang tidak terkunci.


"Assalamualaikum," ucapnya tetapi tidak mendapatkan jawaban.Percuma saja mengucap salam,Lora pasti juga tidak akan menjawab.


Gadis ini berjalan ke kamarnya,menatap kamarnya yang berantakan,kursi roda pamannya yang masih dengan posisi terbalik,pintu lemari yang terbuka,semua masih dengan posisi saat ia meninggalkan rumah ke rumah sakit membawa pamannya.


Dengan perasaan yang tidak stabil,segera ia merapikan kamar kecilnya ini.Lagi-lagi hatinya kembali sedih dan sedikit kesal setelah ia melihat selembar kertas di lantai,surat dari Neta ini membuat bulir bening dari manik matanya kembali terjatuh.


"Dasar gadis bodoh," umpatnya kesal pada sepupunya itu.Ia sangat menyayangi Neta,ia tidak menyangka jika Neta akan melakukan hal ini.


***


Naina sudah terlihat rapi,satu tas kecil berisi pakaian dan keperluan lainnya sudah siap didalam sana.Ia menenteng tas itu menuju kamar pamannya untuk mengambil pakaian ganti untuk pamannya.


Tiba di depan kamar pamannya,ia menghela nafas sebentar kemudian menatap surat Neta yang ia genggam di tangannya.


"Assalamualaikum,Tante Lora," ucapnya seraya mengetuk pintu kamar Lora,tetapi tidak ada jawaban dari sana.Naina mencoba membuka pintu,syukurlah pintu kamar ini tidak terkunci.Langsung saja ia masuk ke dalam,melihat Lora yang masih tertidur pulas.


"Tante ...."Walau takut,ia tetap mencoba membangunkan tantenya.


Wanita paruh baya hanya menggeliat dan kembali tertidur.


" Tante ...."Kembali bersuara sedikit meninggi.


"Hhhmmm ...." Lora mulai bersuara walau matanya masih tertutup.

__ADS_1


"Paman ... paman sedang dirawat di Rumah sakit,Tante." Naina mulai mengajak Lora berbicara.


"Bukan urusan saya," jawab wanita paruh baya ini dengan mata yang terus tertutup,walau terdengar layaknya nada orang yang baru bangun tidur tetapi tetap saja terdengar ketus jika berbicara pada Naina.


Bagi Naina,sikap Lora seperti itu kepadanya sudah hal yang biasa baginya tapi kenapa wanita ini sama sekali tidak peduli pada suaminya,pikirnya.


Naina menatap surat di tangannya,sebenarnya ini tujuan utama dia menemui Lora.


"Tante,Neta ... Neta pergi dari rumah." Dengan terbata-bata Naina menyampaikannya.


Mendengar itu,Lora mulai membuka mata.


Melihat Lora membuka mata dan menatap Naina,Naina segera memberikan surat yang ada di tangannya.


"Ini surat dari Neta sebelum ia pergi,surat ini juga yang membuat paman harus di rawat di rumah sakit." Naina menyodorkan surat itu pada Lora.


Walau Lora tidak terlalu memperhatikan Neta,tetap saja ia terlihat sangat terkejut mendengar ucapan Naina.Bagaimanapun juga,Neta adalah putri satu-satunya yang ia miliki.


Lora bangun dari tidurnya dengan kepala yang sangat berat karena pengaruh alkohol,duduk bersandar dan mulai membaca surat di tangannya.


Beberapa detik kemudian setelah ia membaca isi surat tentang keputusan Neta meninggalkan keluarganya demi kekasihnya,mata Lora tampak berkaca-kaca.Wanita paruh baya ini seperti memendam sebuah kesedihan dan juga amarah.Ia meremukkan kertas itu dengan satu tangannya kemudian menatap Naina dengan penuh kekesalan.


"Pasti kamu di balik semua ini," bentak Lora dengan keras pada Naina,membuat Naina ketakutan.


"Tante ... saya tidak tahu apa-apa,Tanta." Naina mencoba membela diri.


"Bohong,pasti kamu yang mempengaruhi Neta untuk pergi meninggalkan kami." Lora berdiri dari duduknya.


"Kamu sengaja ingin menghancurkan keluargaku." Lora terus berteriak dengan segala tuduhannya.


"Tante ... saya benar-benar tidak tahu apa-apa." Naina sudah terlihat berlinang air mata.


"Pergi dari rumahku!saya tidak ingin melihatmu berada di sini lagi,pergi!" hardik Lora dengan keras seraya mendorong Naina keluar dari kamarnya.


"Semenjak kedatanganmu di rumah ini,keluargaku tidak pernah bahagia seperti dulu lagi.Kamu penyebab semua musibah dalam keluargaku." Lora terus saja memaki Naina.


Gadis periang ini hanya bisa menangis tak berdaya.

__ADS_1


"Pergi kamu dari sini!" Lora melemparkan tas pakaian milik Naina kemudian membanting keras pintu kamarnya hingga pintu kamar itu tertutup.


"Neta ...." Terdengar teriakan Lora dari dalam kamar memanggil putrinya kemudian diiringi suara tangis yang pecah.Wanita paruh baya ini terdengar sangat terpukul dengan kepergian putrinya.


__ADS_2