
Masih sangat pagi,di rumah kecil yang bersambungan langsung dengan dinding Club ini sudah tercium aroma masakan yang begitu enak.Ini hari Minggu,harusnya Naina beristirahat dengan full tetapi itu tidak berlaku bagi dirinya.,Setelah shalat subuh,ia harus bergelut dengan dapurnya menyiapkan makanan untuk keluarganya,kemudian membereskan rumah dan mencuci pakaian pastinya.Sangat melelahkan,semalam ia pulang larut karena harus mengambil kuliah malamnya dan hari ini setelah pekerjaannya selesai maka ia harus berangkat ke kampus lagi untuk kuliah akhir pekannya.Bagaimanapun juga,ia tetap memikirkan masa depannya.Ia harus mengubah hidupnya,ia harus sukses.Begitu pikirnya.
Pukul 07.00 waktu setempat
Pekerjaan rumahnya telah selesai,makanan pun sudah terhidang di atas meja makan kecilnya.Ia juga sudah mandi,sementara masih bersiap-siap didalam kamarnya.Terlihat adik sepupunya masih tidur dengan pulas.
Tidak berapa lama,ia sudah selesai.Berpakaian begitu sederhana tetapi terlihat sangat cantik,dengan mengambil jurusan Tata Busana membuatnya terampil dalam memadu padankan pakaiannya.Memakai kemeja lengan pendek berbahan silk licin berwarna pink soft,celana kain hitam lebar yang menggantung di atas mata kakinya,ujung baju bagian kiri ia masukkan ke dalam celana dan bagian kanan tetap ia biarkan di luar,rambut yang ia kuncir satu dengan sedikit mengembang,dan sepatu putih yang menambah kesan santai namun tetap terlihat formal untuk seorang mahasiswi.Tidak lupa jam tangannya,walau bukan jam tangan mahal tetapi aksesoris satu ini tetap wajib ia pakai.
Mengambil tas ranselnya yang berukuran kecil,ia gadis yang sangat senang menggunakan tas ransel.Tidak lupa tas jinjing kain yang berisikan beberapa alat tempurnya untuk belajar.
Tiba-tiba ponsel barunya berbunyi.Nada pertanda pesan masuk.Mengambil ponsel itu dan membuka pesannya.
Melihat nama 'Mas Dennis' sebagai pengirim pesan.Tiap kali membaca nama itu,ia tidak habis pikir dengan sikap tuan muda itu yang seenaknya saja bahkan menyimpan sendiri nomornya dengan nama seperti itu.
Ia membaca pesan.
^^^Tunggulah,saya yang akan mengantarmu ke kampus.^^^
Begitu isi pesan yang ia terima.
Benar-benar keterlaluan,ia tahu semua yang akan ku lakukan bahkan jadwal kuliahku pun ia tahu.
Naina hanya menggerutu dalam batinnya,marah pun tidak ada gunanya.
Ia tidak membalas pesan itu.Segera ia keluar menuju meja makan untuk sarapan.Di sana sudah ada pamannya yang menunggunya untuk sarapan bersama.
***
Kediaman Atmajaya.
Lelaki tampan bertubuh atletis ini turun dari tangga dengan tampilan yang sudah rapi tetapi bukan dengan jas seperti hari-hari biasanya.Ia hanya menggunakan kaos polos berwarna putih,jaket kulit berwarna abu yang terlihat sangat ringan,celana jeans dan sepatu putih,kacamata hitam nan branded yang ia gantung di leher bajunya,ditambah jam tangan mahal yang menambah kesempurnaan tampilannya.
Langsung menuju meja makan untuk sarapan.
"Pagi Mah,Pah ...,"sapanya kepada kedua orang Tuanya.
"Pagi sayang ...," balas Rita.Mama Rita mencium parfum yang begitu wangi.Segera ia berbalik,sedikit terkejut melihat tampilan putranya.Sebenarnya bukan soal tampilannya,Dennis memang sering berpenampilan seperti itu di luar jam kantornya tetapi ini masih pagi.Mau kemana anak ini?begitu pikir sang Mama.
"Dennis,ini masih sangat pagi.Pakaianmu sudah sangat rapi,mau kemana?" Rita seperti menyelidiki.
"Ada janji sama teman,Mah," jawab Dennis santai.Dennis yang sudah duduk,mulai menyantap sarapannya.
"Teman kamu yang mana?kalau rekan bisnis,tidak mungkin kamu berpakaian seperti itu."Rita masih tidak puas dengan jawaban putranya.
Dennis berhenti sejenak dengan kunyahannya,memikirkan jawaban dari pertanyaan mamanya ini.
__ADS_1
"Yah ... teman SMA lah,Mah.Masa iya sih teman kampus,Dennis kan kuliah di Eropa." Begitu jawaban yang ia karang.
Melihat wajah mamanya yang terlihat masih tidak puas....
"Hari ini ada reuni kecil-kecilan," sambungnya.
"Reuni?sepagi ini?" Rita masih saja menaruh kecurigaan.
"Mama itu kenapa....?" Atmajaya angkat suara.
"Seperti tidak pernah muda saja," sambung Atmajaya.
Dennis sedikit lega mendengar ucapan papanya.
"Entahlah Mama ini," lanjut Dennis.
Rita lebih memilih diam karena kedua lelakinya seperti bersatu menyerangnya.
Setelah beberapa menit mereka sarapan,sebuah pesan masuk ke ponselnya.Pesan dari sekretaris Ben yang mengatakan kalau ia sudah ada di depan.
Ia segera meminum jus jeruknya.
"Mah,Pah,Dennis berangkat yah"Dennis berdiri dan berjalan keluar.
***
"Ok,terima kasih"
"Kalau begitu ... saya permisi,Tuan muda." Pamitnya kepada Dennis.
"Sekretaris Ben...." Dennis menghentikannya sejenak.
"Kemana anda akan membawa kekasih anda diakhir pekan ini?"Goda Dennis kepada sekretarisnya ini.
Terlihat wajah malu dari tuan sekretaris ini.Tahu saja tuan mudanya ini kalau dia akan berkencan hari ini dengan Diana.
"Kami hanya akan ke Mall,Tuan muda," jawabnya.
Dennis tersenyum mendengarnya.
"Baiklah,silahkan anda pergi! Sampaikan salamku pada Diana," ujar Dennis.
"Jaga baik-baik anak orang." Sambungnya yang terus menggoda sekretaris Ben.
Sekretaris Ben hanya tersenyum dengan membungkukkan tubuhnya sedikit kemudian berbalik ke arah mobilnya.Ia pergi bersama seorang lelaki yang menemaninya membawa motor sport tadi.
__ADS_1
Rita keluar bersama Atmajaya.Mereka melihat mobil sport pribadi sekretaris putranya sudah keluar dari gerbang.
"Mama pikir kamu pergi bersama Ben," ujar Rita.
"Dennis naik motor,Mah"
"Motor?" Betapa Rita sangat terkejut.Setelah sekian lama,baru kali ini Dennis akan naik motor lagi.
"Kamu punya banyak mobil,kenapa harus naik motor?"Rita benar-benar menaruh curiga pada putranya ini.
"Mah,teman-teman Dennis naik motor semua.Mama ini kenapa sih ...." Mendekati mamanya dan memberikan satu ciuman di pipi kiri sang mama yang sejak tadi terus menaruh curiga.Hati seorang ibu memang tidak akan pernah salah.
"Ya sudah,Dennis pergi," ujarnya.
"Pah...." Menaikkan tangan kepada papanya.
"Yah,hati-hati," balas Atmajaya yang sama sekali tidak menyimpan kecurigaan.
Dennis naik ke ke atas motornya,memakai kacamata kemudian memakai helmnya.
***
30 menit telah berlalu,Naina masih duduk di ruang tamu.
Astaga ... kalau begini caranya aku bisa terlambat.
Menatap jam tangannya,tiga puluh menit dari sekarang ia harus sampai ke kampus.Jika tidak karena takut kepada tuan muda itu,mungkin dia sudah pergi sejak tadi.
"Belum berangkat,Nak." Lelaki paruh baya dari atas kursi roda mendekatinya.
"Iya Paman.Saya menunggu teman,kami sudah janjian.Dia akan menjemputku"
Kenapa saya tidak menunggu di luar saja,bagaimana jika paman curiga.Dasar bodoh!
Batinnya mengatai dirinya sendiri
"Kiran?" tanya Harun.
"I-iya Paman"
Syukurlah paman tidak curiga.
Ponselnya berdering,nama Mas Dennis dalam panggilan.Akhirnya yang ditunggu-tunggu menelfon juga.
"Keluarlah!" hanya itu yang Naina dengar dan telefon terputus sepihak seperti biasa.
__ADS_1
"Paman,saya berangkat.Kiran sudah ada di depan," ujar Naina berbohong.Ia segera mencium punggung tangan pamannya.
"Iya Nak,hati-hati!"