
Tiga hari telah berlalu, artinya kepergian Dennis ke Dubai sudah berlalu satu hari. Kepergian suaminya kemarin terasa begitu sangat berat baginya, ia merasa pelukan hangat sebelum suaminya pergi adalah pelukan terakhir untuknya. Entah mungkin karena pengaruh kehamilannya yang membuatnya begitu sangat manja kepada suaminya. Tapi, sejak semalam perasaannya sudah tidak nyaman.
Hari sudah menjelang siang, Naina merasa tidak enak pada tenggorokannya. Tiba-tiba terlintas di benaknya ayam geprek sambal rica di ujung jalan apartemennya. Dulu ia pernah mampir ke sana bersama Dennis atas permintaannya, ayam geprek yang begitu terkenal hanya saja harus siap mengantri lama jika ingin membelinya. Dan sayangnya lagi karena ayam geprek ini tidak terdaftar pada aplikasi makanan online, jadi jika ingin menikmatinya maka harus ke tempatnya langsung untuk membelinya.
Ia keluar dari kamar mencari kedua asistennya.
"Mimi ... Lilis ...."
Sejurus salah satu asistennya berlari menghampirinya.
"Ada apa, Nyonya muda?" tanya Lilis.
"Kamu hanya sendiri? Kemana Mimi?" tanya Naina balik.
"Bukankah Nyonya muda menyuruhnya berbelanja bahan dapur."
Naina menepuk keningnya, ia baru mengingat kalau ia telah memerintahkan Mimi pergi bersama supir untuk berbelanja.
"Oiya, apa saya bisa meminta tolong?" Naina berbicara seperti bukan seorang majikan. Lilis terkekeh mendengarnya.
"Ya ampun, Nyonya muda ini sungguh sangat lucu. Mengapa meminta tolong harus bertanya, kami bekerja di sini memang untuk diperintah oleh Nyonya muda, bahkan Nyonya muda menyuruh kami menyebrangi samudera Hindia pun kami akan melakukannya." Asisten yang begitu sangat memanjakannya, itu memang tugas wajib dari mereka. Terlebih saat ini sang nyonya muda mereka sedang dalam masa ngidam.
"Saya ingin makan ayam geprek yang di ujung jalan sana, Lis," pintanya kepada Lilis.
Lilis sedikit bimbang atas permintaan nyonya mudanya ini.
"Tapi, Nyonya muda. Kalau saya pergi membelikan untuk Nyonya muda, lalu siapa yang akan menjaga nyonya muda di sini. Kita tunggu Mimi pulang saja yah, Nyonya muda. Nyonya muda masih bisa menahannya kan?" Asisten ini sungguh dalam dilema.
Tiba-tiba Naina menjatuhkan tubuhnya pada sofa di depan TV, wajahnya seketika lesuh, raut sedih sudah tampak dari garis wajah cantik itu.
"Aku ingin makan itu sekarang." Suaranya merengek begitu menyedihkan sembari tangannya mengelus perutnya.
Sungguh ini membuat Lilis semakin dilema saja.
"Ah, Nyonya muda ...." Lilis seperti akan frustasi. Jika ia pergi maka ia melakukan kesalahan yang begitu fatal karena meninggalkan Nyonya mudanya sendiri. Namun, jika tidak pergi maka nyonya mudanya akan tersiksa karena sangat menginginkan ayam geprek itu, belum lagi baby pingky-pingky yang begitu ia sayangi bahkan belum lahir dan bahkan belum ia tahu jenis kelaminnya tapi nyawanya seperti sudah ia pertaruhkan untuk si baby yang ia juluki pingky-pingky.
"Baiklah, Nyonya muda. Jangan seperti ini! Sekarang juga saya akan keluar membelikannya. Tapi, Nyonya muda harus janji tidak akan kemana-mana!" pesan Lilis begitu berat hati.
__ADS_1
Tampak senyum merekah dari bibir Naina, ia sudah membayangkan ayam gepreknya. Berdiri kemudian memegang tangan Lilis begitu romantis, sepertinya nyonya muda ini sungguh tidak mengarang akan keinginannya menikmati ayam geprek.
"Terima kasih yah, Lilis," ucapnya begitu bahagia.
"Iya, Nyonya muda. Tidak usah terlalu berlebihan seperti ini. Baiklah, saya keluar. Ingat, Nyonya muda tidak boleh kemana-mana!" pesan Lilis lagi.
"Iya, kamu pikir saya akan kemana," balas Naina seraya mencubit pipi asistennya itu.
***
Lilis sudah pergi. Kini tinggallah Naina seorang diri di dalam apartemen mewahnya. Untuk menghilangkan kebosanan, ia menyalakan TV yang ada di hadapannya. Dari layar TV, channel di hadapannya menyiarkan seputar infotainment. Secara kebetulan, artis papan atas Azea Ruanna Atmajaya yang tak lain adalah adik iparnya muncul di layar kaca di hadapannya. Azea tampak sedang menghindari media yang terus mengikutinya dengan cercaan pertanyaan. Seketika Naina begitu terkejut setelah mendengar apa yang ia saksikan. Bukan tentang seorang Azea, namun mengenai Dennis Atmajaya. Sang direktur muda yang merupakan kakak dari artis ternama itu sedang di bicarakan di sana, segelintir pertanyaan malah ditujukan untuk Azea. Siapa yang tidak mengenal keluarga ini? Keluarga yang begitu sangat harmonis, dermawan dengan segala kekayaan berlimpahnya. Belum lagi ditambah Azea yang merupakan publik figur paling terkenal.
Dari layar kaca, Azea terlihat memasuki mobil, namun tetap tidak berbicara sedikit pun. Naina mematikan TV di hadapannya, bulir bening seketika membasahi pipinya disertai dadanya yang begitu terasa sesak. Ternyata, saat ini Dennis Atmajaya sedang dibahas dimana-mana. Segelintir kalimat masih Naina ingat jelas di TV tadi. Apa benar sang direktur tampan itu telah menikah secara siri dengan wanita yang berasal dari Zona X? bahkan wanita itu kini tengah hamil, apa kehamilan itu terjadi di luar nikah? itulah yang Naina tangkap dari layar TV tadi, media terus mencari tahu kebenarannya.
Sejurus Naina mengambil ponselnya. Membuka sosial media dan browsing di beberapa halaman pencarian dengan kata kunci nama suaminya. Dan benar saja, semua portal-portal online infotainment sedang membahas pernikahan sirinya. Kini, nama besar Atmajaya sedang dibicarakan dengan kabar miring ini. Jika ini benar adanya, bagaiman seorang Dennis Atmajaya bisa menikahi wanita dari tempat seperti itu? Itulah berita utama dari infotainment hari ini.
Air mata Naina semakin tidak terbendung, ia tidak menyangka akan seperti ini. Tidak terlintas di benaknya sedikitpun kalau pernikahannya akan dibicarakan oleh negeri ini.
Tiba-tiba suara bel membuyarkan kesedihannya. Pelan-pelan ia berdiri kemudian melangkah ke sana. Dari arah layar, betapa terkejutnya ia melihat siapa yang ada di sana. Seorang wanita yang sudah lama ia tunggu kedatangannya, seorang wanita yang sangat ingin ia peluk dan bermanja di sana. Rita, sang mama mertua sedang berada di luar pintu.
Segera Naina menghapus air matanya kemudian dengan hati yang begitu bahagia membuka pintu.
"Ma--"
"Nyonya ...." Tadinya ingin memanggil mama, namun tiba-tiba ia terbata dan kembali memanggil wanita di hadapannya dengan apa yang selama ini orang-orang memanggilnya.
Tidak ada senyum sedikitpun dari raut wajah Rita. Wanita berjilbab ini kemudian melangkah masuk tanpa dipersilahkan oleh Naina yang masih berdiri gugup di sana.
"Silahkan masuk, Nyonya." Seketika jantung Naina berdegup kencang, rasa bahagia tadi tiba-tiba hilang begitu saja. Entah mengapa ia jadi sangat takut.
"Dennis sungguh hebat menjagamu bahkan media tidak bisa sampai ke sini." Itu kalimat pertama yang Rita ucapkan. Dari nadanya, sudah bisa ditebak jika kedatangannya tidak baik-baik saja.
Rita berjalan kemudian meletakkan tasnya di atas sofa.
"Apa kamu sudah puas dengan apa yang terjadi pada keluargaku saat ini?" Kalimat yang keluar dari mulut Rita seketika meruntuhkan harapan Naina akan sebuah kehangatan dari sang mama mertua.
"Lihat, semua orang kini membicarakan putraku, membicarakan keluarga kami." Kali ini suara Rita sudah lantang, menembus sampai ke batin terdalam Naina yang seperti akan mencabik-cabiknya di sana.
__ADS_1
"Kamu tahu semua itu karena siapa?"
Naina tidak mampu berkata apa-apa, langit seketika akan runtuh mengenainya. Mulutnya benar-benar kaku bahkan hanya untuk satu kata saja.
"Kedatanganku kemari untuk meminta putraku kembali." Kali ini nada Rita sudah menurun seiring manik matanya yang sudah berkaca-kaca.
"Kembalikan keutuhan keluarga kami, kembalikan nama baik keluarga kami." Bulir bening sudah tak tertahankan dari mata Rita.
"Semua ada di tanganmu." Rita terus berbicara.
Naina hanya terdiam, pastinya bulir bening juga sudah membasahi pipinya. Kali ini ia seperti sedang di letakkan pada sebuah persimpangan yang pilihannya begitu berat. Belum lagi mengingat semua berita infotainment yang sedang tersebar luas membicarakan keluarga Atmajaya dengan kabar miring ini. Naina merutuki dirinya. Yah, semua ini karena dirinya. Dia penyebab kehancuran keluarga Atmajaya hingga sampai ke telinga negeri ini.
Rita tiba-tiba menjatuhkan dirinya ke lantai dengan lutut sebagai tumpuan, seperti akan bersujud di kaki Naina.
"Nyonya ...." Naina sangat terkejut melihat seorang Rita Atmajaya sedang bersimpuh di hadapannya.
"Saya mohon kepadamu, tinggalkan putraku! kembalikan dia padaku, jangan pisahkan seorang anak dengan mamanya." Kalimat Rita seperti membawa petir menyambar menghancurkan Naina, terlebih kalimat terakhirnya. Pertahanan Naina seketika runtuh, ia hanya mengingat janin yang berada di dalam perutnya. Ia sangat menyayangi buah hatinya di sana, bagaimana jika buah hatinya ini dipisahkan olehnya? Apa seperti ini perasaan mertuanya sekarang? Naina merasa begitu sangat berdosa, ia tidak pernah menyangka jika sesakit ini hati Rita setelah ditinggalkan oleh putranya. Selama ini Naina sudah dibutakan oleh kebahagiaan akan cinta yang ia dapatkan dari suaminya, dan betapa optimisnya dia jika suatu hari nanti mama mertuanya akan datang membawa restu untuk dirinya. Namun, semua hanya angan belaka. Saat ini di depan matanya, inilah fakta yang ada. Seorang wanita yang meminta putranya kembali, tak lain adalah suaminya, lelaki yang sudah ia cintai.
Tubuh Naina seperti mati rasa, pertahanannya seketika runtuh, air mata sudah mengalir bak anak sungai.
"Saya mohon kepadamu, kembalikan putraku! Kembalikan kebahagiaan keluarga kami." Rita terus bersimpuh seperti budak di hadapan ratunya.
"Nyonya, jangan seperti ini." Naina sungguh tidak kuasa melihat Rita yang sudah bersujud di kakinya.
Saat ini, tiba-tiba ia seperti sudah tersihir. Tidak bisa berpikir jernih lagi. Tak ada lagi bayang lelaki yang begitu ia cintai, hanya sebuah janin di dalam sana yang ia sedang raba dari luar perutnya. Bagaimana jika ia di posisi Rita saat ini? Sungguh perasaan kalang kabut tengah menguasai dirinya kini. Ia seperti sudah sadar akan posisinya, ia memang tidak pantas menjadi seorang ratu di istana Dennis Atmajaya, negeri ini bahkan menolak itu dengan segala pemberitaan miringnya.
"Saya akan pergi, Nyonya. Saya akan pergi," lirihnya dengan tatapan kosong. Gadis ini benar-benar sudah kehilangan akal. Tidak lagi memikirkan tentang semua cita-cita kehidupan yang akan terus indah bersama suaminya, janji sehidup semati bersama suaminya juga musnah seketika. Melihat seorang mama yang terpisah oleh putranya karena dirinya membuatnya begitu sangat berdosa.
Sementara Rita, mendengar ucapan Naina ia segera berdiri dan bahkan tanpa kata lagi langsung saja meraih tasnya. Ia mengeluarkan selembar cek yang jumlahnya tidak main-main.
"Ambil ini!" Menyerahkan cek ke tangan Naina yang masih diam mematung.
"Kamu bisa gunakan itu untuk melanjutkan hidupmu, pergilah sejauh mungkin sebelum media menemukanmu." Setelah mengucapkan itu, Rita kemudian berlalu. Melangkah dengan cepat meninggalkan Naina di dalam apartemen ini.
Gadis malang ini menatap lembaran cek di tangannya, hatinya semakin sakit, jiwanya benar-benar remuk. Sungguh dirinya memang begitu sangat rendah di mata semua orang. Ia meremukkan cek di tangannya itu dengan sekuat tenaga seperti remuknya perasaannya kini.
Satu menit telah berlalu dengan semua perasaan kacaunya. Ia mulai berpikir apa yang akan dilakukannya, keputusan yang sudah sangat matang sudah terlintas di benaknya. Ia mengambil ponselnya kemudian menghubungi seseorang.
__ADS_1
"Halo, Bu Annisa. Tolong jemput saya di halte dekat apartemen."