MENCINTAI WANITA Dari ZONA_X

MENCINTAI WANITA Dari ZONA_X
Roti Tawar Pelepas Rindu


__ADS_3

Malam berganti siang dan kembali malam lagi, seperti itulah terus perputarannya. Dengan berputarnya waktu, seiring pula berputarnya kehidupan.


Makan malam yang tidak begitu berselera. Sama dengan malam kemarin, malam ini suaminya tidak ada di rumah. Jika malam kemarin suaminya sudah kembali pada saat ia tertidur lelap, malam ini ia tidak akan mengalami itu. Dennis sudah jauh setelah kepergiannya pagi tadi karena pekerjaan yang tidak bisa ia tunda.


Naina hanya menatap piring kosong di hadapannya. Tidak sama sekali berselera mengisi piring itu dengan makanan lezat yang sudah tersaji.


"Nyonya muda, makanlah! jangan membuat kami dalam kesulitan." Terdengar suara Mimi yang merengek. Tadi pagi ia dan Lilis sudah mendapat peringatan dari sekretaris Ben.


"Siapa yang akan memarahi kalian? Mas Aben?" tanya Naina seraya menarik roti tawar di hadapannya. Bukannya mengambil masakan lezat yang sudah tersaji, ia malah berselera dengan selembar roti tanpa isian.


Kedua asisten ini terkejut melihat nyonya mudanya malah ingin makan roti.


"Siapa yang memarahi kami itu tidak pentingn, Nyonya muda. Tapi, mengapa Nyonya muda makan malam dengan roti seperti itu." Mimi tidak mengerti dengan sikap Naina.


"Apa masakan kami tidak enak, Nyonya muda. Nyonya muda katakan saja ingin makan apa, kami akan menggantinya," sambung Lilis. Kedua asisten ini merasa sangat bersalah.


Naina tersenyum.


"Masakan kalian begitu enak, kalian sudah bekerja luar biasa. Saya sangat bersyukur dengan adanya kalian di rumah ini menemaniku."


"Tapi, Nyonya muda. Apa Nyonya muda akan kenyang dengan makan roti seperti itu bahkan tanpa isian apapun?" Lilis kembali bertanya mengenai roti tawar itu. Pikiran siapa yang bisa menerima ini, ada orang yang makan roti hambar dan begitu menikmatinya.


Naina tersenyum kemudian menatap roti yang sudah hampir setengah ia makan.


"Aku dan mas Dennis sangat menyukai roti seperti ini." Ucapannya sudah membuat kedua asisten ini paham. Majikannya sedang jatuh cinta ditambah sedang dalam kerinduan, wajar saja jika roti itu begitu nikmat. Ternyata itu adalah roti kenangan.


Begitu yang kedua dayang-dayang ini pikirkan.


"Oiya, mengapa kalian berdiri saja? ayo duduk dan makanlah juga! kalian sudah capek-capek masak." Mendengar ucapan Naina, kedua asisten ini merasa sangat canggung.


"Nyonya muda, bagaimana mungkin kami semeja denganmu? Nyonya muda tidak usah memikirkan kami, kami bisa makan dimana saja. Yang paling penting kami sudah memastikan semua sudah beres segala yang berhubungan dengan Nyonya muda dulu," ujar Mimi dengan senyum dan gaya khasnya.


Naina meraih ponsel di dekatnya.


"Baiklah jika kalian tidak ingin makan semeja denganku, aku akan menelpon tuan Ben kalian dan mengatakan kalau hari ini kalian tidak bekerja dengan baik."


"Eh, Nyonya muda ... tolong jangan lakukan itu." Kedua asisten ini nampak panik.


"Baiklah, kami akan duduk dan makan bersama Nyonya muda," lanjut Mimi kemudian segera duduk disusul Lilis.


Ada tawa kecil dari bibir Naina yang masih terisi roti. Walau ia sedang merindu, namun sedikit terobati dengan kelucuan kedua asistennya.


***


Tepat pukul 10 malam. Naina masih gelisah di atas tempat tidurnya. Matanya sungguh tidak bisa terpejam.

__ADS_1


"Keterlaluan kamu, Mas. Mengapa tidak menelfonku?" kesalnya dengan ponsel yang terus berada di tangannya, menunggu telefon dan kabar dari suaminya.


Ia bangun dan keluar dari kamar dengan membawa bantalnya beserta ponselnya. Berjalan menuju salah satu kamar tamu yang kini di tempati oleh kedua asistennya.


"Mimi ... Lilis ...." Suaranya memanggil seraya mengetok pintu. Dalam waktu seketika pintu pun terbuka. Tampak kedua dayang-dayangnya dari balik pintu. Walau sudah memakai baju tidur, namun kedua asistennya ini masih menggunakan jilbab, sepertinya mereka memang sedang terjaga.


"Ada yang Nyonya muda butuhkan?" tanya Lilis yang berdiri lebih di depan dari Mimi.


Naina tidak menjawab dan langsung berjalan masuk ke kamar kedua wanita super heboh ini.


"Aku ingin tidur di sini bersama kalian," ujar Naina yang membuat Mimi dan Lilis terkejut.


"Nyonya muda ...." Mimi dan Lilis langsung menahan keinginan tidak masuk akal majikannya ini.


"Kali ini kami akan menentang keinginan Nyonya muda. Kamar ini tidak layak untuk Anda, Nyonya muda." Mimi terdengar tegas seperti bukan seorang bawahan yang berbicara kepada majikannya.


Mimi dan Lilis langsung duduk ke atas tempat tidur agar Naina tidak bisa tidur di tempat yang menurut mereka tidak layak ini. Andai mereka tahu, kamar Naina sebelum tinggal di apartemen ini masih sepuluh kali lipat lebih baik dari kamar tamu ini.


"Jika kalian belum mengenal diriku terlalu dalam, jangan mengatakan kalau ini tidak layak untukku." Naina bersikeras ingin tidur di kamar tamu ini bersama kedua asistennya.


Mimi berdiri merentangkan tangan dan disusul gerakan yang sama oleh Lilis.


"Kami tetap tidak akan membiarkan Nyonya muda untuk tidur di sini," tegas Mimi lagi.


"Tapi, Nyonya muda jangan memberi tahu tuan muda atau tuan Ben atas kejadian ini." Mendengar ucapan Mimi, langsung saja Naina mengambil celah dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur yang ukurannya tidak sebesar ranjang di kamarnya namun ini berkali-kali jauh lebih baik dari tempat tidur lamanya. Bagi kedua asistennya, kelas majikannya memang tidak layak di tempat tidur seperti ini namun bagi Naina ini sudah sangat mewah.


"Ayo, kalian tidurlah di sini!" Seru Naina menepuk tempat tidur yang masih kosong di sampingnya.


"Kami?" Mimi menunjuk dirinya.


"Tidak, kami akan tidur di sofa." Mimi menunjuk sofa yang berada di dalam kamar itu. Bahkan dengan gerakan cepat, Lilis sudah membaringkan tubuhnya di salah satu sofa itu.


"Apa-apaan kalian, mengapa tidur di sofa?" Tenya Naina. Namun, belum selesai mereka berdebat tiba-tiba terdengar suara dering ponsel.


"Mas Dennis ...." Betapa girangnya Naina melihat panggilan video yang masuk ke ponselnya.


"Hai, Sayang." Terdengar suara Dennis dan langsung disambut lambaian tangan oleh Naina.


"Hai, Mas."


Betapa terkejutnya kedua asisten ini setelah mengetahui kalau itu panggilan video. Mereka merasa dirinya sudah tamat karena membiarkan Naina tidur di sini.


Tiba-tiba wajah Naina terlihat tidak baik.


"Keterlaluan kamu, Mas. Mengapa baru menelfonku?" kesalnya seketika.

__ADS_1


"Sayang, aku baru sampai di hotel. Lihatlah, aku bahkan belum melepas jasku."


"Eh, tunggu dulu. Apa kamu sedang tidak berada di kamar kita?" Suara Dennis terdengar mulai bertanya, rasanya jantung Mimi dan Lilis sudah akan copot.


Kedua asisten ini memberi kode kepada Naina agar tidak berkata jujur.


"Iya, Mas. Aku kesepian di kamar jadi aku akan tidur di sini." Naina tidak menepati janji, ia menjawab begitu jujur. Seketika itu juga Mimi dan Lilis menjatuhkan tubuh mereka, rasanya sangat lemas. Kedua wanita ini tahu kalau hidup mereka benar-benar akan berakhir.


"Berikan ponsel itu kepada mereka!" seru Dennis.


"Apa Mas Dennis akan memarahi mereka?" tanya Naina datar-datar saja. Sementara kedua wanita ini sudah bersimpuh ke lantai.


"Bicaralah pada Mas Dennis." Naina memberikan ponsel itu kepada kedua asistennya. Sepertinya Naina sedang mengerjai kedua wanita yang sudah sangat takut ini.


"Tuan muda, maafkan kami. Kami sudah melarang Nyonya muda, kami sudah menjelaskan kepadanya kalau kamar ini tidak layak untuknya tapi Nyonya muda bersikeras ingin tidur di sini." Mimi yang lebih berani, menjadi perwakilan dalam berbicara.


Naina langsung menarik ponsel itu. Sepertinya ia kasihan melihat kedua asistennya dengan nada yang sudah terdengar hampir mati saja.


"Mas, jangan memarahi mereka. Aku yang memaksa mereka agar menerimaku tidur di sini. Ini semua juga salahmu, Mas. Mengapa kamu meninggalkanku," balas Naina yang membuat Dennis tak mampu melawan.


"Baiklah, aku tidak akan memarahi mereka. Berikan lagi ponselnya, masih ada yang ingin ku tanyakan!" ujar Dennis.


"Tidak usah berlebihan, Mas. Mereka sudah bekerja keras seharian ini," bela Naina.


"Ya sudah, jawab pertanyaanku! Apa kamu sudah makan?" tanya Dennis yang khawatir jika kejadian semalam terulang lagi.


"Hhmmm." Hanya itu yang Naina jawabkan. Ia tidak mungkin akan berterus terang kalau ia hanya makan roti tawar karena untuk melepas rindunya.


"Nyonya muda hanya makan roti tawar, Tuan muda." Terdengar suara Mimi menjawab. Kedua wanita ini sudah di beri pesan agar selalu memberi laporan kepada Dennis ataupun sekretaris Ben.


"Roti tawar ...?"


"Mas, aku hanya berselera makan yang itu. Aku merindukanmu." Naina tidak ragu-ragu mengatakannya. Suara manjanya membuat Dennis tersipu malu.


"Sungguh sangat berat meninggalkanmu, Sayang. Tunggulah, besok malam aku sudah tiba di rumah dan kita akan makan malam bersama." Ucapan Dennis seketika membuat Naina kegirangan.


"Benarkah, Mas? bukankah Mas Dennis pergi selama dua hari?" Naina masih mengingat betul kalau kepulangan suaminya masih menunggu semalam lagi.


"Aku tidak mampu menunggu sampai besoknya lagi, Sayang," jawabnya begitu membuat Naina sangat bahagia.


Naina merebahkan tubuhnya dengan memeluk guling.


"Aku akan menyiapakan masakan yang enak untukmu, Mas," ucapnya terdengar samar-samar dari balik guling.


Sementara, kedua dayang-dayang ini. Melihat majikannya sedang dalam keromantisan, mereka kembali ke sofa membaringkan tubuh. Sepertinya sudah aman dan damai. Yang paling penting, daripada mendengarkan keromantisan majikannya yang membuat kejombloan mereka meronta-ronta maka akan lebih baik jika mereka tidur.

__ADS_1


__ADS_2