
Sepertinya pakaiannya sudah tidak terlalu basah.Mendekat ke pintu.
"Assalamualaikum," ucapnya seraya membuka pintu yang memang tidak pernah terkunci jika dirinya belum pulang.
Dari balik pintu yang langsung bersambungan dengan ruang tamu,betapa terkejutnya Naina melihat pemandangan di hadapannya.Pemandangan yang tidak pernah ia dapatkan selama ini ketika ia pulang ke rumah.
Lora duduk di sofa bersama suaminya,Harun.Tak ada yang menjawab salam dari Naina.
Naina menatap meja di hadapan paman dan tantenya itu,beberapa paper bag pemberian tuan muda berada di atas meja itu.Mulai dari paper bag yang berisi surat-surat motor,paper bag sepatu mahal dan paper bag yang berisi kotak ponsel.Yang paling membuatnya tercengang,jas mahal tuan muda itu juga berada di sana.
Rasa takut sudah berkecamuk di dalam diri Naina saat ini,entah bagaimana ia akan menjelaskannya.Barang yang ia sembunyi di bawah ranjangnya akhirnya muncul ke permukaan.
Paman yang selama ini selalu menyambutnya ketika ia pulang,bahkan saat ini tidak menatapnya.Sementara Lora asyik menghisap rokoknya dengan tatapan tajam kepada Naina.
"Duduk!" tegas Lora kepada Naina.
Naina sangat ragu untuk melangkah.
"Apa kamu tidak punya telinga," lanjut Lora.
Dengan langkah terbata-bata,Naina mendekat dan duduk di sofa tepat di hadapan pamannya.
Lora menatap tubuh Naina dari kepala hingga ujung kaki dan kembali ke atas,fokus pada jaket yang dikenakan Naina.Jaket seorang lelaki.
"Jaket siapa yang kamu pakai itu?"tanya Lora dengan tegas.
Naina merasa hidupnya sudah akan tamat.
"Jaket ini ... jaket ini ...." Naina tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya.
"Apa pemilik yang sama dengan jas ini?" Lora menunjuk jas yang ada di atas meja.
Naina benar-benar tidak tahu cara menjelaskannya.Sudah pasti dengan melihat barang-barang mewah ini,keluarganya sudah berpikiran negatif tentang dirinya.
"Kenapa kamu diam?" Harun mulai bersuara dengan nada yang tidak baik.
"I-iya,Paman," jawab Naina gelagapan
"Tapi,ini tidak seperti yang kalian pikirkan."Naina mencoba membela diri dari tuduhan negatif paman dan tantenya.
Tampak senyum kecut di bibir Lora.
"Naina ... Naina ... kamu itu terlalu naif.Kenapa kamu harus melakukannya diam-diam.Bukankah saya sudah sering mengajakmu."
Dugaan Naina benar.Tante dan pamannya sudah menuduhnya yang tidak-tidak.
"Tante,paman,kalian salah paham.Saya tidak serendah itu."
__ADS_1
Naina kemudian menatap pamannya.
"Paman,percalah.Saya masih Nainamu yang selalu menjaga kehormatan dan harga diri." Naina meyakinkan pamannya tetapi tidak ada respon dari pria yang duduk di atas kursi roda itu.
"Kamu pikir kami akan percaya.Apa kamu lupa siapa kami?" bentak Lora.
"Pamanmu seorang mantan bartender yang baru insaf,saya penanggung jawab wanita-wanita Zona X.Pemberian-pemberian seperti ini sudah tidak asing di dunia kami.Tapi,saya salut dengan kamu.Kamu mendapatkan barang-barang yang harganya sangat fantastis,saya tidak menyangka kalau kamu sehebat ini.Wanita-wanita di sini belum ada yang mendapatkan barang semahal ini."Ucapan Lora begitu menyakitkan bagi Naina.Bulir bening sudah tidak mampu ia bendung lagi,mulai berjatuhan di pipinya.
"Tante,saya tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya.Sungguh,saya bukan wanita yang rela melakukan itu demi barang-barang seperti ini." Naina berbicara dengan menunduk dan sesekali terisak.
Malang sekali nasibnya,selalu saja ia dianggap wanita murahan bahkan sekarang,dari keluarganya sendiri.
Tidak selesai-selesai cobaan hidup dan penderitaanya.
"Sudahlah Naina,kamu tidak usah khawatir." Lora mulai merendahkan suaranya.
"Tante tidak akan marah,sayang.Justru tante bahagia karena akhirnya kamu menyerah juga dari prinsipmu selama ini.Welcome ...." Nada ucapan Lora terdengar sangat manis.Untuk pertama kalinya ia berkata sebaik itu kepada Naina.Sayang sekali,ucapan manisnya itu semata-mata hanya untuk membawa Naina ke dunia kelamnya.Terasa sakit di batin Naina,rasanya cobaan terus menghampirinya.
"Lora ...." Harun membentak istrinya.Ia tidak suka mendengar ucapan Lora tadi yang mengajak Naina ke dunia nistanya.
Lora tidak peduli dengan bentakan suaminya.
Lora kembali menatap Naina.
"Kamu tidak bisa menyembunyikan apapun dariku,sudah banyak yang melihatmu diantar jemput lelaki kaya bahkan dua orang sekaligus.Sungguh kamu sangat luar biasa,Naina," sambung Lora lagi.
Ia tidak peduli dengan suara ponsel itu yang berdering di dalam ranselnya.
"Angkat!" perintah Lora kepadanya.Menyuruhnya mengangkat telefon tetapi tidak ada pergerakan darinya.Lora langsung merampas ransel dalam pangkuan Naina.
Lora mengambil ponsel yang berdering itu,sebuah ponsel yang sangat mahal.Lora kembali tersenyum kecut kemudian melihat nama sang penelpon.
"Mas Dennis ...." Begitu yang Lora baca.
"Manis sekali," sambungnya.
Naina sangat terkejut mendengar nama sang penelpon.
Lora langsung menggeser tombol panggil itu ke warna hijau.
"Hallo,Assalamualaikum." Terdengar suara Dennis dari sana yang dispeaker oleh Lora.
Lora mengarahkan ponsel itu ke dekat mulut Naina pertanda menyuruh Naina berbicara.
"Halo,Naina.Apa kamu sudah sampai?" Terdengar kembali suara Dennis.
Lora menatap Naina tajam yang sejak tadi hanya diam.
__ADS_1
"I-iya," jawab Naina gelagapan.
"Syukurlah,saya sangat khawatir.Kenapa kamu harus naik taxi,"lanjut Dennis.
Harun tidak mampu lagi untuk mendengarnya,ia semakin mempercayai kalau Naina sudah seperti wanita-wanita yang ada di lingkungan kelam ini.
Segera ia memutar kursi rodanya ke arah kamarnya.
"Paman ...." Naina berdiri dari duduknya meninggalkan suara dari balik ponsel.Dengan sigap ke arah pamannya,langsung bersujud di kaki pamannya.
"Paman,saya mohon ... Percayalah padaku.Saya tidak serendah itu,Paman.Saya tidak akan mengecewakanmu,saya tidak akan membuatmu malu." Naina bersujud di kaki pamannya dengan terus memohon dalam deraian air matanya.
Sementara dari balik telefon yang masih tersambung.
"Halo ... Naina ... Halo ...."Suara panik terdengar dari Dennis.Ia mendengar suara Naina seperti menangis dan memohon.
Telefon langsung terputus setelah Lora mematikan panggilan itu dengan sepihak.
Sementara Naina terus memohon di kaki pamannya.
Harun mendorong Naina dengan satu tangannya.
"Jangan menyentuhku!"Hardik Harun dengan suara bergetar.Ia masuk ke dalam kamarnya meninggalkan Naina yang duduk di lantai dengan tangisnya.
"Paman ...." Naina terus menangis.
Suara ponsel Naina kembali berdering di atas meja,tetapi tidak ada yang peduli dengan panggilan telefon itu.
Lora berdiri dari duduknya dengan tangan yang ia lipat ke perut sembari menenteng tasnya.
"Naina ... Tante akan selalu menunggumu bergabung bersama Tante,tidak usah main sembunyi-sembunyi seperti ini.Tante akan lebih senang jika kamu bekerja sama saja dengan Tante." Lora tersenyum licik kemudian melangkah keluar meninggalkan rumahnya.Seperti biasa,ia menuju Club melakukan pekerjaannya.
***
"Kak Naina ...." Neta yang sejak tadi berdiri dari balik pintu kamarnya keluar menghampiri Naina.Ia memeluk Naina dan juga ikut menangis,sejak tadi ia ingin keluar tetapi takut pada mamanya.
"Aku percaya pada Kak Naina,aku tahu Kak Naina bukan wanita seperti itu." Neta terus memeluk sepupunya itu.
Mendengar ucapan Neta,Naina semakin menangis dan ikut memeluk adik sepupunya itu.Setidaknya,di rumah ini masih ada yang berpihak padanya dan mempercayai jika dirinya tidak seperti yang dituduhkan paman dan bibinya.
"Neta ... tolong bantu aku menjelaskannya kepada paman," lirih Naina dalam isakan tangisnya.
________
Maaf yah baru sempat up.hehe
Jangan bosan-bosan tinggalkan jejak terbaik kalian yah para readers.Terima kasih
__ADS_1