
Pagi kembali menyapa,sayup-sayup kicauan burung terdengar merdu.
Seorang Direktur tampan berlari kecil menuruni tangga dengan jas dan dasi yang ia gantung di tangannya,senyuman terus mengembang di bibirnya.Terlihat aura cinta di wajahnya.
"Pagi Mah,Pah" sapanya kepada kedua orang tuanya yang sudah duduk di meja makan.Sarapan mewah sudah tertata rapi di sana.
"Pagi sayang" balas sang Mamah yang berdiri dari duduknya.
"Loh,dasi dan jasnya kok belum di pakai?" Rita meraih jas dan dasi itu kemudian memakaikan kepada putra sulungnya.
"Dennis buru-buru,Mah.Pagi ini ada meeting penting bersama klien dari Dubai.Bukankah Papa juga ikut?"tanyanya kepada Atmajaya.
"Hhhmmm"
Rita mendekati putranya,memakaikan jas dan dasi putra kesayangannya itu.
"Makanya kamu harus segera menikah agar ada yang mengurusmu dengan baik" ujar Rita seraya merapikan dasi putranya.
Jas dan dasi sang Direktur muda ini sudah terpasang yang menambah ketampanannya.
Menarik kursi dan ikut bergabung ke meja makan.
"Wajah kamu berseri-seri begitu,apa sudah ada kemajuan dengan pendekatannya" Rita mulai menggoda putranya,mengira hubungan putranya dengan gadis yang ia jodohkan mulai ada perkembangan.
Sayang sekali,sang Mama salah sangka.Bukan Zara wanitanya.
Dennis tidak menggubris ucapan Mamanya.
"Ayo Nak,makanlah" Rita menyodorkan piring berisi dua potong sandwich ke hadapan putranya.
Bukannya mengambil sandwich itu,Dennis malah mengambil roti tawar di hadapannya.Roti tawar tanpa isian apapun.Melipat roti tawar itu kemudian memasukkan ke mulutnya,Sembari mengunyah gigitan pertamanya dengan bibir memancarkan senyum.
Kedua orang tua yang berada di meja makan bersamanya saling menatap.Ada apa dengan putranya ini?
"Dennis,kenapa makan roti seperti itu?tanpa isian apapun" Rita menegur putranya.Menyodorkan segelas susu putih ke hadapan putranya
Mendengar ucapan Mamanya,Dennis menatap roti di tangannya.Ia kembali tersenyum,senyum kali ini menertawakan dirinya sendiri yang sudah terhipnotis dengan Maemunahnya.
"Ini enak kok Mah" balasnya santai seraya meminum susunya.
"Enak?sepertinya ada yang salah dengan lidahmu.Sejak kapan makan roti tanpa isian terasa enak?" Rita bingung melihat tingkah putranya.
Dennis tidak menjawab,kembali menikmati roti tawarnya.
"Dennis,bukankah siang nanti Zara akan berangkat ke Kairo?"Atmajaya mulai membuka percakapan.Akan tetapi,ucapannya ini membuat Dennis menghentikan kunyahannya sejenak.Tidak bisa menjawab apa-apa.
Dennis menatap Papanya,ingin menjawab tetapi apa yang harus ia jawabkan.Hingga detik ini,ia tidak pernah menghubungi Zara sedikitpun setelah pertemuan mereka,begitupun dengan Zara.Bagaimana mungkin seorang wanita yang menghubungi lelakinya terlebih dahulu.
"Kenapa?" Atmajaya kembali bertanya.Tatapan seperti menakutkan.
"Kamu tidak tahu kalau Zara sudah akan berangkat?atau memang sama sekali tidak pernah menghubungi Zara?" Dennis seperti tersudutkan.Tidak bisa menjawab setiap pertanyaan Atmajaya.
Rita terkejut mendengar pertanyaan suaminya,melihat raut wajah putranya yang sepertinya ia sudah tahu jawabannya.
"Dennis" memegang lengan putranya.
"Mah,Pah,Maafkan Dennis" hanya itu yang bisa ia ucapkan.
__ADS_1
"Apa maksud kamu,Dennis?" Rita semakin terkejut.
Atmajaya meletakkan sarapannya dari tangannya.Menghela nafas tidak baik.
"Papa sudah menduganya.Benar-benar keterlaluan"Atmajaya sangat kecewa kepada putranya.
"Katakan,apa kurangnya Zara?bagaimana kamu tidak bisa menyukainya?" sambung Atmajaya.
Suasana sarapan sedikit tegang.Dennis juga meletakkan sisa roti tawarnya.
"Zara wanita yang sempurna,dia tidak ada celah sedikitpun,Pah" jawabnya.
"Lalu?"
"Ini persoalan hati,Pah.Maafkan saya"ia tidak berani berterus terang jika ada wanita lain yang ia sukai.Ingin berterus terang tetapi rasanya waktunya belum tepat.Cintanya masih sepihak,ia tahu bagaimana sosok wanita yang ia sukai,tidak akan mudah menerima dirinya walau ia seorang Dennis Atmajaya sekalipun.
Dennis sangat kesal,kenapa ada dua wanita di waktu yang bersamaan.Antara hati dan keluarganya.
"Harus berapa kali Papa katakan,lihat adikmu Azea.Bagaimana dulu dia tidak mencintai Rangga,bahkan dia punya kekasih tetapi seiring berjalannya waktu,mereka saling mencintai juga bukan?"Atmajaya lagi-lagi menghubungkan perjodohan Dennis dengan Azea dan Rangga dulu.
"Pah,masalahnya beda..." Dennis tidak mampu melanjutkan ucapannya.
Dan tiba-tiba ponselnya berdering.Sepertinya sang Sekretaris sudah ada di depan menunggunya.
Kamu datang disaat yang tepat,Sekretaris Ben.
"Sekretaris Ben sudah datang.Maaf Pah,Mah,Kita bahas ini nanti saja.Dennis berangkat dulu.Dennis tunggu Papa di kantor" Berdiri tanpa menghabiskan sarapannya.
"Dennis" Rita ikut berdiri.Dennis berbalik dan mengecup pipi Mamanya.
"Tapi..." Rita belum selesai berbicara tetapi putra sulungnya itu sudah berlalu keluar.
"Beritahu anak itu,siang nanti dia harus ke Bandara untuk menemui Zara" sambungnya lagi kepada suaminya.
***
Mobil Dennis sudah berada di jalan bersama padatnya kendaraan lain.
"Sekretaris Ben,apa sudah menyiapkan barang yang saya pesan kemarin?"Tanyanya dari kursi belakang.
"Iya,Tuan muda"
"Bagus.Siang nanti jemput dia ke tempat makan kita kemarin,sepertinya dia menyukai makanan di sana" ujar Dennis.Ia selalu membayangkan wajah Naina yang sangat menikmati makanannya kemarin.
"Tapi,Tuan muda.Bukankah kita ada meeting hari ini?" Sekretaris Ben mengingatkannya lagi.
"Meetingnya tidak akan sampai siang,Sekretaris Ben.Saya sudah menyuruh Via menjadwalkannya di pagi ini" balasnya yang membuat Sekretaris Ben tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Wanitamu itu memang yang nomor satu dari segalanya,Tuan muda.
Lampu merah.
Mobil mewah ini berhenti dengan posisi paling depan.
Pucuk dicinta wulam pun tiba.
Seorang gadis dengan motor matic pengeluaran terbaru juga berhenti di samping mobil mereka,tepat di samping pintu kemudi Sekretaris Ben.
__ADS_1
Tuan muda dan Sekretarisnya ini tidak mungkin tidak melihat.Mereka terkejut dalam diam,sangat mengenali motor baru dan wanita yang walau wajahnya tertutup kaca helm di samping mobil mereka.
"Sekretaris Ben,apa itu dia?" Tanya Dennis.
"Sepertinya,Tuan muda"jawab Sekretaris Ben yang juga tidak menyangka jika gadis pujaan Tuannya bisa berhenti tepat begini di samping mobilnya.
"Turunkan kacamu Sekretaris Ben dan sapa dia dengan baik" perintah Dennis.
Sedekit membuat Sekretaris Ben malas,tetapi apa daya jika ini perintah Tuan mudanya.Sekretaris Ben menurunkan kaca pintunya.
"Pagi,Nona Naina" suara Sekretaris Ben membuat Nain terkejut.
Berbalik ke arah suara yang menyapanya.Betapa ia juga terkejut.
Astaga,mengapa harus mobil mereka di sampingku.
Harus bersikap baik dan biasa saja.
Naina membuka kaca helmnya.
"Hai,Mas Aben" sapa Naina sumringah.Sebuah keterpaksaan pastinya.
Mendengar ucapan Naina,ada tawa tersembunyi dari sang Tuan muda yang duduk di kursi belakang.Akan tetapi,tidak dengan Sekretaris ini.Betapa ia memendam kesal tiap kali Naina memanggilnya seperti itu.Itulah yang membuatnya sangat malas atas perintah Tuan mudanya tadi.
Berhenti memanggilku dengan nama itu.
"Ajak dia berbicara,Sekretaris Ben" ujar Dennis lagi yang jendela kacanya tidak ia buka hingga Naina tidak bisa melihatnya.
"Akan berangkat bekerja?" Pertanyaan konyol yang diucapkan Sekretaris ini,asal memenuhi keinginan Tuan mudanya yang sedang dimabuk cinta.
"Astaga,Mas Aben.Memangnya kemana lagi jika tidak bekerja" Lagi-lagi ucapan Naina membuat Ben menahan kesal.
Saya katakan berhenti memanggilku dengan nama itu.
Sayang sekali,Sekretaris ini hanya berani memaki dalam batinnya saja.
"Yah...bisa saja anda akan ke kampus,Nona" balas Sekretaris Ben.Naina tertawa mendengarnya.
"Lihatlah pakaianku" Naina menunjuk dirinya.Sedikit sudah nyaman berbicara.
"Seragam Beauty Flowers" sambungnya tertawa.
Sangat cantik dari mata seorang lelaki yang tengah memperhatikan dari jendela kaca yang tertutup.Aura yang sangat berbeda,wanita yang sangat kuat menjalani kerasnya hidup.Dengan segala cobaan hidupnya,tidak terlihat duka sedikitpun dari raut wajahnya.
"Oiya,kemana Tuan Muda?" Tanyanya yang membuat Dennis terkejut.
Dennis bahagia mendengar kalimat yang menanyakan dirinya.Berharap kalimat itu terulang lagi.
Belum sempat Sekretaris Ben menjawab,suara klakson dari kendaraan di belakang mereka terdengar sangat bising.Ternyata lampu sudah kembali hijau.
"Mas Aben,saya duluan yah.Sampaikan salamku pada Tuan muda" ujarnya dengan kalimat cepat dan sedikit lantang kemudian berlalu menancap gas motornya.
Begitupun dengan mobil mewah ini,juga kembali bergerak.
Senyum bahagia terus mengembang dari bibir sang Tuan muda.Menatap ke depan hingga motor gadisnya sudah tidak terlihat karena menyalip kendaraan lain.
_____
__ADS_1
Hai,hai para readers.Jangan lupa tinggalkan jejak kalian yah.
Like,koment dan vote.Terima kasih.