MENCINTAI WANITA Dari ZONA_X

MENCINTAI WANITA Dari ZONA_X
Nasi Goreng Terenak


__ADS_3

Mentari pagi tampak indah dengan anggunnya mulai menampakkan diri.Ia terus terbit seperti ini,bersamaan dengan hidup yang terus berjalan.


Kediaman Atmajaya,tampak riuh dan ramai dengan Azea bersama keluarga kecil dan kedua asisitennya.Di meja makan yang mewah itu,semua orang sudah berkumpul termasuk Rita yang sudah tampak lebih baik.


Dennis menuruni tangga dan langsung menuju meja makan.Dari kejauhan,ia sudah bisa melihat senyum mamanya,gelak tawa kecil dari ponakannya,Ray.Rangga dengan seragam penegak hukumnya sedang menikmati sarapannya seraya mengobrol dengan Atmajaya yang terlihat begitu serius,sungguh keluarga yang begitu harmonis.


"Selamat pagi,semua," sapa Dennis yang sudah tiba di meja makan dan dibalas oleh semua orang kecuali Rita yang tiba-tiba terdiam setelah melihat Dennis datang.


"Duduklah,Kak," ucap Azea sembari menyiapkan sarapan ke piring kakaknya.


"Tidak usah,Kakak buru-buru," balasnya kepada Azea.


"Kakak tidak sarapan?" tanya Azea.


"Di kantor saja," balas Dennis.


"Ya sudah,minum susu saja."


Azea menyodorkan segelas susu ke arah Dennis.


"Apa Mama sudah lebih baik?" tanya Dennis mencoba berbicara pada Rita.Walau ia tahu kalau Rita masih tidak ingin berbicara dengannya.Dan benar saja,tidak ada jawaban dari Rita untuk pertanyaan putranya ini.


Seorang supir yang bekerja di rumah Atmajaya,berjalan masuk ke dalam ruangan meja makan.


"Maaf,Tuan muda.Mobil Tuan muda sudah siap," ujar sang supir pribadi keluarga ini.


"Baik,Pak.Terima kasih!" balas Dennis dan langsung meneguk susu walau hanya dua tegukan saja kemudian berdiri dari duduknya.


"Kamu bawa mobil sendiri?" tanya Atmajaya.


"Iya,Pah.Sekretaris Ben sangat sibuk."


Walau tidak biasanya,tapi tidak ada lagi balasan dari Atmajaya.


Dennis berpamitan kepada semua orang dan kemudian berjalan ke arah mamanya dan langsung memberikan ciuman ke pipi sang mama yang masih diam sejak tadi.


"Dennis menyayangi mama," bisiknya kemudian berlalu.


Rasanya Rita ingin membalas dengan memeluk putranya itu tetapi rasa kecewa di hatinya masih merajai dari rasa sayangnya kepada Dennis.


***


Di tempat lain,di pagi yang sama.Naina baru saja selesai dengan segala aktivitas paginya.Mulai menyiapkan segala kebutuhan pamannya hingga makanan untuk makan siang nanti.


Ia duduk di meja makan bersama Arka.


"Hari ini,kamu naik ojek online saja yah ke pesantren.Kakak minta maaf,tidak bisa mengantarmu.Kakak takut telat ke toko," ucap Naina kepada adiknya itu,jika mengantar Arka ke pesantren pasti akan memakan waktu lama dan ia bisa telat untuk bekerja.


"Tidak apa-apa,Kak," balas Arka.


Baru saja Naina menikmati suapan pertama nasi goreng miliknya,tiba-tiba ponselnya berdering.Nama Mas Dennis muncul di sana.


Kenapa dia harus menelfon sepagi ini.


"Kenapa hanya dilihat saja,Kak.Itu telefon Kak Dennis."


Arka terdengar menggoda Naina.

__ADS_1


Dengan wajah sedikit menggerutu,Naina mengangkat telefonnya.Belum juga Naina mengucap salam,terdengar lebih dulu suara dari balik telefon sana dengan ciri khasnya yang seenaknya saja menurut Naina.


"Keluarlah!aku sudah menunggumu di luar.Bawakan juga sarapan untukku!"


Begitu kalimat yang Naina dengar dan telfonnya langsung terputus seketika.Benar-benar seenaknya.


Naina menatap nasi gorengnya.


Ah,bahkan aku baru menikmati satu suapan nasi gorengku.


Gumamnya kesal dan langsung berdiri menyiapkan nasi goreng ke dalam kotak untuk sang penelpon tadi.


"Untuk siapa,Kak?" tanya Arka.


"Untuk Kak Dennismu.Dia sudah menungguku di luar," ucap Naina kesal yang di balas tawa oleh Arka.


Naina kemudian memasukkan kotak sarapan itu ke dalam tasnya bersama kotak makan siangnya kemudian meneguk air minumnya.


"Kakak pergi yah,jangan lupa hubungi Kakak jika sudah sampai di pesantren," Naina segera berlalu.Tidak lupa ke kamar pamannya dulu untuk berpamitan.


Ia berjalan keluar menuju jalan di depan club-club Zona X.Dari jauh,ia sudah melihat mobil sport mewah yang pernah ia pakai waktu Dennis menjemputnya di kampus dulu.


Naina tidak menyangka kalau tuan muda ini sudah berani memakai mobil mewahnya sampai ke lingkungan Zona X,biasanya Dennis menunggunya di ujung jalan di luar sana,tapi kali ini Dennis sudah berani sampai ke sini dengan mobil mewahnya.


Pintu mobil sport itu terbuka dengan sendirinya,pintu yang terbuka dengan mengarah ke atas.


"Naik!" perintah Dennis yang sudah melihat Naina sampai di dekat mobilnya.


Naina sedikit terkejut,ia pikir yang menjadi supir adalah sekretaris Ben,ternyata Dennis seorang diri.


"Benar-benar keras kepala,harusnya masih istirahat tapi sudah akan bekerja lagi." Dennis berbicara tanpa menatap Naina dan langsung menjalankan mobilnya.


"Jika saya tidak bekerja,lalu saya akan makan apa,Tuan muda?" balas Naina yang merasa tersinggung dengan ucapan Dennis tadi.


"Kamu masih memanggilku apa?"


Naina segera menutup mulutnya,ia baru sadar dengan ucapannya tadi.


Dennis hanya meliriknya.


"Apa perlu aku membeli Beauty Flowers agar kekasihku tidak lagi menyiksa diri harus bekerja seperti ini?"


Naina tersentak mendengar ucapan Dennis.


"Sekalipun Anda membeli Beauty Flowers beserta cabang-cabangnya,saya akan tetap seorang karyawati Beauty Flowers," balas Naina.


"Bagaimana mungkin Nyonya Dennis Atmajaya bisa menjadi karyawati di tokonya sendiri."


Mendengar ucapan Dennis,tidak ada lagi balasan dari Naina.Semakin di balas maka ucapan Dennis akan semakin membuatnya berdebar saja.


Mobil sudah membelah jalan ibu kota hingga akhirnya mobil ini menepi ke dekat taman.


"Kenapa kita berhenti?" tanya Naina.


Dennis menatap jam tangannya.


"Masih terlalu pagi untuk sampai ke Beauty Flowers," ucapnya.

__ADS_1


"Oiya,mana sarapanku?" sambungnya menagih sarapan yang ia minta tadi waktu menelfon Naina.


"Sarapannya ... eemm ...." Naina ragu mengeluarkan nasi goreng itu,ia berpikir kalau masakannya tidak seenak masakan di yang sering Dennis makan.


"Saya akan menyukainya walau hanya roti saja." Dennis tersenyum mengingat bagaimana ia pertama kali meminta sarapan pada Naina dan hanya diberikan roti tawar tanpa isian.


Naina ikut tersenyum,ia juga mengingat hari itu.


Akhirnya ia mengeluarkan kotak makanan yang berisikan nasi goreng dari dalam tasnya,senyum terus mengembang di bibirnya,tidak ada lagi keraguan dalam dirinya untuk memberikan sarapan itu jika mengingat kejadian roti tawar.


"Ini,Mas," ucapnya menyodorkan satu tangan yang memegang kotak makanan tanpa melihat ke arah Dennis karena ia fokus pada satu tangannya yang sedang mencari air mineral di dalam tasnya.


Dennis mematung sejenak,akhirnya ia mendengar secara langsung Naina tidak lagi memanggilnya dengan sebutan Tuan muda.Entah Naina menyadari ucapannya tadi atau tidak,tapi itu membuat Dennis bahagia.


Naina menoleh setelah mendapatkan air mineralnya,ia menatap kotak makanannya yang belum diambil oleh Dennis.Kemudian menatap Dennis yang masih mematung.


"Katanya ingin sarapan." Suara Naina mengejutkan Dennis dan kembali dari lamunannya.


"Oiya ...." Dennis terlihat salah tingkah kemudian mengambil kotak makanan itu.


"Hhhmmm ... dari aromanya sepertinya enak." Mencium bau makanan itu dari luar kotak kemudian langsung membukanya.Dennis terkejut melihat isinya,sebuah penampakan nasi goreng yang sangat harum dan menggugah selera.


"Apa nasi goreng ini kamu yang buat?"


Pertanyaan Dennis membuat raut wajah Naina terlihat tidak baik,ia merasa kemampuan memasaknya diragukan.


"Bukan.Paman yang memasaknya," jawab Naina ketus.Dennis tertawa mendengarnya.


"Paman Harun ... aku tidak bisa membayangkan kalau paman Harun yang ternyata akan ku nikahi."


Ucapan Dennis membuat Naina terlihat mengeluarkan tawa kecil yang membuatnya terlihat semakin cantik.


"Apa kamu sudah sarapan?" tanya Dennis.


Naina tidak menjawab.Mana mungkin dia mengatakan kalau dia baru makan sesuap tapi harus buru-buru keluar karena panggilan tuan penguasa ini.


"Ya sudah,kalau begitu kita makan bersama."


Kerena tidak ada jawaban dari Naina,langsung saja menyodorkan sendok makan yang ia pegang ke arah Naina.Naina terkejut,seorang Dennis Atmajaya lagi-lagi ingin menyuapinya.


"Tidak,Tuan muda.Aku sudah sarapan,percayalah!" Menolak suapan Dennis.Ia sangat malu jika diperlakukan seperti itu.Cukup hari itu saja sewaktu ia di rumah sakit.


"Ah,Tuan muda lagi." Dennis fokus pada panggilan Naina kepadanya.


"Ma-maaf,maksudku Mas Dennis," ucap Naina dan langsung menoleh ke depan,terlihat malu dengan ucapannya sendiri.Berbeda dengan Dennis,ia tersenyum mendengar Naina memanggilnya seperti itu.


"Makanlah,Mas.Aku tidak mau terlambat bekerja," lanjut Naina.


Dennis langsung mencoba sendok pertamanya.Terdiam sejenak,membuat Naina terkejut.Ia berpikir kalau Dennis tidak menyukai nasi goreng buatannya.


"Apa makanannya tidak enak?" tanya Naina dengan suara terpaksa.


tiba-tiba terlihat senyum dari bibir Dennis.


"Nasi goreng terenak yang pernah aku makan.Sepertinya saya lelaki yang sangat beruntung karena akan memiliki istri yang pandai memasak." Ucapan Dennis membuat Naina terlihat merona.Setiap kata,setiap kalimat dari bibir tuan muda ini selalu saja membuatnya berdebar.


"Saya akan menyampaikannya pada paman," balas Naina yang membuat mereka berdua tertawa.

__ADS_1


__ADS_2