
Waktu terus bergerak hingga gema suara mesjid terdengar dimana-mana,sepertinya sebentar lagi masuk adzan subuh.Gadis yang tidur dengan pulas dalam dekapan suaminya ini mulai menggeliat,ingin terbangun tapi rasanya ada yang menindih tubuhnya.Pelan-pelan ia membuka mata,ia melihat tangannya sedang merangkul tubuh yang begitu atletis kemudian di atas tangannya ada sepasang tangan yang memeluknya hingga ke pinggangnya.Dada bidang suaminya menjadi tumpuan kepalanya,sepertinya ia baru saja melewati tidur yang begitu indah.
Jika bisa ditampakkan,ada senyuman di lubuk hati terdalamnya.Apa ia sedang bermimpi sedang dalam dekapan tuan muda yang begitu dikagumi negeri ini?itu yang sedang ia pikirkan dalam rulung hati bahagianya.Pelan-pelan melepas tangan yang sedang merangkul pinggangnya kemudian mengelus tangan itu begitu lembut.Di jari manis tangan itu melingkar sebuah cincin berlian yang berpasangan dengan cincin yang ia kenakan juga.Ternyata ini bukan mimpi,ia adalah istri dari seorang Dennis Atmajaya.
"Sayang,kamu sudah bangun?"Tiba-tiba terdengar suara serak dari atas kepalanya.Sepertinya suaminya ikut terbangun karena merasakan tangannya yang sedang dielus-elus.
"Hhmmm ... bangunlah,Mas.Sebentar lagi masuk subuh,"jawabnya kemudian hendak mengangkat tubuhnya dari sana tapi Dennis lebih cepat merangkulnya lagi.
"Jangan pergi dulu,tetaplah di sini!sebentar saja."Sepertinya tuan muda ini sangat menikmati moment paginya kali ini.Untuk pertama kalinya ia terbangun dengan tubuh seorang wanita dalam dekapannya,terlebih wanita itu adalah wanita yang sudah sah menjadi istrinya,wanita yang begitu dicintainya.
Naina tersenyum dan akhirnya kembali memperbaiki posisinya dan bahkan kembali menikmati dekapan hangat yang merangkul tubuhnya.
"Mas,apa sebelumnya kamu pernah memeluk wanita seperti ini?"tiba-tiba ia mengeluarkan pertanyaan yang membuat Dennis terkekeh kecil.
"Pikirkan lagi dengan pertanyaanmu itu."Hanya itu yang Dennis ucapkan tetapi sepertinya Naina sudah bisa menangkap jawabannya.
Ia merasa malu sendiri telah mengeluarkan pertanyaan konyol seperti yang baru saja dilontarkan.
"Kamu itu wanita pertama yang merasakan dekapan tubuh atletisku ini,kamu wanita pertama yang tidur di atas dada kekarku,kamu harus tahu kalau kamu itu wanita yang sangat beruntung,"lanjut Dennis dengan sedikit sombong membuat Naina ikut terkekeh.
__ADS_1
"Hei,Tuan muda.Kamu pikir aku saja yang beruntung.Kamu harus tahu kalau kamu lebih beruntung.Kamu itu lelaki pertama yang mendekap tubuh langsingku,kamu lelaki pertama yang mengecup kepalaku dan kamu lelaki pertama yang membelai rambut indahku,"sambung Naina yang terdengar tidak kalah lebih sombong lagi hingga akhirnya mereka berdua tertawa bersama.
Sejurus Dennis membalikkan tubuh Naina hingga tubuh langsing yang sombong tadi tertindih olehnya.Kini posisi bertukar,Dennis berada di atas tubuh wanita yang begitu menggodanya bersama dinginnya hari yang sudah subuh ini.
Seketika Naina berdebar hebat,apa suaminya akan melakukan itu sekarang?pikirnya.
Tidak menunggu lama.Sebuah ciuman lembut mendarat di leher jenjangnya tepat di bawah telinganya,sebuah sentuhan bibir yang begitu membuatnya merasakan sesuatu yang aneh hingga ia tidak punya kesempatan untuk memikirkan apapun lagi.Tidak berhenti sampai di situ,bibir lembut itu kini menjajah telinganya,sungguh sangat membuatnya merinding bahkan seperti akan keluar dari alam sadarnya.
"Mas ...."Suaranya lirih terdengar di telinga Dennis.Entah mengapa suara itu terdengar begitu sangat menggoda.Dennis melanjutkannya ke bawah dagu,leher putih bersih itu kini ditaklukkan olehnya.
Di usianya yang sudah sangat matang,sudah lama tuan muda ini menahan hasratnya.Jika dia bukan lelaki yang takut akan dosa,maka akan sangat mudah baginya melampiaskannya pada wanita manapun dengan dirinya yang sempurna dari segi fisik maupun finansial,namun dia lelaki yang begitu gigih mempertahankan diri untuk tidak melakukan hal seperti itu.Sepertinya hari ini ia akan memulainya pada wanita yang sudah sah menjadi istrinya ini,Naina benar-benar wanita yang sangat beruntung.
"Mas,sudah subuh."Sejurus ia mendorong sedikit tubuh Dennis.Dennis yang sudah mulai menegang,akhirnya menjatuhkan tubuhnya ke dekat wajah istrinya.
"Mengapa begitu cepat adzan berkumandang,"ucapnya terdengar dari wajah yang menempel pada bantal.
Naina tersenyum.
"Ayo,Mas.Kita shalat berjamaah."Kembali mendorong tubuh Dennis dengan pelan hingga tuan muda membalikkan badan.Matanya tertutup tapi ada raut ketidakpuasan di wajahnya.Naina bangkit dari tempat tidur,menatap wajah yang baginya terlihat lucu.
__ADS_1
"Sayang,bangunlah!"Mengecup bibir suaminya kemudian dengan cepat ia menghilang menuju kamar mandi.Dennis membuka mata,memegang bibirnya yang sepertinya baru saja mendarat bibir yang begitu tipis di sana.Ia tidak percaya kalau Naina memberikan ciuman untuknya.Namun setelah ia menoleh,pemilik bibir itu sudah tidak ada di sana.Ia tersenyum menatap langit-langit kamar dengan tangan terus memegang bibirnya.
***
Di atas dua sajadah yang menghadap ke kiblat,Dennis dan Naina duduk di sana.Mereka baru saja melakukan shalat subuh berjamaah.Pasangan ini sedang menengadahkan tangan ke atas,memanjatkan ke langit pagi doa-doa yang begitu khusyuk.Tidak berapa lama Dennis membawa kedua tangannya ke wajah pertanda telah selesai dengan doanya,dari belakang di susul Naina yang juga demikian.Dennis kemudian berbalik dan langsung saja Naina meraih tangan yang kini menjadi imamnya,membawa tangan itu ke kening kemudian menciumnya.Dennis membalasnya dengan ciuman lembut pada keningnya.Dennis menatap sejenak wajah dalam balutan mukena ini.Ternyata seperti ini wajah istrinya ketika menutup aurat.
"Apa aku menikahi bidadari surga?"godanya dengan memegang dagu istrinya.Ia terpana dengan kecantikan istrinya dari balik mukena ini.
Mendengar itu,wajah Naina tiba-tiba terlihat merona.
"Mas,aku ingin ke dapur menyiapkan sarapan,"balasnya mengalihkan rasa salah tingkahnya setelah mendapat pujian.Kemudian segera berdiri dan hendak melepas mukenanya.
Dennis ikut berdiri dan menahan tangan Naina yang hendak melepas kain yang menutup aurat itu.
"Kamu sangat cantik memakai mukena ini.Semoga kelak saya bisa melihat kecantikan ini dari balik hijab."Ucapan Dennis terdengar seperti sebuah harapan agar istrinya bisa segera menutup aurat.Harapan yang sama sering di dengar Naina dari Arka adiknya namun kali ini penyampaiannya begitu berbeda.Entah kenapa yang ia dengar kali ini begitu menyentuh sampai ke rulung hati terdalamnya,jika kemarin ia masih acuh tak acuh pada ucapan Arka rasanya kali ini begitu berbeda seperti ia tidak bisa untuk menolak ataupun membantah.
"Apa Mas Dennis menyukai wanita berhijab?"tanyanya.
"Bukan persolan aku menyukai atau tidak tapi itu sebuah kewajiban bagi wanita muslim.Ketika mereka belum menikah kemudian menampakkan auratnya maka dosanya akan ditanggung oleh ayah dan saudara laki-lakinya dan ketika mereka sudah menikah maka dosa itu akan dialihkan kepada suaminya."Dennis menyampaikannya begitu lembut dan terdengar begitu sangat indah di telinga Naina.
__ADS_1
Naina hanya mengangguk kemudian berbalik dan melepas mukenanya.Ia kemudian meninggalkan Dennis untuk menuju dapur.Ia keluar dari kamar tanpa sepatah katapun,ucapan suaminya begitu terngiang-ngiang di telinganya.