
Hari sudah sore saja.Dari jendela kamar mewahnya,langit terlihat sedang sendu.Tampak sangat mendung.Sepertinya cuaca sedang tidak mendukung untuk Dennis menggunakan motor.
Mengambil ponselnya,memerintahkan supir yang bekerja di rumahnya untuk menyiapkan mobil untuknya.Pilihannya kepada mobil sport pribadinya.
Menatap dirinya di cermin,merapikan sedikit rambutnya,memakai kacamata hitamnya.Terlihat sangat tampan,sempurna.
Turun ke lantai bawah,menapaki setiap anak tangga dengan hati yang berbunga-bunga.Ia akan menjemput kekasihnya,tepatnya gadis yang ia akui sebagai kekasihnya.
"Sayang ...." Rita menghentikannya.
"Jadi reuniannya?" tanya Rita tetapi seperti menahan tawa.
"Mama meledekku,yah?" balas Dennis.
"Yah ... Mama hanya bertanya,jangan sampai acaranya malah bukan hari ini," ujar Rita menyinggung kejadian tadi pagi dimana putranya ini salah jadwal.Mama paruh baya ini tidak tahu kalau putra kesayangannya sedang membohonginya.
"Tidak segitunya juga kali,Mah," balas Dennis ikut terkekeh.
"Ya sudah,Dennis berangkat yah.Assalamualaikum," sambungnya.
"Waalaikumsalam,hati-hati!"
***
Naina dan kedua sahabatnya,Kiran dan Rebecca sudah berdiri di depan gerbang kampus mereka.Setelah kuliah mereka tadi selesai,langsung saja Naina mengajak kedua sahabatnya ini ke depan gerbang kampus.Naina tidak ingin jika tuan muda itu masuk lagi ke halaman kampusnya bahkan sampai di depan kelas dan menjadi pusat perhatian semua orang.Ia sangat malu diperlakukan seperti itu.
Naina sudah memakai helmnya,berdiri di tepi jalan depan kampusnya.Ia berpikir kalau tuan muda itu akan datang menggunakan motor.Kedua sahabatnya duduk di atas motor menemaninya menunggu sang pangeran datang menjemput.
Tidak berapa lama mereka menunggu,mobil sport dengan suara mesin khasnya parkir di depan mereka.Kedua pintu mobil bagian depan bergerak ke atas,turun lelaki tampan yang sejak tadi mereka tunggu.
"Oh my God,romeoku sudah datang."Kecentilan Rebecca semakin menjadi-jadi melihat Dennis datang dengan mobil sportnya.
"Maaf,saya telat,"ujar Dennis yang sudah berdiri di hadapan Naina.
"Tidak,Mas Dennis ... bahkan kami rela menunggu sampai tujuh purnama." Lagi-lagi Rebecca mengeluarkan gombalannya.
Dennis hanya tersenyum.
"Ya sudah ... silahkan,Nona!" Mempersilahkan Naina naik ke mobil yang pintunya sudah terbuka tadi.
"Oiya,kami duluan yah.Terima kasih sudah menemani tuan putriku menunggu," sambung Dennis kepada Kiran dan Rebecca.
__ADS_1
Tuan putri?keterlaluan.
Batin Naina.
Kiran dan Rebecca terlihat merona,bukan mereka yang dipanggil tuan putri tetapi mereka yang hanyut dalam kalimat rayuan itu.
"Iya,Tuan muda.Hati-hati!" balas Kiran.
"Mas Dennis,kapan-kapan ajak kami juga yah naik ini," ujar Rebecca menunjuk mobil Dennis.
"Pasti," balas Dennis tersenyum.
Naina hendak naik ke mobil.Tiba-tiba Dennis menahannya.
"Apa anda akan naik mobil menggunakan helm,Nona?" Dennis melepas pengaman helm yang terletak di bawah dagu Naina dan mengangkat helm itu dari kepala Naina.
Naina terlihat malu sendiri.Ia lupa melepas helmnya.
"Dasar Maemunah." Kiran menepuk jidatnya.
***
Jalanan sangat macet,hari minggu pun masih seperti hari yang lain.Mobil sport yang bisa melaju kencang ini tak ada gunanya.Gema suara mesjid terdengar dimana-mana.
"Iya,sebaiknya memang seperti itu."
Kebetulan mereka sudah berada tepat di depan sebuah mesjid.Dennis menyalakan lampu sennya dan berbelok masuk ke dalam halaman mesjid.
***
Kurang lebih tiga puluh menit,Maghrib telah berlalu.Satu persatu orang-orang keluar dari mesjid setelah melaksanakan shalat berjamaah.Dennis berdiri di depan mesjid menunggu Naina.Hari semakin gelap,bukan malam tetapi langit memang sedang sendu.Perlahan langit sudah menjatuhkan rintik-rintik hujannya.Naina keluar dari pintu mesjid,langsung menghampiri Dennis yang menunggunya.
"Tuan,muda.Sepertinya sedang gerimis," ujar Naina.
"Hhmmm ... ayo cepat!" Menarik tangan Naina dan langsung berlari menuju mobilnya.Naina masuk ke dalam mobil setelah Dennis melepaskan genggamannya.Naina memperhatikan pergelangan tangannya yang digenggam tadi.Waktu berlari tadi,hatinya tiba-tiba berdebar.Bahkan sampai saat ini dengan terus menatap pergelangan tangannya,ia masih merasakan debaran aneh itu.Ia selalu marah jika disentuh oleh seorang lelaki,rasanya ia ingin marah saat ini tetapi kenapa perasaan lain juga bercampur aduk di batinnya.Benar-benar debaran aneh.
"Maaf,saya tidak sengaja" ujar Dennis yang sudah berada di kursi kemudi,menatap Naina yang memperhatikan pergelangan tangannya.Ia juga baru menyadari akan sikapnya tadi.Tuan muda ini tidak bisa mengontrol diri,ia semata-mata bertujuan melindungi Naina dengan menggenggam tangan Naina agar cepat sampai ke mobil dan tidak lama di bawa rintik hujan.
Naina meletakkan tangannya ke bawah,ia baru menyadari kalau Dennis sudah berada di sampingnya.Ia kembali dari lamunan dan debarannya.
Ia tidak menjawab ucapan maaf Dennis.Mobil sport ini kembali bergerak.
__ADS_1
"Kita makan dulu yah," ujar Dennis.
"Ma-makan?" Naina ragu dengan ajakan ini karena ia khawatir jika harus pulang telat.
"Tidak usah khawatir,kita tidak akan lama," ujar Dennis yang tahu kalau Naina takut jika harus pulang terlambat.
Naina hanya mengangguk pertanda 'iya'.
Tidak berapa lama,mobil sport ini berbelok dan parkir di depan restoran mewah.Masih gerimis.
Dennis melepas jaketnya.
"Pakai ini!di luar sangat dingin." Memberikan jaketnya kepada Naina.
"Tidak usah,Tuan muda," tolak Naina.
"Kenapa harus membantah?"Mata elang Dennis menatap pertanda tidak ingin ditolak.
Naina langsung mengambil jaket itu dan memakainya.Ia mencium aroma parfum pada jaket ini yang membuatnya seperti mengingat sesuatu.Rasanya ia juga pernah mencium aroma ini pada tubuhnya.
"Astaga,Tuan muda.Jas anda masih ada di lemariku." Ia baru mengingat jas Dennis yang ia pakai malam itu waktu bajunya transparan karena hujan.
"Maaf,Tuan muda.Nanti akan ku kembalikan bersama jaket anda ini," sambungnya tersenyum kikuk.
"Aku pikir kamu sengaja lupa agar bisa selalu mengingatku," goda Dennis.
***
Mereka sudah sampai di dalam ruangan VIP di restoran mewah ini.Makanan sudah mereka pesan.Sambil menunggu,mereka bercakap-cakap santai dan sesekali tertawa.Naina mulai merasa nyaman dengan keadaan ini.
Tiba-tiba tiga orang wanita yang sangat fashionable masuk ke dalam restoran itu.Mereka juga memesan ruangan VIP.Mereka melintas di depan ruangan Dennis.Salah satu wanita itu tiba-tiba menghentikan langkahnya.Ia sangat terkejut dengan pemandangan yang ia lihat di depan matanya.Ia mengenal lelaki dan wanita yang duduk berdua di dalam ruangan VIP itu,melihat canda tawa kedua orang itu seperti layaknya pasangan kekasih.Darahnya mendidih,spontan ia masuk ke sana.Kedua temannya terkejut dan mengikutinya.
"Arumi,mau kemana?" teriak salah satu temannya.
Arumi terus melangkah.Dennis dan Naina menoleh,betapa terkejutnya mereka.Naina,dia bukan lagi terkejut tetapi sudah sangat panik melihat wanita yang menghampirinya.Wanita yang pernah memberinya tip untuk tugas mengantarkan bunga.Tugas itu pula yang membuatnya bertemu dengan tuan muda yang terus memberinya perhatian ini.
Naina berdiri dari duduknya.Ia tampak sangat takut.Arumi menatapnya tajam.
"Nona,saya bisa menjelaskannya.Ini tidak seperti yang Nona pikirkan," ucap Naina sangat takut.Ia tidak tahu pasti tentang hubungan tuan muda dengan wanita ini,tetapi waktu itu yang ia dengar Arumi mengatakan kalau bunga itu diantar untuk kekasihnya yang tidak lain adalah Dennis Atmajaya yang bersamanya saat ini.
"Dasar kurang ajar."
__ADS_1
Tamparan keras melayang di pipi Naina.