MENCINTAI WANITA Dari ZONA_X

MENCINTAI WANITA Dari ZONA_X
Bermohon Restu Lagi


__ADS_3

Tapakan kaki melangkah begitu tegas namun terlihat anggun, bu Annisa berjalan memasuki kantor Atmajaya Group. Di dampingi suaminya yang begitu berwibawa di sampingnya. Kedua orang ini melangkah tanpa peduli siapapun disekitarnya termasuk para security.


"Ibu, Bapak, maaf. Kalian ingin kemana dan bertemu siapa?" tanya seorang security yang mencegat pasangan paruh baya ini.


Annisa dan Anton mengehentikan langkahnya.


"Kami ingin bertemu Dennis Atmajaya." begitu ucapan Anton yang terdengar tegas.


"Maaf, kalian siapa?dan apa kalian sudah membuat janji?" security dengan penjagaan ketatnya tidak akan serta merta membiarkan siapapun seenaknya masuk ke kantor ini terutama menemui sang direktur.


Annisa terlihat menarik nafas panjang, entah itu nafas kekesalan atau apa.


"Kami pemilik Beauty Flowers sekaligus orang tua dari wanita yang bos kalian ...." Ucapan bu Anissa seketika terpotong karena suara gadis yang berlari dari arah pintu kaca memanggilnya.


"Bu Annisa ...." Naina sampai tepat pada waktunya,hampir saja bu Annisa mengatakan sebuah fakta tentang status Dennis Atmajaya.


"Bu Annisa ...." Suara Naina tersengal-sengal, begitupun dua orang asistennya yang mengikuti dirinya.


"Nyonya muda ...." Kedua security langsung menundukkan kepala di hadapan Naina. Betapa terkejutnya gadis ini mendengar para security menyapanya nyonya muda sembari memberi hormat kepadanya. Naina berpikir kalau statusnya sebagai istri hanya diketahui para penghuni apartemennya, ternyata di kantor suaminya pun dirinya tidak dirahasiakan lagi. Dalam diamnya, ada rasa haru di dalam hatinya. Suaminya benar-benar membuktikan kalau dirinya begitu mencintai istrinya dan tidak membuat status istrinya sebagai istri yang tersembunyi.


"Apa Nyonya muda ingin ke ruangan Tuan muda? mari kami antar!" ujar sang security yang sepertinya sudah mendapat perintah kalau tidak ada batasan bagi Naina untuk masuk ke ruangan sang direktur.


Namun, Naina masih terdiam. Rasa haru masih menguasai dirinya.


"Dia putri kami, dan kami ingin masuk bertemu tuan muda kalian," tegas Annisa kembali mengeluarkan suara.


"Maaf, Nyonya. Kami tidak tahu,silahkan! kami akan antar kalian." Security berjalan dan langsung disusul Annisa dan Anton.


"Nyonya muda ...." Mimi menyadarkan Naina dari diamnya. Segera ia menyusul Annisa dan Anton.


Masuk lagi ke pintu kaca, di sana ada beberapa pegawai dan langsung saja para pegawai ini berdiri kemudian membungkukkan badan melihat kehadiran Naina.


"Selamat pagi, Nyonya muda," sapa seluruh pegawai yang berada di lantai bawah ini.


Betapa terkejutnya Naina dengan semua kenyataan ini. Begitu cepat semua orang mengetahui tentang status dirinya.


Naina hanya tersenyum seraya ikut menundukkan kepala dan berjalan sedikit kikuk.


Ia ikut masuk ke lift dimana security sudah menunggunya di sana. Di dalam lift sudah ada Annisa dan Anton. Ia kembali tersadar akan tujuannya ke sini.


Lift sudah bergerak ke atas. Rasanya ingin mengutarakan apa yang ada di dalam hatinya, tetapi tidak tahu harus memulainya dari mana.

__ADS_1


"Bagaimana mungkin kamu ingin dinikahi dengan cara seperti ini? apa karena dia lelaki konglomerat?" Anton langsung menyerang Naina tanpa peduli ada security yang mendengar percakapan mereka di sana.


Naina hanya terdiam, ingin menjelaskan tetapi ia saja tidak tahu kalau akan menikah secepat ini bahkan tidak terpikir olehnya sedetik sebelumnya.


"Dennis Atmajaya benar-benar keterlaluan," sambung Annisa.


Lift sudah terbuka, security sudah keluar dan disusul oleh semua orang.


"Bu Annisa, pak Anton ... apa tidak sebaiknya kita bicarakan ini di rumah saja?" Sembari berjalan, Naina mencoba membujuk kedua orang yang begitu menyayanginya ini. Sayang sekali, Anton dan Annisa hanya terdiam dengan kaki terus mengikuti langkah security. Akhirnya mereka sampai di depan sebuah pintu, satu-satunya pintu yang berada di lantai paling atas gedung ini.


Security mengetuk tiga kali kemudian kembali berdiri tegap. Dalam seketika itu pula pintu terbuka dengan sendirinya. Di dalam ruangan terlihat dua orang lelaki tampan dengan setelan jas rapi mereka.


"Maaf, Tuan muda. Nyonya muda datang ingin bertemu dengan Anda." Belum terdengar suara dari dalam ruangan itu, tiba-tiba sosok wanita paruh baya langsung menerobos masuk.


"Dennis Atmajaya." Annisa dengan tas branded di tangannya berjalan dengan menampakkan wajah angkuhnya yang diikuti Anton tepat di belakangnya.


Sementara tuan muda ini yang tadinya sibuk dengan berkas di tangannya,seketika meletakkan lembaran-lembaran berkas itu dan menatap sekretaris Ben yang berdiri di sampingnya.


Dari arah pintu. Dengan langkah pelan dan sedikit takut, Naina masuk menampakkan wajahnya.


"Sayang ...," lirih tuan muda ini setelah melihat istri yang begitu dicintainya.


Pintu ruangan kembali tertutup dan security pun sudah pergi dari sana.


"Maaf, kalian siapa? dan kesalahan apa yang ku perbuat kepada kalian?" tanya Dennis dengan suara datar.


"Kami orang tua angkat dari wanita yang Anda nikahi," jawab Anton yang membuat Dennis semakin tidak mengerti. Setahu dirinya, Naina tidak punya siapa-siapa lagi ataupun orang tua angkat.


Dennis menatap Naina, ingin mendapatkan jawaban dari istrinya ini.


"Mas ... mereka Bu Annisa dan Pak Anton. Mereka pemilik Beauty Flowers. Selain mereka bos saya, mereka juga sudah saya anggap orang tua saya. Sudah lama mereka memintaku untuk tinggal bersama mereka tetapi saya belum bisa meninggalkan paman." Jawaban Naina membuat Dennis sedikit mengerti.


"Dennis Atmajaya, Anda adalah lelaki yang begitu terhormat dan berwibawa. Tapi, bagaimana bisa Anda menikahi wanita dengan cara seperti ini." Annisa kembali berkoar dengan menunjuk Dennis.


Dennis berjalan ke depan mejanya.


"Maafkan saya, saya tidak berniat melakukan ini tapi hanya dengan cara ini saya bisa bersama putri kalian." Dennis mengatupkan kedua tangan ke dada pertanda memohon maaf. "Posisiku begitu sangat sulit, restu orang tuaku belum ku dapatkan dan perjodohan sedang mereka rencanakan, jika tidak ku lakukan ini maka saya tidak akan bisa hidup bersama wanita yang ku cintai,putri Anda Naina Anandita," ucapan Dennis begitu tulus namun tidak mudah meluluhkan Annisa.


"Kalau begitu, berusahalah dulu mendapatkan restu orang tuamu kemudian kamu bisa mendapatkan istrimu kembali. Walau kamu suaminya, namun saya juga begitu menyayanginya dan tidak rela jika Naina hidup dalam ketidakpastian seperti ini," tegas Annisa lagi.


"Ayo, Sayang! kita pergi." Langsung saja Annisa menarik tangan Naina.

__ADS_1


Dalam detik itu juga, tanpa sebuah kata. Dennis menjatuhkan tubuhnya dengan lutut sebagai tumpuan. Tuan muda ini kembali bersimpuh sebagaimana waktu ia meminta restu kepada kedua orang tuanya.


"Tuan muda ...." Suara sekretaris Ben,Mimi dan Lilis secara bersamaan.


Annisa mengehentikan langkahnya dengan apa yang ia saksikan.


Kedua tangan Dennis mengatup ke dada.


"Saya mohon kepada kalian, jangan lakukan ini kepadaku. Saya begitu mencintai istriku melebihi segalanya bahkan saya rela keluar dari rumahku. Percayalah, saya akan selalu membahagiakannya dan akan segera mendapatkan restu kedua orang tuaku. Dia bukan istri yang ku sembunyikan, saya hanya menunggu sebuah restu dan segera memperkenalkannya kepada publik. Saya mohon kepada kalian, bantu saya melewati ini. Saya berjanji atas nama nyawaku, saya tidak akan menyia-nyiakan istriku,putri kalian." Ucapan dan sikap Dennis seketika membuat amarah di wajah Annisa menjadi sendu.


"Mas ...." Suara Naina lirih menyaksikan perjuangan suaminya untuknya.


Naina menatap Annisa dan Anton dengan mata berkaca-kaca.


"Bu,Pak ... saya percaya dengan Mas Dennis, dia tidak akan menyakitiku. Tolong jangan mempersulit dirinya!" kini Naina yang memohon kepada kedua orang yang begitu menyayanginya ini.


"Anakku ...." Annisa memeluk Naina dengan tangisnya yang tak terbendung lagi.


"Hidupmu sudah sangat malang, mengapa kamu di hadapkan lagi dengan kehidupan seperti ini."


Naina melepas pelukannya dengan derai air mata yang tak tertahan.


Menggenggam tangan Annisa.


"Percayalah, Bu. Mas Dennis pasti membuktikan ucapannya." Naina membantu suaminya meyakinkan Annisa.


"Tuan Dennis, berdirilah!" seru Anton.


"Saya tidak akan berdiri tanpa restu kalian," tegas Dennis kembali.


"Baiklah, kami akan memberikan restu kami. Tapi, ingatlah satu hal jika Anda belum mendapatkan restu dari orang tua Anda maka kami akan pastikan kalau Anda tidak akan bersama Naina lagi," ucap Anton memberi peringatan.


"Dan kami akan pastikan kalau kamu tidak akan bertemu dengannya lagi. Di luar sana masih banyak lelaki dan keluarga baik yang ingin menerima Naina. Dia memang berasal dari tempat yang tidak baik, tapi dia wanita yang begitu suci tanpa cacat." Annisa yang sudah tahu tentang Naina dari cerita Kiran,berani bersaksi akan kebaikan gadis ini.


Dennis berdiri.


"Terima kasih sudah memberikan restu kalian, saya berjanji tidak akan mengecewakan kalian dan akan segera mendapatkan restu kedua orang tuaku." Ucapan yang terdengar serius dari jiwa tegas sang tuan muda.


"Baiklah," lirih Annisa.


Naina tersenyum kemudian memeluk wanita paruh baya di hadapannya.

__ADS_1


"Terima kasih, Bu." Perlahan-lahan kebahagiaan menghampiri gadis ini. Ada begitu banyak orang yang memberikan kebahagiaan untuknya, menyayanginya begitu tulus seperti kasih sayang dari orang tua kandungnya.


__ADS_2