
Meja makan yang dipenuhi dengan keromantisan dua sejoli ini kini sudah bersih dan kembali rapi.Aktifitas sarapan penuh cinta telah selesai mereka lakukan.
Naina kembali dari dapur setelah meletakkan semua yang berada di meja makan tadi.
"Apa sekretaris kesayangan Mas,belum datang?"tanya Naina seraya menarik kursi dan duduk di dekat suaminya.
"Lihat saja,aku akan memberinya ceramah yang begitu panjang hingga akan terus terngiang-ngiang di telinganya,"sambungnya begitu kesal dengan semua pekerjaan sekretaris Ben.Mulai dari tidak menyediakan jubah mandi untuknya,kemudian menghilangkan bantal guling dan belum lagi baju tidur yang begitu sexi membuat Naina benar-benar sangat kesal.
Dennis hanya tersenyum mendengar ocehan istrinya seraya fokus menggeser-geser ponselnya.
"Tunggulah!mungkin sebentar lagi dia akan datang,sepertinya Mimi dan Lilis yang membuatnya lama,"jawab Dennis sembari terus menatap layar ponselnya.
"Mi-Mimi?Lilis?"Naina tidak mengerti ucapan suaminya.
"Siapa mereka,Mas?"tanyanya.
"Nanti juga kamu akan tahu."jawab Dennis tersenyum aneh.
Apa lagi yang akan sekretaris itu lakukan?
gumam Naina.
Tidak lama kemudian bel berbunyi,sepertinya yang ditunggu-tunggu sudah datang.
Naina dan Dennis bangkit dari duduknya kemudian menuju pintu.Benar saja,dari layar dekat pintu sudah tampak wajah serius sekretaris Ben.Dennis membuka pintu.
"Selamat pagi ... Tuan muda,Nyonya muda,"sapa sekretaris Ben.
"Pagi,sekretaris Ben,"balas Dennis.
Naina terbelalak menatap sekretaris dihadapannya.
Dia juga ikut-ikutan memanggilku Nyonya muda.
"Hei,Mas Aben.Aku ingin protes kepadamu."Langsung saja gadis ini maju ke hadapan sekretaris Ben dengan posisi membelakangi suaminya,rasanya ingin menyerang sekretaris Ben.Dennis hanya terdiam menyaksikan kehebatan istrinya yang apakah benar akan menghakimi sekretaris Ben.
"Sebelumnya saya meminta maaf jika saya membuat kesalahan,Nyonya muda,"ucap sekretaris Ben dengan menundukkan kepala pertanda hormat kepada Naina.
Entah kenapa Naina malah tidak tega melihat sikap sekretaris Ben seperti itu kepadanya.Sudah seperti pengawal yang memberi hormat kepada ratunya.
"Ah,Mas Aben.Mengapa kamu seperti ini."Tiba-tiba suara Naina terdengar malah mengasihani sekretaris Ben.
"Bagaimana aku bisa memarahimu jika kamu seperti ini,"gerutunya kesal.
Dennis tertawa melihat sikap istrinya.
__ADS_1
"Sudahlah,Sayang.Sekretaris Ben sudah melakukan tugasnya dengan baik,tidak ada yang perlu kamu perotes,"bela Dennis untuk sekretarisnya.
"Baiklah,lupakan tentang kejadian baju tidur,guling dan lainnya."
Mendengar ucapan Naina,sekretaris Ben akhirnya paham tentang kekesalan istri tuan mudanya kepadanya.Rasanya ada senyum yang tertahan di bibir sekretaris yang juga bertubuh proposional ini.
"Tapi aku tetap masih ingin protes,"sambung Naina lagi.
"Tolong jangan memanggilku dengan sebutan Nyonya muda!bukankah kita adalah teman?"lanjut Naina.
Sekretaris Ben menatap Dennis.Ada rasa tidak nyaman pada diri sekretaris ini mendengar ucapan istri tuan mudanya.
"Maaf,Nyonya muda.Anda bukan temanku,sangat tidak pantas jika saya menjadi teman Anda,Nyonya muda."
"Hah ...."Naina menarik nafas panjang bernada terkejut.
Memukul lengan sekretaris Ben.
"Jadi Anda tidak ingin berteman denganku?"Naina terdengar semakin kesal.
"Mas ...."Merengek pada Denis seperti anak kecil yang sedang mengadu.
Sementara sekretaris ini,ia sudah diambang kebimbangan.
Dennis tersenyum kemudian merangkul bahu istrinya.
"Sayang,jangan mempersulit keadaan sekretaris Ben.Kamu memanggilnya Mas Aben saja itu sudah lebih dari cukup.Apapun nama yang ia panggilkan kepadamu maka itulah yang pantas untukmu."Dennis membantu sekretarisnya keluar dari rasa tidak nyamannya.
Tiba-tiba terdengar suara gaduh.Dua orang wanita muda berseragam senada berjalan grasak-grusuk dengan menarik koper masing-masing.Kedua wanita yang berseragam ala pelayan istana hanya saja memakai jilbab, terlihat begitu sumringah walau dalam keadaan repot dengan barang bawaan mereka.
"Selamat pagi ... Tuan muda,Nyonya muda,"sapa keduanya secara bersamaan dan lantang setelah tiba di hadapan sekretaris Ben,Naina dan Dennis.
"Kalian begitu lama,"tegur sekretaris Ben.
"Maaf,Tuan Ben,"balas salah satu dari mereka dengan tersenyum kikuk.
Naina masih dalam diamnya.Ia tidak mengerti siapa dan untuk apa kehadiran dua orang wanita di hadapannya ini.
"Perkenalkan diri kalian!"perintah sekretaris Ben.
Keduanya mengatur nafas kemudian menatap Naina dengan senyum terbaik mereka.
"Hai,Nyonya muda yang sangat cantik.Kenalkan,saya Mimi Ratu Izabeth Kesambet Cantiknya Putri Elizabeth."Menyalami tangan Naina.Naina membalas salaman tangan itu dengan perasaan ingin pingsan.Mengapa ia dikirimkan makhluk dengan nama seperti ini dalam hidupnya.
"Dan saya Lilis Putri Termanis Mengalahkan Manisnya Gulali Kang Ma'is,"sambung wanita satunya yang sama hebohnya dengan rekannya.Rasanya Naina tidak kuat lagi menopang dirinya.
__ADS_1
"Ehhhmm ...."Dehaman sekretaris Ben dengan mata melotot kepada dua wanita cerewet ini.
Kedua wanita ini kembali tersenyum kikuk kepada Naina.
"Maaf,Nyonya muda.Kami hanya bercanda.Saya Mimi dan ini teman saya Lilis.Kami berdua adalah Asisten Rumah Tangga terbaik bumi ini."Mimi kembali memperkenalkan diri dengan ciri khas cerewetnya."Kami sudah lama bekerja pada Tuan Ben dan Tuan muda,selama ini kami bertugas mengurus apartemen kedua Tuan-Tuan yang begitu baik ini dan sungguh kehormatan bagi kami karena mulai saat ini kami akan tinggal di sini untuk menemani Nyonya muda."Ulasan yang begitu sangat panjang dari Mimi.
Naina masih terdiam,ia bahkan terlihat menelan kuat salivanya.
Apa ini ART yang dimaksud mas Dennis?pikirnya.
Ia tidak percaya ART dengan model seperti ini yang akan menemaninya.
"Dan tugas utama kami adalah memastikan agar Nyonya muda selalu bahagia,tentram dan damai,"sambung Lilis.
"Nyonya muda tidak usah khawatir,semua pekerjaan akan kami tangani dengan baik.Jika Nyonya muda butuh sesuatu,kami akan selalu siap siaga.Kami akan menjadi dayang-dayang terbaik buat Ibu ratu,Nyonya muda,"lanjutnya lagi seraya merentangkan satu tangan dan satu tangannya melipat ke belakang dengan tubuh membungkuk sedikit.
Naina tidak tahu harus berkata apa.Otaknya tidak mampu berpikir dengan melihat kedua wanita yang mengaku ART terbaik bumi ini tidak berhenti berbicara sejak tadi.
"Nyonya muda,apa Anda tidak ingin mempersilahkan kami masuk?"tanya Mimi dengan senyum kikuknya.
"Iya,Nyonya muda.Setidaknya koper ini tidak merepotkan kami,"sambung Lilis.
"I-Iya,Si-silahkan masuk!"Naina memberi ruang sedikit dengan bergeser ke arah Dennis.
Naina menatap suaminya kemudian sekretaris Ben.Kedua lelaki ini tahu arti tatapan mata itu,tatapan yang seperti ingin menerkam mereka.
"Nyonya muda,mulai saat ini Mimi dan Lilis akan tinggal di sini menjadi Asisten Rumah Tangga.Selain itu,mereka juga bertugas menemani Nyonya muda kemanapun Nyonya muda akan pergi,"ujar sekretaris Ben.
"Apa?"Naina benar-benar tidak habis pikir.
Mimi dan Lilis hanya memberikan senyum terbaiknya kepada Naina.
"Sayang,tidak usah protes.Setidaknya kehadiran mereka tidak akan membuatmu merasa kesepian,"ujar Dennis.
Naina hanya bisa menarik nafas panjang.
"Terserah Mas Dennis,"balasnya pasrah dengan suara lirih.
Menentangmu juga tidak akan mungkin berhasil.
"Oiya,Nyonya muda.Mengenai Neta,orang-orangku sudah menemukannya.Berikan kami perintah!Apa yang akan kami lakukan kepadanya?Apa kami membawanya ke sini atau bagaimana?Nyonya muda katakan saja."
Mendengar ucapan sekretaris Ben,seketika wajah Naina tidak baik.Ia kemudian memperlihatkan senyum kecutnya.
"Pastikan saja kalau dia dalam keadaan baik,aku masih belum sudi melihat wajahnya.Sampaikan kepadanya apa yang telah terjadi setelah kepergiannya,terutama meninggalnya paman karena dirinya."Suara Naina bergetar di kalimat terakhirnya,ia tidak mampu jika mengingat kepergian pamannya.Bahkan pamannya pergi dalam keadaan tekanan batin karena Neta.Untuk saat ini,ia sangat membenci Neta.
__ADS_1