
Terik matahari begitu menyengat di pemakaman elit kota ini,di sinilah Harun dimakamkan atas perintah dua pengawal yang mengurus segalanya.Tidak perlu menunggu aba-aba dari tuan muda,mereka sudah tahu apa yang harus mereka kerjakan.
Pemakaman yang hanya di hadiri beberapa sahabat dan teman-teman Naina dari Beauty Flowers dan kampusnya,tidak ada sanak saudara,istri ataupun anak Harun.Hanya Naina dan Arka yang mendampingi pamannya hingga ke peristirahatan terakhir.
Beberapa orang sudah kembali setelah pemakaman selesai,termasuk pihak rumah sakit yang mengurus jenazah Harun.
Naina masih terus terisak di atas pusara pamannya,ia tidak menyangka kalau pamannya akan meninggalkannya secepat ini.Kini,ia dan Arka benar-benar hidup sebatang kara.Nasib malang terus saja menjadi bayangan yang selalu mengikutinya.
Para sahabat dan rekan-rekannya ikut iba melihat pemandangan ini.
"Naina,kamu yang sabar yah.Kami tahu,kamu wanita yang begitu kuat."Selfy mencoba memberikan semangat kepada Naina.
"Tadi pak Anton dan bu Anissa melefon,mereka turut berduka cita atas kepergian pamanmu.Mereka meminta maaf karena tidak bisa hadir di sini,mereka masih berada di luar negeri,"sambung Selfy lagi.
"Kamu yang sabar yah,Nai"lanjutnya seraya mengelus punggung Naina.
Waktu terus bergerak.Selfy juga sudah kembali ke Beauty Flowers.Naina masih belum ingin beranjak dari gundukan tanah itu,ia terus memeluk pusara pamannya.Tiga sahabatnya masih setia menemaninya di sana.Rudy,Kiran dan Rebecca tidak tega meninggalkan Naina dalam keadaan seperti ini.Begitupun dengan dua orang pengawal yang masih tetap setia berdiri di belakang Naina untuk memberikan penjagaan.
"Kak Naina,Kak Naina harus ikhlas melepas paman agar paman tenang di tempat barunya."Arka tidak tega melihat kakaknya yang sangat terpuruk seperti ini,ia mencoba memberikan nasihat kepada kakaknya sesuai dengan apa yang ia ketahui.
Naina masih terdiam,sejak tadi gadis ini tidak pernah berucap satu katapun bahkan kepada Selfy yang terus mengajaknya berbicara tadi.
"Kakak,ayo kita pulang ke rumah!"ucap Arka yang membuat Naina bangkit dari keterpurukannya dan menatap Arka tajam.
"Apa yang kamu katakan?pulang ke rumah?rumah mana?tempat nista itu?Kakak tidak akan pernah kembali lagi ke wilayah kotor itu!"tegasnya kepada Arka.Ia sudah muak dengan segala hinaan yang ia terima,tempat nista itu terlalu menyakitkan baginya.
"Lalu ... jika tidak pulang ke sana,kita akan pulang kemana,Kak?"tanya Arka yang tahu kalau mereka tidak punya tempat tinggal selain di Zona X.
Naina tidak menjawab,ia kembali terisak dan menyandarkan keningnya pada papan yang bertuliskan nama pamannya di sana.
"Kita akan pulang bersama."Tiba-tiba terdengar suara dari arah belakang Naina yang menjawab pertanyaan Arka.Entah sudah berapa lama sosok suara itu berada di sana.
Semua orang menoleh,termasuk Naina.
Semua orang terkejut mendengar pernyataan itu.Pernyataan dari seorang lelaki berjas dengan kacamata hitam yang membuatnya terlihat sangat berkarisma.Di belakangnya berdiri lelaki berjas lagi dengan memegang keranjang bunga dan payung hitam untuk melindungi tuannya dari terik matahari.
"Kak Dennis,"lirih Arka.
Dennis melangkah dengan perlahan ke arah makam Harun, dan berjongkok tepat di samping Naina.Ia menaburkan bunga yang dipegang oleh sekretaris Ben.
__ADS_1
"Maaf,saya telat datang.Saya baru selesai meeting.Saya turut berduka cita atas kepergian paman Harun,"ucapnya seraya terus menabur bunganya.
Selesai menabur bunga,tuan muda ini menoleh ke arah gadisnya.Tampak mata Naina sangat sembab,terlihat kesedihan yang begitu dalam di wajah kekasihnya itu.Dennis bisa merasakannya,bahkan andai dia tidak memakai kacamata,mungkin saja semua orang sudah melihat matanya yang ikut berkaca-kaca.
"Berdirilah!kita akan pulang bersama,"ucapnya sembari berdiri dari tempatnya berpijak.Arka ikut bangkit juga,sementara Naina masih bertahan dengan posisinya.
Melihat Naina seperti itu,Dennis menarik nafas panjang.
"Beridirilah,Naina!apa kamu akan tetap tinggal di sini,di bawah terik matahari?ayo kita pulang!"ucap Dennis sedikit tegas.
"Memangnya aku akan pulang kemana?aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi dan tempat untuk pulang,"balas Naina lirih.
"Apa kamu tidak mendengar ucapanku,kita akan pulang bersama."Dennis terdengar begitu tenang dalam mengucapkan kalimatnya.
Naina berdiri dari tempatnya.Menatap Dennis dengan mata sendunya.
"Maaf,Mas.Hubungan kita tidak sejauh itu."Kali ini ucapan Naina terdengar tegas.
"Dan hari ini akan ku buat hubungan itu sejauh yang kamu pikir agar bisa membawamu bersamaku,"balas Dennis yang membuat semua orang kembali sangat terkejut.
Apa maksud dari setiap ucapan tuan muda ini?itu yang Arka dan ketiga sahabat Naina pikirkan.
"Hari ini,di depan makam pamanmu.Saya Dennis Atmajaya melamarmu.Saya akan mengambil tanggung jawab akan dirimu dan Arka.Saya akan menyudahi segala penderitaanmu."
Ucapan yang tegas dan lantang terdengar dari bibir tuan konglomerat ini.Sepertinya ini sudah ia pikirkan sebelum tiba di pemakaman ini,rasanya ia berucap tanpa beban sedikitpun.
Naina tidak mampu berkata apa-apa,seserius itu seorang Dennis Atmajaya kepadanya.
Sementara ketiga sahabat Naina,mereka tidak kalah terkejutnya.Bahkan mulut Rebecca sudah tidak mampu tertutup.Terus menganga karena terkejut.
"Astaga,Kirana.Apa seperti ini cara orang kaya melamar kekasihnya?"bisik Rebecca.Ia terkejut tetapi ia sangat bahagia.
Kiran dan Rudy saling menatap,tidak mampu berkata apapun.
"Arka,kamu satu-satunya yang bisa menjadi wali kami.Tolong berikan restumu!Hari ini juga aku akan melangsungkan ikrar suci itu,"pinta Dennis begitu penuh harap.Tuan muda ini bahkan belum mendengar jawaban dari Naina tapi sudah memutuskan secepat itu.
Semua orang lagi-lagi sangat terkejut.
"Kirana,aku ingin pingsan."Rebecca terus saja mengoceh dalam suara bisik-bisiknya.
__ADS_1
"Hari ini?"Naina tidak percaya dengan apa yang ia dengar.Bagaimana mungkin bisa secepat itu.
"Iya,hari ini.Tolong terima lamaranku dan kita menikah hari ini."Dennis benar-benar sangat serius dengan apa yang ia ucapkan.
Naina kembali diam dalam bingungnya.
"Saya setuju,"ucap Arka yang menjawab pertanyaan Dennis.Jika menunggu Naina untuk menjawab rasanya akan membuang waktu.Arka meyakini hatinya kalau ini adalah pilihan yang terbaik untuk hidup kakaknya.
"Arka ...."Naina menatap adiknya.
"Mengapa Kakak harus berpikir panjang dengan sesuatu yang baik.Saya percaya dengan ketulusan Kak Dennis."
Rasanya adik lelakinya ini sudah semakin dewasa saja,bahkan sudah mampu mengambil keputusan.
Dennis menghela nafas lega.
"Terima kasih,Arka,"ucapnya pada Arka.
"Tunggu ...."Kali ini Kiran yang berbicara.
"Maaf,Tuan muda.Anda orang yang sangat terkenal di negeri ini beserta keluarga Anda.Bagaimana Anda melakukan pernikahan dalam waktu secepat ini tanpa mengundang semua orang?Apa Anda akan melakukan pernikahan siri?"Walau ia tahu tentang keseriusan Dennis tetapi Kiran merasa ada yang tidak beres.
"Iya,kamu benar.Yang terpenting kami sudah menikah dan menjadi pasangan yang sah menurut agama.Persoalan lain,biarkan menjadi urusan saya."Sepertinya Dennis benar-benar sudah memikirkan semuanya dengan matang.
"Lalu orang tua dan keluarga Anda?"tanya Kiran lagi.
"Biarkan itu menjadi urusan kami,Nona."Kali ini sekretaris Ben yang menjawab.
"Jika tidak keberatan,kalian bisa menghadiri ini untuk menjadi saksi pernikahan Tuan muda dan Nona Naina,"sambung sekretaris Ben.
Kiran tidak berbicara lagi.
Dennis menggenggam tangan Naina erat dan segera melangkah membawa Naina.Naina masih dalam diamnya,ia sebenarnya tidak mengerti dengan apa yang akan terjadi,ia seperti air yang hanya mengikuti arus.
"Kirana,kamu itu terlalu hobby berdebat.Tidak usah memikirkan apapun,yang terpenting Maemunah kita akan segera keluar dari segala duka dalam hidupnya.Saya setuju dengan Mas Dennis,"ucap Rebecca kemudian ikut berjalan menyusul Naina dan Dennis.
Sementara Kiran dan Rudy masih tetap pada tempatnya berdiri.
"Apa ini sudah benar,Rud?"tanya Kiran.
__ADS_1
"Tidak usah khawatir,Kiran.Dennis Atmajaya bukan lelaki sembarangan,dia tidak mungkin mengambil keputusan sebelum ia memikirkannya matang-matang."Rudy mulai melangkah dan segera diikuti oleh Kiran.