
Aishah tiba di rumah menggunakan taksi. Sepanjang perjalanan Aishah tak dapat menahan air matanya. Aishah tak sanggup lagi jika harus ke kantor. Sehingga dia memutuskan untuk meminta izin dan pulang lebih awal.
"Assalamu'alaikum" Aishah mengetuk pintu rumahnya.
"Wa'alaikum salam" Ketika pintu dibuka oleh Bu Sekar, Aishah segera lari menuju kamarnya.
"Aish, kamu kenapa Nduk?" Bu Sekar segera mengikuti Aishah ke kamar. Aishah berlari menuju tempat tidur dan membenamkan dirinya di dalam bantal. Bu Sekar yang melihatnya segera menghampiri lalu mengelus punggung Aishah.
"Aish, ada apa to Nduk, tidak biasanya kamu pulang seperti ini. Apa ada masalah? Coba cerita dengan Budhe."
Aishah bangun dari tempat tidurnya lalu duduk di sebelah budhenya. Aishah memeluk budhenya erat-erat. Bu Sekar memegang kedua pipi Aishah lalu menghapus air mata yang membasahinya.
"Cerita dengan Budhe, biar Aish lega."
"Aish… Aish… sedih Budhe." Aishah masih sesenggukan sambil menenangkan dirinya.
"Apa Aish salah Budhe jika Aish menyayangi seseorang?" Aishah menahan isakannya.
"Tidak Nduk, tidak ada yang salah dengan rasa sayang, itu adalah hal yang lumrah dirasakan setiap manusia. Memangnya Aish sayang dengan siapa?"
"Aish sayang Aldi Budhe" Aishah mulai menangis.
"Apakah kamu mengatakan perasaanmu kepada Aldi?" Bu Sekar mencoba menenangkan Aishah.
"Tidak Budhe, tapi Aish sudah bertanya tentang perasaan Aldi kepada Aish. Dan Aldi cuma menganggap Aish sebagai teman dan selamanya hanya akan seperti itu. Padahal Aish yakin Aldi Sedang berbohong." Aishah sesenggukan.
"Budhe juga melihat itu dari tatapan mata Aldi kepadamu Nduk. Tapi walau bagaimanapun kamu harus menerima semua dengan lapang dada." Bu Sekar mengelus punggung Aishah beberapa kali.
"Tapi kenapa Aldi tidak mau jujur dengan Aish Budhe? Apakah Aldi menyembunyikan sesuatu dari Aish? Atau memang Aldi benar-benar tidak mempunyai perasaan khusus pada Aish?" Aishah sudah mulai tenang.
"Ya mungkin ada alasan tertentu yang membuat Aldi tidak mengatakan perasaannya kepadamu, Budhe juga tidak tahu. Tapi….." Bu Sekar menggantungkan kata-katanya membuat Aishah penasaran.
"Tapi apa Budhe?" Bu Sekar hanya menatap Aishah sambil mengangkat kedua bahunya.
"Mungkin memang sebaiknya Aish menerima Kak Radit." Karena tidak mendapat jawaban yang pasti, akhirnya Aishah menjatuhkan pilihan terakhirnya.
"Radit orangnya baik kok Nduk, tapi semua keputusan berada di tangan Aish. Aish pikirkan baik-baik semuanya. Jangan karena emosi terus Aish memutuskan sesuatu dengan begitu saja. Biar bagaimanapun Aish juga harus mengenal kepribadian Radit lebih dalam lagi, jangan sampai kecewa nantinya." Bu Sekar memberi wejangan.
"Iya Budhe, Aish juga masih mencari tahu tentang kepribadian Kak Radit." Aishah menatap budhenya.
"Ini sudah bukan zamannya Siti Nurbaya Nduk, jadi Aish boleh memilih perjalanan cinta Aish sendiri." Bu Sekar menepuk pundak Aishah.
"Makasih ya Budhe." Aishah memeluk pinggang budhenya.
"Kalau menurut Budhe Aish harus membicarakan ini semua dengan Bapak Ibu Aish di kampung."
"Aish juga sudah rindu dengan Bapak Ibu di kampung. Nanti Aish akan mengambil cuti satu minggu sekalian berlibur menenangkan diri."
__ADS_1
"Iya Nduk, tenangkan dulu pikiranmu di sana. Tinggallah beberapa hari disana agar rindu Bapak Ibumu juga terobati. Ini sudah sore segeralah mandi agar badanmu segar." Bu Sekar berdiri lalu keluar dari kamar Aishah.
"Iya Budhe." Aishah segera menuju kamar mandi.
Setelah mandi Aishah mengeringkan rambutnya yang basah di kamarnya dengan handuk. Terdengar suara pintu rumahnya diketuk dari depan.
"Assalamu'alaikum" Remang-remang terdengar suara seseorang di balik pintu depan.
"Sepertinya aku mengenal suara itu." Aishah segera mengambil kerudung lalu memakainya. Aishah menghampiri pintu melihat dari balik gorden jendela. Ternyata benar tamu yang mengetuk pintu di depan adalah Aldi. Aishah segera mencari budhenya yang ternyata baru keluar dari kamar mandi.
"Kenapa tidak dibukakan pintunya Aish, itu dari tadi ada yang mengetuk pintu." Bu Sekar tampak bingung.
"Budhe saja yang buka, nanti kalau Aldi bertanya tentang Aish, bilang saja Aish sedang tidur." Aishah mengendap-endap untuk mencari tempat persembunyian.
"Jadi Budhe disuruh untuk berbohong ini?" Bu Sekar menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tolonglah Aish Budhe, Aish belum ingin menemui Aldi." Aishah berusaha membujuk budhenya.
"Baiklah." Bu Sekar segera menuju pintu depan, lalu membukakan pintu.
"Assalamu'alaikum Budhe, Aishnya ada?" Aldi bersalaman dengan Bu Sekar.
"Wa'alaikum salam, maaf Aldi sepertinya Aish belum bisa ditemui sekarang. Biarkan Aish menenangkan pikirannya terlebih dahulu."
"Begitu ya Budhe, ya sudah kalau begitu Aldi nitip ini untuk Aish." Aldi menyerahkan sebuah kotak kue kepada Bu Sekar
"Oh ya Budhe, tolong sampaikan kepada Aish, Aldi minta maaf. Aldi tidak bermaksud membuat Aish sedih." Aldi nampak sangat kecewa karena tidak dapat menemui Aishah.
"Iya nanti Budhe sampaikan perminta maafan Aldi."
"Tapi Aish tidak lagi sakit kan Budhe?" Wajah Aldi mulai berubah menjadi cemas.
"Tidak, Aish sehat-sehat saja kok, ya mungkin Aish hanya butuh waktu untuk sendiri, nanti juga membaik." Bu Sekar berusaha meyakinkan Aldi bahwa Aishah baik-baik saja.
"Ya sudah Budhe, Aldi pamit dulu, Assalamu'alaikum" Aldi bersalaman dengan Bu Sekar.
"Wa'alaikum salam, hati-hati di jalan Aldi."
"Iya Budhe." Aldi pergi dengan sepeda motornya.
Setelah Aldi menghilang dari pandangan, Aish segera menghampiri budhenya.
"Bagaimana Budhe, Aldi sudah pergi?" Aishah nampak sangat penasaran.
"Sudah, sepertinya Aldi sangat sedih. Aldi membawakan kue ini untukmu." Aishah menerima kue pemberian Aldi.
"Aldi berpesan kepada Budhe, untuk menyampaikan perminta maafannya kepadamu, Aldi bilang dia tidak bermaksud membuatmu sedih."
__ADS_1
Aishah hanya terdiam sambil menundukkan kepalanya mendengar ucapan Bu Sekar.
______________________________________________
Setelah makan malam, Aishah menuju kamar tidurnya. Aishah baru teringat bahwa ponselnya kehabisan baterai dan belum sempat dia cas. Aishah mencari ponselnya di dalam tasnya lalu mengecasnya. Ketika ponselnya diaktifkan banyak notifikasi bermunculan. Ada 10 kali panggilan tak terjawab dari Aldi dan ada 5 pesan dari 2 chat. Yaitu dari Aldi dan Radit.
Aldi : Aish kamu marah sama aku ya?
Aldi : Aish aku minta maaf, aku tidak ada maksud membuat kamu sedih.
Aldi : Apa kamu beneran sakit?
Tiga pesan WhatsApp dari Aldi segera Aishah buka. Aish hanya membaca pesan itu tanpa membalasnya.
Radit : Selamat sore Aish, lagi ngapain?
Radit : Salam buat Pakdhe dan Budhemu ya.
Dua pesan lainnya berasal dari Radit. Nampaknya Aishah juga enggan membalas pesan dari Radit. Aishah hanya meletakkan ponselnya lalu berbaring di tempat tidur. Aishah teringat Ibunya di kampung, lalu Aishah mengambil ponselnya kembali untuk menelpon Ibunya.
"Halo assalamu'alaikum" Terdengar suara Ibu Aishah dari seberang telepon.
"Wa'alaikum salam bagaimana kabar Ibu dan keluarga?"
"Alhamdulillah sehat Nduk, bagaimana kabar Pakdhe Budhemu, kemarin Ibu dengar Pakdhe sempat masuk rumah sakit ya?"
"Iya Buk, Pakdhe kena serangan jantung, tapi sekarang sudah baikan."
"Yo syukur alhamdulillah kalau begitu Nduk. Bagaimana pekerjannmu?"
"Baik Bu, Aish sudah bisa menyesuaikan diri dengan cepat dengan pekerjaan Aish. Aish berencana akan pulang kampung dalam waktu dekat ini."
"Ya bagus kalau begitu, Ibu sudah rindu sekali denganmu."
"Besok Aish beri tahu lagi kapan waktunya Bu, yang penting keluarga di kampung baik-baik saja. Ya sudah Aish tutup dulu teleponnya. Assalamu'alaikum."
"Iya Nduk, wa'alaikum salam."
Aish menutup teleponnya. Aish masih merasakan sakit hati kepada Aldi. Aish melihat lagi pesan WhatsApp dari Aldi lalu membalasnya.
Aishah : Aku tidak apa-apa di, ini semua bukan salahmu. Aku saja yang berharap lebih.
Aishah menutup mukanya dengan selimut. Dan tak berapa lama Aishah mendapat balasan pesan dari Aldi.
Aldi : Aku bener-bener minta maaf Aish.
Aishah hanya membuka pesan dari Aldi lalu meletakkannya ponselnya di atas meja. Aishah ingin segera tidur, rasanya sangat capek menangis seharian. Bahkan matanya terasa bengkak.
__ADS_1