
Radit termenung sendiri di sudut ruangan. Matanya terus berkelana menjelajahi pemandangan di bawah sana. Melihat gemerlapnya suasana jalanan di malam hari. Apartemen Radit memang terletak di tengah-tengah kota. Sehingga dari atas, dapat dilihat dengan jelas hiruk pikuk keramaian kota.
Setelah semua keluarga besar Aishah pulang, kini tinggal Radit dan Aishah penghuni apartemen itu. Suasana begitu sunyi, hanya terdengar suara lalu lalang kendaraan jauh di bawah sana.
"Sayang ambilkan ponselku!" Radit sedikit berteriak memanggil Aishah. Dengan sigap, Aishah yang sedang menonton televisi segera mendekat ke arah suaminya dengan ponsel di tangannya. Lalu Aishah menyerahkan ponsel itu kepada suaminya. Tampak Radit mencari nomor telepon di kontak ponsel. Setelah satu nama ditemukan, Radit segera menekan tombol panggil.
Tuut… tuut… tuut… terdengar suara dari seberang, pertanda telepon telah tersambung.
Tak beberapa lama, terdengar jawaban dari seberang.
"Halo." Suara Pak Banu terdengar samar-samar di antara banyaknya suara di sekitarnya.
"Apa maksud Ayah melakukan semua ini kepadaku? Bukankah semua harta yang kau miliki itu bukan cuma milikmu, tapi juga milik Ibu? Dan aku juga berhak atas apa yang Ibu miliki!" Radit mencoba mengatur nafasnya yang sudah memburu, karena sudah tak dapat menahan amarahnya kepada Ayahnya.
"Apa yang sedang kamu bicarakan? Aku tidak mengerti maksud perkataanmu." Pak Banu merasa bingung dengan perkataan Radit.
"Kenapa Ayah memberikan kekuasaan kepada Bella untuk memiliki semua harta yang aku miliki! Dan yang lebih parahnya lagi, sekarang aku diusir dari rumahku sendiri." Radit menjelaskan panjang lebar.
"Apa maksudmu? Ayah tidak memberikan tanda tangan untuk itu. Ayah hanya memberi kekuasaan kepadanya untuk menggantikan posisimu sementara. Setelah kami sembuh nanti, kamu akan mendapatkan pekerjaanmu lagi." Pak Banu masih belum percaya dengan perkataan Radit.
"Bella sudah menyalah gunakan kepercayaan Ayah. Sadarlah Bella itu wanita jahat yang sangat licik. Bella rela melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang dia inginkan." Suara Radit terdengar geram.
"Kenapa dia berani melewati batasannya! Keterlaluan! Aku akan menegurnya." Pak Banu mulai terpancing emosi.
__ADS_1
"Bella itu wanita ular berkepala dua, dia menikahi Ayah hanya untuk menguasai semua harta yang Ayah miliki. Aku hafal betul dengan sifat wanita itu. Sebaiknya Ayah segera ceraikan dia!" Radit mulai bisa berbicara sopan dengan Ayahnya.
"Tapi ini semua bukan karena kamu dendam dengan Ayah kan? Karena Ayah menikah dengan Bella?" Pak Banu menyelidik.
"Apa! Ayah berkata apa! Memang kau pikir aku semenjijikkan itu! Dengar ya, sekarang aku sudah kehilangan semua harta yang sudah aku bangun dari nol dan Ayah masih bisa berkata aku ini sedang bercanda? Cih Ayah macam apa kau ini!" Radit mendengus kesal.
"Apakah wanita ular itu telah benar-benar meracuni pikiran dan hatimu? Sehingga membuatmu tergila-gila dengannya. Sampai-sampai Ayah tak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah!" Amarah Radit kembali membara.
"Kalau Ayah memang tidak percaya, silahkan cek semuanya! Dan lihat dengan pikiran yang jernih, siapa yang bersalah disini!" Radit menutup teleponnya dengan kasar.
Radit mengatur nafasnya yang memburu, hatinya kini berkecamuk. Dia benar-benar frustasi dengan keadaan. Bahkan Ayahnya benar-benar sudah dibutakan oleh cintanya kepada Bella. Apalagi dengan keadaan kakinya yang lumpuh saat ini membuatnya tak bisa berbuat apa-apa.
"Arghhhhh… Sial sial sial kenapa semua jadi seperti ini! Awas kamu Bella! Kamu harus mendapatkan balasan setimpal dengan apa yang telah kamu lakukan kepadaku!" Radit terus memaki Bella.
Aishah hanya bisa berdoa kepada Tuhan, semoga semua akan baik-baik saja. Memang akhir-akhir ini masalah datang menimpa Radit dan Aishah secara bertubi-tubi. Tentu itu membuat guncangan yang hebat di hati Radit dan Aishah. Namun, sebagai seorang isteri, Aishah tak ingin membuat suaminya berkecil hati. Aishah harus tetap kuat dan tegar dengan segala masalah yang ada.
Aishah bertekad akan bertahan dan tetap berdiri tegak sekokoh karang di lautan yang tak akan goyah dihempas gelombang lautan. Dengan langkah takut-takut, Aishah mencoba mendekati suaminya yang tengah marah-marah itu.
"Sayang. . . " Aishah memeluk leher Radit dari belakang. Radit yang masih emosi, membiarkan begitu saja pelukan istrinya itu tanpa menyambutnya.
"Kak Radit pasti bisa menghadapi semua ini. Jangan pernah putus asa ya! Aish janji, Aish akan selalu berada di samping Kak Radit." Aishah mengusap air matanya yang diam-diam sudah jatuh membasahi pipinya. Membuat Radit tersentuh, lalu mendongak untuk melihat wajah istrinya itu. Radit bersyukur masih mempunyai istri yang dengan setia menemaninya di saat-saat tersulitnya tanpa mengeluh.
"Terima kasih sayang." Radit menarik tangan Aishah hingga Aishah kini berada tepat di hadapannya. Karena Radit berada di atas kursi roda, Aishah membungkukkan badannya ke depan agar Radit bisa mendekapnya. Kemudian Radit mencium kepala Aishah dengan lembut.
__ADS_1
"Sebaiknya Kak Radit segera istirahat, seharian tadi Kak Radit tidak istirahat, itu tidak baik untuk perkembangan kesehatan Kak Radit." Aishah berlutut lalu menggenggam tangan suaminya. Hingga tatapan mereka saling bertemu. Radit mendekatkan wajahnya, ia mencium bibir istrinya dengan lembut.
"Bawa aku ke tempat tidur. Malam ini, aku ingin kamu menemaniku. Karena aku sudah sangat rindu tidur di sampingmu." Radit membelai rambut Aishah lalu menyelipkan anak rambut ke belakang telinga Aishah. Aishah melemparkan senyum manisnya kepada Radit, lalu mendorong kursi roda Radit mendekati tempat tidur.
Setelah membantu Radit tidur di tempat tidur, Aishah berjalan menuju saklar. Aishah mematikan lampu utama pada kamarnya. Kini hanya tersisa lampu tidur yang remang-remang. Radit memang tidak bisa tidur dalam keadaan terang. Setelah mematikan lampu, Aishah beranjak naik ke tempat tidur untuk menyusul suaminya.
"Mendekatlah!" Radit menarik tangan Aishah, hingga Aishah jatuh ke dalam pelukannya. Radit membenamkan kepalanya di dada Aishah.
"Sesekali pakailah baju tidur yang seksi!" Radit berbisik di telinga Aishah.
"Apa! Tidak mau! Lagi pula aku tidak punya baju yang seksi. Kak Radit juga sudah tahu sendiri semua baju-bajuku kan." Aishah beranjak membuat Radit terkejut.
"Hanya saat tidur sayang, biarkan suamimu ini saja yang menikmati indahnya tubuhmu. Kamu bisa membelinya." Radit memohon.
"Tidak kak, Aish tidak suka. Melihatnya saja sudah risih, apalagi kalau harus memakainya." Aishah bergidik sendiri membayangkan tubuhnya memakai pakaian yang kekurangan bahan itu.
"Hanya untukku sayang! Ayo cobalah turuti permintaan suamimu ini. Biar aku bisa lebih bebas menjamahmu." Radit mulai berpikir yang aneh-aneh. Lalu Radit tersenyum nakal.
"Kak . . . tapi Aish tidak yakin bisa memakainya." Aishah menutup matanya dengan kedua tangannya.
"Percayalah kepadaku, kamu akan terlihat sangat cantik dengan itu. Biarkan aku mengusir kepenatan masalahku dengan memandangi kecantikanmu." Radit masih membujuk Aishah.
Lalu dengan berat hati, Aishah menuruti permintaan suaminya itu. Walaupun dirinya sebenarnya enggan untuk melakukan keinginan suaminya itu, namun demi kepatuhannya pada suami, Aishah rela melakukannya. Aishah menganggukkan kepalanya pelan dengan bibir yang dimonyongkan. Lalu Radit dan Aishah memulai malam panjang mereka.
__ADS_1
Malam ini, Aishah yang memegang kendali. Aishah sudah terbiasa bahkan sudah pandai melakukannya. Sehingga tak ada rasa malu lagi kepada Radit, meskipun sesekali Radit masih memberikannya arahan. Setelah selesai dengan aktivitas malam mereka, Radit membenamkan kembali wajahnya di dada Aishah. Aishah mendekap kepala suaminya itu dengan lembut hingga Radit tertidur di sana. Melihat suaminya yang sudah terlelap, Aishah pun ikut terlelap.