Menemukan Cinta Sejati Aishah

Menemukan Cinta Sejati Aishah
Menjenguk Pak Joko


__ADS_3

Pagi ini cuaca cukup mendung. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan lebat. Aishah sudah bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Sementara Radit sudah berada di meja makan untuk menyantap sarapannya. Aishah menuruni anak tangga menuju meja makan loi A suaminya. Kirana sudah duduk bersama dengan Radit mengitari meja makan.


Tiba-tiba terdengar bunyi ponsel berdering. Ternyata suara itu berasal dari ponsel Aishah. Aishah segera mengambil ponsel yang berada di dalam tas kerjanya.


"Halo assalamu'alaikum." Aishah menjawab teleponnya.


"Wa'alaikum salam Nduk. Bagaimana kabarmu?" Terdengar suara medok Bu Sekar dari seberang telepon.


"Alhamdulillah Budhe, baik. Bagaimana dengan Budhe?" Aishah tampak agak curiga dengan suara budhenya. Tidak seperti biasanya budhenya menelepon saat pagi-pagi seperti ini.


"Budhe sehat Nduk, tapi Pakdhemu saat ini sedang tidak baik. Pakdhemu sekarang masuk ke rumah sakit, penyakit jantungnya kumat." Bu Sekar terdengar sedih.


"Apa! Jadi sekarang Pakdhe sedang di rumah sakit?" Aishah mulai terlihat panik.


"Iya Aish." Suara Bu Sekar terdengar lirih.


"Dari kapan Budhe?" Aishah sangat penasaran dengan keadaan pakdhenya itu.


"Baru tadi pagi selepas subuh. Tiba-tiba Pakdhemu merasa sakit di bagian dadanya. Lalu Budhe segera larikan ke rumah sakit." Bu Sekar terdengar semakin panik.


"Budhe yang tenang di situ, nanti Aish akan datang ke rumah sakit Budhe. Lalu sekarang bagaimana keadaan Pakdhe? Apakah sudah ada perkembangannya?" Aishah mencoba menenangkan budhenya.


"Belum Aish, Pakdhe masih berada di dalam UGD. Sampai saat ini, Budhe belum bisa melihat keadaan Pakdhemu. Para dokter juga sedang memeriksa keadaan Pakdhemu di dalam, belum ada yang keluar." Suara Bu Sekar terdengar bergetar seperti menahan air mata.


"Ya sudah Budhe, Aish segera ke sana. Budhe tenangkan diri Budhe, jangan terlalu panik. Pakdhe pasti akan baik-baik saja, Aish yakin." Aishah meyakinkan budhenya agar tetap tenang.


"Iya Aish, Budhe tunggu." Suara Bu Sekar mulai teratur.


"Assalamu'alaikum Budhe." Aishah menutup sambungan teleponnya dengan Bu Sekar.


"Wa'alaikum salam Aish. Hati-hati di jalan."


Aishah sangat hafal dengan sikap budhenya. Bu Sekar sangat rapuh jika tanpa Pak Joko. Bu Sekar tidak bisa melihat Pak Joko kenapa-kenapa, apalagi harus terbaring di rumah sakit. Aishah harus segera berada di samping budhenya itu untuk menguatkannya. Aishah kini merasa sangat kuatir dengan keadaan pakdhe dan budhenya.


"Kak, saat ini Pakdhe masuk rumah sakit. Penyakit jantungnya kumat. Aish harus segera ke sana sekarang juga. Budhe pasti sangat sedih saat ini." Aishah terlihat gelisah.


"Baiklah, sebaiknya Aish segera ke sana. Nanti aku akan menyusul setelah menyelesaikan urusan kantor. Aku tidak akan lama, akan aku pastikan aku segera tiba di sana. Naiklah penerbangan tercepat pagi ini." Radit ikut mengkhawatirkan keadaan pakdhe dan budhe Aishah yang sedang berada di rumah sakit. Radit juga sangat paham dengan keadaan Pak Joko dan Bu Sekar, karena dulu Radit sempat mengenal mereka cukup lama.


"Baik Kak, Aish berangkat dulu. Assalamu'alaikum." Aishah mencium punggung tangan Radit, kemudian Radit membalasnya dengan kecupan di kening Aishah.


"Wa'alaikum salam, hati-hati." Radit mengikuti langkah Aishah sampai di depan pintu rumah.


Kirana yang sedari tadi sudah merasa kesal, akhirnya angkat suara.


"Mas Radit, Aishah kenapa? Kenapa dengan Pakdhenya?" Kirana pura-pura tidak tahu.


"Memangnya kamu tidak mendengar Aishah berkata apa tadi?" Radit tidak terpengaruh dengan akting Kirana.

__ADS_1


"Aku tidak terlalu memahami perkataan Aishah tadi Mas. Apakah Pak Joko masuk rumah sakit?" Kirana pura-pura sok peduli.


"Benar." Radit segera pergi meninggalkan Kirana yang masih ingin bertanya banyak hal dengannya.


Aku heran, kenapa sikap Radit masih saja menyebalkan padaku. Padahal aku sudah berhasil mendapatkan simpatinya.


Kirana terus saja ngedumel dalam hati. Lalu Kirana mengikuti langkah Radit untuk berangkat kerja.


Sesampainya di kantor, Kirana bekerja dengan malas-malasan. Sepertinya hari ini dia tidak bersemangat untuk bekerja.


"Kenapa sih aku harus bekerja di bagian ini. Harusnya kan aku bisa masuk ke dalam kantor Aishah, bukannya di bagian produksi seperti ini. Mana gajinya tidak seberapa lagi." Kirana terus ngedumel sendiri.


"Sepertinya aku harus mengatur strategi agar aku bisa masuk ke dalam kantor Radit." Kirana mulai memikirkan rencana liciknya untuk mendapatkan jabatan yang diinginkannya.


__________________________________


Suasana di bandara cukup lengang pengunjung. Karena masih cukup pagi, jadi Aishah bisa mendapatkan penerbangan tercepat pagi ini. Aishah juga tidak perlu mengantri, karena masih sedikitnya penumpang yang datang. Akhirnya Aishah bisa sampai di rumah sakit tempat pakdhenya dirawat dengan cepat.


Aishah melihat Bu Sekar sedang menunggu Pak Joko di depan ruang UGD. Bu Sekar tampak terus mondar-mandir di depan ruang UGD dengan paniknya. Aishah segera berlari menghampiri budhenya.


"Budhe…" Aishah mendekat ke arah Bu Sekar.


"Aish, kamu sudah sampai Nduk? Kok cepat sekali? Budhe kira nanti siang kamu baru sampai." Bu Sekar tampak terkejut dengan kedatangan Aishah yang cepat itu.


"Iya Budhe, Aish tadi naik penerbangan pagi paling cepat, jadi Aish bisa sampai di sini sekarang." Aishah meraih tangan budhenya lalu mengecup punggung tangan budhenya itu.


"Bagaimana dengan Pakdhe?" Aishah mendongak ke arah pintu UGD tempat Pak Joko diperiksa.


Tidak lama kemudian, seorang dokter keluar dari ruang UGD bersama dengan seorang perawat di belakangnya. Aishah dan Bu Sekar segera menghampiri dokter tersebut.


"Bagaimana Dok keadaan suami saya?" Bu Sekar berlarian mendekati dokter yang baru saja merawat Pak Joko di dalam.


"Suami Ibu harus segera mendapatkan perawatan yang intensif. Sebaiknya dilakukan tindakan operasi sesegera mungkin kepada suami Ibu, karena jika dibiarkan terus seperti ini bisa membahayakan keadaan suami Ibu sendiri nantinya." Dokter itu berkata dengan lugasnya.


"Kira-kira apa tidak berisiko Dok jika diusia Pakdhe yang sudah lanjut ini jika dilakukan tindakan operasi?" Aishah mencoba menahan dirinya agar tidak terlalu terlihat gelisah


"Tentu tidak. Tindakan operasi justru akan membuat kinerja jantung lebih baik. Jadi jangan takut akan ada risiko yang berlebih kepada pasien sewaktu ataupun sesudah operasi." Dokter menjelaskan panjang lebar.


"Kalau begitu, kapan bisa dilakukan tindakan operasinya Dok?"Aishah tampak gelisah.


"Secepatnya, jika pihak keluarga sudah setuju dengan operasi ini. Kami akan mempersiapkan ruangan operasi sekarang juga."


"Baik Dok, kalau begitu lakukan apapun yang terbaik untuk Pakdhe saya Dok." Aishah menyerahkan semua keputusan kepada Dokter.


"Budhe setuju kan jika Pakdhe dioperasi saat ini juga?" Aishah mengernyitkan dahinya.


"Setuju Aish, jika itu demi kebaikan dan kesembuhan Pakdhemu, lakukanlah! Budhe hanya bisa mendoakan untuk kesembuhan Pakdhe.

__ADS_1


Dan saat itu pula dilakukan tindakan operasi jantung Pak Joko. Aishah dan Bu Sekar masih menunggu dengan hati gelisah. Tak lama kemudian, Radit datang seorang diri. Radit menghampiri Aishah yang tengah duduk di bangku rumah sakit.


"Bagaimana dengan Pakdhe?" Radit mendekati Aishah dan Bu Sekar.


"Pakdhe sedang menjalani tindakan operasi di dalam." Aishah menunjuk arah ruang operasi Pak Joko dengan kepalanya.


Kemudian Radit ikut duduk bersama dengan Aishah dan Bu Sekar di depan ruang operasi. Mereka bertiga terlihat sangat gelisah. Aishah terlihat beberapa kali berdiri lalu mondar-mandir menunggu hasil operasi pakdenya. Aishah benar-benar tidak sabar menunggu pakdhenya dioperasi. Hingga siang hari, Pak Joko belum juga selesai dengan operasinya. Radit memutuskan untuk keluar sebentar mencari makan siang.


Tidak lama kemudian, Radit datang membawa sekantong kresek yang berisi tiga bungkusan makanan.


"Pasti kalian belum makan. Mari kita makan dulu." Radit menjinjing kresek yang menjadi tempat nasi bungkusnya dibawa.


"Kalian makan duluan saja, Budhe nanti saja gampang." Bu Sekar mendekati Radit, lalu menepuk bahu Radit beberapa kali dengan lembut.


"Tidak bisa Budhe. Budhe harus makan saat ini bersama kami. Nanti malah Budhe yang sakit." Radit terus memaksa Bu Sekar untuk makan bersama. Setelah perdebatan cukup panjang, akhirnya mereka makan bersama. Bu Sekar tampak kelaparan karena dari tadi pagi belum makan apapun.


Selesai mereka makan, dokter yang mengoperasi Pak Joko keluar dari ruang operasi. Operasi yang dilakukan kepada Pak Joko berhasil. Lalu Aishah, Bu Sekar dan Radit masuk ke dalam ruang operasi untuk melihat keadaan Pak Joko. Tampak Pak Joko masih terbaring tidak sadarkan diri di atas tempat tidur rumah sakit.


Aishah dan Radit akhirnya memutuskan untuk bermalam di rumah sakit menemani Bu Sekar menunggui Pak Joko. Setelah selang tiga jam, Pak Joko baru sadarkan diri. Pagi harinya, Radit harus kembali bekerja, karena banyak sekali pekerjaan yang menumpuk menunggunya di kantor. Kemarin sebelum datang ke rumah sakit, Radit hanya menyerahkan pekerjaannya kepada sekretarisnya. Apalagi Aishah yang tidak masuk kerja, sehingga semua pekerjaan Aishah dihandle oleh Radit.


"Sayang, aku harus kembali bekerja." Radit berbicara kepada Aishah yang tengah duduk di sofa yang berada di dalam ruang perawatan Pak Joko.


"Tapi aku tidak bisa pulang sekarang Kak. Sepertinya aku akan menginap untuk beberapa hari lagi ke depan." Aishah melihat ke arah Pak Joko yang sedang disuapi makanan oleh Bu Sekar.


"Tidak apa-apa. Saat ini kamu memang harus selalu berada di samping Budhe, untuk menguatkannya." Radit membelai kepala Aishah dengan lembut.


"Terima kasih Kak. Aish ingin membantu Budhe merawat Pakdhe untuk sementara waktu saja." Aishah tampak sedih melihat keadaan pakdhenya.


Akhirnya Radit pulang seorang diri ke rumah, untuk urusan bisnis yang tidak bisa ditinggalkannya. Tentu saja ini menjadi waktu yang sangat ditunggu-tunggu oleh Kirana. Kirana sangat bahagia ketika melihat Radit pulang seorang diri.


"Bagaimana dengan keadaan pakdhe Aishah Mas Radit?" Kirana pura-pura sok peduli dengan keadaan Pak Joko ketika melihat Radit pulang.


"Pakdhe baru dioperasi, jadi keadaannya masih belum stabil." Radit menjawab pertanyaan Kirana dengan terus berjalan menuju kamarnya tanpa menoleh ke arah Kirana sedikit pun.


"Aishah di mana Mas Radit?" Kirana tampak celingak-celinguk mencari Aishah yang sedari tadi tidak dilihatnya mengikuti langkah Radit.


"Aish harus membantu merawat Pakdhe di sana, jadi untuk sementara waktu Aish akan menginap di sana beberapa hari." Radit melenggang menaiki anak tangga.


Wah kesempatan yang sangat bagus untukku. Hahaha lihat saja kau Radit, kali ini kamu berada dalam jeratanku. Dan kupastikan kamu akan ketagihan denganku.


Kirana benar-benar senang, bagaikan menemukan oase di padang pasir yang gersang. Kirana berjingkrak-jingkrak saking bahagianya. Sebentar lagi dia akan melancarkan rencana liciknya.


Siang telah berganti malam, malam ini Kirana sudah menyusun strategi untuk kembali menggoda Radit. Karena di rumah masih ada Bibi, Kirana memutuskan untuk menggoda Radit saat Radit sedang berada di kamar saja. Kirana tidak mau sampai Bibi memergokinya sedang bersama dengan Radit.


Hari ini Radit pulang sampai larut, Kirana sudah berganti dengan baju tidur seksinya. Dandanannya sudah dia buat secantik mungkin.


"Kali ini Radit pasti klepek-klepek denganku." Kirana mematut di depan cermin sambil terus mengagumi tubuhnya yang terlihat seksi dengan pakaian yang dikenakannya.

__ADS_1


Kirana terus menunggu Radit di dalam kamarnya. Malam semakin larut, namun Radit tak juga menunjukkan batang hidungnya. Suara mobil Radit juga tidak terdengar dari tadi.


"Apakah Radit kerja lembur sampai tidak pulang ke rumah ya malam ini." Kirana terus mondar-mandir di dalam kamarnya. Kirana menunggu Radit hingga dirinya kini merasa sangat mengantuk. Waktu di ponselnya sudah menunjukkan pukul satu malam. Namun, Radit tak juga pulang ke rumah. Akhirnya karena terlalu lama menunggu, tanpa sadar Kirana sudah tertidur dengan lelapnya. Matanya yang sudah terasa berat sedari tadi, sudah tidak dapat Kirana tahan lagi.


__ADS_2