
Satu minggu telah berlalu. Hari ini tibalah hari yang sangat dinanti-nantikan oleh Aryo. Yaitu hari pertunangannya. Aryo mematut di depan cermin, melihat bayangan dirinya di dalam sana. Aryo tampak gagah dengan setelan jas hitam yang menempel di tubuhnya itu. Tubuh Aryo memang atletis, itu didapatkannya dari hasilnya selama ini berolahraga dan suka traveling serta mendaki gunung.
"Wah tampan sekali adik Kakak yang satu ini." Aishah mengacak-acak rambut Aryo dengan usilnya. Membuat Aryo mencak-mencak.
"Kakak, jangan usil dong." Aryo kembali menyisir rambutnya yang sudah mengkilap itu dengan sangat rapi.
"Lalu bagaimana dengan adik Kakak yang satu ini?" Aishah merangkul bahu Arya yang sedang duduk di tempat tidur.
"Bagaimana apanya Kak?" Arya berlagak sok tidak tahu.
"Kapan kamu akan membawa seorang gadis cantik ke hadapan kedua orang tua dan saudara-saudaramu?" Aishah berbisik di telinga Arya dengan suara yang keras.
"Itu gampang Kak, Arya akan menikah setelah Kakak Arya yang paling cantik ini menikah." Arya mencubit kedua pipi Aishah dengan usil, membuat Aishah berteriak kesakitan.
Setelah semua persiapan dirasa sudah siap. Mereka berangkat menuju rumah calon tunangan Aryo bersama-sama. Aryo satu mobil dengan Aishah, Arya dan kedua orang tuanya. Sementara rombongan yang lain mengikuti dari belakang. Arya yang mengemudi, karena hanya Arya yang sudah tahu alamat rumah calon tunangan Aryo selain Aryo sendiri.
Aishah merasa tidak asing dengan jalan yang mereka lewati. Sepertinya Aishah sering melewati jalanan yang mereka lewati saat ini. Ya ini adalah jalan menuju rumah Kakek Aldi. Walaupun sudah lama, namun Aishah masih sangat hafal dengan jalannya.
Ini kan jalan menuju rumah Kakek Aldi. Apakah rumah mereka berdekatan? Jika memang melewati rumah kakek Aldi ataupun berdekatan, nanti aku akan singgah sebentar untuk bersilaturahmi dengan Kakek dan Nenek.
Kemudian mobil Arya memasuki sebuah area perumahan. Aishah tambah yakin bahwa rumah calon tunangan Aryo berdekatan dengan rumah Kakek Aldi. Aishah merasa senang, karena sebentar lagi dia akan menemui Kakek dan Nenek Aldi. Aishah sudah sangat merindukan mereka.
Mobil yang dikemudikan Arya mulai memasuki sebuah halaman rumah yang luas. Di sana sudah ditata dengan apik bunga-bunga yang berwarna-warni. Aishah semakin kaget saja.
Ini kan halaman rumah Kakek Aldi. Bagaimana bisa Arya berhenti di sini. Tapi kenapa sepertinya di rumah ini sedang ada acara. Lalu di mana rumah calon tunangan Aryo.
Aishah masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Sehingga ketika semua orang sudah keluar dari mobil, Aishah masih duduk dengan manis di dalam mobil.
"Kak Aish ngapain di situ terus? Ayo kita turun." Arya membuyarkan lamunan Aishah.
"Eh memangnya kita sudah sampai?" Aishah mengernyitkan dahinya.
"Sudah Kak, ayo cepat turun!" Arya menarik tangan Aishah agar segera keluar dari dalam mobilnya.
"Jadi ini rumah calon tunangan Aryo?" Aishah merasa sangat kaget dengan apa yang baru dilihatnya.
"Iya lah Kak, kita kan dari tadi berhenti di depan rumah ini. Dan rumah ini juga sudah dihias dengan hiasan untuk mengadakan sebuah pesta kan." Arya meyakinkan Aishah yang masih tidak percaya.
"Memangnya kenapa Kak?" Arya menjadi penasaran kenapa Kakaknya tiba-tiba bertingkah aneh.
Apakah rumah ini sudah dijual? Jika tidak, lalu dengan siapa Aryo bertunangan. Karena setahuku, hanya ada Kakek dan Nenek yang tinggal di sini.
"Tidak apa-apa. Tapi setahu Kakak, ini adalah rumah kakek teman Kakak. Dulu Kakak sering datang ke mari untuk bermain." Aishah menjelaskan panjang lebar.
Para rombongan mulai memasuki pintu masuk. Para tuan rumah menyambut kedatangan kami dengan hangat. Penuh jamuan makanan dan minuman yang tersedia di sana. Aishah mulai memasuki pintu masuk dan menyalami keluarga pihak perempuan yang menyambut kedatangan mereka. Aishah merasa asing dengan muka-muka di depannya itu. Jadi Aishah menyimpulkan bahwa rumah ini sudah tidak ditinggali oleh Kakek dan Nenek Aldi lagi.
Aishah mulai masuk ke dalam rumah. Suasana rumah itu masih sama dengan yang dulu. Bahkan perabot rumahnya pun masih sama persis dengan yang dulu. Ketika berjalan untuk mengambil minuman, Aishah melihat seorang kakek yang mirip dengan Kakek Aldi. Aishah menghampiri kakek itu untuk melihat lebih dekat. Dan ternyata benar kakek itu adalah Kakek Aldi.
"Kakek!" Pekik Aishah. Aishah sangat senang bisa bertemu dengan Kakek Aldi di sini. Kakek Aldi yang sudah tua itu memperhatikan Aishah dengan detail. Kakek terdiam, sepertinya Kakek sedang berusaha mengingat-ingat siapa gerangan wanita yang menyapanya itu.
"Aishah?" Kakek Aldi berhasil menemukan satu nama yang cocok untuk wanita di depannya.
"Benar Kek, bagaimana keadaan Kakek saat ini?" Aishah sangat senang Kakek Aldi masih bisa mengingat dirinya dengan baik.
__ADS_1
"Alhamdulillah Kakek baik. Bagaimana dengan Aish?" Kakek tersenyum bahagia. Tampak keriput yang sudah menyelimuti seluruh wajah Kakek.
"Lalu bagaimana keadaan Nenek?" Aishah semakin penasaran saja.
"Itu Nenek sedang mengobrol dengan temannya. Sepertinya mereka sangat asyik. Kalau Nenek sampai mengetahui Aish juga berada di sini, pasti Nenek akan sangat senang." Kakek menunjuk ke arah Nenek yang sedang asyik mengobrol dengan teman sebayanya.
Lalu Kakek mengajak Aishah untuk menghampiri Nenek yang tengah asyik mengobrol dengan temannya.
"Coba lihat siapa yang sedang bersamaku saat ini?" Kakek menunjukkan Aishah kepada Nenek. Ternyata ingatan Nenek lebih tajam daripada Kakek. Dengan cepat Nenek bisa mengenali Aishah.
"Aishah!" Spontanitas Nenek langsung memeluk Aishah dengan kencang, saking senangnya.
"Kamu datang ke sini juga. Aldi pasti sangat senang jika tahu kamu juga datang ke mari." Nenek tersenyum senang melihat Aishah di depannya.
Aldi? Jadi Aldi masih hidup. Bagaimana sekarang dia? Lalu di mana sekarang dia berada.
Pikiran Aishah dipenuhi dengan pertanyaan tentang Aldi.
"Memangnya siapa yang bertunangan Nek? Kenapa berada di rumah Nenek?" Aishah masih penasaran dengan hal itu.
"Alya. Adiknya Aldi yang dulu tinggal di luar negeri. Dia sekarang pindah tinggal di sini bersama semua anggota keluarga, termasuk dengan Aldi." Nenek menjelaskan dengan gamblang.
Apa! Jadi Aryo bertunangan dengan Alya, adik Aldi. Aryo bilang kemarin namanya Alyasa. Ah iya, Alya. Kenapa aku tidak menyadarinya sejak kemarin saat Aryo berbicara denganku sih.
Aishah baru menyadarinya. Jika ternyata Aryo akan bertunangan dengan Alya, adiknya Aldi. Jadi sebentar lagi Aishah dan Aldi akan menjadi saudara.
"Jadi Aldi sudah sembuh Nek?" Aishah bertanya dengan hati-hati. Kini perasaannya bercampur aduk antara senang, rindu dan bingung. Aishah bingung apa yang akan dikatakannya nanti ketika bertemu dengan Aldi untuk yang pertama kalinya. Karena Aishah masih menyimpan perasaan yang spesial untuk Aldi.
"Ya, sekarang Aldi sudah sembuh. Bahkan dia sekarang sudah berhasil dengan bisnisnya. Nenek sangat senang melihat Aldi bisa sembuh kembali. Dulu, Nenek sudah putus asa. Namun, Tuhan berkata lain. Aldi berhasil sembuh dan kembali seperti sedia kala." Nenek tampak sangat bahagia dengan kesembuhan Aldi.
"Itu Aldi." Nenek menunjuk ke arah Aldi. Aldi! Ke marilah!" Nenek memanggil Aldi yang tengah mengobrol dengan para tamu yang datang.
Aldi menengok ke arah Nenek dan Aishah. Tiba-tiba hati Aishah berdegup kencang. Aishah hampir tidak bisa mengendalikan perasaan yang tiba-tiba muncul tanpa diminta itu.
Aku tidak boleh seperti ini. Sebentar lagi Aryo dan Alya akan bertunangan. Jadi aku harus membuang perasaanku kepada Aldi. Tapi jika Alya saja sudah bertunangan, apakah Aldi juga sudah menikah? Aku jadi semakin penasaran.
"Oh ya Aish, Nenek dengar kamu sudah menikah ya? Di mana suamimu saat ini? Apakah kamu datang bersamanya atau seorang diri?" Nenek celingak-celinguk mencari suami Aishah.
"Aishah datang bersama rombongan Nek. Kebetulan Aryo adalah adik kandung Aish." Aishah tersenyum kepada Nenek.
"Jadi Aryo itu adikmu ya Aish. Pantas saja kalian sedikit mirip. Aryo juga sangat baik seperti kamu. Jadi sebentar lagi hubungan kita akan semakin dekat Aish, kita akan menjadi saudara." Nenek menepuk bahu Aishah beberapa kali.
Entah perasaan apa yang menyelimuti Aishah saat ini. Aishah serasa kurang suka dengan sebutan saudara yang diberikan oleh Nenek kepadanya dengan Aldi. Aishah masih menyimpan rasa suka dengan Aldi, bahkan Aishah sempat memiliki harapan untuk dapat bersatu dengan Aldi. Tapi Aishah segera membuang jauh-jauh keinginan itu. Karena tentunya jika nanti Aishah mendapati Radit sudah memiliki istri, Aishah pasti akan terluka. Sementara lukanya yang lama saja belum sepenuhnya sembuh.
Dari kejauhan, tampak Aldi mulai berjalan mendekat. Dia sekarang tampak lebih dewasa. Aldi terlihat lebih gagah dari sebelumnya.
"Iya Nek," Aldi menghampiri Nenek. Betapa terkejutnya dia dengan seseorang yang sedang dilihat depan matanya. Aldi tidak pernah pangling dengan Aishah.
"Aish?" Aldi berkata dengan sedikit keraguan.
"Iya ini aku Di, Aishah." Aishah tersenyum kepada Aldi
"Hey apa kabarmu saat ini?" Aldi membalas senyuman Aishah jauh lebih manis.
__ADS_1
"Alhamdulillah baik. Jadi kamu sudah sembuh kembali? Aku sangat senang melihatnya." Aishah kembali tersenyum.
"Ya seperti yang sedang kamu lihat saat ini. Lalu bagaimana dengan keadaan Radit saat ini? Di mana dia sekarang, kenapa aku tidak melihatnya?" Aldi mencari-cari sosok Radit.
"Dia dalam keadaan baik-baik saja saat ini… " belum sempat Aishah melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba seorang wanita cantik datang menghampiri Aishah dan Aldi.
"Hey sayang, kamu di sini?" Wanita itu memegang tangan Radit, seolah dia takut jika Aldi pergi.
"Hey Aishah? Kamu juga datang ke mari?" Wanita itu terkejut melihat Aishah di depannya.
"Iya, Dokter Viola juga ke mari?" Aishah baru menyadari ternyata penglihatannya kemarin tidak salah. Lelaki yang bersama dengan Dokter Viola waktu itu di rumah sakit benar-benar Aldi.
"Bagaimana kasusmu dengan Radit saat ini? Apakah sudah selesai?" Dokter Viola menyelidik.
"Memangnya ada apa dengan Aishah dan Radit?" Aldi tampak sangat penasaran.
"Jadi kalian sudah saling mengenal?" Dokter Viola mengernyitkan dahinya. Kemudian melihat ke arah Aldi dan Aishah secara bergantian.
"Dulu kami teman SMA dan juga teman kantor." Aishah menjawab pertanyaan Dokter Viola.
"Kenapa denganmu dan Radit Aish? Ada kasus apa memangnya?" Aldi masih mencari jawaban atas pertanyaannya yang tidak kunjung mendapat jawaban.
"Aku dan Kak Radit sudah resmi bercerai." Aishah tersenyum terpaksa. Senyumnya dibuat-buat sehingga terlihat sangat kaku.
"Apa! Kalian bercerai? Kenapa bisa sampai bercerai?" Aldi merasa sangat terkejut.
"Aku menangkap basah Kak Radit sedang berselingkuh dengan temanku sendiri." Aishah tersenyum getir, dia kembali mengingat kejadian yang sempat membuatnya sangat terluka itu.
"Apa! Berani-beraninya dia menyakitimu! Radit benar-benar kurang ajar!" Aldi meremas tangannya sendiri.
"Aldi, sampai segitunya kamu peduli dengan Aishah. Pasti kalian dulu adalah teman dekat ya?" Dokter Viola menduga-duga dari sikap Aldi yang sangat peduli dengan Aishah.
"Eh iya, kami dulu teman dekat. Tapi itu dulu ketika kami masih duduk di bangku SMA dan ketika kita bekerja. Sudah sangat lama aku tidak berjumpa dengan Aldi. Aldi yang sekarang ternyata tidak banyak berubah ya?" Aishah tersenyum kepada Dokter Viola.
"Oh iya di mana Dokter Dariel? Apakah dia juga datang ke mari?" Aishah tampak mencari-cari keberadaan Dokter Dariel.
"Tidak Aish, dia tidak datang. Ini kan hari pertunangan calon adik iparku. Iya kan sayang? Jadi tentu tidak ada hubungannya dengan Dariel." Dokter Viola menggenggam erat tangan Aldi. Dokter Viola tampak bahagia berada di samping Aldi. Mereka juga terlihat sangat serasi.
Tiba-tiba perasaan Aishah menjadi sakit. Sebenarnya Aishah tidak suka dengan perasaan ini. Tapi Aishah tidak bisa menolaknya. Hatinya terus terbakar rasa cemburu, tanpa bisa Aishah hentikan. Aishah tidak mau merusak kebahagiaan Aldi dan Dokter Viola. Sehingga Aishah memutuskan untuk menghampiri Aryo yang sedang bersiap-siap untuk melakukan acara tukar cincin.
"Aku akan menemui Aryo dulu." Aishah hendak bergegas untuk pergi dari hadapan Aldi dan Dokter Viola.
"Bukankah Aryo itu tunangan Alya ya? Memangnya apa hubunganmu dengan Aryo?" Dokter Viola tampak mengernyitkan dahinya.
"Aryo adalah adik kandungku. Jadi sebentar lagi Alya akan menjadi adikku juga." Aishah tersenyum kepada Aldi dan Dokter Viola, kemudian Aishah pergi meninggalkan mereka berdua.
Kenapa aku harus cemburu dengan kedekatan Aldi dan Dokter Viola yang jelas-jelas mereka akan menjadi suami istri. Aku tidak boleh terus-menerus seperti ini. Aku harus sadar diri.
Aishah terus bergumam dalam hati, lalu Aishah berjalan menghampiri Aryo dan Alya.
"Hay adik ipar! Perkenalkan aku Aishah, yang sebentar lagi akan menjadi kakakmu." Aishah mengulurkan tangannya kepada Alya. Alya pun membalas uluran tangan Aishah dengan sangat antusias.
"Hay Kakak." Alya tersenyum manis.
__ADS_1
"Manisnya adik ipar Kakak ini!" Aishah tersenyum melihat Alya yang antusias dengan ajakan perkenalannya.