Menemukan Cinta Sejati Aishah

Menemukan Cinta Sejati Aishah
Bertemu dengan Radit di Taman


__ADS_3

Pagi itu matahari mulai menampakkan sinar terangnya. Memberikan secercah harapan bagi manusia untuk segera bangkit dari tempat persembunyiannya dari mencekamnya gelap malam. Aishah mulai keluar dari rumah membawa sepeda motornya. Menyalakan sepeda motor lalu mengendarainya menuju kantor. Kali ini ia akan berusaha merealisasikan rencananya yang sempat tertunda karena pekerjaannya tak kunjung selesai. Yakni untuk meminta cuti.


Aishah melangkah menuju ruangan Pak Bima. Aishah sengaja menghadap Pak Bima saat pagi hari karena pikirnya suasana hati bossnya itu masih sedang dalam keadaan fresh.


"Permisi Pak." Aishah mengetuk pintu ruangan Pak Bima.


"Ya silahkan masuk!" Pak Bima mempersilahkan Aishah memasuki ruang kerjanya. Lalu mempersilahkan Aishah untuk duduk di seberang meja tempat ia duduk.


"Ada apa?" Pak Bima bertanya pada Aishah, namun tetap fokus memandang laptop di depannya.


"Pak bagaimana kelanjutan tentang pengajuan cuti saya kemarin?"


"Apakah proyekmu sudah selesai?" Pak Bima mendongak.


Aishah hanya menunduk sambil menggigiti bibir bawahnya.


"Selesaikan dulu proyekmu, Aldi akan membantumu agar pekerjaanmu cepat selesai."


"Tapi bukankah kita masih punya banyak waktu Pak? Bahkan kita diberi waktu 2 bulan untuk mengerjakannya. Dan ini baru berjalan tiga minggu." Aishah mencoba memberi penjelasan agar permintaan cutinya segera dikabulkan.


"Bukankah lebih baik jika kamu berlibur tanpa beban pekerjaan yang belum selesai kamu kerjakan?" Pak Bima masih fokus dengan pekerjaannya.


Pak Bima ada benarnya juga, jadi aku tidak harus memikirkan pekerjaan nantinya saat aku bersama orang tuaku. Tentunya aku bisa benar-benar menyegarkan hati dan pikiranku.


"Dan tentunya jika kita bisa menyelesaikan lebih awal dari target, itu menjadi point plus bagi perusahaan kita. Kamu jangan kuatir, nanti kamu akan mendapat bonus yang lebih jika kamu berhasil menyelesaikan lebih awal. Tapi tentunya dengan hasil yang maksimal." Pak Bima menghentikan pekerjaannya, lalu menatap Aishah yang duduk di depannya.


"Baik Pak, saya akan berusaha semaksimal mungkin." Aishah berkata dengan mantap.


"Bagus, lebih cepat kamu menyelesaikan proyek ini, lebih cepat kamu mendapatkan cuti."


"Baik Pak Bima kalau begitu saya ucapkan terima kasih. Saya permisi dulu." Aishah berdiri dari tempat duduknya, menganggukan kepalanya di depan Pak Bima lalu berjalan menuju pintu keluar.


______________________________________________


Aishah berjalan gontai menuju taman tempat ia janjian dengan Radit. Cuaca sore itu sangat cerah, padahal beberapa jam lagi matahari akan kembali ke peraduannya. Meninggalkan riuhnya suara manusia yang sibuk melakukan aktivitas di siang hari.

__ADS_1


 Aishah duduk di sebuah bangku taman yang menghadap ke sebuah pancuran besar. Pancuran tersebut sebagai icon taman tersebut, karena letaknya yang berada di tengah taman. Di sekelilingnya dipenuhi dengan bunga-bunga yang berwarna-warni menambah segarnya pemandangan.


Taman tersebut terletak di tengah-tengah kota, sehingga biasa menjadi tempat liburan keluarga. Sangat cocok sebagai tempat melepaskan penat bagi para manusia yang merasa lelah akan pekerjaannya setiap hari. Sore itu suasana taman agak sepi. Hanya suara anak-anak yang bermain di wahana permainan anak saja yang membuat gaduh. Mereka ditemani orang tua mereka yang sibuk berteriak mengalahkan kegaduhan suara anaknya untuk membuat anaknya tetap bergerak dengan aman.


Pandangan Aishah menyapu seluruh isi taman, mengamati apakah orang yang ditunggunya sudah datang atau belum. Sudah setengah jam ia duduk di bangku taman tersebut. Ia terus saja memandangi waktu yang tertera di layar ponselnya.


Kak Radit kok belum datang ya, apakah dia tidak bisa datang? Tapi kenapa tidak memberiku kabar.


Dari belakang terdengar suara derap langkah kaki cepat yang bergerak mendekati tempat duduk Aishah. Aishah menoleh ke belakang dan mendapati Radit tengah berlarian mendekatinya.


"Maaf membuatmu harus menunggu." Radit menghentikan langkahnya tepat di samping tempat duduk Aishah. Sambil mengatur nafasnya yang masih ngos-ngosan.


"Tidak apa-apa Kak, Aish juga belum lama kok." Aishah mendongak melihat Radit.


Radit segera duduk di samping Aishah, masih satu bangku yang sama namun Radit duduk agak menjauh ke tepi bangku.


"Oh ya ada apa? Tumben Aish ngajak ketemuan." Radit memulai percakapan.


Aishah mengambil nafas dalam beberapa kali, lalu menyampaikan maksud pertemuannya dengan Radit.


Radit agak terkejut dengan pernyataan Aishah tadi, Radit berharap semoga jawaban yang keluar dari mulut Aishah sesuai dengan apa yang diharapkannya.


"Bagaimana Aish, apakah Aish menyetujuinya?" Radit mencoba menebak pernyataan apa yang akan dilontarkan Aishah kepadanya. Radit mulai berharap-harap cemas.


"Iya kak, Aish setuju menjadi istri Kak Radit." Aishah menyunggingkan senyum manisnya.


Nampak sekali kebahagiaan yang muncul di wajah Radit. Radit mengepalkan kedua tangannya lalu menarik ke belakang bersamaan.


"Yess.." Katanya.


Radit masih dengan senyum gembiranya. Bahkan Radit tidak mengira akan mendapat jawaban persetujuan dari Aishah dengan begitu cepat. Ini adalah hari ke lima belas setelah kedatangan Radit dan Ayahnya untuk meminang Aishah. Jadi genaplah dua minggu Radit menunggu jawaban Aishah dengan sabarnya.


"Lalu kapan aku bisa datang ke rumahmu untuk melamarmu?" Radit bertanya dengan sangat antusias.


"Kalau masalah itu, Kak Radit bisa bicarakan semuanya dengan Pakdhe dan Budhe. Aish juga akan pulang ke kampung halaman dulu untuk memberi tahu Bapak dan Ibu tentang ini semua."

__ADS_1


"Kapan?" Radit mengernyitkan dahinya. Rupanya dia sangat penasaran. Memang selama ini Radit belum pernah bertemu langsung dengan kedua orang tua Aishah.


"Aish juga belum tahu. Aish masih menunggu persetujuan Pak Bima untuk memberikan Aish cuti." Aishah mengalihkan pandang ke arah pancuran di depannya.


"Apakah aku boleh mengantarmu pulang kampung?" Radit menawarkan diri.


"Tidak perlu Kak, rencananya Aish akan kembali kesini dengan kedua orang tua dan adik-adiku nanti. Mereka akan menginap di tempat Pakdhe untuk beberapa hari." Aishah kembali menatap Radit.


Hari semakin sore, di ufuk barat langit mulai terlihat warna kuning keemasan. Sebentar lagi matahari akan terbenam. Setelah beberapa lama berbincang-bincang, Aishah dan Radit akhirnya memutuskan untuk pulang.


______________________________________________


Radit segera masuk ke kamar hotelnya, ia merasa sangat senang hari ini. Radit melepas sepatu dan dasinya. Ia masuk ke kamar mandi lalu mandi untuk menyegarkan badannya. Tak beberapa lama, Radit sudah keluar dari kamar mandi dengan handuk yang ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya.


Radit menjatuhkan dirinya ke sofa. Ia mengambil gagang telepon yang berada di atas meja samping tempat ia duduk lalu menghubungi pelayan hotel untuk mengantarkan makan malam dan kopi untuknya.


Ternyata tidak sesulit yang kubayangkan. Membuat Aishah jatuh hati denganku ternyata sangat mudah. Ibu lihat, aku sudah berhasil membuat mimpi Ibu jadi nyata. Tidak ada yang bisa membuatku bahagia kecuali kebahagiaan Ibu. Tinggal meresmikannya, dan Aishah akan jatuh ke pelukanku.


Radit terus bergumam dalam hati sambil memandangi foto Ibunya yang terus ia pegangi. Bibirnya terus menyunggingkan senyum kebahagiaan.


"Untung aku tidak meladeni perempuan tidak tahu diri itu semalam. Kalau sampai itu terjadi bisa-bisa dia terus menghantui hidupku dan membuat hidupku tidak tenang."


Radit berbicara sendiri. Radit mengambil remot di dekatnya lalu menyalakan televisi. Terdengar suara pintu diketuk. Itu adalah pelayan hotel mengantarkan makanan yang dipesannya tadi.


______________________________________________


Di kamar Aishah nampak sedang sibuk dengan laptop di depannya. Ia duduk di tempat tidur dengan jari-jari tangan yang tidak berhenti mengetik tuts demi tuts. Ia sengaja membawa pulang pekerjaannya. Ini akan membantu menyelesaikan proyeknya dengan cepat pikirnya.


Apakah ini memang keputusan yang tepat. Apakah aku benar-benar sudah siap menikah dengan Kak Radit. Sementara sekarang perasaan cintaku belum bisa berpaling dari Aldi. Semoga seiring berjalannya waktu, perasaanku bisa berubah.


Aishah terus bergumam dalam hati, meyakinkan dirinya akan keputusan yang telah diambilnya. 


"Ini sudah larut, sebaiknya aku segera tidur. Akhir-akhir ini aku harus tidur larut malam terus, itu membuatku merasa mengantuk jika sedang bekerja di kantor."


Aishah segera menyimpan laptopnya. Ia membaringkan badannya lalu menarik selimut hingga menutupi seluruh badannya. Hanya kepalanya saja yang terlihat. Tak beberapa lama suara nafasnya mulai terdengar teratur. Aishah pun tertidur dan masuk ke alam mimpinya.

__ADS_1


__ADS_2