
Aishah pergi dari rumah besarnya dengan koper besar yang terus diseretnya menuju mobil. Setelah sampai di halaman, Aishah hendak membuka pintu mobilnya. Aishah menatap rumah yang telah dibangunnya itu dengan nanar. Lalu Aishah tersenyum dan segera pergi dari halaman rumah tersebut. Di belakangnya diikuti oleh Dokter Dariel yang juga segera meninggalkan rumah itu.
Kini tinggallah Radit dan Kirana di rumah itu. Radit menatap Kirana dengan tatapan penuh kebencian.
"Sekarang kamu sudah puas telah menghancurkan rumah tanggaku dengan Aishah?" Radit terlihat sangat geram. Radit memegang dagu Kirana dengan kasar lalu menatap tajam matanya.
"Kak, jangan kasar denganku. Aku sekarang sedang mengandung anakmu." Kirana memohon kepada Radit. Lalu Radit meninggalkan Kirana seorang diri. Radit menaiki anak tangga untuk masuk ke dalam kamarnya. Radit menutup pintu dengan sangat keras.
"Hahaha akhirnya, sekarang aku bisa menguasai semua harta ini. Senangnya, sekarang aku sudah menjadi orang kaya." Kirana duduk di sofa sambil senyum-senyum sendiri.
"Aaarrghhh…… " Radit berteriak di dalam kamarnya. Membuat Kirana yang sedang berada di bawah terkejut dan segera naik ke kamar Radit. Pintu kamar Radit tertutup rapat. Pintunya juga dikunci. Kirana berusaha membukanya namun, sia-sia.
"Mas Radit kenapa? Tolong buka pintunya Mas." Kirana mengetuk pintu kamar Radit berulang kali.
"Diam! Pergi kamu dari kamarku!" Radit berteriak dari dalam kamar.
__________________________________
Aishah mengemudi mobilnya dengan pelan. Air matanya terus menetes tanpa sanggup dia bendung. Aishah benar-benar hancur saat ini. Rumah tangga yang selama ini dipertahankannya dengan sekuat tenaga harus hancur seperti ini. Dikhianati memang sangat menyakitkan, apalagi dikhianati oleh sahabatnya sendiri. Orang yang selama ini ditolongnya malah menusuknya dari belakang.
Aishah berencana akan pulang ke rumah pakdhenya yang berada di luar kota. Aishah tidak tahu lagi harus pergi ke mana. Karena tujuan Aishah kini hanya ke rumah pakdhenya itu. Aishah benar-benar merasa kalut. Dari belakang mobilnya, Dokter Dariel terus mengikuti mobil Aishah dari belakang. Dokter Dariel sangat mengkhawatirkan keadaan Aishah saat ini.
Dokter Dariel mensejajari laju mobil Aishah lalu menyuruhnya untuk menepi. Aishah yang mengetahui isyarat dari Dokter Dariel segera menepikan mobilnya di tepi jalan. Kemudian Dokter Dariel pun berhenti tepat di depan mobil Aishah. Dokter Dariel keluar dari mobilnya lalu menghampiri Aishah.
"Aish kamu mau ke mana?" Dokter Dariel mengetuk kaca mobil Aishah, karena dia sangat mengkhawatirkan keadaan Aishah.
"Aku akan pulang." Aishah membuka kaca mobilnya. Lalu menatap Dokter Dariel yang berada di luar.
"Pulang ke mana?" Dokter Dariel merasa penasaran. Dia memang belum tahu asal usul Aishah. Karena selama ini Aishah tidak pernah bercerita apapun tentang keluarganya kepada Dokter Dariel.
Lalu Aishah memberitahu alamat rumah pakdhenya yang berada di luar kota.
"Jadi kamu dari luar kota? Aku sekarang juga bertugas di rumah sakit yang sama dengan alamat rumah pakdhemu ini." Aishah hanya menganggukkan kepalanya. Radit tidak menyangka jika dia bertugas di rumah sakit yang dekat dengan tempat tinggal Aishah yang lama.
"Kalau begitu, kita ke sana bersama dengan satu mobil saja. Karena aku tidak yakin kamu bisa mengemudi sendiri sampai di sana. Karena luka di keningmu itu lumayan parah." Dokter Dariel terlihat cemas.
"Bagaimana kalau kita menggunakan mobilku saja." Aishah memberi saran. Aishah sendiri sampai lupa jika di keningnya masih terdapat luka. Karena rasanya luka itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rasa sakit di dalam hatinya.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan mengembalikan mobilku dulu. Kamu ikuti aku dari belakang ya." Dokter Dariel menuju mobilnya lalu melajukannya sampai di rumahnya. Dokter Dariel memarkirkan mobilnya lalu menghampiri mobil Aishah.
"Masuk dulu yuk ke dalam. Aku akan mengemasi barang-barangku terlebih dahulu." Dokter Dariel mengajak Aishah untuk menunggunya di dalam rumah.
Rumah Dokter Dariel sangat luas, rumah itu memiliki dua lantai. Dia hanya tinggal sendiri di sini. Karena kedua orang tuanya tinggal di rumah yang berbeda tidak jauh dari rumah Dokter Dariel. Tidak butuh waktu lama untuk Dokter Dariel mengemasi barang-barangnya. Karena memang barang yang dibawanya hanya sedikit.
Setelah selesai mengemasi barangnya, Dokter Dariel segera mengajak Aishah untuk berangkat. Butuh waktu kurang lebih empat jam untuk sampai di rumah Pak Joko. Selama perjalanan mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Kenapa Dokter pindah tugas? Bukankah Dokter belum lama pindah ke sini?" Aishah memecah keheningan di antara mereka.
"Karena Viola. Aku ingin tahu bagaimana pria yang telah membuat Viola jatuh hati padanya. Aku ingin tahu, apakah dia benar-benar bisa menjaga Viola dengan baik atau tidak." Dokter Dariel menengok ke arah Aishah sebentar lalu kembali fokus dengan kemudinya.
Dokter Viola benar-benar beruntung. Karena Dokter Dariel sangat menyayanginya. Tapi kenapa Dokter Viola tidak memilih Dokter Dariel saja.
Aishah bergumam dalam hati, Aishah terus memandang ke arah Dokter Dariel yang fokus dengan kemudinya.
Setelah empat jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah pakdhe Aishah. Tampak Bu Sekar keluar dari dalam rumah untuk melihat siapa yang malam-malam datang ke rumah. Aishah keluar dari mobil untuk membantu membukakan pintu gerbang. Lalu Aishah segera menghampiri Bu Sekar.
"Assalamu'alaikum Budhe." Aishah mengecup punggung tangan budhenya.
"Eh Aish, tumben ke sini tidak memberi tahu dulu kepada Budhe. Mana suami kamu? Aish datang bersama Radit kan?" Bu Sekar celingak-celinguk melihat ke arah mobil mencari keberadaan Radit. Aishah tidak menjawab, dia malah tertunduk sedih.
"Ayo Dok, masuk dulu." Aishah mengajak Dokter Dariel untuk masuk ke dalam rumah. Dokter Dariel pun mengikuti langkah Aishah dari belakang.
"Perkenalkan ini Dokter Dariel Budhe." Aishah menunjuk ke arah Dokter Dariel.
"Dariel Bu." Dokter Dariel mencium punggung tangan Bu Sekar.
"Ayo masuk dulu, pasti kalian sangat lelah. Kebetulan, Budhe sudah masak. Sebaiknya kita makan malam dulu." Bu Sekar mengajak Aishah dan Dokter Dariel masuk ke dalam rumah.
Mereka pun makan malam bersama. Di sana juga ada Pak Joko. Keadaan Pak Joko kini sudah membaik. Walaupun belum sepenuhnya pulih.
"Aish, sepertinya sikap kamu tidak seperti biasanya to Nduk? Apa ada masalah?" Bu Sekar membaca sikap Aishah yang tidak seperti biasanya. Bu Sekar memang salah satu orang yang paling mengerti dengan perasaan Aishah.
"Aish, sedang ada masalah dengan Radit Budhe. Aish akan berpisah dengan Kak Radit." Aishah berkata dengan sangat hati-hati, dia tidak ingin membuat pakdhe dan budhenya terkejut.
"Apa! Tapi kenapa Aish?" Bu Sekar menatap Aishah lalu berganti menatap Dokter Dariel yang sedari tadi hanya diam saja. Sepertinya Dokter Dariel menangkap arti pandangan Bu Sekar kepadanya. Dokter Dariel menjadi merasa tidak enak sendiri.
__ADS_1
"Kak Radit selingkuh Budhe. Kak Radit selingkuh dengan Kirana. Dan sekarang Kirana sedang mengandung anak dari Kak Radit." Mata Aishah mulai menganak sungai.
"Benar Bu, Pak. Radit adalah teman saya. Bahkan dulu saya pernah menjadi psikolognya. Dulu ketika Radit frustasi karena ditinggal ibunya, dia berkonsultasi denganku hingga beberapa bulan lamanya. Radit tidak bisa mengendalikan emosinya dengan baik, sehingga membutuhkan terapi untuk mengatasi emosinya tersebut." Dokter Dariel menjelaskan panjang lebar.
"Tapi bagaimana bisa Radit tega berselingkuh? Bukankah Kirana itu temanmu dari kampung itu kan Aish?" Pak Joko ikut andil bicara.
"Benar Pakdhe, Aish juga tidak menyangka jika mereka dengan teganya mengkhianati Aish dari belakang. Waktu itu Kirana datang meminta bantuan Aishah untuk mencarikannya pekerjaan. Dia juga meminta untuk menumpang di rumah Aish. Aish tidak tega dengannya, karena Kirana bahkan sempat sampai berlutut di depan Aish. Akhirnya Aish memberi Kirana pekerjaan dan memperbolehkannya untuk tinggal di rumah Aish sementara waktu. Tapi ternyata Kirana menyalahgunakan kepercayaan Aish, Kirana justru ingin merebut Kak Radit dari Aish." Aishah menatap nanar bayangannya sendiri. Aishah merasa sakit hati setiap kali mengingat kejadian saat dirinya menangkap basah Radit dan Kirana yang sedang berada di dalam kamar.
"Tapi kamu tahu dari siapa Nduk, kalau Radit itu selingkuh? Jangan sampai itu hanya berita yang tidak benar." Pak Joko kembali tidak percaya jika Radit tega berselingkuh dengan wanita lain.
"Aish melihat dengan mata kepala Aish sendiri Pakdhe. Aish menangkap basah mereka sedang tidur bersama di atas tempat tidur." Aishah mulai meneteskan air matanya yang lama kelamaan semakin deras.
"Radit benar-benar keterlaluan! Bagaimana bisa dia berbuat seperti itu kepadamu!" Pak Joko mulai terpancing emosi.
"Yang sabar Pak, Bapak itu belum pulih benar lho." Bu Sekar memegang bahu Pak Joko dengan lembut.
"Bapak cuma tidak habis pikir dengan anak itu. Bisa-bisanya dia selingkuh dengan orang lain setelah apa yang telah Aishah lakukan kepadanya selama ini. Aishah yang sudah sangat setia kepadanya bahkan saat dia sedang terpuruk sekalipun." Pak Joko berusaha mengendalikan emosinya, agar penyakit jantungnya tidak kambuh lagi.
"Sebenarnya, semua ini bukan sepenuhnya kesalahan Kak Radit Pakdhe, Budhe." Aishah menundukkan kepalanya.
"Lalu?" Bu Sekar tampak penasaran.
"Aishah sakit Budhe. Aishah sulit untuk memiliki keturunan. Mungkin itu juga salah satu penyebab Kak Radit berpaling dari Aish." Aishah meneteskan air matanya.
"Lalu kenapa Aish? Apakah semua itu kesalahanmu? Apakah kita bisa menolak semua itu?" Pak Joko tampak geram.
"Aish juga tidak tahu Pakdhe. Akhir-akhir ini juga sikap Kak Radit ke Aish berubah total. Kak Radit yang sekarang bukanlah Kak Radit yang dulu lagi. Kak Radit sekarang berubah menjadi orang yang kasar dan semaunya sendiri." Aishah berusaha menyeka air mata yang terus menetes di pipinya dengan lengan tangannya.
"Ya sudah Nduk, nasi sudah menjadi bubur. Mungkin memang ini jalan yang harus Aish lewati. Aish yang sabar ya. Aish jangan khawatir, masih ada kita orang-orang yang akan selalu bersama dengan Aish." Bu Sekar menepuk bahu Aishah dengan lembut.
"Benar Aish, kamu jangan pernah putus asa. Jika ada sesuatu, bicarakan saja denganku. Aku akan selalu siap untuk membantumu semampuku, kapanpun yang kamu butuhkan." Dokter Dariel tersenyum kepada Aishah. Dia berusaha menguatkan hati Aishah.
"Terima kasih semuanya. Aish tidak akan pernah merasa putus asa." Aishah memeluk pinggang budhenya.
"Lalu bagaimana kelanjutan proses perceraianmu itu?" Pak Joko memasang wajah serius.
"Sebenarnya Aish sudah mengurusnya sejak lama. Dan dengan kejadian ini mungkin prosesnya akan lebih cepat terselesaikan." Aishah mulai bisa menenangkan dirinya.
__ADS_1
Malam semakin larut. Peraturan di rumah itu masih sama seperti yang dulu. Jika ada tamu yang berkunjung, harus pulang sebelum jam sembilan. Namun, tanpa diberi tahu ternyata Dokter Dariel sudah memahaminya. Setelah selesai makan malam, Dokter Dariel berpamitan untuk pulang. Kebetulan apartemen Dokter Dariel tidak jauh dari situ.