
Waktu cuti telah habis. Hari ini Aishah mulai bekerja di kantor barunya. Sebenarnya ia juga belum tahu di mana lokasi kantornya berada. Ia hanya mengikuti arahan dari suaminya. Berangkat ke kantor, Aishah diantar oleh Radit yang kebetulan memang kantor mereka searah. Radit memiliki sopir pribadi, namun hanya ia gunakan untuk mengantarnya mengurus kepentingan pekerjaan saja.
Setelah sampai di kantor, Aishah meletakkan semua barang-barang yang dibawanya. Tiba-tiba ada sesuatu yang jatuh di bawah meja. Aishah membungkuk untuk mengambilnya. Ternyata itu adalah sebuah foto. Fotonya bersama dengan Aldi waktu masih satu kantor dulu. Di dalam foto itu Aishah dan Aldi sedang meninjau lokasi pembuatan sebuah tempat wisata. Tampak Aldi tersenyum bahagia berdiri di samping Aishah.
"Bagaimana keadaanmu sekarang di? Apakah kamu masih bertahan? Aku benar-benar merindukanmu sekarang."
Aishah berinisiatif untuk menghubungi Aldi. Tapi nomor teleponnya sudah tidak aktif. Aishah juga mencoba untuk menghubungi nomor telepon rumah Kakek Aldi, tapi tak ada jawaban. Harapan terakhirnya adalah Ega. Aishah segera mencari nomor telepon Ega di kontaknya. Lalu Aishah menghubungi Ega. Panggilannya mendapat jawaban.
"Halo." Terdengar suara Ega dari seberang telepon.
"Ega apakah kamu sudah mendapat informasi mengenai keadaan Aldi saat ini?" Aishah tampak cemas.
"Maaf Aish, aku belum tahu keadaan Aldi saat ini. Semua nomor teleponnya tidak bisa dihubungi. Aku juga sudah mencari informasi dari rumah sakit, tapi semua tidak ada yang tahu." Suara Ega mulai terdengar lirih.
"Oh begitu." Aishah menutup teleponnya. Aishah merasa kecewa. Dan kini Aishah menyerah untuk mencari informasi mengenai Aldi, sebenarnya ia juga tidak mau membuat Suaminya salah paham apalagi membuat Suaminya itu cemburu. Namun tetap saja hatinya sedih, dia benar-benar telah kehilangan kontak dengan Aldi, sahabat baiknya sekaligus seseorang yang dulu pernah mengisi hatinya.
Dengan cepat Aishah bisa segera menyesuaikan diri dengan tempat kerja barunya itu. Aishah memang termasuk orang yang supel, mudah bergaul dan periang. Aishah juga mudah untuk mencari teman. Karena sifatnya yang baik hati dan suka menolong, membuat orang-orang disekitarnya menyukai keberadaannya. Aishah juga termasuk pegawai yang rajin dan cerdas, sehingga ia memiliki banyak prestasi di kantornya yang dulu.
Bahkan jika bukan karena Radit yang meminta langsung kepada Pak Bima tentang pemindahan tempat kerjanya, sebenarnya Aishah tidak diijinkan untuk pindah dari kantor lama. Alasannya Aishah sudah banyak berkontribusi dalam memajukan perusahaan. Dan membuat perusahaan semakin maju.
Jam pulang kerja telah tiba. Mobil Radit sudah menunggu Aishah di luar. Aishah segera mengemasi barang-barangnya lalu beranjak pergi. Aishah pulang bersama dengan Radit.
Sesampainya di rumah, Aishah segera mandi. Setelah mandi Aishah turun ke dapur untuk membuatkan suaminya kopi. Aishah meletakkan kopi di ruang keluarga sambil menunggu Radit selesai mandi. Aishah memutuskan untuk berkeliling rumah Radit. Karena sejak pertama ia sampai, Aishah hanya berkutat antara kamar dan dapur.
Di ruang keluarga, terdapat bingkai foto yang sangat besar. Di sana terdapat foto Ibu Radit yang tersenyum sangat cantik. Bahkan di setiap sudut ruangan terdapat foto Ibu Radit. Begitu sayangnya Radit dengan Ibunya, sampai di setiap ruangan terdapat foto Ibunya. Tapi satu hal yang membuat Aishah bingung, kenapa tidak ada satupun foto Ayahnya di rumah ini. Padahal foto pernikahannya saja sudar bertengger di ruang tamu dengan bingkai yang cukup besar.
__ADS_1
Aishah menyusuri setiap sudut rumah. Berkeliling ruang demi ruang. Ternyata rumah ini bahkan lebih besar dan luas dari yang dibayangkan Aishah. Setiap ruangan tertata dengan apik. Ada taman di belakang rumah yang membatasi antara rumah dengan gudang. Bahkan gudang yang berada di belakang rumah pun tidak seperti gudang pada umumnya. Karena tempatnya yang sangat rapi. Sehingga membuatnya seperti sebuah bangunan rumah minimalis yang nyaman.
Pantas saja Mbok Minah dan Pak To tidak keberatan untuk tidur di sini.
Aishah bergumam sambil melihat bangunan kecil di belakang rumah yang digunakan sebagai gudang itu.
Setelah selesai berkeliling, Aishah kembali ke ruang keluarga. Ternyata Radit sudah duduk di sana sambil menyeruput kopi hitamnya. Ditemani acara televisi yang berlangsung di depannya.
"Aish dari mana?" Radit menengok ke arah Aishah yang berjalan mendekatinya.
"Aish berkeliling rumah Kak, untuk melihat-lihat. Semanjak sampai di sini, baru kali ini Aish melihat-lihat rumah ini." Aishah segera duduk di samping Radit.
"Bagaimana menurutmu? Apa ada yang perlu dikoreksi dengan penataan ruang di rumah ini?" Radit menyeruput kembali kopi yang dibuat oleh Aishah.
"Eh, tidak Kak semua sudah sempurna." Aishah membuat bentuk lingkaran dengan ibu jari dan telunjuknya.
"Apa?" Aishah sangat penasaran.
"Foto Ibu. Biarkan semuanya tetap pada tempatnya." Radit berkata tanpa menatap Aishah.
Kini Aishah sudah mengerti betapa besarnya rasa sayang Radit kepada Ibunya. Tiba-tiba terdengar ponsel berdering.
kriing….. kriing…
Suara ponsel Radit berdering. Radit segera meraihnya dari atas meja.
__ADS_1
"Halo." Suara Radit terdengar datar.
Aishah tak dapat mendengar dengan jelas apa yang dibicarakan Radit dengan lawan bicaranya di telepon.
"Iya, kalau ada waktu." Radit segera menutup teleponnya. Tak banyak yang ia katakan, sepertinya itu telepon yang tidak diinginkan oleh Radit.
"Siapa Kak?" Aishah yang sedari tadi merasa penasaran akhirnya bertanya.
"Ayah." Radit menjawab masih dengan suara datar.
"Kenapa dengan Ayah?" Aishah masih belum puas dengan jawaban Radit yang singkat dan sarat makna itu.
"Dia ingin kita datang di acara pernikahannya minggu depan." Radit bahkan tak menunjukkan ekspresi apapun di wajahnya.
"Ayah akan menikah? Dengan siapa?" Aishah tambah penasaran.
"Besok juga Aish tahu sendiri. Sudahlah itu tidak penting." Radit menyeruput kopi terakhirnya.
Apa! Tidak penting? Bukankah ayahnya yang akan menikah, tapi kenapa tidak penting. Bahkan Kak Radit tidak memberikan ekspresi apapun. Apakah Kak Radit tidak menyetujuinya? Apa semua ini karena Kak Radit tak ingin memiliki Ibu lain, selain Ibu kandungnya? Apa karena itu juga yang membuat foto Ayah tak ada satu pun di rumah ini?
Pertanyaan demi pertanyaan semakin menggunung di kepala Aishah. Aishah berpikir keras mencari alasan yang paling logis tentang sikap Radit yang tidak peduli kepada ayahnya itu. Namun tak juga membuahkan hasil.
"Tapi Kak Radit akan datang kan?" Aishah bertanya dengan sangat hati-hati. Karena ia tahu perasaan Suaminya sedang tidak baik.
"Kita lihat saja besok." Radit bangkit dari tempat duduknya lalu mengajak Aishah untuk melaksanakan sholat magrib. Karena suara adzan sudah terdengar dari tadi.
__ADS_1
"Sudah waktunya sholat magrib." Radit menggandeng tangan Aishah untuk naik ke kamar atas.