Menemukan Cinta Sejati Aishah

Menemukan Cinta Sejati Aishah
Pernikahan


__ADS_3

Andini berlari sekencang mungkin menuju aula tempat berlangsungnya pesta. Ia bahkan hampir terjatuh karena saking paniknya. Andini menghampiri keluarganya yang tengah duduk bersama dengan para tamu undangan lain. Andini terlihat berbisik di telinga Ibunya. Seketika itu Ibu beranjak dari tempat duduknya, wajahnya terlihat gelisah, lalu Ibu mengajak Bu Sekar untuk melihat keadaan Aishah. Mereka segera menuju ruang ganti.


Pintu ruang ganti terbuka lebar, Ibu dan Bu Sekar segera masuk ke dalam ruangan begitu saja. Di sana tampak Aishah yang sedang duduk di tepi tempat tidur sambil sesenggukan. Matanya terlihat sembab bekas tangisannya, ia ditenangkan oleh perias wanita yang sedari tadi hanya mematung menjadi saksi tangisan Aishah. Sementara itu, Ega berdiri di depan Aishah sambil berusaha untuk menenangkannya. Ibu dan Bu Sekar segera menghampiri Aishah.


"Kamu kenapa nduk?" Ibu duduk di samping Aishah sambil mengelus pundak kanan Aishah.


"Aish tidak apa-apa kok Bu." Aishah mulai merasa baikan, kini ia sudah bisa mengendalikan perasaannya. Tangisnya pun sudah mereda.


Bu Sekar melihat surat yang masih berada di genggaman tangan Aishah. Sekilas Bu Sekar melihat nama Aldi tertera di sana. Tanpa bertanya sebab Aishah menangis, dengan surat itu, Bu Sekar sudah bisa menebak kenapa Aishah menangis. Bu Sekar mencoba melihat apa isi dari surat itu. Dengan sukarela, Aishah memberikan surat itu kepada Budhenya. Karena memang, orang yang paling dekat dan mengerti perasaan Aishah adalah Budhenya itu. Setelah Aishah memberikan surat itu, Bu Sekar segera membacanya dengan cepat. Bu Sekar menatap Aishah lama, seolah tatapan itu memberi energi positif yang membuat perasaan Aishah menjadi lebih baik.


"Semua ini sudah diatur Gusti Allah nduk, Aish yang sabar. Sebentar lagi Aish juga akan menikah. Radit juga sudah sampai. Jadi tenangkan dirimu, mantapkan hatimu. Sebentar lagi Aish akan memikul tanggung jawab baru, tanggung jawab menjadi seorang istri. Niatkan semua untuk ibadah, insya Allah semua akan dimudahkan." Bu Sekar duduk di samping kiri Aishah.


"Terima kasih Budhe." Aishah memeluk pinggang Budhenya.


Ibu yang tak tahu menahu tentang masalah Aishah ikut memeluk Aishah dari samping. Lebih tepatnya pelukan yang menguatkan.


"Aish jangan sedih, ndak usah takut. Kita semua ada untuk Aish. Jadi jangan menangis lagi ya! Tuh kan mukamu jadi belepotan seperti ini. Nanti anak Ibu ndak jadi cantik loh." Ibu mencubit hidung Aishah sambil tersenyum.


"Terima kasih Bu." Akhirnya lesung pipi Aishah muncul di pipinya. Membuat wajahnya semakin manis.


Ega masih berdiri mematung melihat adegan mengharukan di depannya. Kini Ega merasa lega, karena Aishah sudah baikan dan akan melanjutkan pernikahannya. Tadi sempat terbersit dalam pikiran Ega bahwa Aishah akan membatalkan pernikahannya. Namun semua itu hanya ketakutan Ega yang tidak terbukti adanya.

__ADS_1


"Ya sudah Aish, aku keluar dulu ya. Semangat!" Ega mengepalkan tangan kanannya tanda memberi semangat kepada Aishah. Lalu Ega pergi keluar dari ruang ganti menuju aula tempat berlangsungnya pesta. Di sepanjang perjalanan menuju aula, Ega sibuk memperbaiki penampilannya yang berantakan.


______________________________________________


Radit turun dari mobil yang penuh dengan hiasan bunga di ikuti rombongan. Radit tampil gagah dengan setelan jas berwarna hitam dengan bunga yang disematkan pada saku jasnya. Sepatunya yang hitam terlihat mengkilap menyilaukan mata. Rambut cepaknya tersisir dengan sangat rapi. Tak lupa jam tangan dengan merk terkenal menghiasi pergelangan tangannya yang kekar. Hari ini Radit terlihat sangat tampan, bibirnya yang merah tak berhenti menyunggingkan senyum menawannya. Radit dan rombongan mulai melangkah memasuki aula gedung.


Di depan pintu masuk, sudah berjejer dengan rapi keluarga Aishah yang siap untuk menyambut kedatangan calon mempelai pria. Mereka berseragam, menggunakan pakaian adat dengan blankon di kepala. Radit dan rombongan dipersilahkan untuk duduk dahulu sambil menunggu mempelai wanita keluar. Nampaknya tak banyak rombongan yang datang bersama dengan Radit. Radit memang tak memiliki banyak saudara di sini, di tempat tinggalnya yang sekarang pun juga hanya beberapa. Rombongan di dominasi oleh kaum lelaki. Mungkin mereka adalah orang-orang yang bekerja dengan Radit.


Radit duduk di sebuah kursi yang berada tepat di tengah aula. Kursi itu memang telah dipersiapkan khusus untuk para mempelai. Radit duduk bersama dengan Pak Penghulu di seberang meja,yang sudah siap untuk menuntun mempelai pria mengucapkan ijab kabul. Hanya selang beberapa menit, Aishah pun keluar dari ruang ganti. Aishah ditemani oleh Ibu dan Bu sekar yang berjalandi sampingnya.


Aishah terlihat sangat cantik hari ini. Bahkan sudah seperti ratu dalam acara pernikahannya. Gaun kebaya yang membalut tubuh idealnya membuat dirinya tampak anggun. Semua mata yang menandang dibuat takjub olehnya. Tubuhnya yang tinggi semampai, dengan riasan wajah yang full menambah aura kecantikannya lebih memancar. Kain jarik terpasang apik menghiasi kaki Aishah yang jenjang. Kerudung putih dengan renda dan hiasan bunga yang dibalutkan di atas kepalanya menambah manis riasan wajahnya.


Aishah benar-benar terlihat berbeda kali ini. Karena dihari-hari biasanya Aishah tidak pernah menggunakan full make up pada wajahnya. Paling-paling hanya pelembab dan bedak saja yang ia oleskan sekenanya pada pipinya. Serta lipstik tipis yang menghiasi bibir mungilnya yang memang sudah terlihat merah walaupun tanpa lipstik sekalipun. Di sepanjang perjalanan menuju aula, Aishah tak pernah sedikitpun melepas senyum manisnya. Itu membuat semua orang yang menatapnya terhipnotis dan berdecak kagum dengan pesona yang dipancarkan gadis itu.


Setelah duduk, jantung Aishah berdebar lebih kencang dari biasanya. Tangannya mulai gemetar. Aishah meremas kedua tangan di pangkuannya agar dapat menghilangkan rasa nervous yang muncul. Pandangannya tertunduk jatuh kepada kain jarik yang dikenakannya. Ia berusaha menguatkan hati dan pikirannya. Memantapkan langkahnya, agar semua berjalan dengan lancar. Walaupun setelah mendapat surat dari Aldi, hatinya hancur berkeping-keping. Namun, dengan sekuat tenaga, Aishah berusaha tetap tegar.


Begitu pula dengan Radit, jantungnya yang sedari tadi telah berdebar-debar, kini berdegup dua kali lebih kencang. Tapi itu tak nampak sedikit pun pada raut wajahnya, Radit memang pandai menyembunyikan sikap nervousnya. Sikapnya yang tenang, membuatnya dapat menyesuaikan diri dengan cepat. Radit memang sangat pandai menguasai dirinya saat keadaan yang mendebarkan sekalipun. Wajahnya sangat terlihat tenang. Namun kebahagiaan yang ia rasakan tak dapat ia tutupi melalui wajahnya. Sorot matanya sangat meyakinkan.


Acara ijab kabul berjalan dengan lancar. Setelah kata sah diucapkan, kedua mempelai merasa sangat lega. Akhirnya mereka sudah sah menjadi sepasang suami istri. Setelah acara ijab kabul berlangsung dengan lancar, acara dilanjutkan dengan makan-makan dan hiburan. Beberapa artis papan atas nampak ikut serta menyumbangkan suara emasnya. Suasana pesta menjadi sangat meriah. Semua orang terlihat bahagia.


Aishah duduk berdampingan dengan Radit di atas pelaminan, sambil memperhatikan para tamu undangan yang berlalu lalang menikmati berbagai hidangan yang telah disiapkan. Kedua mempelai sudah seperti raja dan ratu yang duduk di singgasana saja, mereka terlihat sangat serasi. Bahkan membuat iri para jomblo yang melihatnya. Setelah merasa puas dengan makanannya, para tamu undangan berpamitan sekaligus memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai.

__ADS_1


Tak ada kendala dalam pesta pernikahan Aishah, semua berjalan sesuai dengan apa yang telah direncanakan. Sepanjang acara, Aishah juga terlihat dapat mengendalikan emosi dan perasaannya. Aishah terlihat bahagia berdampingan dengan Radit. Begitu pula Radit, bahkan ia terlihat lebih ceria dalam acara pernikahannya itu.


Setelah acara selesai, semua kembali ke rumah Pak Joko. Begitu pula dengan kedua mempelai. Sementara rombongan yang datang bersama Radit ikut pulang bersama Ayahnya. Acara yang berlangsung seharian penuh itu rupanya cukup menguras tenaga dan membuat semua orang kelelahan. Sore hari mereka baru tiba di rumah. Semua orang langsung masuk ke kamar mereka masing-masing. Sementara Andini sudah mengemasi barang-barangnya untuk berpindah kamar bersama dengan Bapak Ibunya. Dia tahu apa yang harus dia lakukan.


Mereka membersihkan diri di kamar masing-masing. Setelah makan malam bersama, mereka berkumpul di ruang keluarga. Radit mulai membuka suara.


"Rencananya saya dan Aishah besok akan pindah ke rumah saya di luar kota."


Radit nampak memegang tangan Aishah sambil memperhatikan semua anggota keluarga yang duduk bersamanya satu persatu.


"Kenapa harus buru-buru, apa ndak sebaiknya kalian tinggal di sini dulu untuk sementara waktu?" Bu Sekar menimpali.


"Kamu ini bagaimana to mbakyu, mereka kan sudah menikah, ya pengennya berduaan terus dong!" Ibu tampak mulai menggoda kedua pengantin baru itu.


"Kaya Ibu dulu belum pernah merasakan menjadi pengantin baru saja." Timpal Pak Joko.


"Tapi bagaimana dengan pekerjaanmu Aish?" Bapak mulai angkat suara.


"Saya sudah mengurus semuanya Pak, besok Aish akan dipindah tugaskan ke cabang perusahaan yang berada di luar kota. Walaupun tidak terlalu dekat dengan rumah kami nanti, setidaknya masih terjangkau." Radit menjawab pertanyaan Bapak dengan sigap.


Bapak dan keluarga yang lain tampak mengangguk-anggukkan kepalanya.

__ADS_1


Mereka nampak bercengkrama dengan akrabnya. mengobrol hingga waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Lalu mereka kembali masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat.


__ADS_2