Menemukan Cinta Sejati Aishah

Menemukan Cinta Sejati Aishah
Menghindari Aldi


__ADS_3

Aishah terbangun ketika mendengar suara alarm berbunyi. Aishah mulai membuka matanya yang terasa berat, matanya terasa bengkak. Aishah bergegas menuju kamar mandi lalu membasuh mukanya. Aishah melihat wajahnya di cermin, tampak kedua matanya membengkak. Aishah mencuci mukanya dengan sabun pencuci muka berkali-kali.


Ternyata usahanya membuahkan hasil, matanya mulai kembali seperti semula. Meskipun masih sedikit bengkak, namun tersamarkan karena baru bangun tidur. Aishah segera bersembahyang. Aishah berangkat ke kantor lebih siang dari biasanya. Nampaknya Aishah masih sedikit malas untuk berangkat ke kantor.


Aishah berangkat ke kantor bersama dengan Pakdhenya. Sesampainya di kantor, Aishah langsung menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Aishah pura-pura tidak memperhatikan Aldi. Beberapa kali Aldi mencoba untuk mengajak Aishah berbicara, namun Aishah selalu menghindar.


"Aish, aku mau ngomong sama kamu sebentar!"


"Ini jam kerja di." Aishah mencoba menghindar dari Aldi.


Waktu makan siang datang, Aishah tak juga pergi dari meja kerjanya. Aldi mencoba mendekatinya.


"Aish, makan siang dulu yuk!"


"Kamu duluan aja, aku masih sibuk." Aishah masih saja menghindari Aldi.


"Sampai kapan kamu mau menghindariku?" Nampaknya Aldi mulai muak dengan perlakuan Aishah.


"Aku lagi banyak kerjaan aja kok."


Aldi pergi meninggalkan Aishah yang masih pura-pura sibuk dengan pekerjaannya. Setelah Aldi pergi, Aishah memperhatikan punggung Aldi yang mulai menjauh.


Setelah jam pulang kantor tiba, nampaknya Aldi belum menyerah untuk mendekati Aishah. Namun, ketika Aldi hendak menghampiri Aishah, sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan Aishah. Seorang laki-laki keluar dari mobil tersebut lalu menghampiri Aishah. Aldi menghentikan langkahnya untuk melihat dari kejauhan.


Aldi memperhatikan laki-laki tersebut dengan seksama. Sepertinya Aldi mengenal laki-laki tersebut. Lalu Aldi mengurungkan niatnya untuk menghampiri Aishah. Aishah nampak asyik mengobrol dengan pria itu. Tak beberapa lama, Aishah memasuki mobil hitam tersebut. Tampak pria tadi membukakan pintu mobilnya untuk Aishah.


Aldi merasa sangat kesal, tanpa ia sadari ia menendang sebuah tempat sampah yang ada di depannya. Sampah-sampah yang berada di dalamnyapun berserakan kemana-mana. Seorang security menghampirinya.


"Ada keributan apa ini?" Tampak muka seram yang memancar dari muka security tersebut.


"Maaf pak, aku tidak sengaja. Tadi tidak melihat ada tempat sampah di sini."


Aldi mencoba ngeles dari interogasi security itu. Aldi segera bergegas pergi karena tidak ingin membuat suasana semakin memanas.


______________________________________________


Aishah baru keluar dari kantor dan hendak mencari taksi. Tiba-tiba ada sebuah mobil berhenti tepat di depannya. Nampak Radit keluar dari mobil tersebut. Radit segera menghampiri Aishah.


"Hay Aish, pulang bareng yuk, aku antar kamu ke rumah." Radit berbicara sambil memamerkan senyumnya yang menawan. Sehingga memperlihatkan gigi-giginya yang putih dan berjejer rapi seperti biji mentimun. 

__ADS_1


"Kebetulan, kok Kak Radit tahu kalau Aish tidak membawa sepeda motor?"


"Tadi aku mampir ke rumah, di sana hanya ada Budhemu. Lalu Budhe memberitahuku kalau kamu tidak membawa sepeda motor. Jadi aku berinisiatif untuk menjemputmu."


Untuk beberapa waktu, Radit tinggal di hotel dekat dengan kantornya yang di sini. Karena sedang ada kerjasama dengan kantor Aishah. sehingga Radit berencana untuk tinggal di sini hingga pekerjaannya selesai.


"Jadi Kak Radit sudah mampir ke rumah?"


"Iya, yaudah ayo masuk."


Radit segera membukakan pintu mobilnya. Lalu Aishah masuk ke dalam mobil. Radit segera duduk di belakang kemudi, lalu melesatkan mobilnya memecah keramaian kota. Di tengah perjalanan, Radit beberapa kali memperhatikan Aishah yang sedari tadi hanya berdiam diri.


"Aish, kita mampir cari makan dulu ya!"


Rengek Radit sambil memegangi perutnya. Radit mulai memecah keheningan diantara mereka. Sebenarnya itu bukan sebuah ajakan melainkan sebuah keharusan bagi Aishah. Aishah yang memang sejak tadi tidak makan siang juga merasa sangat lapar.


"Hayuk lah kak Aish juga lapar."


Aishahpun menyetujuinya. Radit mulai menepi memasuki sebuah pelataran tempat parkir mall besar yang terletak di kiri jalan. Radit memarkirkan mobilnya lalu mengajak Aishah masuk. Mereka memasuki sebuah cafe. 


"Aish, kamu mau pesan apa?" Radit bertanya kepada Aishah sambil menyodorkan buku yang berisi daftar menu.


Aishah menolak buku tersebut dengan tangannya. Lalu Radit memanggil seorang pelayan dan memesan 2 menu yang sama.


"Ya ampun aku lupa memberitahu Budhe kalau aku mau mampir dulu." Aishah nampak panik, ia memukul jidatnya dengan telapak tangan kanannya. Lalu mulai mencari-cari ponsel dari tasnya.


"Tenang saja, aku tadi sudah minta ijin Budhe kalau mau mengajakmu makan dulu, dan Budhe sudah mengijinkannya."


"Syukurlah, aku tidak mau membuat Budhe khawatir saja." Aishah merasa lega. Aishah kembali terdiam, bahkan beberapa kali ia kepergok oleh Radit yang mendapatinya sedang melamun.


Sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan masalah perjodohan kemarin dengan Aishah.


Radit bergumam dalam hati. Tak beberapa lama pelayan datang mengantarkan pesanan mereka.


"Aish, ayo dimakan." Radit mengajak Aishah makan sambil mengambil segelas jus jeruk yang dipesannya, lalu meneguknya hingga tinggal setengah. Aishah menuruti ajakan Radit lalu memakan pesanan makanannya. Disela-sela makan, Radit melihat mata Aishah yang nampak bengkak dan sayu.


"Aish, apakah kamu sedang ada masalah?" Radit mencoba bertanya dengan hati-hati. Radit tak ingin Aishah merasa terganggu dengan pertanyaannya.


"Maaf Aish, bukan maksud mau ikut campur dengan urusanmu. Tapi kalau kamu tidak keberatan, kamu bisa bercerita masalahmu kepadaku sesuka hatimu." Tampak Aishah menatap mata Radit dengan canggung.

__ADS_1


"A… aku tidak apa-apa kok kak, mungkin hanya kecapekan saja. Akhir-akhir ini memang pekerjaanku semakin banyak." Aishah mencoba menyembunyikan perasaan sedihnya dengan senyuman. 


"Jaga kesehatan, banyak minum air putih. Jangan suka bergadang, tidak baik untuk kesehatanmu. Jika ada pekerjaan yang sulit, kamu bisa mendiskusikannya denganku."


"Iya kak." Jawab Aishah sambil menganggukan kepalanya.


Mereka berbincang-bincang dengan asyiknya sampai tak memperhatikan waktu. Tak terasa waktu cepat berlalu. Jam telah menunjukkan pukul setengah 6. Aishah mengambil ponselnya lalu melihat jam yang tertera di layar.


"Kak sudah setengah 6, bisa antar aku pulang sekarang?"


"Bisa, ya sudah ayo."


Mereka menuju tempat parkir mall untuk mengambil mobil. Lalu Radit melajukan mobilnya menuju rumah Aishah.


______________________________________________


Sejak pulang dari kantor, Aldi tak juga keluar dari kamarnya. Aldi terus-terusan memainkan gitarnya sambil bernyanyi seorang diri. Perutnya pun tak merasa lapar. Padahal biasanya setelah pulang kantor, tempat yang dituju setelah berganti pakaian adalah dapur. Bahkan tak sempat berganti pakaian pun Aldi langsung menyerbu masakan Neneknya yang lezat.


Nenek Aldi yang berada di dapur telah menyiapkan makanan untuk Aldi. Namun, Aldi tak juga muncul dari kamarnya. Hanya suara gitar dan lagu-lagu galau saja yang keluar dari kamarnya. Nenek Aldi yang merasa tidak seperti biasanya menghampiri kamar Aldi.


Tok...tok...tok…


"Aldi, ayo makan dulu."


Aldi yang mendengar suara pintu kamarnya diketuk, segera menghentikan permainan gitarnya. Aldi menuju pintu lalu membukanya.


"Nanti saja Nek, Aldi belum lapar."


"Kamu kenapa? Tidak seperti biasanya, setelah pulang dari kantor kamu hanya mengurung dirimu di kamar."


"Aldi tidak apa-apa Nek, Aldi lagi pengen main gitar saja."


"Nanti kalau kamu lapar, Nenek sudah menyiapkan makanan di meja makan."


Lalu Nenek Aldi meninggalkan kamar Aldi sambil geleng-geleng kepala. Aldi masuk ke dalam kamar dan melanjutkan permainan gitarnya sambil bernyanyi. Namun kali ini dengan volume suara yang lebih kecil.


Sambil bermain gitar, Aldi terus saja membayangkan wajah Aishah. 


Aishah benar-benar marah kepadaku, Aku harus mengikhlaskannya bersama laki-laki lain. Aku tak mungkin bersama dengan Aishah. Yang ada Aishah hanya akan kehilanganku dan itu pasti membuatnya semakin sedih. Biarkanlah Aishah benci kepadaku. Lebih baik Aishah benci kepadaku dari pada harus menangis sedih gara-gara kehilanganku. Aku harus memastikan Aishah mendapatkan laki-laki yang baik. Aku akan menyelidiki kepribadian Radit lebih mendalam.

__ADS_1


Aldi terus bergumam dalam hati.


__ADS_2