
Hari-hari cepat berganti. Aishah masih disibukkan dengan segala ***** bengek persiapan acara pernikahannya. Semua persiapan sudah selesai, kini tinggal menghitung jam dan tiba-tiba hati Aishah berdebar-debar. Aishah mematut dirinya di depan cermin. Menatap lekat-lekat seseorang yang sedang berdiri di depannya. Ia mencoba tersenyum semanis mungkin dengan bayangannya di dalam kaca. Ia mencoba meyakinkan hatinya bahwa perasaannya kini akan diberikan seutuhnya kepada suaminya nanti.
Aku akan membuang jauh perasaanku kepada Aldi. Dan akan kuberikan seutuhnya kepada suamiku nanti. Ingin sekali aku membencimu, tapi sekuat apapun aku berusaha, sekuat itu pula hatiku memberontak. Walau bagaimanapun Aldi adalah cinta pertamaku. hah walaupun cintaku bertepuk sebelah tangan. Tapi kenapa dengan bodohnya aku masih mengharapkan kasih sayang Aldi. Yang jelas-jelas malah ia berikan kepada orang lain.
Aishah terus bergumam dari dalam kamarnya sambil menatap bayangan dirinya di dalam cermin. Tiba-tiba Aishah merasa lapar, perutnya mulai keroncongan. Sepertinya cacing-cacing di dalam perutnya mulai berontak. Membabi buta, konser sesuka hati mereka. Kriuk.. kriuk… suara perut Aishah mulai tak terkondisikan lagi. Sepertinya Aishah sudah tak mampu menahan rasa laparnya.
Aishah bergegas menuju dapur. Ia mencari-cari makanan dan berharap dapat menemukan makanan yang dapat digunakan untuk mengganjal perutnya. Ternyata tak satu pun makanan yang dapat ia temukan. Dari ruang keluarga, suara gelak tawa menyergap ke seluruh ruangan. Aishah menatap televisi yang menyala, tiba-tiba muncul iklan makanan yang membuat perutnya semakin keroncongan. Sudah tak ada waktu untuk masak, aku sudah terlalu lapar. Pikirnya.
Sepulang dari rumah Aldi, Aishah memang tak sempat memakan apapun. Karena saat ia sampai rumah, semua keluarganya sudah selesai dengan makan malamnya. Akhirnya Aishah memutuskan untuk membeli makanan di luar. Kebetulan ada restoran yang baru buka dan menyediakan menu yang cukup menggugah selera makannya. Walaupun terletak agak jauh dengan rumahnya, Aishah tetap bersikukuh untuk mendatanginya. Setelah menimbang-nimbang, sepertinya udara di luar cukup dingin. Akhirnya Aishah meminta ijin untuk menggunakan mobil Pakdhenya.
"Akhirnya aku bisa makan enak juga, hmmm yummy. Andini dan duo kembar pasti suka nih" Aishah memandangi tas kresek yang ada di tangannya. Menjinjing kresek yang ia bawa lalu mencium aromanya.
"Wah benar-benar menggugah selera."
Aishah memutuskan untuk membawa makanannya ke rumah saja. Ia ingin makan bersama dengan adik-adiknya. Aishah berjalan keluar menuju tempat parkir restoran untuk mengambil mobil yang dibawanya. Saat sampai di tempat parkir, matanya menemukan mobil Radit yang terparkir tak jauh dari mobilnya berada.
"Bukankah itu mobil Kak Radit? Sedang apa dia di sini. Bukankah tadi di telpon dia bilang akan pulang ke rumah Ayahnya."
Untuk memastikan rasa penasarannya, Aishah kembali masuk ke dalam restoran. Matanya mengedarkan pandangan ke seluruh isi restoran. Betapa terkejutnya Aishah ketika melihat pemandangan di depan matanya. Ia melihat Radit sedang duduk berseberangan dengan seorang wanita. Wanita itu tampak memegang salah satu tangan Radit di atas meja dengan kedua tangannya. Mereka terlihat sangat akrab.
Aishah merasa mendapat tamparan keras yang mendarat tepat di pipinya. Kedua pipinya terasa panas. Seperti ada api membara yang membakar wajahnya. Kenapa mereka terlihat sangat mesra? Pikiran Aishah mulai melayang kemana-mana.
Siapa sebenarnya wanita yang sedang bersama dengan Kak Radit itu.
Aishah berpikir sejenak. Jika ia langsung mendatangi mejanya sekarang, apa yang mau dikatakannya nanti. Setelah berpikir dengan keras, satu ide muncul di kepalanya. Aishah mengambil ponsel di saku jaketnya, setelah beberapa saat ponsel tersebut tersambung dengan nomor Radit.
Dari kejauhan tampak Radit sesekali memeriksa layar ponselnya. Nampaknya ia enggan untuk menerima panggilan yang masuk. Aishah mencoba dan mencoba lagi, menghubungi nomor Radit untuk yang kesekian kali. Akhirnya, usaha Aishah pun membuahkan hasil, Radit mengangkat telepon dari Aishah. Radit mulai menjauh dari tempat duduknya semula.
"Halo assalamu'alaikum Aish."
"Wa'alaikum salam."
"Ada apa Aish?"
"Tidak ada apa-apa kok Kak, ingin menelepon Kak Radit saja. Oh ya Kak Radit sudah sampai rumah?"
Aishah mencoba menggali dasar pikirannya untuk mencari-cari kata yang pas, agar Radit tidak curiga dengan keberadaannya.
"Belum Aish, aku masih di jalan."
__ADS_1
Apa! Di jalan dia bilang. hh. Ayo Aish berpikir pertanyaan lain.
Aishah terus menggerutu dalam hati.
"Oh, memang Kak Radit sama siapa?"
Terdiam sejenak, hanya suara kerumunan orang yang terdengar.
"Halo Kak Radit?"
"Eh iya Aish, kamu tanya apa tadi?"
"Kakak sama siapa?"
Jujur saja lah Kak, jangan membuat Aish semakin curiga.
"Ya sendirian lah. Memangnya mau sama siapa lagi. hehe."
Tuh kan dia bohong, pasti ada yang tidak beres.
"Kok ramai gitu suaranya, kayaknya lagi banyak orang ya?"
"Kebetulan aku sedang menepi di pinggir jalan untuk istirahat, jadi ya banyak suara orang lewat gitu lah Aish."
"Di pinggir jalan, apa di restoran Kak?"
Seketika itu telepon langsung dimatikan oleh Radit. Pandangan Radit menyapu seluruh isi restoran. Betapa terkejutnya Radit setelah menemukan Aishah berdiri tak jauh dari tempat duduknya dengan Bella. Radit segera menghampiri Aishah.
"Aish, kok kamu ada di sini? Ini kan sudah malam."
Radit mencoba mengalihkan pembicaraan. Ia mencoba mencari celah agar dapat keluar dari kemarahan Aishah. Aishah menjinjing tas kresek yang dibawanya menunjukkan apa tujuan Aishah datang ke restoran tersebut.
"Kenapa Kak Radit harus berbohong dengan Aish?"
Suara Aishah mulai bergetar. Muncul butiran-butiran kristal yang keluar dari sudut matanya.
"Kak Radit tidK berbohong Aish, tadi aku kebetulan lagi istirahat, lalu mampir ke sini."
"Lalu wanita itu siapa Kak? Kenapa Kak Radit bilang kalau Kak Radit sedang sendiri?"
__ADS_1
Aishah mencoba menahan air mata yang telah menumpuk di pelupuk matanya. Radit mencoba untuk menenangkan Aishah.
"Aku bisa jelaskan semuanya. Aish jangan salah paham dulu." Volume suara Radit terdengar semakin tinggi. Sontak saja, itu membuat pandangan semua pengunjung restoran mengarah kepada mereka.
Radit mengambil kotak tisu yang tergeletak di atas meja lalu menyodorkannya kepada Aishah. Namun Aishah menolaknya. Aishah menepis tangan Radit kemudian berlari keluar restoran, menuju tempat ia memarkirkan mobilnya tadi. Lalu, Radit mengikuti Aishah dari belakang.
Tiba-tiba Bella menghampiri mereka berdua. Wajahnya mulai terlihat angker. Sambil berkacak pinggang Bella melemparkan tatapan sinisnya kepada Aishah.
"Jadi ini wanita yang akan kamu nikahi sayang?" Sambil berjalan mengelilingi Aishah. Jari telunjuknya yang panjang dengan kutek berwarna merah menyala menunjuk ke arah Aishah, sangat dekat dengan wajah Aishah.
"Diam kau, dasar wanita tidak tahu diri! Bukankah sudah jelas, bahwa diantara kita sudah tidak ada apa-apa lagi."
Radit terlihat sangat gusar. Bahkan ia menepis tangan Bella dengan keras. Nampak Bella mengibaskan tangannya beberapa kali karena kesakitan, namun raut mukanya semakin angker. Sepertinya itu tidak membuat Bella menyerah. Bella mulai mendekati Radit, menyentuh bahunya lalu berdiri di sampingnya.
"Sayang jelaskan pada wanita ini bahwa wanita yang akan kau nikahi adalah aku."
Bella tergelak sebentar, lalu bibirnya menyeringai.
"Apa kau sudah gila! Dua hari lagi aku akan menikah dengan Aishah. Jadi jangan pernah mengganggu aku lagi. Jangan pernah mengganggu hubunganku dengan Aishah. Hubungan kita sudah lama berakhir, semenjak kau ketahuan selingkuh di depan mataku dengan Ayahku sendiri. Apakah semua itu kurang jelas?"
Radit sudah mulai kehilangan kendali, emosinya kini meluap-luap. Matanya mulai memerah. Sementara Aishah hanya memperhatikan adegan di depan matanya, ia masih merasa bingung dengan situasi yang ia lihat saat ini.
"Maka dari itu, mulai saat ini, jangan pernah memperlihatkan batang hidungmu sedikit pun di depanku. Jika hal itu masih kamu lakukan, aku tidak segan-segan untuk menghancurkan karirmu."
Kali ini Radit mulai mengecilkan volume suaranya. Namun Radit terlihat tidak main-main dengan kata-katanya tadi. Bella yang masih berdiri di sampingnya mulai meneteskan air mata. Ia terlihat sesenggukan dan mulai menangis dengan keras. Wanita dengan dandanan yang seksi itu memang sangat pandai berakting. Ya dia memang seorang aktris, sehingga drama yang dibuatnya dapat membuat Aishah terpancing dan mulai merasa iba padanya.
"Diam! Simpan saja air mata palsumu itu, aku tidak akan termakan drama kampunganmu itu!"
Bella mendekat ke arah Aishah lalu mendorong tubuhnya hingga terjerembab jatuh terduduk.
"Puas kamu telah merebut Radit dariku!"
Nampaknya Radit sudah tidak tahan dengan sikap Bella yang semakin tidak tahu diri. Dengan cepat Radit menampar Bella di depan Aishah.
Plakk…! Bella meringis sambil memegangi pipinya yang merah. Tangis Bella semakin menjadi-jadi, lalu Bella berlari meninggalkan Radit dan Aishah. Dengan sigap Radit membantu Aishah berdiri.
"Kamu tidak apa-apa Aish?" Radit memperhatikan badan Aishah, memastikan tidak ada luka di sana.
"Aish mau pulang Kak." Aishah segera berlalu, masuk ke dalam mobilnya. Dengan cepat mobil Aishah telah lenyap ditelan gelapnya malam.
__ADS_1
Sementara Radit masih mematung menatap kepergian Aishah.
"Arghhh… Kenapa jadi begini sih!" Dengan sekuat tenaga Radit menendang udara di depannya. Radit merasa sangat gusar. Dia harus menyusul Aishah dan menjelaskan semuanya baik-baik. Jangan sampai keluarga Aishah berpikir yang tidak-tidak kepada Radit.