
Radit dan Aishah berjalan dengan tergesa. Dalam pikiran Radit merasa bahwa dirinya tidak pernah berbuat salah sampai melibatkan polisi. Untuk apakah gerangan polisi datang ke rumah malam-malam, pikirnya.
"Selamat malam Pak," Radit menatap beberapa orang yang tengah duduk bersama di sofa ruang tamunya itu. Mendengar suara penghuni rumah datang, mereka segera mendongak lalu berdiri dari tempat duduknya. Betapa terkejutnya Radit dan Aishah, ternyata lelaki yang sedang duduk bersama polisi itu adalah Pak Banu.
"Ayah?" Aishah tampak mengernyitkan dahinya, Aishah merasa agak ragu untuk menyebut bahwa lelaki yang sedang berdiri di depannya itu sebagai ayah mertuanya. Karena Pak Banu kini tampak lebih tua dari usianya. Rambutnya agak gondrong dengan uban di mana-mana. Wajahnya dipenuhi dengan berewok yang hampir menutupi pipinya. Tampilan pakaiannya kini tampak berantakan dan lusuh, beda dengan Pak Banu dulu yang selalu tampil dengan pakaian yang rapi. Pak Banu juga tampak kurus, sepertinya dirinya kini tidak terurus dengan baik.
"Selamat malam Bapak, Ibu. Apakah benar Bapak ini adalah Pak Raditya Bramantyo?" Polisi itu sekali lagi meyakinkan bahwa lelaki di depannya adalah benar bernama Radit.
"Benar Pak, saya sendiri. Dan ini istri saya Aishah." Radit memperkenalkan Aishah kepada polisi tersebut.
"Begini Pak, tiga hari yang lalu kami mendapat laporan penemuan orang hilang. Dari berkas-berkas yang kami miliki, Bapak ini bernama Pak Banu Bramantyo. Seseorang yang pernah hilang di dalam jurang lima tahun yang lalu. Kami sudah mencari pihak keluarga ke mana-mana. Dan hanya Pak Radit satu-satunya keluarga yang dapat kami hubungi." Salah satu polisi itu menjelaskan panjang lebar.
"Ayah? Tapi bagaimana Bapak bisa menemukan Ayah saya kembali setelah sekian lama?" Radit merasa agak bingung dengan keadaan yang sedang dihadapinya saat ini.
"Bapak ini yang telah menemukan Pak Banu dan merawatnya hingga kini." Polisi itu menunjuk kakek tua yang berdiri di samping Pak Banu.
"Benar Mas, Mbak, saya menemukan Pak Banu kurang lebih lima tahun yang lalu di hutan. Waktu itu saya sedang mencari kayu bakar di hutan. Tidak sengaja saya melihat ada orang yang terbaring di bawah pohon dengan keadaan yang mengenaskan. Bahkan saya mengira bahwa Pak Banu itu sudah meninggal. Dengan penuh rasa takut saya mendekati Pak Banu dan setelah saya periksa ternyata Pak Banu masih hidup. Lalu saya membawanya ke gubuk saya yang berada di ladang." Kakek tua itu menghentikan kata-katanya sejenak untuk mengambil nafas. Nafasnya sudah tersengal-sengal karena usianya yang sudah renta.
"Saya merawatnya di gubuk saya, karena saya tidak mampu untuk membawanya pulang. Jarak rumah dengan ladang saya di hutan memang cukup jauh, melihat tubuh Pak Banu yang besar dan penuh luka, saya pikir tidak mungkin untuk membawanya pulang seorang diri. Akhirnya saya pulang terlebih dahulu untuk meminta bantuan anak dan tetangga saya untuk membawa Pak Banu pulang. Setelah dirawat selama tiga hari di rumah dengan pengobatan tradisional yang sederhana, akhirnya Pak Banu mulai sadar. Tapi Pak Banu tidak ingat apapun. Bahkan siapa dirinya pun Pak Banu tidak tahu, apalagi ketika kami bertanya tentang keluarga dan tempat tinggalnya. Pak Banu malah mengeluh karena sakit kepalanya." Kakek itu menengok ke arah Pak Banu lalu mengambil nafas dalam.
"Akhirnya kami memutuskan untuk tidak bertanya tentang jati dirinya. Karena kami takut Pak Banu berusaha mengingat masa lalunya dan membuatnya sakit kepala lagi. Selama masa komanya, Pak Banu terus mengigau dengan memanggil-manggil anaknya yang bernama Radit. Kami hanya terus merawatnya dengan telaten hingga keadaannya berangsur pulih. Dan satu minggu yang lalu, tiba-tiba Pak Banu mengeluh sakit kepala lagi, ternyata dia bisa mengingat namanya kembali. Pak Banu terus mencari anak dan istrinya. Katanya anaknya itu bernama Radit. Lalu kami melaporkannya ke pihak polisi." Kakek itu bercerita panjang lebar hingga dia tampak kelelahan. Dia berusaha mengatur nafasnya yang sudah ngos-ngosan.
Radit dan Aishah terus memperhatikan dengan seksama setiap kata-kata yang diucapkan oleh kakek itu.
"Radit? Kamu sekarang sudah besar Nak? Ayah sangat merindukanmu, di mana Ibumu sekarang? Lalu siapa wanita ini?" Pak Banu mendekat ke arah Radit lalu menyentuh bahunya. Pak Banu tampak memperhatikan Aishah dengan bingung.
Jadi Ayah lupa ingatan. Ingatan Ayah masih belum pulih seutuhnya.
Radit bergumam dalam hati.
"Apa! Masa Ayah tidak ingat dengan Aishah menantu Ayah sendiri. Dan Ibu? Ibu sudah lama meninggal Ayah bahkan sebelum Radit menikah dengan Aishah." Radit memegang bahu Ayahnya.
"Apa! Apa yang menyebabkan Ibumu bisa meninggal? Padahal saat ini aku sangat merindukannya." Pak Banu mulai meneteskan air matanya.
__ADS_1
Cih, andaikan saja Ayah ingat, bahwa yang menyebabkan kematian Ibu adalah Ayah sendiri.
"Ibu kecelakaan setelah mendapati Ayah sedang ber…." Radit menghentikan kata-katanya karena Aishah menyenggol Radit dan membuatnya terkejut.
"Ibu kecelakaan Ayah, beliau telah tiada lama. Ayah harus kuat ya." Aishah menunduk melihat wajah Ayah yang sudah tertunduk sedih. Aishah sengaja memutus perkataan Radit karena tidak tega melihat keadaan Ayahnya yang masih memperihatinkan itu. Aishah tidak ingin membuat ayah mertuanya semakin tertekan.
"Maaf sebelumnya Mas Radit dan Mbak Aishah, bukannya saya mau bersikap lancang, tapi saya mohon, Mas dan Mbak jangan sekali-kali berkata sesuatu yang membuat Pak Banu tertekan terlebih dahulu. Karena jiwanya masih lemah. Karena selama lima tahun Pak Banu bersama kami, Pak Banu mempunyai hati yang sangat mulia. Pak Banu selalu mengajarkan kami agar kami selalu berbuat baik dan menolong satu sama lain. Pak Banu selalu membantu setiap warga yang sedang kesulitan semampunya. Tolong sayangi Pak Banu dengan sepenuh hati, jangan katakan apapun yang bisa membuatnya sakit hati, meskipun itu sebuah kebenaran sebelum Pak Banu benar-benar pulih dengan ingatannya." Kakek tua itu benar-benar menyayangi Pak Banu.
Radit sebagai anaknya saja tidak pernah perhatian seperti itu. Kakek tua itu menyadarkan Radit, sehingga membuat Radit merasa bahwa dirinya memang bukan anak yang baik selama ini. Radit tidak pernah mau mendengarkan perkataan ayahnya. Walau bagaimanapun kesalahan yang telah diperbuat ayahnya, sebenarnya tidak seharusnya Radit menjadi anak yang kurang ajar kepada ayahnya. Akhirnya Radit menyadari kesalahannya selama ini kepada ayahnya.
"Baik Kek, terima kasih sudah merawat Ayah kami dengan sangat baik dan penuh kasih sayang. Mungkin jika tidak ada Kakek, kami tidak tahu apakah masih bisa bertemu dengan Ayah atau tidak sampai saat ini." Aishah menundukkan kepalanya tanda hormat dan terima kasih kepada Kakek tua itu.
"Baik kalau begitu, tugas kami di sini sudah selesai. Kami permisi dulu." Salah satu polisi itu berpamitan. Mereka menundukkan kepala lalu beranjak pergi.
Kakek tua dan ibu setengah baya yang telah membantu Pak Banu juga ikut berpamitan untuk pulang. Namun, Aishah segera mencegahnya. Aishah ingin mengucapkan ucapan terima kasih secara khusus kepada mereka. Radit juga ikut menahan mereka. Sepertinya mereka benar-benar orang baik, jadi Aishah ingin sedikit membalas budi mereka.
"Baik Pak terima kasih." Radit menanggapi perkataan polisi tadi.
"Silahkan duduk kembali Kek, Bu." Radit mempersilahkan tamunya untuk kembali duduk.
Akhirnya mereka bersedia makan malam bersama dengan Aishah dan Radit. Mereka tampak sangat menikmati menu yang disediakan Aishah. Sepertinya mereka berasal dari keluarga yang tidak mampu, yakni berasal dari kampung. Itu dapat dilihat dari cara berpakaian dan perilaku mereka yang sangat sederhana. Namun, mereka tetap menjunjung tinggi sopan santun dan tata krama. Mereka tetap menjaga etika dan perilaku mereka selama berada di rumah Aishah dan Radit dengan sangat baik. Walaupun mereka sangat takjub dengan kekayaan yang dimiliki Aishah dan Radit, namun mereka tetap bisa menjaga sikap.
"Maaf Kek kita tadi belum sempat berkenalan, kalau boleh saya tahu Kakek dan Ibu ini namanya siapa ya?" Aishah tampak tersenyum kepada kedua tamunya.
"Saya Rinto Mbak dan ini anak saya Tari." Kakek tua itu memperkenalkan anak perempuannya yang sedang duduk di sebelahnya.
"Memangnya kalian berasal dari mana?" Aishah masih penasaran.
"Kami berasal dari luar kota, rumah kami di kampung dekat hutan mbak." Ibu Tari menjawab. Dia terlihat malu-malu.
"Rumah kalian jauh sekali pasti kalian sangat lelah berkeliling mencari rumah ini. Kalau begitu kalian menginaplah di sini hingga tenaga kalian pulih kembali. Besok kalau kalian akan pulang kami akan mengantar kalian sampai di rumah." Aishah tersenyum ramah kepada mereka.
"Wah Mbak Aishah ini baik sekali kepada kami, tapi tidak perlu repot-repot seperti itu. Besok kami akan pulang menggunakan angkutan umum saja." Kakek Rinto merasa tidak enak.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Kek, kami sudah sangat senang kalian sudah menolong dan merawat Ayah sampai sekarang. Anggap saja semua itu sebagai bentuk rasa terima kasih kami yang mungkin tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang telah kalian lakukan dengan Ayah kami selama ini." Radit ikut ambil suara.
Akhirnya Kakek Rinto dan Ibu Tari tidak bisa menolak lagi. Kemudian setelah makan malam selesai Kakek Rinto dan Ibu Tari tidur di kamar tamu. Kamar di rumah besar Aishah memang banyak. Di lantai atas saja terdapat tiga kamar tidur. Dan di bawah juga terdapat tiga kamar tidur. Sehingga Ayah dan Kakek Rinto tidur di kamar bawah, dan Ibu Tari di kamar tamu lain di bawah juga.
Aishah merasa bimbang, dia sudah mempersiapkan kamar tamu bawah untuk tempat tidurnya malam ini. Namun, kamar tersebut kini telah ditempati oleh Pak Banu. Lalu Aishah memutuskan untuk tidur di kamar tamu atas saja.
Malam semakin larut, semua orang kini telah masuk ke dalam kamar masing-masing. Kini tinggal Radit dan Aishah yang mulai berjalan menaiki anak tangga. Berat sekali Aishah untuk melangkahkan kakinya menuju kamar Aishah bersama Radit. Hatinya belum reka jika dia harus tidur satu kamar dengan suaminya itu, apalagi kamar itu yang telah digunakan suaminya untuk mengkhianati Aishah.
Ketika Aishah melangkahkan kakinya menuju kamar tamu atas Radit menarik tangannya hingga Aishah menghentikan langkahnya.
"Kamu mau ke mana? Kamar kita di sana." Radit menunjuk ruang kamarnya bersama Aishah.
"Aku mau tidur di sini saja." Aishah enggan menatap mata Radit.
"Tapi kamar ini masih berantakan dan ini sudah malam. Sebaiknya kamu tidur bersamaku saja. Lagi pula apa yang akan Ayah dan orang-orang di bawah pikirkan tentang kita. Jika sampai Ayah mengetahui semua ini bagaimana nanti perasaan Ayah?" Radit berusaha merayu Aishah agar mengurungkan niatnya tidur di kamar tamu.
Terpaksa malam ini Aishah harus mengurungkan niatnya untuk tidur di kamar tamu. Aishah tidak ingin Ayah dan para tamunya mengira yang tidak-tidak. Lagi pula Kakek Rinto tadi juga berpesan untuk tidak membuat Pak Banu merasa sedih dahulu. Aishah menyeret langkahnya menuju kamar. Aishah merasa sakit hati, rasanya jika mengingat kejadian tadi pagi, lukanya kembali menganga lebar dan terasa amat sakit.
Setelah masuk ke dalam kamar, ingatan Aishah kembali muncul membuat kejadian yang tadi dilihatnya tampak nyata. Bayangan Radit dan Kirana terus membayangi pikirannya. Aishah tidak kuat lagi jika harus berlama-lama di dalam kamar ini.
"Mau kemana Aish?" Radit melihat Aishah yang beranjak keluar dari dalam kamar.
"Aku akan tidur di kamar tamu sebelah, aku tidak bisa tidur di sini lagi." Aishah melenggang berlalu pergi.
Radit pun mengikuti langkah Aishah dari belakang. Dilihatnya Aishah sedang membereskan tempat tidur yang sudah lama tidak dipakai itu. Radit mendekati Aishah lalu memeluknya dari belakang.
"Sayang aku tahu, aku sudah berbuat kesalahan yang besar, aku benar-benar khilaf. Tapi kumohon, beri aku satu kesempatan lagi. Aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahan itu lagi. Aku benar-benar tidak bisa kehilanganmu Aish." Radit semakin mengeratkan pelukannya membuat Aishah tidak bisa berkutik di dalam pelukannya.
"Bukan hanya itu Kak. Tapi Aish sadar, Aish bukan wanita yang sempurna. Aish tidak bisa memberikan apa yang selama ini Kak Radit inginkan yaitu seorang anak." Dari sudut mata Aishah terlihat mulai menganak sungai.
"Aku tidak peduli akan hal itu. Yang aku tahu aku hanya mencintaimu. Aku tidak menginginkan apapun kecuali dirimu dan cintamu." Radit masih terus berusaha meyakinkan Aishah agar mau kembali dengannya.
"Apakah Kak Radit bersedia menunggu Aishah sampai Aishah sembuh dan bisa punya anak? Dan kalau itu semua tidak berhasil apakah Kak Radit bisa menerima Aishah dengan apa adanya?" Aishah mulai meninggikan suaranya.
__ADS_1
"Pasti Aish, aku akan menerimamu meskipun dalam kemungkinan terburuk pun. Jadi mari kita perbaiki hubungan kita saat ini." Radit membalikkan tubuh Aishah lalu menjatuhkan Aishah dalam dekapannya.