Menemukan Cinta Sejati Aishah

Menemukan Cinta Sejati Aishah
Membaik


__ADS_3

Aishah menjadi tambah bimbang, ucapan manis Radit selalu bisa membuat hatinya luluh. Radit memang sangat pandai merayu. Namun, jauh di dalam hatinya, luka yang Radit goreskan saja masih menganga lebar. Untuk menerima Radit kembali sepertinya sulit, jadi Aishah masih butuh waktu untuk memikirkannya.


"Untuk saat ini, aku belum bisa Kak. Aku butuh waktu." Aishah melunakkan suaranya.


"Aku akan memberikanmu waktu seberapa pun yang kamu butuhkan. Asalkan jangan pernah pergi dari hidupku Aish, aku benar-benar tidak bisa tanpamu." Radit menatap mata Aishah dengan lembut. Aishah hanya terdiam, hatinya sedang kalut saat ini.


"Sayang, kamu dengarkan kata-kataku. Ayah sekarang sudah kembali. Aku tidak ingin membuatnya sedih lagi. Aku akan memperbaiki kesalahanku yang telah lalu dengannya. Aku akan berusaha menjadi anak yang baik. Jadi kumohon Aish bantu aku menjadi anak yang berbakti. Bantu aku merawat Ayah, agar ingatan Ayah bisa pulih kembali seperti sedia kala." Radit berlutut di depan Aishah, memohon dengan tangannya yang tidak lepas menggenggam tangan Aishah. Lalu perlahan Radit mengecup lembut tangan Aishah.


Aishah mulai luluh. Dia tidak bisa melihat orang yang memohon kepadanya sampai berlutut di depannya.


"Baiklah, aku akan memberikan Kak Radit satu kesempatan lagi. Tapi ini yang terakhir kalinya. Dan semua ini Aish lakukan karena Ayah." Meskipun dengan berat hati, Aishah berusaha menerima Radit kembali ke dalam hatinya. Aishah masih ingin memperbaiki pernikahannya, walaupun itu sangat sulit untuk hatinya bisa percaya kepada Radit kembali.


Akhirnya Radit tidur di kamar tamu bersama dengan Aishah. Radit memeluk Aishah dalam dekapannya. Dia mengecup lembut kening Aishah, lalu mengulum bibir Aishah dengan lembut. Namun, Aishah melelaskannya, Aishah menolaknya untuk menyentuh tubuhnya.


"Maaf Kak, Aish belum bisa." Aishah bangun dari tidurnya, lalu berpindah menuju sofa di dekat tempat tidur. Aishah meletakkan bantal di ujung sofa lalu membaringkan tubuhnya di sana. Radit terus menatap Aishah.


"Aish, aku saja yang tidur di sana. Aish tidurlah di tempat tidur." Radit bangkit dari tempat tidur lalu menghampiri Aishah. Akhirnya mereka bertukar posisi. Dan mereka tidur di kamar itu sampai pagi hari.


Pagi harinya, Aishah bangun dan segera bergegas untuk menunaikan kewajibannya sebagai hamba Tuhan yang berbakti. Aishah melaksanakan sholat subuh lalu bergegas menuju dapur untuk memasak. Sesampainya di dapur dilihatnya Bibi sedang memasak yang dibantu oleh Ibu Tari.


"Selamat pagi semuanya, kita masak apa pagi ini?" Aishah melirik Bibi yang sibuk mencuci sayuran yang hendak dipotong.


"Eh Mbak Aishah sudah bangun ya. Maaf Mbak saya sudah lancang karena meracik bumbu sop, tanpa memberitahu Mbak Aishah terlebih dahulu." Ibu Tari menghentikan kegiatannya.


"Oh tidak apa-apa Bu, aku malah senang kalau ada yang membantu memasak. Jadi pekerjaanku dan Bibi menjadi lebih ringan." Aishah tersenyum kepada Ibu Tari.


"Iya kan Bi." Aishah menengok ke arah Bibi yang sedari tadi hanya diam saja.


"Iya betul sekali Non." Bibi menengok lalu tersenyum.

__ADS_1


"Bolehkah aku mencicipi sopnya terlebih dahulu Bu?" Aishah melihat ke arah sop iga yang mulai matang.


"Tentu saja Mbak Aishah, silahkan di icipi dulu." Ibu Tari bergeser agar Aishah bisa mendekat dan mencicipi masakannya.


"Hmm, wah enak sekali sopnya Bu. Bu Tari pintar sekali memasak."Aishah kembali mencicipi masakan Bu Tari karena saking enaknya.


"Ah Mbak Aishah ini bisa saja. Saya jadi malu." Bu Tari menunduk karena malu, wajahnya kini sudah merah padam.


"Benar lho Bu, bumbunya sangat kuat tapi pas. Rasanya juga sederhana, namun mempunyai kekhasan tersendiri tidak seperti sop iga biasanya. Aku suka sekali masakan Bu Tari." Aishah tersenyum bangga dengan hasil masakan Bu Tari itu.


"Sebenarnya, Pak Banu juga mengatakan demikian. Beliau selalu meminta saya untuk membuatkan sop untuknya. Bahkan hampir setiap hari. Katanya, rasa masakan saya mirip dengan masakan istrinya begitu. Tapi ya dengan bahan yang seadanya. Bahan yang saya petik dari kebun sendiri. Kebetulan di desa Bapak sebagai petani sayuran." Bu Tari menjaskan panjang lebar. Aishah mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Baiklah kalau begitu, semuanya kan sudah matang. Ayo kita sajikan di meja makan sekarang. Saya juga belum mandi." Aishah segera menyiapkan tempat untuk menaruh masakannya yang sudah matang dan menyajikannya di meja makan untuk sarapan bersama.


Setelah semua berkumpul, sarapan pagi pun dimulai. Tampak Aishah seperti kebiasaannya mengambilkan makanan untuk Radit ke dalam piringnya. Ternyata itu juga dilakukan oleh Bu Tari, setelah mengambilkan makanan untuk Kakek Rinto yaitu ayahnya, Bu Tari juga mengambilkan makanan untuk Pak Banu.


"Silahkan dinikmati." Radit memakan suapan pertama ke dalam mulutnya.


"Enak sekali masakan ini. Siapa yang memasak?" Radit melihat ke arah Aishah. Lalu Aishah menengok ke arah Bu Tari.


"Saya Mas Radit." Bu Tari tampak malu-malu, wajahnya kini berubah menjadi merah padam.


"Iya Dit, masakan ini yang selalu membuat Ayah ingat dengan ibumu. Dulu Ayah sangat menyukai masakan ibumu. Karena masakan ini pula Ayah menjadi ingat dengan kamu dan ibumu. Dan Ayah menjadi sangat rindu dengan kalian. Tapi ternyata ibumu sudah meninggal. Dan rindu Ayah untuk bertemu dengan ibumu harus Ayah kubur dalam-dalam." Tampak kesedihan memancar di wajah Pak Banu.


Sebenarnya Ayah adalah orang yang baik. Bahkan dia sangat menyayangi istri dan anaknya. Tapi gara-gara Bella Ayah menjadi orang yang jahat. Bella…. Awas saja kau!


Radit terus bergumam dalam hati. Tangannya kini sudah menggenggam sendok dengan kuat.


"Maaf Pak Banu, Mas Radit dan Mbak Aishah jika saya menyela pembicaraan kalian. Rencananya setelah sarapan nanti kami akan pulang ke rumah kami di desa." Kakek Rinto memecah keheningan di antara mereka.

__ADS_1


Aishah dan Radit saling bertatapan.


"Kenapa harus buru-buru Pak? Saya masih ingin kalian di sini loh." Pak Banu menyahut.


"Iya Kek, sebaiknya Kakek Rinto dan Bu Tari menginaplah di sini untuk beberapa hari. Tentu perjalanan yang kalian lalui kemarin cukup menguras tenaga kalian. Anggap saja kalian sedang berlibur di sini." Radit ikut menimpali.


"Tidak usah Mas, terima kasih. Nanti kami malah merepotkan kalian." Kakek Rinto tampak tidak enak hati.


"Hari ini sepertinya aku belum bisa berangkat kerja Kak. Rencananya aku akan mengajak Ayah, Kakek Rinto dan Bu Tari untuk berjalan-jalan sebelum mereka pulang ke kampung. Baru setelah itu aku akan mengantar mereka pulang sampai ke rumah." Aishah ikut ambil suara.


"Apa tidak sebaiknya mereka untuk menginap di sini lagi? Sepertinya mereka masih kelelahan dalam perjalanan kemarin." Radit menanggapi Aishah.


"Tidak Mas, maaf karena kami sudah banyak merepotkan kalian." Kakek menundukkan kepalanya.


"Kakek Rinto jangan bicara seperti itu. Kakek dan Bu Tari sudah menyelamatkan hidup saya. Bahkan saya saja tidak akan bisa membalas kebaikan kalian berdua." Pak Banu menepuk bahu Kakek Rinto dengan lembut.


"Ya sudah, bagaimana kalau nanti sore saja kalian pulang. Aku juga ingin mengantar kalian pulang ke rumah. Tapi aku harus bekerja dahulu hari ini. Aku juga ingin sedikit membalas kebaikan kalian berdua." Radit menghabiskan makanan yang berada di piringnya.


Akhirnya mereka sepakat, Kakek Rinto dan Bu Tari akan pulang nanti sore diantar oleh Radit, Aishah dan Ayah. Setelah selesai sarapan, Radit segera berangkat untuk bekerja.


"Kalau begitu sekarang kita akan jalan-jalan ke mall terlebih dahulu." Aishah mengajak Ayah, Kakek Rinto dan Bu Tari masuk ke dalam mobil. Aishah masuk terlebih dahulu ke dalam mobil. Dia duduk di belakang kemudi. Setelah semua masuk ke dalam mobil, Aishah melajukan mobilnya menuju keramaian kota.


Suasana mall tidak begitu ramai. Karena hari ini adalah hari kerja dan masih pagi pula. Aishah membelikan beberapa baju untuk masing-masing. Aishah juga membelikan perhiasan untuk Bu Tari.


"Saya tidak bisa menerima semua ini Mbak, Mbak Aishah sudah terlalu banyak membelikan barang untuk saya." Bu Tari merasa tidak enak dengan pemberian Aishah.


"Tidak apa-apa Bu, Bu Tari pasti akan terlihat cantik jika memakai ini semua." Aishah memberikan beberapa paper bag kepada Bu Tari.


Setelah siang hari, mereka pulang ke rumah. Aishah memutuskan untuk makan siang di rumah saja, karena Aishah sangat menyukai masakan Bu Tari. Mereka sengaja pulang hanya untuk makan siang, kemudian kembali pergi jalan-jalan. Aishah mengajak mereka ke danau untuk melihat pemandangan di sana.

__ADS_1


Sepertinya mereka sangat menikmati pemandangan di danau. Akhir-akhir ini Aishah senang sekali mengunjungi danau ini. Hatinya terasa tenang jika melihat hamparan danau luas yang tenang. Setelah puas melihat danau, mereka pulang ke rumah. Hari sudah mulai sore Kakek Rinto dan Bu Tari bersiap-siap mengepak barang-barang mereka. Mereka kini hanya tinggal menunggu kedatangan Radit pulang dari bekerja.


__ADS_2