Menemukan Cinta Sejati Aishah

Menemukan Cinta Sejati Aishah
Surat Terakhir Aldi


__ADS_3

Besok adalah hari pernikahan Aishah, hari dimana dua insan disatukan dalam suatu ikatan. Ikatan yang sakral dan suci. Di mana kedua pihak harus berjanji di dalam hati untuk bersatu sampai maut memisahkan. Dua insan yang melebur jadi satu, menanamkan benih-benih cinta. Menyirami dengan kasih sayang, merawat dengan kesetiaan, serta memupuknya dengan kepercayaan dan kejujuran. Tak lupa saling terbuka satu sama lain menambah ikatan itu semakin kuat. Ikatan yang akan terus mengakar mencengkram hati, bercabang kenyamanan, berdaun rasa aman hingga berbuah kebahagiaan.


Siang itu cuaca sangat panas. Matahari bersinar begitu teriknya. Hingga ubun-ubun serasa mendidih terkena pancarannya. Aishah mulai terbangun dari tidur siangnya. Rupanya cuaca panas memaksanya terbangun dari tidur nyenyaknya. Keringat bercucuran ke mana-mana, badannya serasa basah karena mandi keringat. Ternyata, Aishah lupa menyalakan AC di kamarnya. Sebelum hari pernikahannya tiba, Aishah memang harus menjaga kesehatannya dengan ekstra. Lebih tepatnya mempersiapkan badan, hati dan pikirannya.


Aishah tak mau, apapun mengganggu hari bersejarahnya itu. Bagi seorang wanita pernikahan adalah hal yang sangat penting. Dapat bersanding dengan lelaki yang dicintainya adalah hal yang paling ditunggu-tunggu. Apalagi jika dua anak manusia itu saling mencintai. Serasa dunia hanya milik berdua, sementara yang lain? ya ngontrak. Aishah mencoba untuk menata kembali hatinya. Membuka lembar baru tentu bukan perkara mudah jika masih banyak bayangan hitam yang berkelebat menghantui. Merapikan yang berantakan, mengambil yang tercecer dan tentu membuang hal-hal yang tidak penting.


Hati dan perasaannya benar-benar harus ditata ulang, dicuci sebersih mungkin. Sampai bersih dari segala hal yang dapat membuatnya menyesal di kemudian hari. Hingga Aishah siap meletakkannya di atas lembar baru yang kosong, yang akan ia torehkan tinta-tinta kehidupan bersama dengan suaminya nanti.


Semalam, Radit datang menemui keluarga Aishah untuk meminta maaf. Menjelaskan semua masalah yang terjadi padanya dengan Aishah. Bahwa Radit tak ingin kesalah pahaman ini berlanjut dan menjadi batu sandungan dalam pernikahannya nanti. Hingga larut malam, Radit baru pulang ke rumahnya yang berada di luar kota. Di sana Radit tak mempunyai keluarga siapapun kecuali Ayahnya. Namun, Radit tinggal berbeda rumah dengan Ayahnya.


Siang harinya, Radit kembali ke hotel bersama dengan Ayahnya. Karena jika ia berangkat pagi sebelum ijab kabul berlangsung, pasti tidak akan sampai tepat pada waktunya.


______________________________________________


Waktu begitu cepat berputar, berlalu begitu saja tanpa permisi. Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Ini adalah hari pernikahan Aishah dengan Radit. Sepagi ini, Aishah sudah siap berdandan di depan cermin rias, dengan seorang perias profesional yang dibooking oleh Radit sebelumnya.


Perias itu memoles satu persatu bagian wajah Aishah dengan sangat detail. Bak pelukis handal yang dengan elok meliuk-liukan kuasnya di atas kanvas putih. Wajah Aishah yang mulus dan putih bersih membuatnya dengan mudah dipoles oleh sang perias. Tak membutuhkan waktu lama, wajah Aishah sudah full make up. Aishah terlihat sangat cantik dengan balutan kebaya putih yang menghiasi tubuhnya yang ideal. Kebaya itu berwarna putih panjang yang menjuntai jatuh ke lantai.


Aishah mematut dirinya di cermin kamarnya. Dirinya terlihat begitu anggun dengan gaun pernikahan dan riasan wajahnya. Aishah sampai pangling sendiri melihat bayangan dirinya di cermin. Ia tak menyangka dirinya terlihat sangat cantik dengan gaun yang dipilihkan Radit. Tinggal menunggu jam dan Aishah akan bersanding dengan Radit di pelaminan. Dari dadanya mulai terdengar bunyi genderang yang ditabuh. Semakin lama semakin keras dan tak beraturan. Aishah menarik nafas dalam-dalam agar perasaannya lebih baik.


Acara pernikahannya diadakan di sebuah gedung tak jauh dari rumahnya. Setelah selesai di make over, Aishah pergi ke gedung tempat pesta pernikahannya berlangsung. Aishah pergi dengan keluarganya menggunakan mobil Pakdhenya. Setelah sampai di gedung, belum banyak tamu yang datang. Hanya ada orang-orang yang sibuk dengan dekorasi ruang dan para pelayan yang sedang sibuk menyiapkan makanan.


Sebelum acara ijab kabulnya dengan Radit dimulai, Aishah memilih menunggu di ruang tunggu. Gedung tempat berlangsungnya pesta pernikahannya memang menyediakan ruang tunggu khusus yang bisa digunakan sebagai ruang ganti. Di dalam ruang tunggu tersebut juga dilengkapi dengan tempat tidur. Sudah seperti kamar tidur saja, lengkap dengan cermin rias dan almari tempat pakaian.


Aishah menunggu acara dimulai bersama dengan perias dan Andini di dalam ruang tunggu. Perias wanita itu selalu mengecek hasil dandanannya di wajah Aishah, sambil sesekali membenahi gaun Aishah. Sementara, kluarga yang lain tengah sibuk menyambut kedatangan para tamu undangan yang hadir.

__ADS_1


Terdengar suara ketukan dari balik pintu. Andini bergegas untuk membukakan pintu. Terlihat Ega tengah berdiri di balik pintu dengan nafas yang masih ngos-ngosan. Setelah mendapat persetujuan, Ega masuk ke dalam ruangan. Ega menghampiri Aishah yang tengah duduk di depan cermin, dengan perias wanita yang tak henti-hentinya merapikan polesan wajah Aishah.


"Ega, ada apa?" Aishah melihat bayangan Ega yang mulai mendekat dari cermin di depannya. Ega menyerahkan sebuah amplop biru yang berasal dari Aldi.


"Aldi menitipkan ini padaku, dia memintaku untuk menyerahkannya padamu sebelum hari pernikahanmu tiba. Tapi di luar dugaanku, aku mendapat proyek di luar kota, jadi aku baru bisa kembali tadi pagi. Sehingga aku baru bisa memberikannya padamu saat ini. "Maafkan aku Aish."


Tampak rasa menyesal muncul di raut wajah Ega. Sepertinya tadi dia buru-buru datang ke sini, sehingga wajahnya masih terlihat kumal dengan kemeja yang lecek dan rambutnya yang acak-acakan.


Aishah menerima amplop biru tersebut, lalu membukanya. Di dalamnya terdapat sebuah surat hasil tulisan tangan Aldi. Aishah mulai membaca kata demi kata yang tertulis dalam surat itu. Tiba-tiba dadanya mulai terasa sesak. Matanya terlihat menganak sungai. Perlahan, butiran kristal mulai menetes. Membasahi pipinya yang ditutupi dengan bedak tebal. Bedak yang menempel di pipinya perlahan mulai luntur.


Dear Aishah


Aish, saat ini kamu pasti sedang bahagia. Andaikan aku bisa melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah cantikmu itu, pasti aku juga akan sangat berbahagia.


Maafkan aku, karena kebodohanku yang telah membuatmu sakit hati. Maafkan aku, yang tak pernah bisa berterus terang perihal perasaanku kepadamu. Maafkan aku dengan sikapku akhir-akhir ini kepadamu.


Andai kau tahu sesungguhnya, jauh dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku sungguh sangat mencintaimu dengan jiwa dan ragaku. Bahkan aku mencintaimu sejak pertama kita bertemu di SMA. Tapi bodohnya aku yang hanya dapat mencintaimu dalam diam.


Mungkin saat kamu membaca surat ini, aku sudah tidak ada lagi di dunia ini. Tapi jangan bersedih dan jangan pernah menangis. Karena, walaupun ragaku telah tiada, namun cintaku akan selalu bersamamu.


Itulah sebabnya aku tak pernah bisa mengungkapkan perasaan ku yang sejujurnya kepadamu. Karena penyakit kanker otak ini yang terus menggerogoti tubuhku.


Aku tak pernah ingin melihatmu bersedih. Untuk itu, aku baru mengatakan penyakitku ini kepadamu saat ini. Di saat kamu tak perlu lagi bersedih karena kehilanganku. Karena sudah ada seseorang yang akan selalu di sampingmu, melindungimu dan mencintaimu.


Sebenarnya ingin sekali aku menatap wajahmu untuk yang terakhir kalinya. Tapi tak berdayaanku membuat nyaliku menciut. Aku tidak ingin merusak kebahagiaanmu dengan calon suamimu.

__ADS_1


Aku mohon, berjanjilah padaku Aish, kalau kamu akan hidup dengan bahagia. Kalau kamu tidak akan pernah bersedih dan menangis lagi. Berjanjilah apapun yang terjadi setelah kamu membaca surat ini, kamu tetap akan menikah dengan Radit. Biarkan aku tenang membawa senyuman manismu itu.


Terima kasih untuk semua kebahagiaan yang pernah kamu berikan kepadaku. Terima kasih sudah menjadi bunga terindah dalam taman hatiku, bunga mekar yang tak pernah bisa kujamah. Terima kasih karena sudah membuatku merasakan indahnya cinta.


Untuk yang terakhir, ku ucapkan selamat atas pernikahan mu. Semoga kalian bahagia sampai maut memisahkan. Selamat tinggal.


 


Aldi


 


Seketika itu, air mata mengalir deras di pipi Aishah. Membanjiri make up yang sudah terpoles apik. Sehingga membuat make up Aishah luntur. Aishah sesenggukan dengan kerasnya. Bahkan dadanya sangat sesak saat ini.


"Kamu tidak apa-apa Aish?" Ega mulai cemas dengan keadaan Aishah yang menangis semakin menjadi-jadi. Ia merasa bersalah telah memberikan amplop dari Aldi tepat sebelum ijab kabulnya dimulai. Dan beranggapan bahwa itulah yang menyebabkan Aishah menangis sampai seperti ini.


"Kak Aish, Kakak kenapa?" Andini juga mulai terlihat panik. Lalu Andini berinisiatif untuk memanggil keluarganya.


"Bagaimana keadaan Aldi ga?" Dengan suara yang terputus-putus, Aishah mencoba menggali informasi tentang Aldi kepada Ega.


"Terakhir dia menemuiku di apartemen, keadaannya sudah sangat memperihatinkan. Aldi menitipkan amplop itu. Tak lama setelah itu, dia tak sadarkan diri lalu segera kubawa ke rumah sakit. Karena keadaannya yang sudah parah, maka keluarganya membawa Aldi berobat ke luar negeri."


Ega berusaha mengingat kejadian yang ia alami dengan Aldi, bayangan Aldi yang lemah masih terngiang-terngiang jelas di ingatan Ega. Aishah berusaha mencerna perkataan Ega dengan baik, tampak sekali dari raut wajahnya, Aishah sedang berusaha mengendalikan perasaannya yang sedang kalut.


"Ini adalah hari pernikahanmu Aish, jadi kumohon kuatkan hatimu. Maaf aku telah memberikan amplop itu saat ini, padahal mungkin beberapa menit lagi kamu akan menikah dengan Radit. Seharusnya amplop itu kuberikan padamu sejak kemarin, jadi kamu tidak sekaget ini." Ega merasa sangat menyesal.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa ga, aku akan tetap menikah dengan Kak Radit sekarang. Apapun yang terjadi dengan Aldi, karena itu pesan terakhirnya. Terima kasih sudah mengantarkan surat ini."


Aishah mencoba dengan keras untuk menguatkan hati dan pikirannya.


__ADS_2