
Aishah berangkat ke kantor lebih awal dari biasanya. Hari ini ia ada agenda rapat dengan perusaan Radit. Ia tak mau kejadian yang dulu membuatnya harus pontang-panting mendorong sepeda motornya ke bengkel terulang lagi.
Aishah memilih baju di lemari, dia mendapati jas yang diberikan Aldi waktu itu.
"Ini jas siapa ya kok Aldi memiliki jas wanita?" Aishah bergumam sendiri di dalam kamarnya sambil memegangi jas pemberian Aldi. Karena rasa penasarannya Aishah memutuskan menelepon Aldi untuk menanyakan perihal jas tersebut.
"Halo.." Suara Aldi terdengar dari seberang telepon.
"Aldi jas wanita siapa yang kamu berikan padaku waktu itu?" Aishah to the point.
"Oh itu, jas Alya."
"Kenapa bisa kamu membawanya saat kerja?" Aishah masih kebingungan dengan jawaban yang diberikan Aldi.
"Waktu itu Alya berkunjung ke sini, tapi hanya dua hari. Dia terbang ke luar negeri pagi itu, jadi aku mengantarnya terlebih dahulu ke bandara, tapi dia lupa dengan jasnya. Ia meninggalkannya begitu saja di dekatku saat kami menunggu pesawat di ruang tunggu. Jadi aku bawa saja ke kantor, memangnya kenapa Aish?" Aldi menjelaskan dengan panjang lebar.
"Oh begitu, tidak apa-apa. Aneh saja sih kok kamu punya jas wanita. Hihi. Oh ya Di kamu sudah berangkat ke kantor kan hari ini?"
"Sudah, ini aku juga baru selesai sarapan jadi tinggal berangkat."
"Oke, nanti kita ketemu di kantor bye Aldi."
Aishah menutup teleponnya dengan Aldi lalu pergi sarapan bersama pakdhe budhenya. Setelah sarapan Aishah segera berpamitan lalu berangkat ke kantor.
Di kantor, Aishah sudah melihat Aldi duduk di meja kerjanya. Aldi terlihat sangat sibuk dengan beberapa file di tangannya.
"Selamat pagi Aldi… sibuk bener." Aishah mengagetkan Aldi dari belakang.
"Pagi Aish, aku kan kemarin sempat tidak berangkat kerja tiga hari, jadi pekerjaanku menumpuk." Aish hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Eh Aish, kebetulan kamu sudah datang. Kamu nanti yang rapat dengan perusahaan Pak Radit pagi ini?" Aldi menghentikan pekerjaannya lalu melihat ke arah Aishah.
"Iya, memangnya kenapa Di?" Aishah mengernyitkan dahinya.
"Aku disuruh Pak Bima untuk menemanimu."
"Ya sudah ayo kita siap-siap."
__ADS_1
Aishah segera menuju meja kerjanya dan menyiapkan file-file yang dibutuhkan. Aishah dan Aldi berangkat menuju perusahaan Radit bersama. Mereka menggunakan mobil kantor. Sesampainya di kantor Radit, Aishah segera menuju meja resepsionis.
"Mbak, kami dari perusahaan Jaya Abadi, kami sudah ada janji rapat dengan Pak Radit pagi ini."
Penjaga meja resepsionis tersebut segera menelpon Radit untuk memberi tahukan bahwa orang dari perusahaan Jaya Abadi sudah datang.
"Kalian sudah ditunggu oleh Pak Radit di ruangannya, mari saya antar." Aishah dan Aldi segera menuju ruangan Radit.
Tok...tok...tok…
"Masuk"
Terdengar suara Radit dari dalam ruangan. Mereka masuk ke dalam ruangan Radit yang luas, ada sofa di dalamnya. Ruangan itu dilengkapi dengan televisi dan toilet di dalam.
"Selamat datang, kami sudah menunggu kedatangan kalian."
Radit menyalami Aishah dan Aldi bergantian. Lalu Radit mempersilahkan Aishah dan Aldi untuk duduk di sofa. Di sana sudah ada tiga orang yang tengah duduk bersama dengan Radit. Aishah dan Aldi mulai mempersiapkan file-file yang akan digunakan untuk rapat.
Setelah satu jam, rapat pun selesai. Rapat berjalan dengan lancar. Aishah dan Aldi segera berpamitan. Ketika Aishah dan Aldi hendak menuju pintu, Radit memanggil Aishah lalu menghampirinya.
"Alhamdulillah, Pakdhe sudah sehat. Namun belum diperbolehkan berangkat kerja dulu.
"Syukurlah, nanti bisa temani aku makan siang?"
Aishah menghentikan langkahnya lalu menengok ke arah Radit.
"Emm, mungkin lain waktu. Aku masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan." Aishah tampaknya tak ingin makan siang bersama dengan Radit kali ini.
Aishah dan Aldi segera menuju tempat parkir lalu mengambil mobil. Mobil mulai keluar dari area parkir lalu melesat pergi. Di perjalanan Aldi mengemudi sambil sesekali mencuri pandangan Aishah dari samping, Aishah tampak sedang melamun memikirkan sesuatu.
"Ada apa Aish, sepertinya ada yang sedang kamu pikirkan?" Aldi membuyarkan lamunan Aishah.
"Eh.. Sebenarnya sudah sejak lama aku ingin sekali curhat denganmu Di, tapi waktu itu kamu sedang sakit." Aishah menengok ke arah Aldi yang sedang fokus mengemudi.
"Sekarang aku sudah sehat, kamu bisa curhat sesuka hatimu." Aldi menengok sebentar lalu kembali fokus dengan kemudinya.
"Tapi kamu sedang mengemudi " Aishah fokus melihat ke depan.
__ADS_1
Aldi menghentikan mobil yang dikendarainya di sebuah mall. Aldi dan Aishah masuk ke sebuah restoran lalu memesan dua gelas minuman. Aishah terdiam sejenak lalu menghela nafas panjang.
"Aku dilamar seseorang Di." Aishah memecah keheningan di antara mereka berdua.
"Apa! Siapa?" Sontak saja Aldi terkejut mendengar perkataan Aishah.
"Kak Radit." Aishah berkata lirih.
"Pak Radit?" Aldi memperjelas perkataan Aishah.
"Iya, Kak Radit yang tadi adalah teman masa kecilku yang sekaligus tetangga sebelah rumahku dulu waktu aku masih SD. Kami terpaut tujuh tahun, keluarga Kak Radit sudah tinggal di sebelah rumahku ketika keluargaku pindah dari kampung. Kami sudah dijodohkan sejak kami masih kecil dulu. Ibu kak Radit adalah orang pertama yang sangat menginginkan perjodohan ini terjadi, namun kini beliau telah tiada. Sehingga perjodohan ini menjadi sebuah wasiat terakhir untuk Kak Radit dan keluarganya." Aishah menjelaskan secara rinci.
Duaaarrr.... ! Aldi bagaikan tersambar petir di siang bolong dengan begitu dahsyatnya mendengar perkataan Aishah. Dadanya terasa sangat sesak. Radit bertanya dengan suara lirih.
"Apakah kau menyetujuinya?" Aldi mengernyitkan dahinya.
"Entahlah Di. Memang alasan apa yang bisa membuatku menolaknya." Aishah menggelengkan kepalanya.
Ketika itu, Aishah sangat berharap Aldi memintanya untuk menolak perjodohannya dengan Radit. Dan menyatakan perasaannya kepada Aishah. Sehingga Aishah mempunyai alasan untuk menolak perjodohan ini. Karena tidak mungkin Aishah mengatakan perasaannya terlebih dahulu kepada Aldi.
"Bagaimana denganmu…?" Akhirnya Aishah tak kuat menahan perasaannya, lalu bertanya kepada Aldi.
"Aku? Maksudmu?" Aishah tak berani melanjutkan pertanyaannya. Aishah terdiam, mereka hanya saling pandang tanpa sepatah kata pun. Lalu Aldi mencoba membuat suasana tidak canggung dengan mengulang pertanyaannya.
"Maksudmu aku kenapa?" Sebenarnya Aldi sudah mengetahui maksud dari pertanyaan Aishah. Karena hal ini memang sangat ditunggu-tunggu Aldi sejak dulu.
"Aldi, sebenarnya bagaimana perasaanmu selama ini kepadaku?" Aishah mengatakannya tanpa melihat Aldi.
Aldi sangat bimbang, ingin sekali Aldi mengatakan bahwa dia sangat mencintai Aishah dan ingin sekali dia menjadi laki-laki yang menikahinya kelak. Tapi Aldi tak mungkin mengatakannya karena penyakit yang dideritanya selama ini. Beberapa bulan ini Aldi harus berperang melawan penyakit kanker otak yang terus menggerogotinya.
Namun selama ini Aldi mempunyai semangat yang sangat tinggi agar penyakitnya segera sembuh walaupun itu sulit. Yang selalu membuatnya bersemangat adalah karena Aldi ingin selalu bersama dengan Aishah. Bahkan Aldi telah berencana untuk melamar Aishah setelah Aldi sembuh nanti.
Kenapa waktunya tidak tepat seperti ini sih. Aldi bergumam dalam hati.
Aldi tak ingin melihat Aishah sedih jika mendengar penyakitnya yang serius itu. Pengobatan apapun Aldi telah lakukan agar ia bisa segera sembuh. Aldi tidak menyangka jika impiannya harus hancur seperti ini. Aldi tak mungkin jujur dengan perasaannya, walau bagaimanapun Aishah harus bahagia walaupun tak bersamanya. Jika penyakitnya mengalahkannya, Aldi tak ingin membuat Aishah sedih karena harus kehilangannya untuk selamanya.
Mereka berdua hanya mematung tanpa suara, seperti patung yang sedang di pajang di cafe saja. Aldi masih bingung harus menjawab apa. Aldi harus memilih kata-kata yang baik untuk menjawab pertanyaan dari Aishah itu. Lidahnya seperti membeku, sepertinya suaranya pun hilang ditelan bumi. Aldi benar-benar merasa kalut.
__ADS_1