
Siang ini terasa sangat panas, bahkan teriknya mampu mendidihkan kepala setiap orang yang berjemur di bawahnya. Kendaraan yang memadati jalanan kota, tak luput menyumbang banyak polusi yang berterbangan kian kemari memadati ruang udara. Itu membuat cuaca semakin panas. Udara yang tercemar membuat pandangan semakin kabur. Ditambah dengan teriknya matahari yang memanggang habis aspal jalanan dan membuatnya hampir meleleh.
Sebuah mobil mewah berwarna hitam melaju dengan kecepatan tinggi di jalanan kota yang cukup lengang. Cuaca panas sepertinya membuat orang-orang enggan untuk keluar dari atap-atap yang melindunginya dari panggangan sinar matahari. Sepertinya sang pengemudi sedang terburu-buru. Sehingga panasnya cuaca tak dihiraukan.
Aku sudah tidak sabar ingin melihat keadaan Radit dan Aishah yang memprihatinkan. Bella bergumam dalam hati.
Selama perjalanan menuju rumah sakit, Bella tak henti-hentinya bergumam dalam hati. Saat ini suasana hatinya sedang dalam keadaan bahagia. Sehingga tak heran jika Bella membiarkan suaminya bertindak semaunya.
Setelah kebut-kebutan bersama Bella, akhirnya Pak Banu tiba di rumah sakit tempat Radit dirawat. Setelah memarkirkan mobilnya, Pak Banu segera masuk mencari ruang tempat Radit dirawat. Tidak membutuhkan waktu lama, seorang perawat dengan ramahnya memberitahu ruang perawatan Radit kepada Pak Banu yang bertanya padanya. Kini Radit sudah dipindahkan ke ruang perawatan biasa, karena keadaannya yang sudah membaik.
"Radit, Pakdhe ke ruang perawatan Aish dulu. Aish dan yang lain pasti sudah menunggu-nunggu kabar mengenai keadaanmu saat ini." Pak Joko beranjak dari tempat duduknya.
"Aku ikut! Aku ingin melihat keadaan Aish saat ini." Radit berusaha untuk bangun, namun lagi-lagi kakinya menghalanginya.
"Ah sial! Kenapa kakiku tidak bisa digerakkan sama sekali sih!" Radit memukul kakinya beberapa kali.
"Sudahlah Radit, jangan memaksakan dirimu. Keadaanmu saat ini masih belum pulih betul. Sebaiknya kamu istirahat saja di sini. Nanti kalau dokter sudah memperbolehkan, Aish akan Pakdhe bawa ke sini." Pak Joko menghampiri Radit lalu membantunya untuk berbaring dengan benar.
Sepertinya Radit masih kesal, sehingga ia tidak menanggapi perkataan Pak Joko. Melihat Radit yang terdiam, Pak Joko segera beranjak pergi. Setelah Pak Joko pergi, Radit memperhatikan punggung Pak Joko yang semakin menjauh.
"Aaahhhhh…..Dasar kaki tidak berguna! Kenapa kamu harus lumpuh segala!" Radit terus memaki dirinya sendiri. Hingga ia tidak sadar ada dua orang yang masuk ke dalam ruang perawatannya.
"Radit, bagaimana keadaanmu?" Pak Banu datang menghampiri Radit diikuti Bella di belakangnya membawakan sebuah parcel buah di tangannya. Raut wajah Pak Banu tampak cemas. Begitu pula dengan raut wajah Bella yang dibuat-buat
"Untuk apa kalian datang kesini? Hah pasti kalian ingin menertawakan keadaanku saat ini kan?" Radit menanggapi pertanyaan Pak Banu dengan sangat sinis.
"Kenapa kamu berbicara seperti itu kepada Ayahmu sendiri? Kami datang kemari karena sangat khawatir dengan keadaanmu." Bella mencoba membela Pak Banu.
__ADS_1
"Aku sudah hafal dengan semua tingkah busukmu Bel, jadi jangan sok munafik di depannya!" Radit tampak gusar dengan menunjuk ke arah Pak Banu.
"Kenapa kamu masih saja menganggapku buruk? Padahal aku sudah menganggapmu seperti anakku sendiri. Bahkan aku sangat mencemaskan keadaanmu saat ini Radit." Bella mulai mengeluarkan air mata buayanya.
"Radit kenapa kamu tega berbicara seperti itu dengan Bella? Walau bagaimanapun juga, saat ini dia adalah ibumu." Pak Banu ikut ambil suara.
"Apa yang kalian katakan? Ibu? Apa aku tidak salah dengar. Aku tidak sudi punya ibu seorang pelakor seperti dia!" Radit mulai berapi-api.
"Sayang, apa aku sehina itu, sampai Radit tega berbicara sekejam itu kepadaku?" Huahua… Bella berakting dengan sangat natural diikuti air mata buayanya. Pak Banu yang selalu termakan akting Bella, segera mendekap Bella dengan lembut.
"Sudahlah simpan saja air mata buayamu itu! Aku tidak akan tertipu dengan dramamu yang menjijikan itu!" Radit membuang muka, melihat adegan dramatisir yang dibuat oleh Bella di depan matanya.
"Tutup mulutmu Radit! Jaga bicaramu itu, kamu harus bisa belajar menghormati orang tua!" Pak Banu terpancing emosi.
"Umur kalian saja yang tua! Tapi kelakuan kalian tidak lebih baik dari seorang bayi!" Radit bersikap sangat dingin.
Tok...tok...tok…
Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk. Sontak semua orang yang berada di dalam ruang perawatan Radit menoleh ke arah sumber suara. Ternyata Pak Joko, Bu Sekar, Arya, Aryo serta Aishah yang berada di kursi roda telah berdiri di depan pintu. Sepertinya mereka telah lama berada di sana dan sudah cukup lama untuk mendengarkan keributan antara Radit dan kedua orang tuanya.
"Maaf kami mengganggu." Pak Joko dan yang lainnya mulai masuk. Aishah yang berada di kursi roda dengan didorong oleh Bu Sekar segera menghampiri Radit yang berbaring di tempat tidur.
"Sayang, bagaimana keadaanmu saat ini?" Aishah berbicara dengan lembut membuat emosi Radit yang tadinya meledak-ledak seketika mereda bak disiram air es, ketika melihat kedatangan Aishah. Radit hanya tersenyum, dia menggelengkan kepalanya dengan raut muka kesedihan yang tampak jelas.
"Bagaimana denganmu?" Radit tidak menjawab pertanyaan Aishah tapi malah balik bertanya.
"Aku tidak apa-apa. Tapi…" Aishah menunduk, ia melihat perutnya sambil memeganginya. Air matanya mulai mengalir perlahan, lama kelamaan semakin deras membanjiri pipinya yang putih. Radit berusaha menenangkan Aishah, Radit mencoba memeluk Aishah dengan susah payah. Bu Sekar membantu Aishah duduk di tepi ranjang Radit.
__ADS_1
Lihatlah dua orang yang memprihatinkan ini! Mereka benar-benar menyedihkan! Ini benar-benar tontonan yang sangat seru! Aku sangat senang berada di sini, melihat langsung adegan dua orang menyedihkan ini. Hahaha
Bella terus bergumam dalam hati, sambil sesekali tertawa sinis di belakang. Bibirnya menyeringai tanda kejahatannya.
"Bisakah kita berbicara di luar?" Pak Banu mendekati Pak Joko. Pak Joko mengangguk, lalu mengikuti langkah Pak Banu keluar ruangan.
"Sebenarnya bagaimana keadaan Radit saat ini?" Pak Banu tampak khawatir.
"Kaki Radit saat ini lumpuh." Pak Joko menerawang ke langit-langit rumah sakit.
"Apa!" Pak Banu tampak terpukul mendengar jawaban dari Pak Joko.
"Tapi Radit masih bisa disembuhkan. Kakinya masih bisa pulih kembali seperti semula. Dengan syarat harus dengan usaha yang keras dan waktu yang tidak sebentar." Pak Joko menepuk pundak Pak Banu beberapa kali.
"Kalian tentu sudah melihat sendiri pertengkaran kami tadi di dalam, jadi pasti kalian juga sudah paham seperti apa hubunganku dengan Radit saat ini." Pak Banu menundukkan kepalanya terlihat sedih.
"Jadi kuharap, kalian bisa merawat Radit dengan baik hingga keadaannya benar-benar pulih. Jika boleh jujur, sebenarnya aku sangat menyayangi anak itu. Tapi sikap keras kepalanya benar-benar tinggi. Aku bahkan tidak bisa lagi berbicara baik-baik dengannya." Tatapannya menerawang ke arah ruang perawatan Radit.
"Aku paham dengan situasi kalian saat ini. Radit memang anak yang keras kepala, tapi jauh di dalam lubuk hatinya ia orang yang sangat penyayang." Pak Joko menatap Radit di dalam ruang perawatannya.
"Ya.. dia memang sangat menyayangi ibunya. Ibunya adalah satu-satunya orang yang sangat ia sayangi. Sebenarnya kemarahannya padaku juga bukan tanpa alasan. Bahkan bukan karena Bella adalah mantan pacarnya, melainkan karena kematian ibunya. Dia menganggap bahwa aku dan Bellalah yang menyebabkan kematian ibunya. Sehingga membuatnya sampai semarah ini." Pak Banu bercerita panjang lebar bahkan tanpa diminta oleh Pak Joko.
"Kami akan membantu Aishah merawat Radit dengan baik, hingga Radit benar-benar pulih." Pak Joko kembali menepuk bahu Pak Banu.
"Terima kasih, aku menitipkan Radit kepada kalian. Kalau ada apa-apa segeralah hubungi aku. Aku pamit dulu, sepertinya kehadiranku tidak diharapkan oleh Radit.
"Kamu tenang saja, percayakan semua kepada kami. Semoga hubungan kalian segera membaik." Pak Joko.
__ADS_1
Lalu Pak Banu mengajak Bella untuk keluar dari ruangan Radit. Dan mereka pun pergi meninggalkan rumah sakit.