Menemukan Cinta Sejati Aishah

Menemukan Cinta Sejati Aishah
Anniversary


__ADS_3

Waktunya berjalan begitu cepat. Tidak terasa, satu tahun sudah Aishah menjadi istri Radit. Hari ini tepat satu tahun usia pernikahan mereka. Aishah terbangun sebelum alarm di ponselnya berbunyi. Aishah melihat waktu di ponselnya menunjukkan pukul tiga dini hari. Aishah berusaha memejamkan matanya lagi, namun usahanya sia-sia.


Kemudian Aishah menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Setelah berwudhu, Aishah melaksanakan sholat tahajud sendirian. Kini hatinya semakin tenang. Disempatkannya pula, membaca beberapa ayat suci Al Qur'an. Ini adalah obat yang paling mujarab bagi Aishah jika sedang banyak masalah.


Setelah selesai sholat, Aishah memutuskan untuk memasak. Berkat dari kelihaiannya dalam menciptakan cita rasa yang lezat, kini Aishah membuka usaha katering kecil-kecilan. Aishah sudah mendapatkan pemasukan dari hasil kerja kerasnya. Walaupun masih kecil-kecilan, tapi alhamdulillahnya sudah banyak pesanan yang masuk setiap harinya. Dan semua pesanan dapat Aishah tangani seorang diri. Kadang kala, Radit membantu Aishah menyiapkan pesanan yang masuk.


Usaha yang dirintisnya dari nol ini merupakan ide yang tiba-tiba muncul di benak Aishah. Ketika itu, Aishah tengah menonton acara memasak di televisi, kebetulan acara tersebut mengadakan lomba memasak dan Aishah berinisiatif untuk mengikutinya. Tidak di sangka, Aishah mendapatkan juara kedua. Akhirnya Aishah memutuskan untuk membuka usaha katering kecil-kecilan. Aishah memang pandai memasak. Masakannya tak kalah lezat dengan masakan ala chef-chef di restoran ternama.


Selain memasak merupakan hobinya, Aishah juga bisa mengerjakannya dari rumah. Sehingga tidak meninggalkan kewajibannya untuk melayani dan merawat suaminya yang kini masih duduk di kursi roda. Uang yang di dapat dari hasil usahanya, dapat Aishah gunakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Bahkan untuk biaya pengobatan Radit, sehingga biaya pengobatan Radit sudah tidak ditanggung oleh Pak Joko lagi.


Sebenarnya uang tabungan Aishah masih banyak, namun Aishah tidak bisa hidup hanya dengan menghabiskan uang tabungannya yang sengaja dikumpulkan sejak lama, jauh sebelum dia bersuami. Aishah sengaja selalu menabung, bahkan sebagian besar gajinya dulu selalu dia tabung. Setelah tabungannya terkumpul banyak, Aishah berencana untuk membuka usaha atau bisnis sendiri. Tapi takdir berkata lain, Aishah lebih dulu menikah dengan Radit dan Aishah dilarang untuk bekerja lagi.


Akhirnya Aishah mengubur cita-citanya itu. Menenggelamkannya dalam-dalam. Mungkin untuk suaminya, uang tabungan yang dimiliki Aishah tidaklah seberapa, sehingga jika untuk membuka usaha pun hanya usaha kecil-kecilan yang tidak seberapa hasilnya. Tentu uang bulanan yang selalu diberikan suaminya jauh lebih dari cukup. Sehingga untuk apa membuka usaha jika hanya akan menyita waktunya untuk melayani suaminya? Pikir Aishah.


Tapi ternyata semua berubah. Roda kehidupan berputar dengan cepatnya. Yang dulunya Radit adalah seorang Milyarder yang kekayaannya tidak habis dimakan tujuh turunan itu kini jatuh miskin. Bak membalikkan telapak tangan, semudah itu pula kekayaan yang dimiliki Radit sirna dengan mudahnya. Namun, itu tidak membuat Aishah berlarut dalam kesedihan. Hanya satu yang membuatnya sedih, yakni harus kehilangan calon anak yang bahkan belum sempat dilahirkan ke dunia.


Namun, Aishah selalu berpikir positif, karena akan ada pelangi setelah hujan, pikirnya. Sejak kecil, Aishah memang sudah terbiasa hidup mandiri. Hidup jauh dengan orang tuanya membuatnya mengerti arti dari perjuangan hidup. Walaupun tinggal dengan pakdhe dan budhenya, Aishah tidak pernah bergantung kepada mereka. Aishah selalu berusaha sendiri memenuhi kebutuhannya. Bahkan sejak kecil Aishah sudah dididik untuk hidup mandiri dalam kesederhanaan.


Aishah melihat tanggal berapa hari ini di kalender. Lalu dia teringat, hari ini adalah hari anniversary pernikahannya yang pertama dengan Radit. Aishah berinisiatif membuat kue untuk memberikan kejutan kepada suaminya, setelah suaminya bangun dari tidurnya nanti. Kebetulan masih banyak bahan kue sisa pesanan kemarin, sehingga Aishah tidak perlu repot-repot membeli bahan-bahannya. Aishah tinggal membuatnya dan menghiasnya sebagus mungkin.


Dengan lihainya tangan Aishah menghias kue yang telah dibuatnya. Sehingga kuenya terlihat sangat indah. Ada dua inisial nama R dan A terukir dengan indah, menghiasi kue anniversary berbentuk hati yang berhasil Aishah buat itu. Lalu lilin berbentuk angka satu berdiri dengan gagah di atasnya.


"Wah indah sekali, semoga Kak Radit menyukainya." Aishah senyum-senyum sendiri melihat kue hasil kerja kerasnya.


Kebetulan hari ini pesanan kue yang masuk hanya sedikit, sehingga Aishah bisa menyelesaikannya sebelum siang hari. Aishah berencana akan membawa Radit ke sebuah tempat. Mereka akan merayakan hari pernikahan mereka di sana. Aishah ingin merayakan hari bersejarah itu hanya berdua dengan Radit. Aishah berharap, dengan ini semangat hidup Radit kembali menyala.


Akhir-akhir ini, Radit terlihat kacau. Dia lebih suka menyendiri di dalam kamar. Tidak ada lagi tawa yang menghiasi bibirnya. Bahkan sempat beberapa kali, Aishah mendapati suaminya itu ingin mengakhiri hidupnya. Aishah sangat paham dengan masalah yang dialami suaminya saat ini. Sehingga Aishah selalu berada di samping suaminya untuk terus memberikannya semangat hidup.


"Yup, tinggal menunggu kue di oven matang dan bersih-bersih." Aishah membersihkan meja yang telah digunakannya untuk membuat adonan kue tadi.


Setelah selesai membuat kue pesanan, masak dan bersih-bersih dapur. Aishah memutuskan untuk mandi agar badannya segar. Dilihatnya suaminya masih tertidur dengan pulas di atas tempat tidur.


"Baguslah kalau Kak Radit masih tidur, jadi aku bisa mandi dulu." Aishah menutup pintu kamar dengan hati-hati agar tidak membangunkan suaminya.

__ADS_1


Selesai mandi Aishah melihat Radit sudah bangun. Radit tengah berusaha duduk di tempat tidur dengan bersandarkan bantal. Dengan cepat Aishah membantu suaminya itu.


"Kak Radit mau makan?" Aishah duduk di samping suaminya.


"Aku belum lapar, buatkan aku kopi saja." Radit menyandarkan kepalanya ke bantal di belakangnya.


"Baiklah, Aish buatkan kopi dulu." Aishah segera bergegas ke dapur. Ketika hendak mengantar kopi yang dibuatnya ke kamar, ternyata Radit sudah berada di dekat kaca jendela melihat keramaian kota pagi hari di bawah sana.


Aishah membuat secangkir kopi hitam untuk Radit dan segelas susu untuk dirinya. Karena sejak bangun tadi, Aishah tidak sempat memakan apapun. Kemudian Aishah menghampiri suaminya yang sedang fokus dengan apa yang dilihatnya.


"Kak ini kopinya." Aishah meletakkan kopi yang dibuatnya di atas meja yang berdekatan dengan Radit.


Radit hanya terdiam, dia masih fokus dengan jalanan kota di bawah sana. Aishah menyentuh pundak Radit dengan lembut.


"Kak, Aish ingin mengajak Kak Radit ke suatu tempat." Aishah menatap orang-orang yang berlalu lalang di jalanan bawah sana.


"Kemana?" Radit mendongak.


Setelah menghabiskan segelas susu, Aishah melihat Radit yang telah meneguk kopi terakhirnya.


"Kak Radit mandi dulu gih." Aishah mendorong kursi roda Radit menuju kamar mandi.


"Memangnya Aish tidak ada pesanan katering?" Radit menatap Aishah yang sibuk membantunya untuk bersiap-siap.


"Ada, tapi hanya sedikit. Aish sudah menyelesaikannya tadi, jadi tinggal dikirim." Aishah menatap mata suaminya lalu tersenyum manis.


"Apa itu?" Radit menunjuk tas besar yang dibawa Aishah.


"Ini pesanan kue Kak." Aishah menyelempangkan tas itu di pundak lalu menggendongnya.


"Bukankah tadi Aish bilang hanya sedikit?" Radit mengernyitkan dahinya.


"Ini juga bekal makanan untuk kita." Aishah perlahan mendorong kursi roda Radit dengan hati-hati.

__ADS_1


"Bekal? Untuk apa? Memangnya kita mau ngapain?" Radit penasaran.


"Kita akan berpiknik, Aish sudah menyiapkan semuanya." Aishah mulai memasuki lift. Lalu Radit terdiam, dia pasrah saja dengan apa yang ingin istrinya lakukan.


Setelah menunggu beberapa menit, orang yang mengambil paket kue pesanan datang. Aishah segera menyerahkan paket yang berisi kue itu kepada Bapak yang mengambilnya.


"Terima kasih ya Pak." Aishah menyerahkan sebuah paket besar berisi kue pesanan pelanggan.


Kemudian Aishah membawa Radit ke sebuah taman kota. Kebetulan letaknya tidak jauh dari apartemen Radit. Hanya perlu berjalan kaki sekitar sepuluh menit. Di taman kota tersebut, terdapat danau buatan yang sangat indah. Airnya jernih serta dikelilingi bunga hias yang berwarna-warni. Pepohonan yang tumbuh mengelilingi danau membuat udara di sekitarnya terasa sejuk.


Aishah sengaja membawa tikar kecil untuk tempat duduknya bersama Radit, kemudian Aishah mengeluarkan makanan yang telah dibawanya tadi. Aishah mengeluarkan kue buatannya yang masih seperti bentuk semula.


"Happy anniversary sayang." Aishah memberikan sebuah kue berbentuk hati yang dibuatnya tadi kepada Radit. Aishah berlutut di depan Radit sambil membawa kue anniversarynya. Terlihat di wajah Radit senyum yang mengembang dengan manisnya. Sudah lama Aishah tidak melihat senyum itu menghiasi bibir suaminya.


"Kita tiup bersama lilinnya!" Aishah menghitung sampai hitungan ke tiga lalu meniupnya bersama Radit.


"Terima kasih sayang. Ternyata kamu tidak lupa dengan hari pernikahan kita." Radit membelai kepala Aishah lalu menciumnya. Aishah tersenyum senang.


"Kita duduk di bawah saja Kak, sambil bernostalgia dengan masa kecil kita." Aishah membantu Radit untuk duduk di atas tikar yang dibawanya tadi. Radit pun duduk di samping Aishah. Mereka makan bersama sambil menikmati pemandangan danau yang terbentang di depan mereka.


Tiba-tiba ada sebuah bola yang terpental mengenai kepala Radit cukup keras.


"Awww …" Radit nyengir sambil mengelus kepalanya yang terhantam bola. Lalu datang anak kecil laki-laki berusia lima tahun menghampiri mereka. Sepertinya anak itulah sang empunya bola. Radit yang hendak marah-marah, seketika terdiam.


Radit mengambil bola di dekatnya itu lalu menyerahkannya kepada anak kecil tadi disertai senyuman manis. Anak itu menerima dengan senyuman pula, kemudian meminta maaf dengan mencium punggung tangan Radit dan Aishah secara bergantian. Anak kecil tadi meninggalkan Radit dan Aishah untuk kembali kepada orang tuanya. Terlihat dari kejauhan, kedua orang tua dari anak tadi tampak meminta maaf dengan isyarat tangan. Aishah dan Radit membalasnya dengan menganggukkan kepala mereka.


"Manisnya anak itu." Aishah melanjutkan memakan kue yang sudah tinggal setengah itu.


"Ayo kita buat yang seperti itu!" Radit menatap Aishah dengan tatapan menggoda. Aishah yang menyadarinya segera membalas tatapan itu dengan lembut.


"Aku juga sudah merindukan hadirnya seorang buah hati." Aishah menyetujui ide suaminya itu.


Akhirnya mereka tertawa bersama. Aishah senang sekali karena setelah sekian lama, akhirnya bisa melihat tawa lepas terukir kembali di bibir suaminya. Rencana Aishah berhasil, Radit kembali mendapatkan semangat hidupnya kembali.

__ADS_1


__ADS_2