
"Apa! apa-apaan ini! Pantas saja kau sudah tak pernah mengirimkan laporan perkembangan perusahaan kepadaku akhir-akhir ini! Ternyata wanita licik itu yang berada di balik semua ini." Radit meremas berkas laporan yang dipegangnya lalu melemparkannya tepat ke wajah lelaki berjas hitam di depannya.
"Ma maafkan saya Pak Radit, saya hanya mendapat perintah dari atasan." Lelaki berjas hitam dengan dandanan sangat rapi itu berulang kali menundukkan kepalanya tanda perminta maafannya kepada Radit. Dulu lelaki itu adalah sekretaris Radit, sebelum Bella berhasil mengambil alih jabatan Radit sebagai Wakil Presiden Direktur di Perusahaan Bramantyo Group.
"Perintah apa? Dari siapa?" Radit memberondong pertanyaan kepada mantan sekretarisnya itu.
"Perintah untuk tidak memberikan laporan perusahaan selain kepada Ibu Bella." Lelaki itu tampak takut-takut menyampaikan pernyataannya.
"Ha…. Bella? aku benar-benar sudah kecolongan. Aku tidak menyangka Bella akan berbuat sejauh ini." Radit tampak sangat gusar.
"Sebenarnya saya juga sangat terkejut dengan keadaan ini Pak Radit. Presdir tidak pernah memberitahu apapun kepadaku mengenai pengalihan jabatan. Namun tiba-tiba Wakil Presdir diganti begitu saja tanpa pemberitahuan."
Kini Bella telah berhasil dengan mudahnya merebut jabatan yang telah Radit tempati. Meskipun Radit merupakan anak dari Presiden Direktur dari perusahaan besar Bramantyo Group, namun tidak lantas membuatnya gila jabatan. Radit tidak pernah menggunakan kekuasaan ayahnya untuk mendongkrak jabatannya di perusahaan.
Radit benar-benar memulai kariernya dari nol, bekerja di perusahaan ayahnya pun karena mendapat rekomendasi dari universitasnya. Dengan kegigihan dan keuletannya, Radit berhasil membuat perusahaan berkembang dengan cukup pesat. Kerja kerasnya selama ini terbayar sudah, Radit berhasil menduduki jabatan sebagai Wakil Presiden Direktur.
Walaupun ayahnya adalah seorang pimpinan perusahaan, namun Radit berhasil menduduki jabatan tinggi bahkan tanpa campur tangan ayahnya. Sehingga kabar bahwa Bella dengan mudahnya telah menggantikan posisinya saat ini sangat menyayat hati Radit. Dan dugaannya selama ini mengenai Bella telah terbukti. Bella tidak benar-benar tulus mencintai ayahnya, melainkan Bella hanya ingin menguasai harta yang dimiliki oleh ayahnya.
"Tapi kenapa bisa semudah itu Bella mendapatkan jabatanku?" Radit mencoba mencari kebenaran dari lelaki yang berdiri di hadapannya.
"Ibu Bella mendapat rekomendasi langsung dari Presiden Direktur secara langsung." Lelaki berjas hitam itu berbicara tanpa berani memandang mata Radit.
"Aku sudah menduganya, pasti ayah dengan mudahnya telah termakan bujuk rayu wanita ular itu." Radit mencengkeram sprei tempat tidur rumah sakit.
"Ayah benar-benar sudah dibutakan oleh wanita ular berkepala dua itu. Bagaimana mungkin, Bella yang tidak pernah tahu menahu urusan kantor, bisa masuk begitu saja ke dalam kantor dengan mudahnya dan menduduki jabatan tinggi seperti itu? Ayah benar-benar sudah gila!" Radit terus saja memaki ayahnya.
"Saya dengar juga, semua bisnis yang Pak Radit tangani di bawah nama Bramantyo Group, telah dihandle oleh Ibu Bella sendiri." Lelaki berjas hitam itu masih terus menundukkan kepalanya. Ia tahu bahwa perkataannya akan semakin memancing emosi Radit. Namun ia didesak oleh pertanyaan-pertanyaan dari Radit. Sehingga ia sangat berhati-hati dalam memilih kata-kata yang pas untuk disampaikan kepada mantan atasannya itu.
__ADS_1
"Apa! Benar-benar sudah sinting wanita ular itu! Bisa-bisanya dia memanfaatkan keadaanku saat ini." Radit mulai kehilangan kontrol emosinya.
"Sayang, sabar! kendalikan amarahmu, kondisimu masih lemah." Aishah mendekat lalu menggenggam tangan Radit yang sedari tadi sudah mencengkeram sprei rumah sakit. Bahkan beberapa kali Radit meninju bantal yang berada di dekatnya, sehingga meninggalkan bekas penyok di sana.
"Aku akan menemui ayah sekarang!" Radit berusaha bangkit dari tempat tidurnya. Namun Aishah dan lelaki berjas hitam itu melarangnya.
"Keadaan Kak Radit belum sepenuhnya stabil, apalagi Kak Radit belum diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Itu hanya akan memperburuk kondisi Kak Radit saat ini." Aishah mencoba mencegah niat suaminya itu.
"Ibu Aishah benar, sebaiknya Pak Radit jangan keluar dari rumah sakit terlebih dahulu, karena bisa membahayakan kondisi Pak Radit sendiri. Lagi Pula Presdir saat ini sedang berada di luar negeri untuk beberapa hari kedepan. Jadi Pak Radit tidak bisa berjumpa dengannya saat ini." Mantan sekretaris Radit itu menjelaskan panjang lebar.
"Aahhh… Sial….! Kenapa kakiku menjadi tidak berguna seperti ini!" Radit memukul kakinya beberapa kali. Radit tidak henti-hentinya memaki dirinya sendiri. Aishah yang melihat Radit menyakiti dirinya sendiri tidak tinggal diam, ia segera menenangkannya.
"Kalau begitu saya pamit dulu." Mantan sekretaris itu mengangguk sopan lalu berjalan keluar dari ruang perawatan Radit.
"Bukankah Bella hanya menggantikan posisi Kak Radit untuk sementara? Kemudian setelah Kak Radit sembuh, Kak Radit bisa mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi hak Kak Radit kan?" Aishah duduk di sebelah suaminya.
"Ini baru permulaan, wanita ular itu masih akan terus berbuat kotor, meracuni ayah dengan bisa-bisa jahatnya. Hingga ayah akan bertekuk lutut di bawah kakinya." Radit tertawa getir.
"Lalu apa yang akan Kak Radit lakukan?" Aishah ikut merasakan kesedihan yang dialami suaminya.
"Entahlah, apa yang bisa aku perbuat saat ini, jika kakiku saja tidak berguna seperti ini!" Radit terus menggerutu.
"Apa tidak sebaiknya Kak Radit menelepon Ayah saja?" Aishah mencoba memberikan ide.
"Mungkin sebaiknya begitu! Ambilkan ponselku!" Tangan Radit menunjuk tempat ponselnya diletakkan. Kemudian dengan sigap Aishah mengambilkan ponsel itu lalu menyerahkannya kepada Radit.
Dengan cepat Radit menerima ponsel itu. Tanpa menunggu aba-aba, Radit segera memencet tombol panggil saat pencarian nomor Ayahnya di kontak sudah ditemukan.
__ADS_1
Tuut… tuut…. tut..
Terdengar bunyi dari seberang telepon pertanda, telepon sedang disambungkan.
"Halo." Terdengar suara Ayah Radit dari seberang sambungan telepon.
"Ada yang ingin aku tanyakan!" Radit berbicara dengan ketus.
"Ada apa Radit? Tumben sekali kamu menelepon ayah." Sepertinya Pak Banu merasa senang mendapat telepon dari anaknya yang sudah sejak lama tidak pernah menghubunginya itu.
"Kenapa Ayah memberikan jabatanku kepada Bella tanpa persetujuanku terlebih dahulu? Apakah Ayah sudah gila!" Suara Radit terdengar berapi-api.
"Bella bilang kepadaku bahwa sudah meminta persetujuanmu, dan kamu setuju untuk menyerahkan jabatanmu itu untuk sementara waktu. Setelah keadaanmu pulih, jabatan itu akan dikembalikannya." Suara Ayah Radit terdengar bingung.
"Apa! Dan Ayah percaya begitu saja! Apakah Ayah tidak pernah berpikir kedepannya? Bella itu tidak pernah tahu menahu masalah perusahaan, mengapa dengan entengnya Ayah menyerahkan tanggung jawab yang besar kepadanya begitu saja? Apa sebenarnya yang ada di pikiran Ayah?" Radit berbicara dengan nada tinggi.
"Dulu Bella pernah bekerja dengan Ayah di perusahaan dan kinerjanya juga bagus. Apalagi saat ini dia selalu didampingi oleh sekretaris Ayah, jadi Ayah pikir tidak akan terlalu menjadi masalah." Ayah Radit masih sangat percaya dengan Bella.
"Tapi kenapa Ayah memutuskan semua ini secara sepihak? Kenapa Ayah tidak mengkonfirmasikan terlebih dahulu kepadaku? Atau setidaknya kepada sekretarisku? Apakah Ayah lupa, siapa yang menjadi pemodal utama perusahaan Ayah?" Radit tidak dapat menahan emosinya lagi.
"Ayah hanya ingin kamu istirahat dan fokus terhadap kesembuhanmu terlebih dahulu Radit. Besok setelah kamu benar-benar pulih Ayah berjanji, Ayah sendiri yang akan mengembalikan jabatanmu di perusahaan ini." Pak Banu terdengar sangat meyakinkan.
"Ayah, Bella itu wanita ular berkepala dua, jadi tidak mungkin dia akan dengan mudahnya mengembalikan jabatanku. Ayah sendiri yang mencari masalah, Ayah sendiri yang sudah membuka jalan hancurnya perusahaan yang telah Ayah bangun dengan susah payah dari nol. Dan perlu Ayah ingat! Bahwa Ibu rela memberikan semua harta warisannya kepada Ayah sebagai modal usaha Ayah. Kenapa Ayah tidak menjaganya dengan baik? Apakah Ayah lupa siapa Ayah dulu sebelum menikah dengan Ibu!" Radit masih dengan suara tingginya, bahkan semakin tinggi.
"Kamu tenangkan dirimu Radit. Ayah akan menjaga apa yang sudah Ayah bangun dari nol dengan baik. Ayah juga tidak pernah melupakan jasa ibumu yang telah menjadi orang pertama yang selalu memberikan harapan kepada Ayah, hingga Ayah bisa berada di tempat ini. Terima kasih sudah mengingatkan Ayah!" Pak Banu berbicara panjang lebar di seberang telepon.
"Terserah Ayah saja! Tapi lihat saja, perusahaanmu sebentar lagi akan berada di ambang kehancuran." Radit berkata dengan ketus. Lalu memutus sambungan teleponnya.
__ADS_1