
Kirana mengendap-endap menaiki anak tangga menuju kamar Aishah dan Radit. Ketika Kirana sedang mengambil minum di dapur tadi, Kirana mendengar suara mobil Radit pulang dari kerja. Kirana juga melihat Aishah menunggu suaminya pulang dari kantor di depan pintu depan. Kirana melihat pintu kamar Aishah dan Radit agak terbuka. Dia mencoba mendengarkan apa yang sedang suami istri itu bicarakan. Sepertinya tadi Aishah terlihat gugup ketika bersama dengan Radit. Benar-benar bukan sikap Aishah biasanya.
Sehingga Kirana merasa penasaran dan ingin mengetahui apa yang sedang terjadi pada Aishah. Kirana mengintip percakapan Radit dan Aishah dari balik pintu.
Oow ternyata Aishah itu mandul. Wah ini benar-benar kesempatan yang sangat bagus untukku. Aku tidak akan menyia-nyiakannya begitu saja.
Kirana segera mencari tempat persembunyian ketika melihat Radit hendak keluar dari kamar. Namun, sialnya Kirana terlambat untuk berlari dan membentur pintu di depannya.
"Aduh…" Kirana meringis kesakitan sambil terus mengelus-elus keningnya yang terbentur pintu.
"Ma maaf aku pikir tadi Mas Radit belum pulang, jadi aku hendak mengetuk pintu. Aku ingin bertemu dengan Aishah." Kirana gelagapan, dia bingung harus mencari alasan apa agar Radit tidak curiga dengannya yang telah menguping pembicaraan Aishah dan Radit di dalam kamar tadi.
Radit tidak menggubris keberadaan Kirana, Radit hanya menatap Kirana sebentar kemudian berlalu pergi. Kirana menatap kepergian Radit menuruni anak tangga.
Sepertinya mereka sedang marahan. Baguslah aku akan berusaha mengambil hati Radit.
Kirana melihat Aishah yang menangis sendiri di dalam kamar.
Baguslah aku akan mengikuti Radit.
Kirana berjalan mengikuti langkah Radit dari belakang. Radit menuju dapur lalu mengambil minuman dingin di kulkas. Radit berhenti di ruang keluarga lalu duduk di sana. Radit menyalakan televisi lalu duduk di sofa sambil menyeruput minuman dingin yang tadi diambilnya dari kulkas.
Kirana berjalan menuju kamarnya. Dia berdandan dengan cantiknya lalu mengganti baju tidurnya. Dia sengaja memakai baju tidur yang seksi untuk menarik perhatian Radit. Kemudian Kirana berjalan menuju dapur. Kirana sengaja membuatkan susu hangat untuk Radit. Selama Kirana tinggal di sana, Kirana selalu mencari tahu kesukaan dan kebiasaan yang dilakukan Radit.
"Maaf Mas Radit, saya buatkan susu hangat untuk Mas Radit." Kirana berjalan menghampiri Radit, kemudian meletakkan susu hangat yang dibuatnya di atas meja. Radit hanya menatapnya sebentar lalu kembali fokus melihat acara di televisi.
"Maaf Mas Radit, sebenarnya saya mau mengucapkan terima kasih. Karena saya sudah diizinkan bekerja di perusahaan Mas Radit." Kirana duduk di sofa.
Radit hanya diam, bahkan Radit tidak melihat Kirana sedikit pun. Kemudian Radit menatap Kirana dengan tatapan tajam.
"Bekerjalah dengan baik." Radit melihat ke arah Kirana sebentar lalu kembali menonton televisi
"Baik, Mas Radit. Saya akan bekerja dengan semaksimal mungkin." Kirana berdiri dari tempat duduknya.
"Silahkan diminum Mas, nanti keburu dingin." Kirana melemparkan senyum termanisnya.
Merasa bahwa dirinya tidak diperhatikan oleh Radit, Kirana pergi menuju dapur.
Sial, kenapa sih dengan lelaki itu, memangnya dia tidak bisa melihat tubuhku yang indah ini apa.
Kirana berjalan menuju dapur dengan kesalnya. Dia meletakkan sebuah nampan kecil yang dibawanya. Lalu Kirana menuju kamar tidurnya.
Lumayan juga ternyata wanita itu.
Radit menyeruput susu hangat yang dibuatkan oleh Kirana. Sementara di kamar atas, Aishah masih sedih dengan masalah yang dialaminya. Aishah tidak bisa tidur memikirkan penyakit yang dideritanya.
"Kenapa Kak Radit tidak juga masuk ke kamar ya, apakah Kak Radit marah denganku?" Aishah bangun dari tempat tidur lalu duduk di tepi tempat tidurnya.
Aishah menuruni anak tangga untuk mencari keberadaan Radit. Ternyata Aishah menemukan Radit sedang tertidur di sofa depan televisi. Aishah menghampiri suaminya yang tengah tertidur dengan pulasnya.
"Kasian, Kak Radit pasti sangat lelah. Dan aku malah memberinya kabar buruk. Maaf Kak, Aish juga sedih. Tapi Aish akan berusaha dengan sekuat tenaga Aish untuk melawan penyakit ini, agar kita segera memiliki anak." Aishah mengecup kening suaminya dengan lembut. Aishah tidak tega jika harus membangunkannya. Akhirnya Aishah mengambilkan Radit selimut. Aishah ikut tidur di sofa dekat suaminya.
Radit terbangun karena kakinya terasa kram. Selama tidur, Radit memang tidak bisa meluruskan kakinya. Sehingga, Radit harus tidur dengan posisi kaki meringkuk. Radit melihat Aishah yang tertidur di sofa dekatnya. Radit juga mendapati dirinya tengah memakai selimut. Sepertinya Aishah yang menyelimutinya.
Radit menatap dalam-dalam wajah istrinya. Dibelainya rambut panjang istrinya yang tergerai.
"Sebenarnya ini semua bukan kesalahanmu, tapi jujur aku sangat kecewa mendengar ini semua. Karena aku sudah sangat mendambakan seorang anak. Kenapa semua ini harus terjadi kepadamu? Kepada rumah tangga kita?" Radit merasa kesal.
Sepertinya Aishah merasakan sentuhan tangan Radit di kepalanya. Aishah terbangun lalu mencoba mencari kesadarannya. Aishah melihat Radit tengah duduk di depannya.
__ADS_1
"Kak Radit?" Aishah mengucek-ucek matanya.
"Ayo kita tidur di kamar!" Radit berdiri lalu pergi menuju kamar atas. Aishah pun mengikuti langkah kaki Radit dari belakang.
Pagi harinya, Radit, Aishah dan Kirana sudah siap berkumpul untuk menikmati sarapan pagi mereka. Seperti biasanya Aishah mengambilkan makanan untuk Radit sesuai menu yang ditunjuk oleh Radit. Hari ini Aishah sudah mulai bekerja kembali.
"Hari ini adalah hari pertama Kirana bekerja. Aku menempatkannya di bagian pengemasan." Aishah mengambil makanannya.
"Kirana sudah bercerita denganku." Radit memakan suapan pertamanya.
"Loh memangnya kapan kalian bertemu? Ku pikir Kirana sudah tidur saat Kak Radit pulang." Aishah menatap Radit dan Kirana secara bergantian
"Aku semalam haus Aish, lalu mengambil minum di dapur. Tidak sengaja aku melihat Mas Radit sedang menonton televisi jadi aku mengucapkan terima kasih. Iya kan Mas Radit?" Kirana tampak senang.
"Hemm." Radit tetap fokus dengan sarapannya.
"Oh, Seperti itu. Kalau begitu hari ini kamu berangkat bareng aku saja Kira. Kebetulan aku akan mampir ke gedung produksi." Aishah mengunyah suapan terakhirnya.
"Nanti malam, Dokter Dariel akan makan malam di sini. Jadi pulanglah sebelum makan malam. Persiapkan semuanya dengan baik. Aku mau Aish yang masak. Masaklah masakan yang paling spesial. Aku akan pulang sebelum makan malam." Radit berdiri dari tempat duduknya lalu diikuti Aishah yang membawakan tas kerjanya. Kemudian di belakang, Kirana mengikuti langkah Aishah menuju mobil.
Setelah Radit berangkat kerja. Aishah masuk ke dalam mobil bersama Kirana. Mereka berangkat ke kantor bersama di antar oleh sopir Aishah.
"Nanti kamu bisa langsung kerja, aku tidak akan memakai masa training khusus untukmu." Aishah menatap Aishah di sampingnya.
"Iya Aish, terima kasih. Dengan aku sudah bisa bekerja saja aku sudah sangat bahagia. Jadi aku bisa membantu keluargaku di kampung." Kirana menggenggam tangan Aishah.
Kring… Suara pesan masuk dari ponsel Aishah. Aishah mengambil ponselnya dari dalam tas. Kemudian memeriksa siapa yang mengirimkan pesan. Ternyata satu pesan mendarat di ponselnya berasal dari Dokter Dariel.
Dokter Dariel : Aish, rencananya nanti malam aku akan makan malam di rumahmu. Boleh kan?
Aishah : Tentu saja boleh Dok, aku akan masak spesial untuk menyambut kedatangan Dokter Dariel.
Aishah : Tenang saja Dok, aku tidak akan mengganggu kalian.
Dokter Dariel : Sepertinya jika bertiga akan lebih seru.
Aishah : Baiklah Dok, ku tunggu kedatangan Dokter. Tadi Kak Radit juga sudah memberitahuku tentang ini.
Dokter Dariel : Benarkah? Baguslah kalau begitu. Radit memang orang yang bisa diandalkan.
Aishah tersenyum melihat pesan dari Dokter Dariel. Lalu Aishah menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas.
Sore harinya, Aishah sengaja pulang lebih awal untuk mempersiapkan makan malam bersama dengan Dokter Dariel. Aishah sengaja mampir ke super market terlebih dahulu untuk berbelanja bahan makanan dan sayur untuk makan malam. Sesampainya di rumah, Aishah segera memasak bahan makanan yang telah dibeli tadi.
Sesampainya di rumah, Aishah segera berkutat dengan masakannya. Aishah sengaja meracik sendiri semua bumbu pada masakannya. Kemampuan Aishah memang sudah tidak diragukan lagi dalam hal masak memasak.
Hingga malam tiba, Radit baru kembali dari kantor. Radit segera mandi untuk menyegarkan dirinya. Setelah berganti pakaian, Radit turun ke bawah untuk menunggu kedatangan Dokter Dariel.
"Dokter Dariel belum datang?" Radit mencicipi masakan yang telah dibuat oleh Aishah.
"Belum Kak." Aishah menyiapkan minuman di meja.
"Tadi dia bilang sudah otw, ke mana saja dia." Radit mengambil ponselnya dari dalam saku celana lalu memeriksa pesan dari Dokter Dariel.
Tak lama kemudian, terdengar suara bel pintu berbunyi.
"Sepertinya itu Dokter Dariel." Aishah mendongak melihat Radit yang masih sibuk dengan ponselnya.
"Aku akan melihatnya ke depan." Radit berjalan menuju pintu depan.
__ADS_1
Ternyata benar, Dokter Dariel telah tiba. Dokter Dariel datang seorang diri. Dia datang membawa sekotak kue.
"Dokter Dariel, aku sudah lama menunggu. Ayo masuk!" Radit mengajak Dokter Dariel ke ruang makan.
"Sorry Dit, aku tadi ada urusan sebentar. Jadi baru sampai sekarang." Dokter Dariel mengikuti langkah Radit dadi belakang.
"Kita langsung makan saja. Aku sudah kelaparan menunggumu dari tadi. Lagi pula masakan istriku sudah menunggu ingin segera disantap. Pasti kamu akan ketagihan dengan masakan Aishah." Radit menyombongkan masakan Aishah dengan bangganya kepada Dokter Dariel.
Setelah sampai di ruang makan, Radit mempersilahkan Dokter Dariel untuk duduk.
"Di mana Aishah?" Dokter Dariel celingak-celinguk mencari keberadaan Aishah.
"Sayang… ayo kita makan bersama." Radit berteriak.
"Iya." Aishah berlari menuruni anak tangga.
"Selamat malam Dokter Dariel." Aishah duduk di dekat Radit.
"Selamat malam Aish, kamu cantik sekali malam ini." Dokter Dariel terkesima dengan kecantikan Aishah, sampai-sampai dia tercengang melihat Aishah.
"Ehem…" Radit membuat Dokter Dariel tersadar, bahwa wanita di depannya itu adalah istri sahabatnya sendiri.
"Haha sorry Dit, aku hanya bercanda kok. Tapi serius istrimu cantik. Kamu pandai mencari istri." Dokter Dariel menepuk pundak Radit dengan keras lalu terkekeh. Radit tampak kurang suka dengan bahan bercandaan Dokter Dariel kali ini.
"Bi, tolong panggilkan Kirana ya." Aishah menatap Bibi yang sedang menuangkan minuman ke gelas Aishah.
"Baik Non." Bibi kini menuang minuman ke gelas Dokter Dariel. Lalu bergegas menuju kamar Kirana.
"Siapa memangnya? Ku kira kalian hanya tinggal berdua di rumah ini." Dokter Dariel tampak penasaran.
"Dia temanku dari kampung. Dia kini bekerja di perusahaan kami. Dan dia belum cukup hafal kawasan sini." Aishah menjelaskan kepada Dokter Dariel.
"Bagaimana dengan dokter wanita pujaan hatimu itu?" Radit mengalihkan pembicaraan Aishah dan Dokter Dariel.
Dokter Dariel hanya tersenyum. Lalu mengambil makanan yang telah disiapkan di depannya.
"Hey, kau tidak dengar aku bertanya apa?" Radit masih mencari jawaban dari Dokter Dariel.
"Sepertinya dia sudah memiliki lelaki pilihannya sendiri." Dokter Dariel mengangkat kedua bahunya.
"Selamat malam semuanya." Kirana datang menghampiri Radit, Aishah dan Dokter Dariel di meja makan. Kirana tersenyum lalu mengambil tempat duduk.
"Dokter Dariel perkenalkan ini Kirana." Aishah menunjuk ke arah Kirana. Lalu Kirana tersenyum kepada Dokter Dariel. Dokter Dariel pun membalas senyuman dadi Kirana.
"Ayo kita makan." Radit yang sudah merasa kelaparan sejak tadi sudah tidak sabar untuk menyantap masakan Aishah yang terlihat sangat menggiurkan.
Lalu mereka menyantap masakan yang dibuat oleh Aishah dengan lahapnya.
"Wah lezat sekali masakanmu Aish. Pantas saja usaha katering kalian bisa sesukses saat ini." Dokter Dariel terus melahap masakan Aishah hingga makanan di piringnya tidak tersisa.
"Terima kasih Dok." Aishah tersipu malu. Wajahnya sudah merah merona.
"Sudahlah jangan ganggu terus istriku. Dia sudah menjadi milikku sepenuhnya. Jadi jangan mencoba untuk macam-macam!" Radit tampak tidak main-main dengan ucapannya. Sebenarnya Radit sangat kesal dengan kelakuan Dokter Dariel di depannya. Namun, Radit juga tahu bahwa Dokter Dariel hanya bercanda. Radit sudah hafal dengan sifat Dokter Dariel yang sangat senang bergurau. Namun, gurauan Dokter Dariel kali ini membuat Radit kesal.
"Bukannya kamu sendiri tadi yang bilang bahwa masakan istrimu itu lezat. Dan ternyata benar sekali, aku sangat menyukai masakan ini. Sepertinya besok aku akan mulai berlangganan katering di tempat kalian. Aku juga akan mengajak teman-teman untuk berlangganan di tempat kalian. Ini benar-benar recomended sekali" Dokter Dariel benar-benar menikmati masakan Aishah.
Menyebalkan sekali sih kedua lelaki ini. Selera mereka benar-benar buruk. Mata mereka sudah rabun apa! sampai tidak melihat ada wanita secantik aku di depan mata mereka.
Kirana terus ngedumel dalam hati. Dia merasa iri dengan Aishah. Kirana merasa dirinya tersaingi oleh Aishah. Padahal Kirana sudah berdandan dengan cantiknya sebelum makan malam tadi. Tapi malah tidak dilirik sedikit pun oleh kedua lelaki di depannya itu.
__ADS_1
Lalu mereka menikmati makan malam mereka dengan khidmat. Mereka menghabiskan masakan Aishah hingga tak bersisa. Aishah sangat senang, karena masakannya disukai oleh Dokter Dariel.