Menemukan Cinta Sejati Aishah

Menemukan Cinta Sejati Aishah
Kedatangan Bella


__ADS_3

Malam kian larut, udara di sekitar pun semakin dingin. Orang-orang mulai memasuki alam bawah sadar dan menata mimpinya. Mengistirahatkan badan yang pegal karena seharian bekerja. Mata-mata mulai terlelap untuk men charge kembali tenaga yang terkuras habis. 


Di keheningan malam, jalanan mulai sepi. Hanya beberapa kendaraan yang masih berlalu lalang. Radit melajukan mobilnya dengan kecepatan yang tinggi, memecah kegelapan malam. Sendiri, yah itulah yang selalu ia rasakan. Ia segera menuju hotel tempat ia menginap. Tiba-tiba terdengar suara ponsel berdering.


kring…. kring…


Ada nomor tak dikenal masuk.


"Halo." Radit mengangkat teleponnya.


"Aku sangat rindu denganmu apakah kita bisa bertemu." Terdengar suara seorang wanita muda di seberang telepon. Radit sangat hafal suara wanita itu.


"Untuk apa? Apakah kamu belum puas dengan apa yang telah kamu lakukan padaku?" Radit mulai geram.


"Aku sangat menyesal, ada hal penting yang harus aku bicarakan denganmu." Wanita itu terus membujuk Radit.


"Aku sedang bekerja di luar kota."


"Aku tahu, apakah kita bisa bertemu di cafe X sekarang?"


"Aku sangat sibuk, jangan menggangguku lagi."


Radit segera menutup teleponnya lalu membanting ponselnya di kursi sebelahnya.


Mau apa lagi wanita itu? Setelah sekian lama,apakah dia belum puas dengan apa yang telah dia perbuat padaku.


Setelah sampai hotel, Radit segera menuju ruang kamarnya. Radit sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya. Seorang wanita muda tengah berdiri bersandar di tembok samping pintu kamar hotelnya.


"Apa yang sedang kamu lakukan di sini?"


Wanita itu melepaskan kaca mata hitamnya lalu datang menghampiri Radit, ia memeluk Radit dengan tiba-tiba. Radit yang tidak ada persiapan apapun dengan reflek menggeliat dan melepaskan pelukan wanita itu. Namun wanita itu enggan untuk melepaskannya, justru lebih mengeratkan pelukannya.


"Apakah kamu tidak merindukanku?" Wanita itu berbisik di telinga Radit dengan suara seksinya. Kemudian mengecup lembut leher Radit. Spontan Radit mendorong tubuh wanita itu hingga mundur beberapa langkah ke belakang.


"Pergi dari sini, aku tidak ingin melihatmu lagi." Nampaknya wanita dengan rok mini dan jaket ketat itu tidak menyerah. 


"Biarkan aku menjelaskan semua kesalah pahaman ini dulu padamu. Tidak mungkin kita bicara di sini." Akhirnya setelah perdebatan panjang wanita itu berhasil merayu Radit. Radit pun akhirnya memperbolehkan wanita itu masuk ke kamar hotelnya.


"Berbicaralah dengan cepat dan segera pergi dari sini!" Radit menutup pintu kamarnya lalu meletakkan tas kerjanya di meja. Kemudian Ia melepaskan sepatu dan dasinya.


"Apakah seperti itu cara menyambut kedatanganku setelah satu tahun kita tidak bertemu?"

__ADS_1


"Hhh… untuk apa aku menyambutmu, bahkan kau pergi tanpa berpamitan denganku."


Wanita itu duduk di ujung tempat tidur lalu meletakkan tas yang sedari tadi dibawanya.


"Apakah kau sudah tidak mencintaiku?" Wanita itu berdiri lalu menghampiri Radit, memegang kedua tangannya lalu menatap lekat matanya. Dari ujung matanya keluar butiran-butiran kristal yang menetes perlahan.


"Aku sangat mencintaimu, dulu sekarang dan selamanya." Ucap wanita itu dengan nada sedih. Radit menatap tajam wanita tersebut lalu menyeringai.


"Lalu apa yang kamu lakukan di vila dengan Ayahku satu tahun yang lalu?"


Wanita itu terdiam sesaat, lalu menghela nafas panjang. Ia membalas tatapan tajam Radit dengan tatapan lembut disertai senyum manis dari bibirnya.


"Kau hanya salah paham, semua tidak seperti apa yang kamu lihat, justru aku sedang membicarakan kelanjutan hubungan kita dengan Ayahmu."


Radit melepaskan genggaman tangan wanita itu lalu membelakanginya. 


"Apakah harus dengan berpelukan dan menginap bersama di villa?"


"Kami tidur di kamar berbeda, memang saat itu ada kontrak kerja yang harus aku bicarakan dengan Ayahmu."


"Kenapa harus begitu mesra? Apalagi dengan Ayahku, aku tahu kamu bekerja di dunia entertain tapi waktu itu kamu adalah kekasihku, kamu harus bisa menjaga dirimu."


Wanita itu masih saja mendekati Radit lalu mendekapnya erat, kedua tangannya mengelus dada Radit dari belakang, lalu berbisik di telinganya.


"Aku sangat merindukanmu, ini juga sudah larut tentu kamu sangat lelah seharian bekerja, mari saling melepaskan rindu."


Wanita itu membalikkan badan Radit lalu menariknya hingga mendekati tempat tidur. Wanita itu menarik tangan Radit hingga mereka terduduk bersama di tepi ranjang. Mereka saling berhadapan dan bertatap muka. 


Wanita itu dengan cepat merangkulkan kedua tangannya di leher Radit, mengecup bibir Radit dengan lembut. Wanita itu mulai membuka kancing jaketnya satu persatu, melepaskan dari tubuhnya dan membuangnya ke lantai. Memamerkan lekukan tubuhnya yang tampak jelas dari balik kaos ketat dan transparan yang digunakannya.


Radit hanya pasrah dengan semua yang dilakukan wanita itu. Tak dapat dipungkiri, Radit memang masih mencintai wanita yang ada di hadapannya itu. Dulu wanita ini adalah wanita yang sangat dipuja-puja oleh Radit. Namun itu semua berubah ketika Radit mendapati ia selingkuh dengan Ayahnya sendiri. Bahkan karena itulah Ibunya sakit hati dan akhirnya kecelakaan.


Wanita itu mulai menggerayangi tubuh Radit, melepas kancing kemeja Radit satu persatu. Radit memegang tangan wanita itu lalu menepisnya.


"Kenapa? Bukankah dulu kau menyukainya?"


Wanita itu berbicara dengan suara yang dibuat-buat agar terdengar seksi. Lalu ia menarik kakinya, menindihkan di kaki lainnya. Ia mengibaskan rambut dengan tangannya, hingga rambutnya yang panjang bergelombang menyapu wajah Radit yang berada di sebelahnya.


Radit merasakan aroma harum yang khas keluar dari rambut wanita itu. Wanita itu bertumpu pada kedua tangan yang berada di belakang tubuhnya. Semakin membuat lekukan tubuh depannya semakin jelas. Radit tidak bergeming, ia mencoba menahan nafsu liarnya yang semakin meronta.


"Bella, berhentilah menggodaku. Aku sudah tidak bergairah denganmu!"

__ADS_1


Radit bangkit dari tempat duduknya lalu membenahi beberapa kancing baju yang sudah Bella lepas tadi. Namun Bella belum jera, ia menarik tangan Radit hingga ia terjatuh tepat di atas tubuh Bella. Dengan cepat Bella berpindah posisi, hingga ia kini yang berada di atas tubuh Radit. Bella duduk di atas perut Radit dengan bertumpu pada kedua lututnya. 


"Sayang, dulu kau tak pernah menolakku. Jangan munafik!"


Bella mulai menyerang Radit dengan mengecup bibirnya. Lalu ******* bibir Radit dengan ganasnya. Rupanya Radit mulai terbuai, ia membalas ciuman Bella lalu memasukkan lidahnya ke mulut Bella. Bella sangat senang, ia menggigit bibir bawah Radit dengan lembut. Dan mulai menaikkan tubuhnya hingga dadanya berada di atas muka Radit, membenamkan muka Radit di dalamnya. Mereka melakukan itu cukup lama. Hingga terdengar suara ponsel Radit berdering.


Kriing….. kriing…


Suara ponsel itu menyadarkan Radit, lalu Radit segera mendorong tubuh Bella menyingkirkannya hingga terjatuh di sampingnya. Radit bangun dan bergegas mengambil ponselnya di atas meja.


"Hallo Aish."


"Kak Radit, besok pulang kantor apakah ada acara?"


Terdengar suara Aish dari seberang telepon.


"Tidak, memangnya kenapa?"


"Aku ingin berbicara suatu hal dengan Kak Radit, bisakah kita bertemu?"


"Oh tentu, apakah besok aku harus menjemputmu?"


"Tidak usah, kita bertemu di taman kota saja."


"Baik kalau begitu."


"Ya sudah Kak, besok Aish tunggu Kak Radit di taman, maaf mengganggu istirahat Kak Radit. Aish tutup dulu teleponnya. Assalamu'alaikum"


"Walaikum salam."


Radit meletakkan kembali ponselnya di atas meja.


"Keluar kamu dari sini!"


Radit mengusir Bella dari kamarnya. Bella tak memperdulikannya, ia malah menarik selimut lalu bersiap untuk tidur.


"Kenapa lagi? Ayo kita lanjutkan yang tadi!"


Dengan tak tahu malu Bella menepuk tempat di sampingnya. Radit yang sudah tak bisa menahan emosinya segera mendekat lalu menarik paksa tangan Bella. Radit mengambil jaket dan tas Bella lalu membuka pintu kamarnya. Radit menghempaskan Bella keluar ruangan dengan kasar, lalu melemparkan jaket dan tasnya tepat di muka Bella. Radit menutup pintu kamar hotelnya dengan keras.


Bisa gawat kalau aku terus membiarkannya berada di dalam kamar ini.

__ADS_1


__ADS_2