Menemukan Cinta Sejati Aishah

Menemukan Cinta Sejati Aishah
Keberhasilan Kirana


__ADS_3

Hari berganti hari. Matahari mulai turun ke bumi, kembali ke peraduannya. Menenggelamkan siang hari yang terik. Ini adalah malam kedua Aishah tidak berada di rumah. Malam sebelumnya Radit sengaja tidak pulang ke rumah untuk menyelesaikan semua pekerjaannya yang menumpuk di kantor. Radit tidur di kantornya hingga pagi. Sehingga, Radit tidak sempat pulang ke rumah. Radit langsung bekerja tanpa menyempatkan untuk pulang.


Waktu pulang kantor telah tiba. Dari kemarin Radit tidak pulang, jadi hari ini dia memutuskan untuk pulang cepat. Badannya terasa pegal-pegal semua. Radit ingin mengistirahatkan badannya. Setelah sampai di rumah, Radit segera menuju kamarnya. Radit menyempatkan untuk mandi terlebih dahulu agar badannya terasa segar.


Radit segera merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Tidak lama kemudian Radit sudah masuk ke dalam alam bawah sadarnya, berkelana dalam mimpi-mimpinya yang indah.


"Ini sudah waktunya makan malam, kenapa Radit tak juga turun untuk makan malam?" Kirana merasa penasaran. Setelah menunggu Radit yang tak juga turun untuk makan malam, Kirana memutuskan untuk makan malam sendirian.


Setelah makan malam, Kirana menyempatkan diri untuk menonton televisi. Dilihatnya ruang kamar Radit dari bawah yang masih tertutup rapat sejak sore tadi. Melihat keadaan yang sudah sepi, Kirana mulai berpikir untuk melancarkan aksinya. Sepertinya Bibi sudah tidur, karena sudah sejak tadi Bibi masuk ke dalam kamarnya.


Kirana pergi menuju kamarnya untuk mengganti bajunya dengan lingerie seksi miliknya. Tak lupa, Kirana juga mendandani dirinya dengan sangat cantik. Setelah selesai berdandan, sekali lagi Kirana mematut dirinya di depan cermin untuk memastikan tidak ada yang salah dengan penampilannya malam ini.


"Sempurna. Kali ini tidak boleh gagal lagi." Kirana tersenyum licik diikuti seringai di bibirnya.


Kirana menuju dapur untuk membuatkan segelas susu hangat dan membawakan makan malam untuk Radit. Setelah dirasa cukup, makanan dan minuman itu Kirana bawa ke kamar Radit dengan menggunakan nampan besar.


Tokk...tok...tok…


Suara pintu kamar Radit diketuk oleh Kirana beberapa kali. Namun, tak juga ada sahutan dari dalam kamar. Kirana mencoba membuka pintu kamar Radit, yang ternyata tidak dikunci.


Eh ternyata tidak dikunci, Radit benar-benar membuka kesempatan untukku. Hahaha


Kirana begitu kegirangan karena bisa masuk ke dalam kamar Radit dengan leluasa. Tampak Radit yang terbaring di tempat tidur dengan bertelanjang dada. Radit hanya mengenakan celana pendek selutut. Radit terbaring di tempat tidur begitu saja tanpa menggunakan selimut.


Bahkan ketika tidur pun lelaki ini terlihat sangat tampan. Gagah sekali tubuhnya. Sepertinya dia sangat lelah, hingga tertidur begitu lelapnya.


Kirana menggerayangi dada Radit yang terbuka begitu saja. Kirana duduk di sebelah Radit yang sedang tertidur dengan tubuh terlentang. Sepertinya sentuhannya membuat Radit terbangun dari tidurnya.


"Emmm…" Radit menggeliat lalu perlahan membuka matanya. Seketika itu Kirana segera berdiri di samping tempat tidur, agar Radit tidak marah.


"Kenapa kamu berada di sini!" Radit tampak meninggikan suaranya. Dia sangat terkejut dengan keberadaan Kirana yang tiba-tiba di dalam kamarnya.


"Maaf Mas Radit, aku sangat khawatir dengan keadaan Mas Radit. Dari tadi sore Mas Radit tidak keluar dari dalam kamar, bahkan tidak keluar untuk makan malam juga. Jadi ku pikir untuk melihat keadaan Mas Radit sekalian membawakan makanan. Aku takut jika Mas Radit sakit." Kirana menundukkan kepalanya. Sebenarnya dia sangat takut jika Radit akan marah dengannya. Namun, Kirana berusaha memberanikan dirinya.


"Tapi kenapa kamu masuk ke dalam kamarku secara tiba-tiba tanpa seizinku!" Radit mulai emosi.

__ADS_1


"Aku tadi sudah mengetuk pintu kamar Mas Radit berkali-kali tapi tidak ada sahutan dari dalam. Makanya aku sangat mengkhawatirkan Mas Radit." Kirana mencoba mencari alasan yang paling masuk akal untuk mengusir kecurigaan Radit kepadanya.


Radit hanya terdiam dengan tatapan mata yang tajam kepada Kirana. Kemudian Radit bangun dari tempat tidur untuk duduk bersandarkan bantal.


"Mana makanannya?" Radit melihat makanan yang sudah disiapkan oleh Kirana di meja makan. Radit sudah merasa sangat kelaparan. Karena terakhir dia makan tadi siang waktu masih berada di kantor. Dengan cepat, Kirana segera mengambilkan makanan itu untuk diberikan kepada Radit.


"Ini Mas Radit, habiskan semuanya ya. Nanti jika Mas Radit mau menambah, aku akan mengambilkannya untuk Mas Radit." Kirana menyerahkan nampan yang berisi makanan dan minuman untuk Radit. Kirana sengaja berjongkok di depan Radit agar Radit bisa melihat dadanya yang terbuka.


"Kenapa kamu memakai baju seperti itu saat berada di dalam kamarku? Apakah kamu tidak punya malu!" Radit berkata dengan kasarnya. Kirana tidak menjawab apapun. Kirana hanya diam seribu bahasa.


"Apa kamu tidak malu dengan pakaianmu itu! Aishah sudah sangat banyak menolongmu. Bahkan mengizinkan kamu untuk tinggal di sini dan memberimu pekerjaan. Kamu malah berusaha ingin menggodaku, dasar tidak tahu diri!" Radit tersenyum kecut. Kirana sudah terpojok. Dia tidak berani mengangkat kepalanya untuk melihat ke arah Radit.


Hey kau ini sedang bicara apa sih, memangnya aku peduli. Ini semua kan memang sudah menjadi bagian dari rencanaku. Terserah saja kamu mau bicara apa.


Kirana terus bergumam dalam hati. Sebenarnya dia merasa sangat kesal kepada Radit, namun Kirana tidak akan menyerah begitu saja. Dia sudah sampai di ujung rencananya, sebentar lagi akan berhasil menguasai Radit. Jadi Kirana tidak akan menggubris perkataan Radit itu sedikit pun.


"Maaf Mas Radit, tapi ada yang ingin aku sampaikan kepada Mas Radit." Kirana menundukkan kepalanya. Radit hanya terdiam, dia lebih antusias untuk mengisi perutnya yang sudah keroncongan dari tadi.


Kirana mendekati Radit, lalu menunjukkan sebuah foto di dalam ponselnya kepada Radit.


"Ini Mas, sebenarnya aku juga ragu untuk menyampaikan kebenaran ini kepada Mas Radit." Kirana menunjukkan foto Aishah bersama Dokter Dariel yang terlihat akrab saat berada di danau. Radit mengambil ponsel Kirana dari tangan Kirana dengan cepat.


"Waktu itu aku sedang istirahat makan siang Mas. Aku ingin mengambil foto danau yang sangat indah. Tapi tidak sengaja aku melihat Aishah dan Dokter Dariel sedang bermesraan di sana." Suara Kirana dibuat-buat selembut mungkin.


"Kurang ajar mereka! Sebenarnya aku sudah tidak suka dengan sikap Dokter Dariel yang terus memuji Aishah sejak awal mereka bertemu. Berani-beraninya mereka berselingkuh di belakangku!" Radit terlihat sangat geram. Tangannya menggenggam gelas dengan kuatnya.


"Mas Radit yang sabar ya, aku juga tidak menyangka jika Aishah berani berselingkuh dengan teman Mas Radit sendiri." Kirana menyentuh bahu Radit dengan lembut.


"Argghh….. Kurang ajar!" Radit meremas sprei yang berada di dekatnya. Kirana mendekat lalu duduk di samping Radit.


"Mas Radit kenapa masih mempertahankan pernikahan Mas Radit dengan Aishah? Bukannya Aishah itu mandul. Aku kasihan saja dengan Mas Radit, sudah dikhianati Aishah tapi masih saja bertahan. Sebenarnya aku tidak ingin menyampaikan semua ini dengan Mas Radit, tapi aku tidak tega melihat Aishah berbuat seenaknya saja dengan Mas Radit." Kirana bercerita kebohongan panjang lebar, ummembuat Radit semakin terbakar emosi.


"Aku tidak akan mengampuni mereka berdua jika ini semua terbukti benar!" Radit sudah benar-benar marah besar.


Hahaha kena kamu Radit. Akhirnya kamu makan umpan yang kuberikan juga. Yes akhirnya aku berhasil membuat hubunganmu dengan Aishah berantakan. Satu rencana telah berjalan sangat mulus. Sekarang lanjut rencana kedua.

__ADS_1


"Mas Radit jangan bersedih, masih ada aku yang sangat menyayangi Mas Radit dengan sepenuh jiwa dan ragaku." Kirana memegang kedua bahu Radit lalu menatap mata Radit dalam-dalam.


"Aku tidak butuh belas kasihanmu!" Radit segera menepis tangan Kirana.


"Mas Radit, aku akan memberikan apa yang Aishah tidak bisa berikan kepadamu. Aku akan memberikanmu keturunan. Aku tahu selama ini Mas Radit sudah sangat mendambakan hadirnya seorang anak." Kirana kembali menggenggam tangan Radit.


Sepertinya upayanya kali ini tidak sia-sia. Radit yang emosinya masih sangat labil mulai terpancing bualannya. Dari sorot mata Radit, menunjukkan bahwa dirinya mulai bersimpati kepada Kirana. Radit tidak menolak tangan Kirana untuk menyentuhnya.


Memang benar yang sudah dikatakan wanita ini. Aishah tidak bisa memberiku keturunan dan bahkan sekarang dia berani bermain di belakangku.


Pikiran Radit berkecamuk. Egonya membenarkan semua perkataan Kirana. Namun, hatinya sangat berat untuk mengiyakannya.


"Mungkin juga pengobatan yang dilakukan Aishah hanya sia-sia. Sepertinya itu hanya siasat Aishah agar Mas Radit tidak terlalu kecewa kepadanya yang sebenarnya mandul. Buktinya setelah beberapa bulan melakukan pengobatan, tidak ada perkembangan yang ditunjukkan." Kirana membuat Radit semakin terbakar emosi.


"Mas Radit, aku sangat mencintaimu." Kirana menatap lembut mata Radit yang berapi-api. Radit mulai luluh dengan perkataan Kirana. Kirana sangat senang mendapat respon yang baik dari Radit.


Kirana mulai mengambil posisi duduk mendekati Radit. Kemudian Kirana sengaja melepas ikatan rambutnya agar rambutnya yang panjang tergerai jatuh dengan manjanya. Kirana mulai memegang wajah Radit dengan sangat lembut, mengecup bibir Radit yang merah dengan penuh nafsu. Kini kedua tangan Kirana sudah dikalungkan di leher Radit. Radit yang sudah tidak tahan melihat tubuh Kirana yang sangat seksi di depan matanya membuatnya terbuai dan mengikuti irama yang diberikan oleh Kirana.


Radit benar-benar tidak bisa menahan nafsunya lagi, Radit membalas ciuman yang diberikan Kirana dengan keras. Kirana terlihat mengibaskan rambutnya beberapa kali, dia sengaja memancing Radit agar menelusuri lekukan lehernya yang sudah disemprotkan banyak parfum di sana. Tubuh Kirana memang sangat wangi, entah sudah seberapa banyak dia menyemprotkan parfum di tubuhnya.


Kirana memegang tangan Radit, meletakkannya di kedua pinggangnya agar Radit memeluknya. Dan benar saja, Radit sudah benar-benar tergoda dengan bujuk dan rayu Kirana. Perlahan, Kirana mulai duduk di pangkuan Radit. Kini tubuh mereka sudah berhadap-hadapan dan menempel satu sama lain.


Kirana memeluk erat tubuh Radit sebentar, kemudian memegang kedua tangan Radit dan meletakkannya di dadanya. Radit mulai bermain dengan dada Kirana yang sudah meyembul kemana-mana. Bajunya yang terbuka tidak muat untuk menyangga dadanya yang terlalu besar. Kemudian Kirana melepas semua ikatan di bajunya agar tidak ada yang menghalangi Radit untuk menelusuri tubuh bagian depannya.


Radit menggerayangi semua bagian tubuh Kirana tanpa bersisa. Mereka sudah hanyut dalam derasnya nafsu yang sudah berkecamuk satu sama lain. Kirana benar-benar senang malam ini, dia sudah sangat lama menantikan malam ini. Bahkan saat ini mereka sudah dalam posisi tidur. Kirana berada di atas Radit dengan bertumpu pada lututnya.


Kirana mulai membuka semua baju yang menempel pada tubuhnya, kemudian juga membuka semua baju Radit. Hingga mereka tidak memakai seutas benang pun. Kirana memang sangat pandai membangkitkan nafsu pada diri Radit. Karena memang Radit sangat menyukai wanita seksi. Kirana tahu semua itu, setelah dia berusaha mencari tahu tentang masa lalu Radit.


Kirana sengaja mencari tahu tentang Bella dan hubungannya dulu dengan Radit. Dulu, Radit sempat tergila-gila dengan tubuh Bella yang seksi. Sehingga, Kirana langsung mengubah gaya pakaiannya menjadi pakaian yang seksi. Ternyata semua itu berhasil membuat Radit tergoda dengannya.


Malam semakin larut, semua orang sudah asyik dengan mimpi-mimpi mereka. Tapi tidak dengan dua orang yang sedang memuaskan nafsu mereka. Radit benar-benar sudah lupa dengan semuanya. Yang dia pedulikan saat ini hanyalah kepuasannya saja. Bahkan Radit membuat Kirana mendesah sepanjang malam.


Hingga menjelang pagi, mereka masih saja bergelut dengan liarnya. Tenaga Kirana memang sudah disetel agar kuat melayani Radit hingga Radit merasa lelah dengan sendirinya. Kirana sudah mengetahui tentang keperkasaan Radit yang luar biasa itu. Sehingga Kirana sudah benar-benar mempersiapkan segala sesuatunya terlebih dahulu dengan baik.


Kirana tidak merasa kaget dengan respon yang diberikan Radit kepadanya. Justru Kirana sangat bangga dengan keberhasilannya itu. Radit semakin liar dan ganas menikmati setiap jengkal tubuh Kirana yang sudah penuh dengan tanda merah itu. Radit mencium dengan kerasnya ke seluruh tubuh Kirana hingga meninggalkan banyak tanda merah di sana.

__ADS_1


Kirana terus saja mendesah hingga mengerang. Membuat Radit semakin terpancing nafsu saja. Dan terjadilah apa yang seharusnya terjadi. Mereka melakukannya hingga pagi hari. Dan saat tenaga Radit sudah habis, Radit membaringkan tubuhnya di samping Kirana yang nafasnya sudah memburu. Mereka memandang satu sama lain.


"Terima kasih Mas Radit, aku sangat senang malam ini." Kirana mengecup kening Radit lalu mendekap tubuh Radit hingga mereka sama-sama tertidur.


__ADS_2