
"Kira, tolong bawakan file ini untuk Kak Radit ya. Sepertinya tadi dia buru-buru, jadi file ini pasti tertinggal. Pagi ini aku ada jadwal cek up ke rumah sakit." Aishah menyerahkan sebuah stopmap kepada Kirana yang hendak berangkat kerja.
"Baik Aish, akan ku sampaikan kepada Pak Radit." Kirana menerima stopmap itu, kemudian berlalu pergi menggunakan ojek online pesanannya.
Pagi ini, Aishah ada jadwal cek up ke rumah sakit. Dia juga harus pergi ke luar kota untuk urusan bisnisnya. Jadi Aishah tidak mungkin jika harus mampir ke kantor Radit. Karena pasti Aishah akan terlambat. Aishah berangkat ke rumah sakit dengan sopirnya. Aishah mengambil ponsel dari dalam tasnya, untuk memberi tahu Radit tentang filenya yang tertinggal.
Aishah : File Kak Radit yang tertinggal di meja kamar ku titipkan kepada Kirana.
Tak lama kemudian, Radit membalas pesan dari Aishah.
Radit : Oh iya aku lupa. Aku tadi buru-buru jadi tidak sempat mengecek file itu. Terima kasih sayang. 😘
Aishah : Sama-sama sayang 😘
Kemudian Aishah menuju rumah sakit. Setelah selesai dari rumah sakit, Aishah segera menuju ke luar kota. Aishah berencana akan pulang sore harinya.
__________________________________
Kirana memasuki pintu masuk kantor Radit. Ini bukan pertama kalinya dia masuk ke sini. Karena sebelumnya Kirana pernah interview di kantor ini. Kirana menuju kantor Radit.
Tok… tok… tok…
Kirana mengetuk pintu ruang kerja Radit beberapa kali.
"Masuk." Terdengar suara Radit dari dalam. Kemudian Kirana membuka pintu ruang kerja Radit untuk menyerahkan file yang dititipkan oleh Aishah tadi pagi. Di dalam ruangan Radit sudah ada sekretarisnya yang sedang duduk di seberang meja kerja Radit.
"Maaf Pak…." Kata-kata Kirana terputus ketika mendengar suara dering telepon dari ponsel Radit. Radit mengambil ponselnya dari atas meja kemudian menjawab panggilan yang masuk.
"Halo." Wajah Radit tampak serius. Sepertinya yang menelepon adalah rekan kerjanya.
"Bisa diatur, makan siang nanti di cafe X." Terdengar Radit sedang janjian dengan seseorang untuk bertemu. Kemudian Radit menutup teleponnya.
"Bella ingin bertemu di cafe X nanti siang. Aku tidak ingin Aishah sampai mengetahui semua rencana kerjasama perusahaan kita dengan Bella. Dan pastikan bahwa Aishah tidak curiga dengan pergerakan kita untuk merebut kembali perusahaanku yang telah direbut oleh Bella saat ini." Radit tampak geram. Dia sedang berbicara dengan sekretarisnya yang sedang duduk di depannya.
Sebenarnya apa yang sedang mereka bicarakan. Siapa Bella? Kenapa Aishah tidak boleh mengetahui tentangnya? Lalu Radit ingin merebut kembali perusahaannya? Aku harus mencari tahu.
Dia sangat penasaran dengan apa yang sedang Radit dan sekretarisnya bicarakan. Sepertinya Radit tidak menyadari keberadaan Kirana. Lebih tepatnya, Radit lupa jika Kirana berada di dalam ruangan yang sama.
"Maaf Pak Radit, Bu Aishah menitipkan file ini kepada saya, untuk menyerahkannya kepada Bapak." Kirana menyerahkan sebuah stopmap yang dititipkan oleh Aishah tadi pagi.
"Baik." Radit menerimanya kemudian meletakkannya di atas meja.
"Kalau begitu saya permisi dulu Pak." Kirana menundukkan kepalanya. Kemudian Radit mengangkat tangannya, mengisyaratkan Kirana untuk segera pergi dari ruangannya. Kirana menuju gedung lain untuk melanjutkan pekerjaannya.
Waktu makan siang telah tiba, Kirana bermaksud untuk mencari tahu tentang pertemuan Radit dan Bella. Kirana ingin mengorek informasi mengenai Bella. Kenapa Radit menyembunyikan kerjasamanya dengan Bella. Dan ingin merebut perusahaannya.
Kirana menuju cafe X tempat Radit dan Kirana janjian. Di sana Kirana melihat Radit bersama dengan seorang perempuan seksi dengan rambut bergelombang sedang duduk di depannya. Dan satu orang lelaki berjas hitam, dandanannya sangat rapi. Sementara Radit bersama dengan sekretarisnya. Kirana tidak cukup jelas untuk mendengarkan pembicaraan mereka. Lalu Kirana mendekat, Kirana sengaja duduk di meja dekat Radit agar bisa menguping pembicaraan mereka.
"Aku akan memenangkan tender itu segera. Tapi kalian harus memberikan 70% bagian untukku." Radit berkata dengan tegas. Terlihat urat-urat di kepalanya yang menegang.
"Apa! 70%? Memang kau pikir kami ini bodoh apa! Dalam perjanjian kita hanya 50%. Kenapa bisa menjadi 70%?" Bella nampak mencak-mencak di depan Radit.
"Ya jika kalian menyetujuinya, kami akan membantu keuangan perusahaan kalian. Aku tahu jika perusahaanmu saat ini sedang bermasalah dengan keuangan." Radit tampak gagah dengan kekuasaan yang dimilikinya saat ini.
Bella dan sekretarisnya tampak pucat pasi. Mereka tidak mengira jika Radit tahu semua tentang kesulitan perusahaan yang sedang mereka alami. Ternyata diam-diam Radit menyuruh orang untuk mengawasi pergerakan Bella dan sekretarisnya untuk mencari kelemahan mereka. Dan benar saja, dengan mudah Radit dapat memegang kunci As Bella. Bella tampak berbisik-bisik dengan sekretarisnya.
"Baik, jika kalian memaksa. Aku akan menyetujuinya. Tapi harus ada perjanjian hitam di atas putih untuk menjamin kekuatan perjanjian ini." Bella melipat kedua tangannya di depan dada.
__ADS_1
"Hah, memaksa! Yang ada juga kalian yang seharusnya memohon kepada kami untuk membantu perusahaan kalian." Radit tersenyum sinis.
"Baiklah terserah saja. Segeralah menangkan tender itu! Jangan banyak bicara!" Bella tampak gusar.
Lalu mereka berjabat tangan satu sama lain pertanda telah terjadi kesepakatan di antara mereka. Kirana terus memperhatikan gerak gerik mereka. Tampak Bella pergi bersama sekretarisnya. Sementara Radit dan sekretarisnya memesan makanan. Karena sejak tadi mereka hanya memesan minuman saja.
Kirana belum bisa menarik kesimpulan apapun tentang Bella. Yang Kirana tahu hanyalah Bella dan Radit bekerjasama tanpa sepengetahuan Aishah. Tapi kenapa harus di belakang Aishah? Kirana masih terus bertanya-tanya dalam hati. Sehingga dia memutuskan untuk mencari tahu lebih detail mengenai Bella.
Jam makan siang telah usai. Kirana segera kembali untuk bekerja, sebelum Radit mengetahui bahwa sedari tadi Kirana sedang memperhatikannya.
Suara dering ponsel Radit terdengar menandakan satu pesan masuk di ponselnya. Radit segera meraih ponsel yang tergeletak di atas meja. Radit pun membuka pesan yang datang dari istrinya itu.
Aishah : Sayang, sepertinya aku tidak bisa pulang nanti sore. Cuaca di sini sedang buruk 😔
Radit : Lalu kapan bisa pulang?
Aishah : Paling besok pagi, jika penerbangan sudah lancar.
Radit : Ya sudah, hati-hati di sana. Selalu jaga kesehatan😘
Aishah : Siap🤗 Maaf ya sayang 😘
Radit : Tidak apa-apa. Yang terpenting kamu baik-baik saja.
Radit meletakkan kembali ponselnya ke atas meja, kemudian melanjutkan kembali makan siangnya.
Sore harinya, Kirana pulang dari kerja. Rumah terlihat sepi.
"Bi…. Bibi…" Kirana pergi ke dapur untuk mencari orang di rumah.
"Iya Non Kirana, ada apa?" Bibi yang baru menyapu di halaman belakang segera berlari menuju dapur.
"Belum Non, Non Aishah belum pulang. Tadi Tuan Radit bilang kalau Non Aishah pulang besok pagi." Bibi menundukkan kepalanya sopan. Selama ini Bibi menganggap Kirana adalah sahabat Aishah, yang harus dihormati seperti majikannya. Kirana mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Ada lagi Non?" Bibi mengernyitkan dahinya.
"Bagaimana dengan Mas Radit, apakah dia pulang malam ini?" Kirana tampak penasaran.
"Kalau Tuan Radit pulang setelah makan malam Non." Bibi tampak mengingat-ingat pesan yang tadi disampaikan oleh Radit melalui telepon rumah.
"Baiklah, Bibi bisa melanjutkan pekerjaan Bibi kembali." Kirana tersenyum kepada Bibi.
"Baik Non. Nanti kalau ada yang Non Kirana butuhkan bisa panggil Bibi di belakang. Tapi sepertinya Bibi nanti malam harus pulang menjenguk anak Bibi yang sedang sakit. Jadi Bibi baru bisa kembali besok pagi." Bibi.
"Memangnya rumah Bibi di mana?" Kirana tampak penasaran, karena selama ini Bibi selalu tinggal di rumah.
"Tidak jauh dari sini kok Non. Hanya perlu keluar dari komplek perumahan, lalu masuk ke dalam gang kurang lebih satu kilometer." Bibi menunjuk arah jalan rumah dengan tangannya.
"Emm, memangnya anak Bibi umur berapa dan sekarang tinggal dengan siapa?" Kirana.
"Anak saya berumur 20 tahun Non, tapi sekarang sudah bersuami jadi tinggal dengan suaminya." Bibi.
"Kalau suami Bibi?" Kirana.
"Saya janda Non, anak saya cuma satu. Jadi saya tinggal di sini. Rumah saya ditempati anak dan menantu saya." Bibi.
"Memangnya anak Bibi sakit apa?" Kirana.
__ADS_1
"Anak saya sedang hamil muda Non. Soalnya dia muntah-muntah terus, jadi kemarin sempat opname di rumah sakit beberapa hari. Eh maaf Non Kirana saya malah jadi curhat." Bibi tampak tidak enak.
"Tidak apa-apa Bi. Ya sudah aku ke kamar dulu mau mandi." Kirana beranjak pergi menuju kamarnya.
Jadi Aishah tidak pulang malam ini, hmm bagus kalau begitu. Aku bisa menggoda Radit dengan leluasa.
Sambil berjalan menuju kamarnya, Kirana tersenyum licik, lalu bibirnya menyeringai.
Malam harinya Kirana sengaja berdandan dengan cantik. Kirana sengaja memakai baju tidur yang seksi untuk menarik perhatian Radit. Ketika mobil Radit datang, Kirana segera membukakan pintu depan untuk menyambut kedatangannya.
"Selamat malam Mas Radit." Kirana membukakan pintu lalu tersenyum semanis mungkin.
"Ke mana Bibi, kenapa kamu yang membukakan pintu?" Radit tampak melonggarkan ikatan dasinya.
"Bibi sedang izin untuk pulang menjenguk anaknya yang sedang hamil sampai besok pagi. Jadi aku akan melayani kebutuhan Mas Radit sampai besok Bibi kembali." Kirana menatap mata Radit dengan tatapan genitnya.
Radit memperhatikan Kirana dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Kenapa kamu memakai pakaian seperti itu? Biasanya kamu tidak berdandan seperti ini?" Radit tampak aneh dengan kelakuan Kirana. Sebenarnya Radit sudah membaca gerak-gerik Kirana sejak awal. Tampaknya wanita ini ingin menggoda Radit. Sehingga Radit selalu bersikap cuek kepadanya. Baru malam ini Radit mengobrol dengan Kirana, padahal sudah beberapa hari dia tinggal di rumahnya.
"Eh emm, anu Mas Radit, memangnya Mas Radit tidak suka dengan dandanan saya?" Kirana mengernyitkan dahi.
"Aku? Memangnya apa urusannya denganku? Apakah kamu berdandan seperti ini untukku? Jadi kamu sengaja ingin menggodaku?" Radit tampak menyelidik. Tatapannya tajam membuat Kirana bergidik ngeri.
"Eh bukan seperti itu maksud saya Mas. Maksud saya, dandanan saya memang seperti ini. Saya sama sekali tidak ingin menggoda Mas Radit. Saya hanya tidak ingin kalau Mas Radit pulang kerja sudah capek-capek, melihat dandanan saya yang kumal." Kirana tampak gelisah.
"Haha memangnya kamu pikir kamu ini siapa? Kamu bukan siapa-siapa di rumah ini. Jadi tidak perlu bersikap sok penting." Radit berlalu pergi.
Apa dia bilang tadi! Kurang ajar, jadi dia sedang mengejekku. Lihat saja, aku akan membuatmu tidak berdaya dengan penampilanku ini.
Kirana tampak sangat gusar. Kemudian Kirana menutup pintu lalu masuk ke dalam rumah. Kirana menuju ruang keluarga untuk menonton televisi. Karena biasanya, Radit selalu menonton televisi di ruang keluarga saat malam hari. Setelah sekian lama menunggu, Radit tak juga keluar dari dalam kamarnya.
Ke mana sih orang itu. Kenapa dia tak juga keluar dari kamar. Apakah dia sudah tidur? Tapi ini kan baru jam sembilan. Biasanya dia selalu menonton televisi di sini jam-jam segini.
Kirana tampak celingak-celinguk melihat ke arah tangga dan ke arah jam besar di sudut ruangan. Namun, tidak ada tanda-tanda Radit akan menunjukkan batang hidungnya sedikit pun. Akhirnya Kirana mencoba mencari tahu keberadaan Radit di atas. Kirana sangat penasaran kenapa Radit tak juga turun untuk menonton televisi. Kirana memutuskan untuk naik ke atas melihat Radit di kamarnya.
Terdengar dari luar, Radit sedang menelepon seseorang. Sepertinya Radit sedang merencanakan sesuatu. Terdengar dari nada suaranya Radit sedang marah.
"Kamu dengar ya, kita harus merebut perusahaan itu dalam jangka waktu dua bulan ini. Kita buat mereka benar-benar bangkrut dan tergantung pada perusahaan kita. Setelah itu kita rebut semuanya dari tangan Bella." Radit terdengar sangat puas dengan rencananya itu.
"Bella sudah merebut semuanya dariku dengan paksa. Dia sudah membuatku lumpuh dan hidup menderita bertahun-tahun, jadi dia harus merasakan apa yang aku rasakan selama ini. Bahkan harus lebih parah dari apa yang aku alami." Radit memberi jeda bicaranya sebentar untuk memberi kesempatan lawan bicaranya untuk berbicara.
"Bella benar-benar sudah keterlaluan. Aku tidak bisa membayangkan lagi bagaimana dia bisa dengan tega membuat Ibuku kecelakaan sampai meninggal, karena ulahnya berselingkuh dengan Ayah.
Dan bahkan Ayah yang sudah tergila-gila dengannya pun justru dibunuhnya. Apakah dia masih pantas mendapat pengampunan dariku? Dia akan kubuat menderita seumur hidupnya!" Nada suara Radit terdengar berapi-api. Bahkan Kirana yang mendengar pembicaraan Radit dari luar kamar pun merasa ngeri sendiri.
Radit keluar dari kamar secara tiba-tiba membuat Kirana tidak sempat untuk melarikan diri. Kirana terkejut dan hampir terjatuh saking takutnya. Radit melihat Kirana dengan tatapan membunuh.
"Ma maaf Mas Radit, saya tadi mau menawarkan susu untuk Mas Radit." Kirana ketakutan.
"Apa kamu bilang tadi? Jadi kamu benar-benar ingin menggodaku?" Radit mendekatkan wajahnya ke wajah Kirana.
Kirana malah ketakutan dibuatnya.
Kenapa malah jadi begini sih? Sial! ini bukan waktu yang pas.
"Tidak Mas, maksud saya segelas susu hangat. Biasanya Mas Radit membuatnya saat malam hari." Suara Kirana terdengar bergetar.
__ADS_1
"Aku akan mencicipinya." Radit memeluk tubuh Kirana secara tiba-tiba membuat tubuh Kirana berada di bawah tubuh Radit. Sontak saja Kirana merasa terkejut dan ketakutan.