
Suasana rumah berlantai dua di kawasan perumahan elit itu tiba-tiba menjadi mencekam. Udara di dalamnyapun terasa semakin sesak. Nampak Aishah masih sesenggukan terduduk di sofa ruang tamu. Radit yang masih berapi-api dengan kemarahannya berdiri di depan Aishah sambil berkacak pinggang.
"Bukankah ibu berpesan kepada Kak Radit agar memaafkan kesalahan ayah?" Aishah berkata dengan suara lirih. Sikap penurut Aishah akhir-akhir ini memang mulai luntur, tidak seperti biasanya. Mungkin memang pengaruh dari kehamilannya. Aishah kini cenderung mudah terpancing emosi. Bahkan Aishah sangat sensitif dengan kata-kata yang menyangkut dirinya.
"Berani-beraninya kau membawa-bawa ibu! Kau memang tidak akan pernah bisa mengerti bagaimana luka yang sudah mereka torehkan kepadaku dan kepada ibu!" Ujar Radit dengan penuh amarah. Radit mengambil sebuah guci yang tergeletak di atas meja lalu membantingnya dengan sangat keras. Membuat Aishah sangat terkejut dan hampir melompat dari tempat duduknya.
"Aku akan memaafkan mereka jika mereka tidak pernah muncul dihadapanku lagi." Radit mulai menurunkan nada suaranya.
Seperti tidak peduli dengan perasaan Aishah yang teriris-iris perkataan tajamnya, Radit tidak menghiraukan air mata Aishah yang semakin deras. Aishah sudah tak mampu berkata apapun lagi, karena tangisnya yang semakin menjadi-jadi.
Mengapa Kak Radit menjadi semenakutkan ini, bahkan aku seperti tak mengenalnya lagi.
Mbok Minah dan Pak To yang sedari tadi menyaksikan kemarahan Radit, hanya bisa bersimpuh di atas lantai dengan kepala yang terus tertunduk, tanpa bersuara sedikitpun. Bahkan untuk mengangkat kepala saja mereka tidak punya nyali. Tapi mereka tetap berdiam diri dalam satu ruangan untuk memastikan tidak akan terjadi apa-apa dengan majikan barunya karena imbas kemarahan Radit. Apalagi Aishah saat ini sedang dalam keadaan mengandung. Itu menambah kekhawatiran mereka, karena bisa saja Radit lepas kendali dan membuat Aishah terluka.
Mereka sudah hafal betul sikap Radit jika sedang marah. Radit akan semakin terpancing emosi jika lawan bicaranya menjawab perkataannya. Hal itu lah yang selalu ditakutkan penghuni rumah itu, kemarahan Radit yang membuatnya lepas kendali. Bagaikan singa yang mengaum keras siap menerkam mangsanya.
Aishah berlari menuju kamar dengan berurai air mata. Hatinya kini sangat sakit, seperti dihujani seribu pisau yang terhunus tepat di dadanya. Dadanya kini terasa sangat sesak, matanya sudah perih karena air mata yang terus membanjiri pipi. Ini kali pertamanya Aishah dibentak dan dimarahi Radit saat emosinya lepas kendali selama menjadi istri Radit. Walaupun kadang Radit menunjukkan sikap kerasnya, tapi tidak sampai semarah ini.
Tiba-tiba Aishah merasakan sakit di perutnya. Aishah terus memegangi perutnya sambil duduk di tepi ranjang. Perutnya semakin melilit, Aishah mencoba untuk berdiri dari tempat duduknya. Tapi tak berhasil, kakinya tak sanggup lagi menopang tubuhnya sehingga membuat Aishah jatuh terduduk di lantai.
Aishah melihat banyak darah keluar dari bagian bawahnya, terus mengalir di kakinya hingga berceceran di lantai. Aishah bingung harus berbuat apa. Sepertinya meminta tolong juga tak akan ada hasilnya jika kemarahan Radit masih membara. Aishah ingin berteriak, namun suaranya tercekik di tenggorokannya dan terhenti. Aishah tak dapat mengeluarkan suaranya. Rasanya Aishah tak bisa menahan sakit perut yang terus melilitnya, kini ia hanya bisa pasrah dengan hidup dan matinya.
Aku sudah tidak bisa menahan sakit ini lagi.
__ADS_1
Dan seketika itu kepala Aishah terasa pusing hingga ia pun tak sadarkan diri.
__________________________________
"Aku dimana?" Aishah mencoba untuk membuka matanya perlahan. Remang-remang terlihat beberapa orang berbaju putih berkerumun mengelilingi tempat tidurnya. Kepalanya masih terasa berat.
Aishah teringat akan darah yang mengalir di kakinya, ia mencoba memastikan apa yang sedang terjadi padanya. Bagaimana keadaan kandungannya saat ini. Kekhawatiran itu membuatnya tak bisa berdiam diri, Aishah mencoba bangkit dari tempat tidurnya untuk melihat perutnya.
"Ibu jangan banyak bergerak dulu, sebaiknya ibu berbaring saja." Salah satu perawat menahan Aishah yang hendak bangun dari tempat tidur. Aishah memegangi perutnya yang masih rata.
"Bagaimana dengan kandungan saya sus?" Aishah nampak sangat gelisah.
"Ibu tenang saja, kandungan ibu masih bisa diselamatkan. Kini dokter sudah memberi obat penguat kandungan untuk ibu." Suster tadi menjawab sambil tersenyum ramah.
Dilihatnya Radit sedang berdiri di samping tempat tidur rumah sakit dengan wajah bersalahnya. Sepertinya Radit merasa sangat bersalah atas kejadian yang hampir menghilangkan nyawa calon buah hatinya itu, hingga tak bisa berkata-kata. Ditatapnya mata Aishah dengan penuh rasa penyesalan.
"Sebaiknya Ibu Aishah istirahat total di sini dulu hingga kondisi Ibu dan kandungannya pulih kembali." Dokter wanita yang sedari tadi memeriksa kondisi Aishah mulai membuka suara.
"Baik dok." Radit menganggukkan kepalanya sambil terus menggenggam tangan Aishah.
"Ibu Aishah tidak boleh kelelahan, banyak pikiran, tidak boleh ada tekanan apalagi sampai menyebabkan stres. Itu sangat berpengaruh bagi kesehatan ibu dan bayi yang sedang ibu kandung." Dokter wanita tadi menambahkan.
Aishah hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
__ADS_1
"Ibu harus benar-benar istirahat total di sini. Baik kalau begitu saya permisi dulu, selamat istirahat." Dokter dan beberapa perawat tersenyum kepada Aishah dan Radit lalu meninggalkan ruangan.
Kini tinggallah Radit dan Aishah di dalam ruangan.
"Sayang, maafkan aku." Radit duduk di samping Aishah. Radit meraih tangan Aishah, menciumnya lalu menaruhnya di dadanya. Aishah hanya memandangnya, hatinya masih terasa sakit. Bahkan ia hampir kehilangan anak yang dikandungnya. Sepertinya Aishah belum bisa dengan mudah memaafkan kesalahan suaminya itu. Karena kali ini sikapnya memang sudah keterlaluan.
Melihat sikap Aishah yang dingin, Radit tidak bisa diam saja. Radit berusaha dengan keras mendapatkan maaf dari istrinya itu.
"Sayang, sekali lagi aku minta maaf. Aku tahu sikapku sudah keterlaluan padamu. Aku janji, aku tidak akan mengulanginya lagi." Radit memperkuat genggaman tangannya.
Melihat sorot mata Radit yang tampak tulus, hati Aishah mulai tergugah. Aishah memang tipe orang yang tidak tegaan.
Sepertinya Kak Radit tulus dan benar-benar menyesali perbuatannya. Pikir Aishah.
"Tapi Kak Radit janji ya, jangan marah-marah kaya tadi lagi! Aish takut kak." Aishah memeluk tubuh Radit yang duduk di samping tempat tidur. Dengan cepat Radit segera membalas pelukan istrinya dengan perasaan sangat lega.
"Aku berjanji tidak akan membuat istri dan calon anakku ini dalam bahaya lagi." Radit memegang perut Aishah lalu mencium kening istrinya itu dengan sangat lembut.
Aishah dirawat di rumah sakit selama dua hari satu malam. Dan selama itu pula, Radit selalu ada di samping Aishah. Radit sengaja tidak masuk kantor selama Aishah dirawat di rumah sakit. Tampaknya Radit ingin menunjukkan kesungguhannya dalam meminta maaf. Radit ingin memperlihatkan akan janjinya kepada Aishah. Radit memperlakukan Aishah dengan sangat baik. Menuruti setiap perkataan dan permintaan Aishah. Sikap Radit yang seperti itu membuat hati Aishah seketika luluh dan melupakan semua kesalahan yang pernah suaminya lakukan.
Setelah Aishah dipastikan sehat, barulah dokter mengijinkan Aishah untuk pulang. Aishah pulang bersama dengan suaminya. Radit melajukan mobilnya dengan hati-hati. Ia tak mau perut Aishah terkena guncangan yang keras.
Sesampainya di rumah, Mbok Minah dan Pak To sudah siap menyambut kedatangan Aishah dengan sangat hangat. Kekhawatiran mereka benar terjadi, namun untung saja Radit segera menyusul Aishah ke kamar sehingga Aishah dan kandungannya bisa dengan cepat mendapatkan pertolongan.
__ADS_1