
Sudah sekian lama, Aishah tidak berkunjung ke rumah pakdhenya. Sejak pertama kali Aishah meninggalkan rumah yang telah memberikannya kasih sayang sampai kandungannya kini sudah semakin membesar, Aishah belum pernah kembali. Padahal usia kandungan Aishah kini sudah menginjak bulan ke enam. Tiba-tiba Aishah merasa sangat rindu dengan keluarganya. Keluarga yang telah membesarkannya, mengajarinya arti kesederhanaan dan ketulusan.
"Sayang kamu kenapa? Kuperhatikan dari semalam, sepertinya ada yang sedang kamu pikirkan?" Seolah Radit mengerti akan kegundahan hati istrinya.
"Aku enggak apa-apa kok kak, aku hanya rindu dengan keluargaku saja." Aishah menatap suaminya dengan senyuman tipis.
Hari ini Radit pulang cepat. Ia merasa khawatir dengan sikap Aishah, jadi Radit memutuskan untuk mengajak istrinya berkencan malam ini, kebetulan malam ini adalah malam minggu. Karena sebelum mereka menikah, mereka memang tidak berpacaran terlebih dahulu. Karena Aishah ingin berpacaran setelah mereka menikah.
"Sayang, aku ingin mengabulkan permintaanmu dulu, yang belum sempat aku penuhi." Radit menggenggam tangan Aishah. Mereka kini tengah menikmati suasana sore hari di atas balkon kamar. Tempat ini, kini menjadi tempat favorit Aishah. Selain dapat melihat matahari terbit, Aishah juga dapat melihat pemandangan area perumahan elite yang rapi dan bersih.
"Apa?" Aishah mengernyitkan dahi, nampak penasaran.
"Kita akan berkencan malam ini. Agar lebih romantis, kita akan makan malam bersama di salah satu restauran paling terkenal di kota ini. Bagaimana menurutmu?" Radit menatap kilau wajah istrinya yang terkena terpaan sinar matahari sore.
"Wah Aishah setuju banget tuh kak. Tapi, apa tidak sebaiknya kita malam mingguan sambil nonton di bioskop saja? Pasti lebih seru, kita kan sudah lama enggak nonton bareng." Aishah memberikan usul yang berbeda.
"Ya sudah apapun untuk istriku tercinta." Radit membelai rambut istrinya yang tergerai indah itu dengan lembut, kemudian mengecup kening istrinya penuh sayang.
"Jadi kita ke bioskop nonton film action kan malam ini?" Aishah memastikan.
"Iya sayang, kemanapun asalkan dengan istriku pasti akan menyenangkan." Radit menatap mata Aishah dengan tatapan penuh makna.
"Makasih sayang." Aishah tersenyum lalu memeluk pinggang suaminya.
Setelah sholat isya Radit dan Aishah memutuskan untuk makan malam di mall sekaligus nonton di bioskop. Aishah nampak cantik dengan baju yang dikenakannya. Meskipun kini perutnya semakin membesar dan badannya semakin berisi, justru membuat aura kecantikan Aishah semakin memancar.
"Sayang kita nonton dulu yuk, Aish masih kenyang." Aishah memegang perutnya.
"Yaudah aku beli tiket dulu, kamu tunggu di sini ya." Radit menepuk sebuah kursi tunggu di depan bioskop, lalu pergi menuju antrian yang sudah mengular di tempat pembelian tiket.
Setelah sekian lama menunggu antrian yang mengular dengan sabarnya, akhirnya penantiannya membuahkan hasil. Radit berhasil mendapatkan dua buah tiket dengan penuh perjuangan, ia rela berdesak-desakan demi mendapatkan dua buah tiket bioskop. Kemudian Radit menghampiri Aishah dengan dua buah tiket di tangan lengkap dengan popcorn dan minumannya.
Mereka menonton film kesukaan mereka dengan penuh suka cita. Selesai nonton film di bioskop, Radit mengajak Aishah untuk makan. Mereka masuk ke sebuah food court dan memesan beberapa makanan.
__ADS_1
"Kak, kapan kita akan berkunjung ke rumah pakdhe? Aish sudah sangat rindu." Aishah memakan suapan pertamanya.
"Kebetulan besok kan hari minggu, jadi kita bisa berkunjung ke rumah pakdhe. Kita bisa menginap satu malam di sana." Sambil mengunyah makanan yang penuh di mulutnya.
"Benarkah?" Aishah memastikan perkataan Radit benar adanya.
"Iya sayang." Radit membelai kepala Aishah.
"Tapi apakah Kak Radit hari seninnya tidak bekerja?" Aishah kembali dengan makanannya.
"Aku bisa libur satu hari, lagi pula saat ini tidak ada jadwal yang lebih penting untukku, selain jadwal bersama istri dan calon anakku." Radit tersenyum, lalu memberikan suapannya kepada Aishah. Aishah nampak memakan suapan yang diberikan suaminya dengan senang hati.
"Terima kasih sayang. Aku akan menelpon budhe untuk memberi kabar." Aishah memberikan senyumnya yang sangat manis kepada Radit, lalu berbalik menyuapi Radit dengan makanannya. Aishah mengambil ponsel dari dalam tasnya kemudian menghubungj budhenya.
"Assalamu'alaikum Aish." Suara Bu Sekar terdengar dari seberang telepon.
"Walaikum salam budhe."
"Alhamdulillah sehat budhe. Budhe dan pakdhe juga sehat kan?"
"Alhamdulillah sehat, bagaimana dengan kandunganmu? Apakah Aish masih mual?"
"Alhamdulillah semuanya baik budhe, Aish sudah tidak mual lagi."
"Syukurlah kalau begitu, budhe senang sekali mendengarnya. Aish harus jaga dengan baik kandungannya, jangan sampai kecapekan. Makan dan istirahat yang cukup. Ikuti juga senam untuk ibu-ibu hamil itu lho."
"Iya budhe, Aish selalu menjaga semuanya kok. Aish berusaha semaksimal mungkin. Oh iya budhe, rencananya besok Aish dan Kak Radit akan main ke rumah budhe. Aish sudah sangat rindu dengan budhe dan pakdhe. Apalagi dengan masakan budhe. Hehe."
"Benarkah? Budhe juga sudah rindu sekali dengan Aish, sekarang rumah menjadi sepi semenjak ditinggal Aish. Kalau begitu budhe akan masak spesial kesukaan Aish dan Radit." Bu Sekar terdengar bersemangat.
"Memangnya Arya dan Aryo sudah tidak tinggal bersama budhe lagi?" Aishah nampak bingung.
"Setelah Arya diterima kerja di perusahaan Radit dan Aryo membuka usaha baru, mereka pindah ke apartemen baru mereka. Sudah dua bulan ini mereka tidak tinggal bersama budhe lagi."
__ADS_1
"Oh begitu ya budhe. Ya sudah budhe. Budhe dan pakdhe jaga kesehatan ya. Aish tutup dulu teleponnya."
"Iya nduk, Aish juga jaga kandungannya dengan baik."
"Iya budhe, Assalamu'alaikum."
"Walaikum salam."
Lalu Aishah menutup sambungan teleponnya.
Aishah dan Radit terlihat sangat bahagia malam itu, layaknya sepasang kekasih yang tengah dimabuk asmara. Bercanda, tertawa bersama lengkap dengan suasana romantis yang selalu berhasil Radit ciptakan dengan sempurna. Kini Radit berubah menjadi lelaki yang pandai membuat hati istrinya luluh dengan kata-kata cintanya. Entah apa yang merasuki tubuh Radit, hingga merubahnya menjadi manusia dengan sejuta kata-kata cinta.
Tanpa sepengetahuan mereka, Bella yang sedari tadi mengawasi kemesraan mereka dari jauh nampak sangat gusar. Melihat Aishah dengan manjanya menerima suapan dari Radit, rupanya membuat hati Bella merasa cemburu.
Malam semakin larut, udara di luar pun terasa semakin dingin. Aishah dan Radit memutuskan untuk pulang ke rumah. Setelah puas berjalan-jalan di mall, kaki Aishah terasa pegal. Aishah dan Radit menikmati wahana permainan dan mendapatkan banyak boneka malam itu. Aishah sangat senang, mereka juga menyempatkan untuk berbelanja. Banyak barang yang mereka beli hingga lupa waktu.
"Sayang, sudah malam, pulang yuk!" Ajak Radit kepada istrinya yang masih sibuk dengan permainannya.
"Bentar lagi ya, nanggung kak." Aishah nampak masih enggan untuk meninggalkan permainannya.
"Sudah malam sayang, besok kan kita harus perjalanan jauh ke rumah pakdhe." Radit sudah mulai kehilangan kesabarannya.
Melihat suaminya yang mulai gusar, Aishah menghentikan permainannya dan setuju untuk segera pulang. Tiba-tiba perut Aishah terasa sakit, hatinya mulai tidak tenang. Aishah menghentikan langkahnya.
Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba hatiku tidak bisa tenang, padahal aku sangat bahagia malam ini. Perutku juga terasa tidak nyaman.
Aishah bergumam dalam hati. Ia tak mau suaminya melihat dirinya sedang gelisah. Sebisa mungkin Aishah menutupi kegelisahannya yang tanpa alasan itu dengan tetap bersikap biasa-biasa saja. Namun ternyata Radit merasakan keganjilan sikap Aishah.
"Kamu kenapa sayang? Dari tadi kuperhatikan kamu banyak melamun. Apakah kamu masih enggan untuk pulang?" Melihat perubahan sikap Aishah yang tiba-tiba, Radit mulai menerka-nerka isi hati Aishah.
"Eh, enggak apa-apa kok kak, mungkin Aish hanya kecapekan saja." Aishah berusaha bersikap biasa-biasa saja.
Lalu mereka memasuki area tempat parkir dimana mobil Radit terparkir. Radit meletakkan barang-barang belanjaan mereka di bagasi. Lalu membukakan pintu mobilnya untuk Aishah. Kemudian Radit duduk di belakang kemudi. Radit menghidupkan mesin mobilnya lalu melesatkan mobilnya menuju jalanan yang mulai lengang.
__ADS_1