
"Aku akan berdandan sangat cantik hari ini, pasti Radit akan terpesona dengan kecantikanku." Kirana menatap dirinya di depan cermin sambil memasangkan baju mana yang akan digunakannya untuk interview pagi ini.
Kirana mengambil kemeja putih dengan lengan sepundak. Kancing bagian dada sengaja dibiarkannya terbuka, agar dapat memperlihatkan lekukan tubuhnya dengan jelas. Dikenakannya rok hitam di atas lutut yang pas di kakinya. Kirana menjepit rambutnya sedikit ke belakang lalu membiarkan sebagian yang lain terurai. Sepatu hak tinggi membuatnya terlihat lebih ramping, di kakinya yang jenjang. Make upnya dibuat lebih menor dari biasanya.
"Sempurna, kamu terlihat sangat menggoda Kira." Kirana berbicara dengan dirinya di dalam cermin sambil tersenyum puas dengan hasil dandanannya.
Kemudian, Kirana berangkat ke kantor Radit menggunakan taksi online yang telah dipesan sebelumnya. Di dalam taksi, Kirana tak henti-hentinya melihat dirinya di dalam cermin kecil yang tak pernah lepas dari dalam tasnya. Tampak beberapa kali Kirana menepuk-nepukkan bedak di pipinya, untuk memastikan make upnya tidak rusak.
Setelah sampai di kantor, Kirana menghampiri meja resepsionis kemudian bertanya dimana ruang interview untuk pelamar kerja.
"Mbak, ruang interview pelamar kerja di mana ya?" Kirana bertanya kepada penjaga meja resepsionis.
"Oh, dari sini Mbak lurus saja. Nanti ada belokan, Mbak belok kanan. Di deretan situ, Mbak cari ruang interview. Nah, di situlah ruang interview untuk para pelamar kerja.
"Oke, terima kasih Mbak." Kirana pergi dengan mengikuti petunjuk yang diberikan Mbak penjaga meja resepsionis tadi.
"Apa! Kenapa banyak sekali yang melamar kerja?" Kirana terkejut dengan apa yang dilihatnya. Antrian untuk para pelamar kerja sudah mengular. Ternyata banyak sekali orang-orang yang ingin mencari pekerjaan. Kirana menjadi kesal sendiri melihat para pencari kerja yang sudah duduk dengan rapi menunggu namanya dipanggil.
Kira-kira apakah mereka juga melamar posisi yang sama denganku atau tidak ya? Kenapa harus dengan interview segala sih, padahal Aishahkan pemilik kantor ini. Tentu dia bisa dengan mudah merekrut karyawan baru tanpa interview dong. Lagi pula aku kan temannya, tega sekali dia menyuruhku mengantri seperti ini. Kirana terus ngedumel dalam hati.
Setelah sepuluh menit menunggu, masih ada lima orang yang mengantri di depannya. Sementara pelamar kerja yang mengantri di belakangnya, entah tak terhitung jumlahnya.
Kok tambah banyak saja sih yang datang.
Kirana menjadi harap-harap cemas. Melihat para pelamar kerja dengan penampilan yang lebih meyakinkan darinya, membuat Kirana merasa minder.
Kenapa aku harus minder? Aku kan temannya pemilik perusahaan ini. Haha untuk apa aku aku melamar di sini, jika tidak menggunakan statusku dengan baik.
Sampailah kesempatan Kirana untuk masuk ke ruang interview. Di dalam, Kirana celingak-celinguk mencari keberadaan Radit. Kirana mengira, Radit langsunglah yang akan menginterview dirinya. Namun, ternyata dugaan Kirana salah. Bukan Radit yang akan menginterview dirinya. Melainkan seorang lelaki tua yang sudah cukup usia.
Di mana Radit ya? Kenapa dia tidak ada di sini? Padahal aku sudah berdandan dengan sangat cantik khusus untuk dirinya. Aku akan sangat kecewa jika sampai tidak bertemu dengannya!
Kirana memulai interviewnya, sepertinya ada beberapa pertanyaan yang tidak bisa dia jawab dengan baik. Selesai interview, Kirana pergi ke toilet. Di perjalanan, Kirana melihat Radit yang sedang berjalan dengan seorang laki-laki di belakangnya. Mereka berjalan dengan tergesa-gesa.
"Mas Radit, eh Pak Radit." Kirana berjalan menghampiri Radit. Mendengar namanya dipanggil, Radit segera menghentikan langkahnya lalu mencari sumber suara yang memanggilnya.
"Selamat siang Pak Radit. Saya baru saja selesai interview." Kirana tersenyum kepada Radit.
"Bagus kalau begitu. Setelah itu, pihak perusahaan akan menghubungimu lagi, jadi bersabarlah untuk menunggu!" Radit berkata dengan tegas.
"Baik Pak Radit, saya akan dengan sabar menunggu." Kirana menundukkan kepalanya.
"Ya sudah, saya sedang buru-buru." Radit berlalu meninggalkan Kirana yang masih berdiri mematung memperhatikan kepergiannya.
__ADS_1
"Ya ampun Mas Radit, kamu benar-benar tampan. Aku sampai tidak bisa menolak pesonamu. Benar-benar lelaki idaman hatiku." Kirana terpesona dengan ketampanan Radit.
__________________________________
"Kalian selesaikan semuanya dengan baik, ingat! hasil dan waktu harus sesuai dengan pesanan." Aishah mengomando para pekerja yang sedang sibuk membuat banyak pesanan makanan.
"Baik Bu." Salah satu karyawan yang dipercaya bertanggung jawab atas pesanan makanan yang dibuat, menjawab Aishah mewakili para pekerja lain.
"Bagus. Sebelum semua dikirim, saya harus memastikan hasil akhirnya, terutama pada rasanya." Aishah menjelaskan kepada karyawannya dengan detail.
Aishah selalu bekerja dengan baik. Aishah selalu turun tangan dengan hasil akhir yang karyawannya kerjakan. Karena Aishah selalu mengutamakan kualitas bukan hanya kuantitas saja. Aishah tidak ingin membuat pelanggannya kecewa sedikit pun.
Siang ini, Radit berencana akan makan siang bersama dengan Aishah. Radit menjemput Aishah yang sedang berada di gedung bagian pengemasan. Satu pesan WhatsApp masuk ke ponsel Aishah, setelah Aishah buka ternyata dari suaminya.
Radit : Sayang, makan siang bareng yuk!
Karena memang sudah lapar, Aishah mengiyakan ajakan suaminya itu
Aishah : Hayuk lah, aku sudah kelaparan.
Radit : Aish sekarang di mana?
Aishah : Aish di bagian pengemasan Kak.
Radit : Oke, meluncur 🚀
Lalu Aishah menyimpan ponselnya kembali ke dalam tasnya. Sambil menunggu Radit sampai, Aishah masih berkutat dengan pekerjaannya.
"Sekarang waktunya istirahat teman-teman. Jangan lupa makan siang biar tenaganya kembali pulih." Aishah berbicara dengan cukup keras agar semua karyawan yang bekerja di dalam ruangan tersebut mendengarnya
"Baik Bu." Hampir semua karyawan yang mendengar ajakan Aishah menjawabnya.
Sebagai seorang pemilik usaha katering yang maju pesat, Aishah tidak pernah sombong dengan pencapaiannya. Aishah selalu dekat dengan karyawan-karyawannya, sekalipun itu dengan para pekerja kebersihan. Aishah selalu memposisikan dirinya sebagai teman para karyawannya, walaupun dirinyalah pemilik usaha itu. Jadi wajar saja jika semua karyawan yang bekerja di sana selalu betah dan merasa nyaman berkat perlakuan Aishah kepada mereka.
Selang 15 menit, Radit datang menjemput Aishah. Radit diantar oleh seorang sopir yang menjadi sopir pribadinya. Namun, seperti yang sudah-sudah, Radit hanya mau diantar oleh sopirnya jika sedang mengurus pekerjaannya saja. Melihat kedatangan suaminya, Aishah segera bergegas keluar, menuju mobil. Radit dengan sigap keluar dari mobil.
"Enaknya kita makan apa?" Radit meminta saran kepada Aishah.
"Terserah Kak Radit saja." Aishah tersenyum manis. Lalu Radit menghentikan mobilnya di area parkir sebuah restoran seafood. Radit memesan menu andalan di sana.
"Oh iya, tadi di kantor, aku bertemu dengan temanmu yang kemarin itu, siapa namanya aku lupa." Radit mencoba mengingat- ingat nama temannya itu. Namun, tak juga ketemu.
"Kirana maksud Kak Radit?" Setelah menemukan satu nama di kepalanya Aishah menyambung perkataan suaminya.
__ADS_1
"Iya, dia bilang kalau baru saja selesai melakukan interview." Radit bermain dengan ponsel di tangannya.
Tampak Aishah dan Radit sangat menikmati makan siang mereka dengan lahapnya. Tiba-tiba Aishah merasa sakit perut. Ternyata Radit membaca raut wajah Aishah yang sedang menyembunyikan rasa sakit.
"Kamu kenapa sayang?" Radit tampak cemas. Aishah terus saja memegangi perutnya.
"Awww sakit Kak." Aishah sudah tidak tahan lagi.
"Aish sakit perut?" Radit menebak sakit yang dirasakan oleh Aishah dari sikap Aishah yang terus memegangi perutnya.
"Ayo kita segera ke rumah sakit!" Seketika Radit langsung bangkit dari tempat duduknya. Aishah tidak bergeming dari tempat duduknya, dia masih saja memegangi perutnya yang terasa sakit.
Karena sudah tidak tega melihat istrinya kesakitan, Radit segera menggendong Aishah menuju tempat mobilnya terparkir. Dengan langkah seribu, Radit berlari secepat kilat. Tampak semua pengunjung restoran memperhatikan apa yang Radit dan Aishah lakukan.
Setelah membuka mobilnya, Radit segera meletakkan Aishah dengan hati-hati di bangku depan. Lalu Radit menancapkan gasnya menuju rumah sakit terdekat.
"Aish tadi makan apa?" Sambil mengemudi Radit terlihat sangat khawatir dengan keadaan Aishah yang semakin lemah.
"Aish makan bersama Kak Radit tadi." Aishah masih menahan sakit di perutnya.
"Aku akan tuntut restoran itu, jika sampai terjadi apa-apa denganmu nanti!" Radit mulai berapi-api.
"Tapi kurasa bukan karena makanan Kak." Aishah mencoba menenangkan amarah suaminya.
"Lalu kenapa?" Radit masih dengan kepanikannya yang membuatnya emosi dibuatnya.
"Aish sedang datang bulan, memang setiap bulan Aish merasakan sakit perut ketika haid. Tapi ini yang paling parah." Aishah berkata dengan terbata karena menahan sakit yang semakin dirasakannya. Dia terlihat semakin pucat. Bahkan hampir pingsan.
Tak lama kemudian, mereka sampai di rumah sakit terdekat. Radit segera berhenti dan menggendong Aishah keluar.
"Tolong sus tolong istri saya…" Radit menggendong Aishah sambil berlari memanggil perawat yang kebetulan lewat di depannya. Dengan sigap perawat itu memanggil perawat yang lain untuk meminta bantuan.
Lalu para perawat itu membawa Aishah menuju ruang UGD. Dengan cemas Radit menunggu hasil pemeriksaan dokter. Terlihat Radit tidak bisa tenang, dia terus mondar-mandir di depan ruang UGD sambil sesekali menengok Aishah dari kaca jendela yang tertutup rapat.
Radit duduk di kursi tunggu yang tersedia di depan ruang UGD, dia mencoba menenangkan dirinya sendiri. Namun, tidak berhasil. Radit kembali berdiri lalu mondar-mandir dengan cemas.
"Kenapa dengan kamu Aish? Selama ini kamu tidak pernah mengeluh sakit sedikit pun." Radit bergumam sendiri.
Selama ini, Aishah memang tidak pernah mengeluh sakit apapun di depan Radit. Aishah selalu terlihat sehat dan bersemangat. Bahkan, ketika sedang datang bulan pun Aishah tidak menunjukkan rasa sakitnya kepada Radit. Aishah memang sering mengkonsumsi obat pereda nyeri haid. Tapi Radit kira itu biasa dilakukan oleh setiap wanita yang sedang datang bulan. Radit tidak menyangka, jika sakit yang dirasakan istrinya itu sampai separah ini.
Apalagi Radit selalu memaksakan kehendaknya ketika sedang berhubungan suami istri dengan Aishah. Keinginan Radit untuk memiliki momongan memang sudah menggebu. Usia pernikahan mereka yang bisa dikatakan sudah cukup lama membuat Radit menginginkan hadirnya seorang buah hati di tengah-tengah mereka.
Radit memang sudah menginginkan hadirnya seorang anak sejak awal pernikahannya dengan Aishah. Tapi takdir berkata lain, Tuhan lebih menyayangi anaknya. Sehingga mengambil calon buah hati yang bahkan belum terlahir ke dunia itu. Dan kini, diusia pernikahannya yang sudah berjalan di tahun kelima, membuatnya tidak sabar lagi ingin memiliki momongan.
__ADS_1
Aishah memang tidak pernah mengeluh sakit ketika mereka berhubungan. Namun, rasa sakit itu bisa terlihat dari raut wajah Aishah yang selalu Aishah coba tahan dengan sekuat tenaga. Aishah juga tidak pernah menolak ketika Radit dengan ganasnya menikmati tubuhnya. Karena Aishah juga sudah sangat merindukan hadirnya buah hati dalam pernikahannya dengan Radit. Aishah ingin segera merasakan menjadi wanita sempurna. Wanita yang bisa hamil dan melahirkan keturunan dari suaminya ke dunia.
Sehingga apapun yang suaminya lakukan dalam upaya mempercepat mendapatkan buah hati, Aishah selalu patuh saja dengan suaminya. Bahkan mereka juga sudah berkonsultasi dengan spesialis dokter kandungan. Mereka telah melakukan berbagai upaya agar cepat mendapatkan momongan.