
Hari kedua di kampung halaman, Aishah benar-benar menikmati liburannya kali ini. Suasana desa yang masih perawan membuat mood Aishah berubah 180 derajat. Aishah bisa melepaskan sejenak segala penat yang selama ini membebani pikirannya. Udara segar masuk ke dalam paru-parunya, membawa energi positif yang membuat tubuh semakin fit.
"Inilah suasana yang selalu aku rindukan tiap kali pulang ke sini. Segar… indah… damai… dan… tenang… "
Aishah membentangkan kedua tangannya, mendongakkan wajahnya ke atas, memejamkan mata lalu menghirup dalam-dalam udara segar yang dengan bebasnya melintasi seluruh alam sekitar. Ini adalah terapi paling mujarab untuk menyembuhkan kegalauan dan kegundahan hati. Pikirannya berlarian, meloncat kian kemari memikirkan hal-hal menyenangkan yang bisa dia lakukan selama berada di sini.
Kapan lagi aku bisa menikmati liburan yang sebentar ini. Selain padatnya pekerjaanku di kota, sebentar lagi aku akan menjadi seorang istri yang otomatis tidak bisa sebebas saat ini. Dan ini adalah masa-masa terakhirku menikmati kebebasan jomblo. hahaha
Aishah tertawa sendiri dalam hati. Aishah tak akan menyia-nyiakan masa liburannya kali ini. Aishah memutuskan untuk menghabiskan hari-harinya di sini untuk jalan-jalan. Ini memang bukan liburan terakhirnya, tapi mungkin liburan berikutnya ia sudah akan berganti status. Dan tentu akan selalu ada yang menemaninya.
Terdengar gelak tawa dari halaman belakang rumah. Arya yang sedang membuat kopi di dapur, mendengar Kakaknya tertawa sendiri. Kenapa si Kak Aishah? Pikirnya. Ia memutuskan untuk menghampiri Kakaknya, memastikan keadaan Kakaknya tersebut. Arya menepuk bahu Aishah dari belakang dengan keras.
"Hayoo…" Berteriak.
Tiba-tiba suara Arya membuyarkan lamunan Aishah. Aishah sampai meloncat dari tempat ia berdiri saking kagetnya. Bahkan Aishah hampir melempar ponsel yang sedang dipegangnya ke muka Arya.
"Aryaaa… bisa gak sih, tidak mengagetkan k
Kakak!" Aishah nampak mencak-mencak dengan kelakuan jahil Adiknya itu.
"Habis Kakak, tidak ada angin tidak ada hujan ketawa-ketawa sendiri, kenceng banget lagi suaranya, mungkin semut-semut yang lagi tidur pun terganggu dengan ketawa Kak Aish yang berisik itu."
Dengan santainya, tanpa merasa berdosa sedikitpun Arya berjalan melenggang melewati Aishah yang masih gusar dengan keisengannya itu. Arya duduk di bangku halaman belakang, di tempat Aishah duduk tadi.
"Arya, ada acara tidak hari ini?"
Dengan cepat suasana hati Aishah sudah berganti ceria. Seperti membalikkan telapak tangan saja, semudah itu Aishah membalikkan suasana hatinya. Karena memang hari ini Aishah sedang dalam mood yang benar-benar baik.
"Banyaak kak." Arya menyeruput kopinya.
"Yah, kalau Aryo gimana ya?" Aishah agak kecewa mendengar jawaban Arya.
__ADS_1
"Ya sama lah, kita kan kembar. Kalau aku banyak acara Aryo juga harus banyak acara dong." Arya tertawa keras.
"Kakak serius Arya, jangan ngerjain Kakak terus dong. Kakak cuma mau ngajak kamu jalan-jalan. Ya sudah kalau tidak mau sih tidak apa-apa , Kakak ajak Aryo saja." Aishah memperlihatkan muka cemberutnya, ia pura-pura ngambek di depan Arya.
"Hahahahaha… " Arya tertawa dengan renyahnya.
"Kenapa? memangnya ada yang lucu apa?" Masih kesal dengan kelakuan Arya.
"Ya sudah iya iya, aku mau kok temenin Kak Aish jalan-jalan."
Bilang saja aku suruh jadi sopir Kakak huh.
"Gitu dong dari tadi." Aishah tersenyum puas.
______________________________________________
Matahari perlahan mulai naik, merubah sinar hangatnya menjadi terik. Namun teriknya matahari tak menyurutkan semangat Aishah untuk jalan-jalan, walaupun hanya sebatas mengelilingi area persawahan yang luas.
Ajak Aishah pada adiknya yang sepanjang perjalanan hanya ngomel-ngomel tidak jelas. Karena dipikirnya jalan-jalan yang dimaksud Kakaknya berkeliling menggunakan mobil. Tapi entah angin apa yang membuat Kakaknya lebih memilih berjalan kaki sepanjang area persawahan yang terik.
Ternyata Aishah ingin membalas kejahilan Arya di rumah tadi. Aryo yang mengikuti mereka dari belakang malah semakin senang melihat kembarannya kesal dengan ulah Kakak sulungnya.
"Ayok Kak, tapi kita jalan kaki saja ya! Sayangkan kalau kita harus puter balik buat ngambil mobil."
Aryo yang memang hobi mendaki gunung itu, sangat antusias dengan ajakan Aishah. Apalagi Aryo mencium bau-bau keisengan Kakak sulungnya itu untuk mengerjai kembarannya. Untuk masalah hobi adik kembar Aishah memang tidak mau bekerja sama. Aryo yang suka mendaki gunung dan traveling sementara Arya lebih suka membaca buku dan ngegame di rumah. Tetapi sikap Arya memang terlihat lebih dewasa dari pada Aryo.
Perjalanan semakin jauh, melewati area persawahan yang penuh lumpur. Terik matahari tak dapat terelakkan lagi. Aryo semakin bersemangat untuk menaiki pegunungan menuju kebun teh. Semangat empat lima yang berkobar bak api yang membakar kayu, menyala-nyala. Bahkan Aryo bertindak bagaikan pemimpin rombongan pendaki, memberi komando, arahan serta pertolongan bagi Kakak-kakaknya yang kesulitan berjalan.
Setelah melewati area sawah, kini mereka melewati jalanan terjal dan mulai naik turun. Jalanan hanya berupa tanah berbatu. Arya yang berada di baris paling belakang masih saja ngedumel di sepanjang perjalanan mereka. Setelah kurang lebih setengah jam perjalanan akhirnya mereka sampai di kebun teh yang terletak di atas bukit. Benar-benar butuh perjuangan dan tenaga yang ekstra untuk sampai di tempat ini.
Lelahnya perjalanan seketika dapat lenyap entah kemana setelah melihat pemandangan hijau kebun teh yang berjajar dengan apiknya. Bahkan ketika siang hari pun cuaca di sini masih sejuk. Pohon-pohon yang tumbuh rapi di sepanjang jalan menuju kebun teh membuat segarnya udara di sekitar sini. Mereka mencari sumber air terdekat untuk membersihkan diri dari lumpur-lumpur yang menempel.
__ADS_1
"Aish…."
Terdengar dari seberang jalan suara lelaki muda memanggil nama Aishah. Ia bersama dengan seorang wanita muda yang berdiri di sampingnya.
"Lintang, hay…" Aishah melambaikan tangan. Lintang dan Kiranapun mendekat.
"Aish kamu mau kemana?" Lintang ambil suara.
"Lagi pengen jalan-jalan saja sama Adik-adikku." Sambil menunjuk ke arah Arya dan Aryo.
"Oh, aku dengar kamu sudah mau nikah ya?"
Kenapa beritanya cepet banget nyebar sih, padahal kan aku baru cerita sama orang tuaku, dan kemarin Kirana juga nanya gitu.
Aishah hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Lintang.
"Selamat ya. Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu." Lintang mengulurkan tangannya.
"Eh, iya." Aishah menerima jabatan tangan dari Lintang.
Kenapa Lintang jadi sedih gitu ya?
Seketika raut wajah Lintang berubah murung. Kirana yang sedari tadi hanya diam saja, segera menggandeng lengan Lintang.
"Ya sudah ya Aish, kita duluan. Kalian selamat menikmati jalan-jalannya." Kirana mengajak Lintang untuk pergi.
Kalau aku tidak segera mengajak Lintang pergi bisa gawat. Kenapa juga sih harus bertemu dengan Aish, Lintang kan jadi sedih. Oke ndak papa mungkin ini kesempatan aku.
Lintang dan Kirana berlalu pergi, nampaknya Kirana kurang suka dengan kedatangan Aishah kali ini.
Setelah puas berjalan-jalan, Aishah dan kedua Adik kembarnya kembali ke rumah. Badan Aishah rasanya pegal-pegal semua. Aishah bergegas ke kamar mandi untuk berendam air hangat. Ini adalah hari terakhirnya Aishah berada di sini. Karena besok adalah akhir pekan, jadi libur Aishah bertambah satu hari. Sepertinya Aishah sangat kelelahan sehingga ia tertidur dengan pulasnya.
__ADS_1
Pagi harinya Aishah, Bapak, Ibu, Arya, Aryo dan Andini sudah berada di meja makan. Mereka tengah menikmati sarapan pagi mereka. Pagi ini Aishah, Ibu, serta adik kembarnya akan berangkat ke kota. Agar perjalanan lebih cepat, mereka menggunakan pesawat terbang. Bapak dan Andini mengantar mereka sampai ke bandara. Arya dan Aryo sengaja merengek untuk dibolehkan ikut bersama Ibu, karena mereka sudah merasa bosan di rumah tidak ada kerjaan.