Menemukan Cinta Sejati Aishah

Menemukan Cinta Sejati Aishah
Bangkit lagi


__ADS_3

Malam semakin larut, Radit dan Dokter Dariel semakin asyik dengan obrolan mereka. Dulu, Dokter Dariel memang satu-satunya orang yang paling dekat dengan Radit setelah kepergian ibunya. Selain sebagai dokter yang merawat Radit hingga sembuh, Dokter Dariel juga merupakan sahabat terdekat Radit. Sahabat yang selalu mendukung Radit untuk bangkit dari kesedihannya.


Radit menceritakan perjalanan hidupnya selama Dokter Dariel pergi ke luar negeri. Tentang kejahatan Bella, tentang masa-masa sulitnya bersama Aishah hingga kini mereka bisa hidup bahagia kembali. Cerita Radit membuat Dokter Dariel semakin kagum dengan Aishah


Ternyata Aishah bukan hanya cantik wajahnya. Namun juga cantik hatinya. Radit benar-benar beruntung mendapatkan wanita seperti Aishah.


Dokter Dariel bergumam dalam hati.


"Lalu bagaimana dengan Dokter Viola? Apakah Dokter berhasil merebut hatinya?" Radit membuyarkan lamunan Dokter Dariel. Sontak saja Dokter Dariel terkejut dibuatnya.


"Aku sendiri tidak tahu dengan betul bagaimana perasaannya denganku sampai saat ini. Karena saat ini Vio sedang dekat dengan seorang lelaki. Dilihat dari kedekatan mereka, sepertinya Vio ada rasa dengan lelaki itu." Dokter Dariel menatap jauh ke atas langit yang penuh bertabur bintang.


Radit dan Dokter Dariel kini sedang duduk di balkon ruang kerja Radit. Dari balkon tersebut dapat dilihat gemerlapnya bintang di atas langit. Ditemani secangkir kopi hitam yang membuat obrolan malam dua sahabat yang sudah lama tidak berjumpa itu semakin seru.


"Lalu kenapa Dokter tidak mencoba untuk membuka hati Dokter untuk wanita lain?" Radit menyeruput kopi hitamnya.


"Kamu seperti tidak mengenalku saja. Sekali jatuh cinta, aku akan terus mencintainya. Aku sangat sulit untuk mencintai, tapi sekali mencinta, aku akan tetap cinta. Sebenarnya aku sendiri benci dengan perasaanku ini, tapi aku juga tidak bisa menolaknya." Dokter Dariel merasa kesal sendiri.


"Cobalah untuk membuka hati kepada wanita lain. Bersama tidak harus cinta kan? Dokter bisa menganggapnya teman terlebih dahulu. Cinta akan datang seiring berjalannya waktu." Radit mencoba memberi nasihat kepada Dokter Dariel.


"Sulit Dit, aku sudah pernah mencobanya. Tapi apa yang aku lakukan? Aku hanya menyakiti hati wanita itu. Dan aku sendiri tidak tega jika harus menyakiti hati wanita." Dokter Dariel menatap Radit.


"Dok, sebenarnya saat ini ada satu masalah yang membuatku sangat terpukul." Radit menghela nafas panjang.


"Apa?" Dokter Dariel mengernyitkan dahi, sepertinya dia sangat penasaran dengan apa yang sedang dialami Radit.


"Aishah sulit untuk memberiku keturunan. Dia mengidap penyakit yang membuatnya sulit untuk hamil. Padahal pernikahan kami sudah berjalan lima tahun. Dan aku sudah sangat menginginkan hadirnya seorang anak." Radit menatap langit yang tinggi.


"Apa! Jadi Aishah sedang sakit? Ku pikir kalian akan segera memiliki bayi." Dokter Dariel lebih khawatir dengan keadaan Aishah dari pada dengan cerita Radit.


"Aku sangat terpukul mendengar semua ini. Aku benar-benar kalut, aku tidak tahu lagi harus berbuat apa." Radit menjambak rambutnya sendiri dengan kedua tangannya.


"Kalau menurutku, yang paling terpenting saat ini adalah kamu harus tetap selalu setia dengan Aishah. Kuatkan dia, beri dia semangat, selalulah ada di sisinya. Dukung dia untuk rutin menjalani pengobatan. Karena dukungan dari orang terkasih adalah obat yang paling mujarab bagi kesembuhan Aishah saat ini. Aku yakin Aishah pasti bisa sembuh." Dokter Dariel memberi nasihat kepada Radit dengan panjang lebar.


Radit hanya terdiam. Pikirannya melayang jauh ke atas langit. Radit benar-benar sulit untuk menerima kenyataan.


"Jangan pernah membuat Aishah sedih Dit. Baru mendengar dari ceritamu saja tentang pengorbanan Aishah yang luar biasa sudah membuatku yakin, bahwa Aishah adalah wanita hebat. Jika kamu sampai menyia-nyiakannya hanya gara-gara penyakitnya saat ini. Kamu akan menjadi lelaki terbodoh sedunia. Dan pastinya kamu akan menyesalinya seumur hidupmu nanti." Dokter Dariel benar-benar mengagumi sosok Aishah.


"Jangan bilang Dokter mengagumi istriku. Tidak boleh ada yang jatuh hati padanya kecuali aku." Radit merasa kurang suka dengan pernyataan Dokter Dariel.


"Hahahaha kamu ini seperti anak kecil saja. Hey bung Aku sudah tahu batasannya. Aku tidak mungkin mencintai istri temanku sendiri. Memangnya aku sudah gila apa!" Dokter Dariel terkekeh.


"Baguslah. Aku juga tidak akan membiarkanmu memberi sanjungan di depan istriku secara langsung seperti tadi! Karena aku benar-benar tidak suka jika ada lelaki yang menyanjung istriku." Radit berkata dengan sadisnya.


"Tapi aku benar-benar mengagumi kegigihan istrimu itu. Ya, semoga saja aku bisa mendapatkan Aishah-Aishah yang lainnya." Dokter Dariel menerawang jauh ke atas langit malam.


Tidak terasa malam semakin larut. Waktu telah menunjukkan pukul satu dini hari. Obrolan mereka benar-benar membuat mereka lupa waktu.

__ADS_1


"Sudah larut, semua orang juga sudah tidur. Aku pulang dulu." Dokter Dariel bangkit dari tempat duduknya.


"Baiklah, sering-seringlah mampir ke sini. Agar aku memiliki teman ngobrol. Di sini penghuninya perempuan semua, jadi tidak ada yang nyambung dengan obrolanku. Hehe." Radit ikut bangkit dari tempat duduknya.


"Aku tidak enak jika harus mengganggu waktumu dengan Aishah. Apalagi kalian kan sudah lelah karena seharian bekerja. Malam hari tentu menjadi momen yang pas untuk melepas penat dan rindu." Dokter Dariel menepuk bahu Radit perlahan.


"Aku tidak merasa terganggu kok. Tenang saja. Aishah juga pasti mengerti." Radit meyakinkan.


"Siap! Aku akan sering-sering mampir ke sini. Apalagi jika Aishah yang masak. Aku pasti akan senang jika kamu mengajakku untuk makan malam. Hehe." Dokter Dariel terkekeh.


"Sial! Jadi kamu hanya ingin numpang makan di rumahku!" Radit menonjok dada Dokter Dariel dengan pelan.


"Hahahaha" Radit dan Dokter Dariel tertawa bersama.


"Ya sudah kita lanjutkan lain waktu saja mengobrolnya. Aku pamit dulu." Dokter Dariel Berjalan menuruni anak tangga, Radit mengikuti langkahnya dari belakang. Radit mengantarnya sampai depan pintu, kemudian Dokter Dariel melesatkan mobilnya keluar dari halaman rumah Radit.


Radit kembali memikirkan perkataan Dokter Dariel tadi mengenai Aishah.


Benar juga apa kata Dokter Dariel. Aku harus dengan setia mendampingi Aishah di masa-masa sulitnya saat ini. Sebagaimana Aishah dulu juga selalu mendampingi ku di masa-masa tersulitku.


Radit menaiki anak tangga menuju kamar tidurnya. Dilihatnya wajah istrinya yang sedang terlelap dalam-dalam.


"Maafkan aku sayang, aku sudah melakukan kesalahan besar dengan mengabaikanmu. Harusnya sikapku tidak seperti ini kepadamu. Harusnya aku menyayangimu jauh lebih dalam dari pada ini untuk saat ini." Radit mengecup kening Aishah dengan lembut, membuat Aishah menggeliatkan.


Lalu Radit ikut tidur di samping Aishah. Radit memeluk tubuh Aishah sepanjang tidurnya. Radit benar-benar merasa bersalah dengan istrinya itu.


Matahari mulai naik. Sinarnya pun ikut berperan dalam menghangatkan bumi. Radit sudah siap dengan pakaian kerjanya. Begitu pula dengan Aishah. Mereka berjalan menuju meja makan untuk sarapan pagi bersama.


"Sayang aku berangkat duluan ya!" Aishah mencium pipi suaminya lalu berlalu. Namun, dengan cepat Radit segera menahan tangan Aishah.


"Aku ingin berbicara sebentar denganmu." Radit menarik tangan Aishah hingga Aishah terduduk di pangkuannya.


"Ada apa Kak?" Aishah mengernyitkan dahi.


Kirana yang melihat kemesraan Radit dan Aishah mulai terbakar api cemburu. Kirana mempercepat sarapannya agar bisa segera pergi. Namun, dia juga penasaran dengan apa yang akan Radit bicarakan dengan Aishah. Akhirnya dengan menahan sesak di dadanya, Kirana mencoba untuk tetap terlihat biasa di depan Radit dan Aishah. Kirana sangat penasaran.


"Sebaiknya kamu jangan bekerja lagi. Kamu fokus dengan kesehatanmu saja." Radit menatap dalam mata Aishah.


Lagi-lagi mereka pamer kemesraan di depanku. Dasar kalian ini suka sekali sih pamer kemesraan di depanku! Sial!


Kirana ngedumel sendiri di dalam hati. Kirana hampir tidak bisa menelan makanannya karena melihat Radit dan Aishah di depannya. Namun, dengan pedenya Radit memamerkan kemesraannya bersama Aishah di depan Kirana. Sepertinya Radit memang tidak memperdulikan keberadaan Kirana di sana. Karena selama ini Radit juga memang tidak pernah menganggap penting keberadaan Kirana di rumahnya.


"Aku akan tetap menjaga kesehatanku dengan bekerja, aku janji. Aku tidak akan kecapekan kok Kak. Aku akan mengatur ulang semua jadwalku. Aku akan selalu pulang lebih awal." Aishah menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya sebagai simbol janji kepada Radit.


"Baiklah, tapi jangan sampai kecapekan ya!" Radit meyakinkan perkataan Aishah.


"Iya Kak Radit sayang." Aishah mencubit hidung Radit dengan manjanya.

__ADS_1


Kemudian mereka berangkat kerja dengan mobil dan sopir masing-masing. Sementara Kirana berangkat dengan ojek online yang sudah menunggunya di depan rumah.


Sesampainya di kantor, Radit segera menuju ruang kerjanya. Banyak pekerjaan yang menumpuk belum Radit kerjakan hari ini. Tiba-tiba sekretarisnya datang mengetuk pintu.


"Maaf Pak, ada yang ingin bertemu." Sekretaris Radit menunduk sopan.


"Siapa?" Tanpa melihat sekretarisnya, Radit masih fokus dengan pekerjaannya.


"Pimpinan dari Bramantyo Group." Sekretaris Radit tampak takut-takut untuk menyampaikannya.


"Mau apa dia datang kemari!" Radit mulai terbakar emosi.


"Katanya mereka ingin menawarkan tender besar kepada perusahaan ini Pak." Sekretaris Radit berkata tanpa berani menatap wajah Radit.


"Ya sudah, biarkan mereka masuk!" Radit tampak berapi-api.


Tak lama kemudian, dua orang masuk ke dalam ruang kerja Radit. Tentu saja Bella dan sekretarisnya yang dulu pernah menjadi sekretaris Pak Banu. Walaupun hubungan mereka layaknya suami istri dan bahkan tinggal bersama, namun mereka tidak mau menikahi satu sama lain.


"Selamat pagi Pak Radit, lama tidak berjumpa." Sekretaris Bella menyapa dengan sok ramah.


"Ada urusan apa kalian datang ke mari!" Radit membentak Bella dan sekretarisnya dengan kasar. Namun, pandangannya masih tetap fokus dengan file-file di tangannya.


"Cih baru segini saja kamu sudah sombong." Bella tersenyum licik lalu bibirnya menyeringai.


"Cepat katakan apa yang kalian inginkan! Atau aku akan panggil security untuk menyeret kalian keluar dari sini!" Radit menatap Bella dan sekretarisnya dengan tatapan tajam.


"Aku hanya ingin menawarkan kerja sama dengan perusahaan mu." Bella duduk di sofa yang tersedia di dalam ruangan Radit.


Sepertinya ini kesempatan yang bagus untuk merebut kembali semua hartaku.


"Kerja sama apa?" Radit mulai dapat mengatur emosinya.


"Kerja sama untuk tender besar." Bella terlihat angkuh. Walaupun sebenarnya, perusahaan yang ditanganinya kini sedang berada di atas tanduk. Berada di ambang kehancuran.


Karena sikap Bella yang boros dan suka hura-hura, membuat Bella terlilit hutang yang sangat banyak dan perusahaanlah yang harus menanggung semua itu. Keuangan perusahaan semakin menipis karena pekerjaan Bella yang amburadul. Bella tidak bisa bekerja dengan baik, apalagi untuk mengelola perusahaan. Bella hanya bisa menghabiskan uang perusahaan untuk berfoya-foya. Akibatnya perusahaannya kini sudah di ambang batas kehancuran.


Makanya Bella ingin meraup keuntungan dari kerja samanya dengan perusahaan Radit, yang saat ini tengah berkembang dengan pesatnya. Dan tanpa ada rasa malu sedikit pun Bella mengemis kerja sama dengan Radit.


Walaupun Radit masih menyimpan dendam dengan Bella, namun Radit masih bisa menahan emosinya. Radit berusaha untuk mendapatkan kembali apa yang seharusnya menjadi miliknya. Radit berencana untuk merebut kembali perusahaan dan semua hartanya dari tangan Bella. Namun, tentunya dengan penuh strategi dan hati-hati. Radit tidak ingin kegabah dan merusak semua rencananya. Karena jika ingin melaporkan Bella ke polisi, tentu membutuhkan alasan dan bukti yang kuat untuk menjebloskan Bella ke dalam penjara. Dan Radit tidak punya cukup bukti.


Mereka membicarakan tender besar yang akan digarapnya. Perusahaan Bella berhasil memenangkan tender besar, namun tidak cukup modal untuk menyelesaikan tender itu. Sehingga membutuhkan suntikan dana yang cukup banyak dari perusahaan Radit.


"Baiklah, semua bisa diatur. Lalu kapan kita bisa memulai proyek ini?" Radit mulai melancarkan streteginya.


"Secepatnya. Lebih cepat tentu lebih baik." Bella masih dengan perkataan angkuhnya.


"Kita buat perjanjian hitam di atas putih terlebih dahulu. Biarkan sekretarisku yang membuatkan surat perjanjiannya. Tak lama kemudian, surat perjanjian itu selesai ditanda tangani.

__ADS_1


Mereka sepakat untuk bekerja sama. Walaupun di belakang, mereka mempunyai rencana licik masing-masing untuk merebut harta satu sama lainnya. Bella juga merencanakan kelicikan untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya dari kerja samanya dengan Radit. Dan Radit dengan rencana liciknya untuk menguasai kembali harta yang seharusnya menjadi miliknya dari tangan Bella.


Setelah selesai dengan urusannya, Bella segera kembali ke kantornya.


__ADS_2